GUNTING DALAM LIPATAN

GUNTING DALAM LIPATAN

Oleh  : EL KANDY BUCUE.

DALAM  suatu hutan yang berpaya-paya hiduplah seekor ular yang umurnya sudah amat tua. Karena ketuaannya ular itupun mengalami juga penyakit tua seperti makhluk-makhluk lainnya. Badannya kini sudah terlalu besar dan berat yang mengakibatkan ia tidak dapat lagi bergerak kemana-mana. Ia tetap saja pada tempatnya dan karena sangat lamanya dia disitu hingga ia telah tertutup dengan semak belukar. Tak pernah walaupun  sekali ia makan selama ia tak sanggup lagi ia bergerak. Ia sangat lapar.

Pada suatu hari ular berpikir dalam hatinya: “Kalau keadaan begini-begini saja, berapa hari lagi aku akan mati, sudah lama aku tak pernah makan, seekor kodokpun tak pernah kurasakan. Lebih baik kalau aku pindah ke paya sana”. Ular buat gagasan baru program hidupnya. Dengan sangat susah payah ia bergerak pindah dari tempatnya menuju ke pinggir parit tua. Di sekitar parit tua itu merupakan perkampungan yang tetap bagi masyarakat katak. Bermacam jenis katak tinggal di situ. Ada jenis katak puru, katak hijau, katak air bahkan tak ketinggalan pula katak pohon yang bersarang pada pohon-pohon disemak itu.

Terkejut kawanan katak melihat ular datang kekampungnya. Anak-anak katak yang masih kecil lari tunggang langgang, sedang katak2  dewasa tenang saja. Melihat ular tua yang tak berdaya semua katak ketawa kegelian. Dengan nada suara mengejek mereka berkata: “Kalau kekuatan sudah macam kamu tak usah berkhayal hendak makan kami lagi”. “Geeerrrr, geeerrr” bunyi ketawa katak katak yang lain. “Memang kalian-kalian ini makanan aku” ular membalas dengan suara tenang. Mendengar jawaban yang demikian dan sikap ular yang tenang sempat juga membuat sebagian katak yang pengecut berdiri bulu romanya. “itu cerita lama”, ular terus bicara. “Cerita lama hanya tinggal kenangan bagiku, dulu aku tiap hari kadang-kadang sampai sepuluh ekor makan bangsamu”.   “Tapi, sejak aku masuk tapa aku tak perlu makan lagi, sebab aku tidak merasa lapar”.   “Kerjaku sehari-hari hanya ibadat dan bertaubat saja”. “Semua jenis makanan sudah haram bagiku, apalagi memakan   binatang   bernyawa, jadi sudah terrrr h a r a m”.

Mendengar kemanisan bicara ular, bukan main senang  hati semua katak. Mereka gembira melihat sang ular telah bertaubat. Berita tentang ular yang taubat dengan cepat tersiar luas. Baik sedang bekerja  maupun sedang  beristirahat semua katak terus mendiskusikan terhadap ular tapa itu.  “Kalaulah semua ular bertaubat seperti dia, alangkah senangnya kita semua”. “Semua kita akan bebas pergi kemana-mana”, begitu sering katak perbincangkan. Berita tersebut pada akhirnya sampailah kepada raja katak. Raja katak menyuruh panggilkan ular tapa itu. Sang raja juga memerintahkan supaya seluruh rakyat katak berkumpul dihalaman istana raja untuk menyambut kedatangan tamu terhormat ular tapa.

Dihadapan  seluruh  rakyatnya sang raja memulai pembicaraannya dengan ular tapa. “Saya sudah lama mendengarkan perkhabaran tentang diri tuan, semuanya telah saya dengar sama seperti yang diketahui oleh rakyat beta”..

“Tapi sekarang saya ingin tau langsung dari tuan sendiri, apa sebabnya atau asal muasal tuan bertapa hingga tak mau makan bangsa kami lagi?”. “Ampun daulat tuanku sembah patik harap diampun” dengan cara hormat ular tanpa mempernaikkan sembah kepada raja katak. “Pada suatu hari hamba pergi berusaha mencari makan, sesampai disuatu sumur hamba melihat seekor katak. Sumur itu kepunyaan orang saleh. Beliau dihormati oleh semua orang, karena beliau keramat. Melihat hamba datang katak itupun lari pontang-panting. Hambapun mengejarnya. Katak tadi melompat ke dalam rumah teungku saleh. Hamba juga terus naik keatas mencari katak yang sedang bersembunyi. Katak bersembunyi dalam kamar Teungku saleh yang gelap. Dengan tak sengaja sewaktu hamba mencatok katak tadi tercatoklah anak Teungku saleh yang sedang tidur. Melihat kejadian itu saya dengan cepat berusaha lari keluar rumah. Tiba-tiba saja Teungku haleh telah berada di depan saya. Beliau mengangkatkan tongkat sebesar paha mau membunuh saya. Kesempatan lari tak ada lagi bagi saya, untung hamba sempat mohon  ampun. “Kesalahanmu sangat besar, karena itu saya menyumpahkan kamu, bahwa kamu mulai sejak sekarang tidak boleh lagi makan katak dan saya wajibkan untuk kamu bertapa. “demikian Teungku saleh menyumpahkan hamba.” Kalau nanti juga kamu makan lagi katak, gigi kamu akan gugur satu persatu”. Ular tua menjelaskan keterangannya kepada raja katak.

“Jadi sejak kematian anak Teungku saleh itu saya hidup dengan hanya makan  makanan ala kadarnya saja agar  saya tidak murka oleh do’a Teungku itu”. “Itulah sebabnya hamba sekarang dalam keadaan kurus”. Jadi buat masa mendatang dimana tuan bertempat tinggal?”. Raja katak bertanya pada ular itu. “Kalau tuanku izinkan biarlah hamba tinggal bersama tuanku saja disini”. “Buat apa saya bersusah payah pindah ke tempat lain, makanan tak seberapa lagi hamba butuhkan”. Baiklah beta izinkan tuan tinggal disini, semoga jadilah tuan  sebagai contoh bagi ular-ular yang lain, agar mereka juga tidak memusuhi kami lagi” sahut raja katak.

“Mudah2an   daulat tuanku jadilah raja yang sangat besar kemuliaan dan juga semoga Tuhan melanjutkan umur daulat tuanku”. Si ular tua berdo’a sambil matanya terpejam, tanda kekhusyukannya. “Bagi tuan tiap hari akan beta sediakan dua ekor katak sebagai makanan tuan untuk sekedar tuan tidak mati”, raja katak memberi janji pada ular. “Sekali lagi hamba ucap terima kasih atas budi baik tuaku  itu”.

Dalam pada itu sewaktu sedang raja katak dan ular tua berbicara, seluruh hadirin rakyat katak yang hadir mendengar dialog itu dengan rasa gembira. Mereka senang karena momok yang paling ditakuti telah menyerah kepada mereka, bahkan tak lama lagi akan hidup bersama mereka.

Tetaplah ular itu hidup bersama raja katak dalam istana. Raja ular   tiap hari ia dapat jatah dua ekor katak untuk makanannya. Tiap hari dia pura-pura ibadat. Kalau sedang dihadapan raja dia sengaja memuji Tuhan dengan lebih khusyuk lagi. “Kalau sekiranya tak timbul pikiranku yang licik ini, pasti aku sudah lama mati” pikir ular dalam hati.  “Rupaya bangsa katak  beserta rajanya bodoh juga, mereka tidak tau dengan tingkah ulah musuh, sungguh mereka itu tolol, mau mempercaya pada musuh”, ikiran ular terus menjalar sambil senyum-senyum sendiri karena penipuannya  berhasil.

Lama kelamaan tau juga raja katak bahwa ia telah ditipu, tapi janji telah telanjur dibuat, kalau mau mangkir  janji takut dirinya sendiri ditelan ular. Rakyatnya dari sehari terus berkurang karena tiap hari dihadiahkan dua ekor kepada ular. Ular pun sudah tau bahwa raja katak telah curiga akan kejujurannya, sehingga ia selalu mengawasi raja katak agar tidak terpisah dengannya. Karena itu raja katak tak dapat berbuat apa-apa, sehingga pada akhir sekali raja katakpun jadi mangsanya.

17 Shafar 1400 H

(El Kandy  Bucue)

Catatan: Dikirim ke Harian “Waspada”, Medan, 20 – 2 – 1400   / 9 – 1 – 1980.

Dimuat di ‘Waspada” tgl. 30 Agustus 1980. TA

(Catatan tambahan terakhir: (1).  Cerita anak2 di atas saya sadur dari Hikayat Kisason Hiyawan yang bersyair bahasa Aceh. Nama pena saya saat itu: El Kandy Bucue, artinya Kande atau Lampu di gampong Bucue. (2). Pada awal tahun ’80-an  Harian “WASPADA”  Medan punya rubrik khusus  “Bagi Penulis Pemula” pada hari Minggu. Dalam rubrik itulah saya ‘ belajar menulis’  dengan karangan pertama berjudul “Pungguk Yang Malang”, yang juga saya sadur dari Hikayat Kisason Hiyawan. Bale Tambeh, 4 Desember 2010, T.A. Sakti).

Iklan

Satu pemikiran pada “GUNTING DALAM LIPATAN

  1. pinter juga si ular ya hehehehehehehehe………. jangan sampai kita mudah lengah ya ga sob?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s