Surat UU.Hamidy ( 5 ) – Pengarang 57 Buku tentang Budaya Melayu Riau

Bung  T.A. Sakti

Darussalam

Banda Aceh                                                                                                                                                         Pekanbaru,

12 Jumadil Awal  1415

Surat Bung yang dulu ditulis bulan Shafar sebenarnya sudah sampai kepada saya. Tetapi  setelah saya baca, saya tidak bisa menulis surat dengan segera, sebab ada kegiatan saya membuat kitab Kamus Antropologi Dialek Melayu Rantau Kuantan, Riau.  Lalu kemudian saya lupa, karena banyaknya kegiatan saya. Kemudian tiba lagi sekarang surat Bung yang rupanya  menyambung lagi minta balasan akan surat yang lalu itu.

Begini Bung, saya sudah menjelaskan kepada Bung dalam serangkaian tulisan saya kepada Bung, bahkan juga melalui buku yang saya tulis, betapa pentingnya strategi kebudayaan dewasa ini,sebagai suatu realitas kekuatan Islam. Jika Islam ini tidak kita beri bekas dalam budaya, hanya sebatas syariat yang kita harapkan untuk menuju kematian, maka agama itu tidak akan bersinar di dada insan. Islam yang hadir melalui Nabi kita telah menjadi rahmat bagi segenap alam. Ini berarti segala sesuatu yang mendapat sentuhan Islam akan mendatangkan keselamatan dan kesejahteraan. Atas perinsip itulah ulama-ulama besar kita mulai dari Hamzah Fansyuri, Nuruddin Arraniry, Samsudin al Sumaterany, Tun Sri Lanang, sampai kepada Raja Ali Haji dan Hamka, telah memberikan nafas Islam kepada karya sastra. Sastra itu amat berbahaya jika tidak mendapat sentuhan Islam. Sebab agama-agama primitif sampai agama majusi, hindu dan konghucu, semuanya ujud ajarannya dalam bentuk teks sastra.

Bertolak dari situ saya memandang Bung sebagai seorang di antara putra Aceh yang punya kesadaran tinggi  betapa  pentingnya meneruskan tradisi sastra yang Islami, yang ternyata Aceh merupakan  satu di antara gudangnya. Saya melihat Bung punya kemampuan yang memadai untuk meneruskan tradisi ini, dan sekaligus akan menjadi satu diantara keberadaan Bung yang akan di perhitungkan di belakang hari. Bahwa orang sekarang kurang memperhatikan , hal itu tak perlu Bung hiraukan. Sebab Bung harus melakukan hal ini sebagai suatu cara melaksanakan amanah Allah. Kebudayaan Aceh hanya akan bisa unggul  jika kadar  Islam yang menjadi  muatannya dipelihara terus,  di samping di lanjutkan dengan karya-karya baru yang makin mampu menjawab tantangan zaman.  Dalam hal ini Bung seorang yang harus selalu merasa terpanggil.

Bung lihat saya, bagaimana saya melanjutkan budaya Melayu yang Islami di Riau. Sampai dewasa ini buku saya tentang budaya Melayu sudah 35 buah. Dan hasilnya makin meyakinkan, sebab berbagai peneliti dari luar yang  belum tentu beragama islam ,terpaksa membaca buku saya. Dengan cara itu nilai-nilai budaya kita dapat dihindarkan untuk disalahtafsirkan oleh peneliti asing, atau malah sengaja di pesongkan, sehingga arahnya yang Islami kembali berbalik kepada animis-hinduisme.

Maka bangkitkanlah semangat budaya yang Islami itu dalam rangkaian kajian Bung. Insya Allah Anda akan berhasil memancarkan kembali khazanah sastra Aceh  yang pernah begitu agung semasa Hamzah Fansuri. Tetapi untuk memberikan  jawaban atas pertanyaan Bung, baiklah saya ulas secara sngkat.

1, Tentang burung garuda, adalah satu diantara bahan cerita dunia Melayu. Burung ini telah menjadi mitos sebagai burung raksasa. Pada suatu cerita burung garuda tampil sebagai penolong terhadap musafir yang terlantar,  seperti ternukil dalam Kaba Puti Lindung Bulan.  Pada cerita lain burung raksasa ini tampil mengalahkan negeri yang zalim, sehingga terkenallah perumpamaan  “seperti negeri dikalahkan burung garuda”. Maksudnya tak ada satupun lagi yang mampu bertahan, jika telah tiba serangan burung ini, sebagai lambang daripada datangnya balak  dari Tuhan. Tetapi pada cerita lain, seperti yang Bung kisahkan, burung itu dipandang sebagai batu ujian yang paling menentukan. Hanya yang dapat mengalahkan burung garuda, yang bisa jadi digdaya. Dalam hal ini garuda adalah simbol hawa nafsu, sebab memang burung itu termasuk binatang juga. Maka siapa yang dapat menaklukkan nafsu yang kekuatannya  bagaikan garuda, niscaya bisa menjadi pemenang terhadap kebenaran. Karena itulah garuda ini telah diambil sebagai simbol negara kita. Kita mengharapkan negara ini menjadi suatu negara yang berani , kuat dan jaya, sehingga tak ada  kekuatan makhluk yang akan mampu menundukkannya.

Maka memuat hikayat tersebut tiada masalah dalam media apapun juga. Tetapi setelah Bung muat atau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, alangkah baiknya Bung memberikan ulasan yang bisa bertolak dari teori lambang, seperti yang telah saya contohkan tadi. Dalam teori lambang, perhatikanlah hubungan antara lambang  ( misalnya garuda ) dengan yang dilambangkan  ( misalnya nafsu, kekuatan tirani, kekuasaan Allah yang ujud dalam bentuk alam dan sebagainya ).

Tidak ada unsur sara dalam pembahasan mengenai karya sastra lama. Sebab semua karya itu telah berlalu, dan simbol-simbolnya tidak relevan lagi semuanya dengan simbol kita sekarang ini. Yang masih relevan ialah nilai-nilainya. Sebab itu arah pembahasan hendaklah terhadap nilai.

Saya meneliti cerita rakyat Aceh sebagai suatu  sarana dalam masyarakat Aceh. Sebab itu, saya lebih mengutamakan bagaimana cerita rakyat ini telah mempengaruhi, mengubah pola tingkahlaku dan arah nilai kepada masyarakatnya. Jika saya membicarakan semua simbol termasuk burung garuda itu, maka kajian saya akan terlalu jauh melebar, sehingga akan sulit dipadatkan. Karena itulah daripada kisah Malem Diwa menglahkan garuda, jauh lebih baik saya perhatikan bagaimana Malem Diwa dikatakan  menjadi guru mengaji di kayangan. Malem Diwa itu memang pantas saja mengalahkan garuda, sebab dia setelah memeluk Islam, tentulah harus terkesan sebagai orang yang mampu  menaklukkan kekuatan duniawi ( simbol kekuatan garuda ). Sementara itu berbagai hikayat banyak versinya. Jika kita lebih mementingkan kajian filologi, tentulah kita akan membandingkan segala macam versi.  Tetapi jika kita lebih menekankan aspek antropologis ( seperti kajian saya ) maka cukuplah diambil salah satu versi saja.

2. Komentar teman Bung, bahwa hikayat Aceh tidak sampai sekedar diterjemahkan saja, tentulah benar. Jadi berbagai hikayat dan haba jamen itu hendaklah disegarkan dengan ulasan yang bisa merujuk  kepada nilai-nilai masa lampau,  yang jika ditapis bisa dilestarikan untuk masa kini.

Cobalah buat berbagai pertunjukan yang memakai bahan dari hikayat tersebut, sehingga seniman-seniman muda mendapat bahan inspirasi yang kaya. Kalau ada pelukis anak jati Aceh yang mengambil inspirasi lukisan dari hikayat, niscaya amat mencengangkan. Dia bisa membuat lintasan pertarungan Teungku Malem dengan Garuda, yang tentu dapat menandingi lukisan pertarungan antara Hanoman melawan Jatayu ( garuda dalam Ramayana ). Betapa menakjubkan jika tupai  Tengku Malem dibuat lukisannya, begitu pula mitos pauh Janggi sebagai simbol dari muara segala kehidupan ini. Dan masih banyak lagi. Ini semuanya hendaklah Bung pasarkan melalui berbagai diskusi dengan teman-teman budayawan Aceh.

3. Kemungkinan saya untuk menulis pada Harian Serambi Indonesaia  amat tipis. Pertama bahan-bahan mengenai Aceh meskipun masih  saya simpan,  tetapi sudah begitu lama mengendap, sehingga sulit dibangkitkan dengan segar dalam waktu yang relatif singkat. Sementara itu saya telah meninggalkan Aceh 20 tahun, perubahan tentu sudah begitu jauh berlalu,  sehingga tulisan saya akan kurang akrab dengan pembaca. Lain halnya semasa saya menjadi seorang penulis tetap untuk majalah Sinar Darussalam tahun 1970-an, yang saya ketika itu sedang kaya akan budaya dan masyarakat Aceh.

Bung T.A. Sakti, seperti telah saya ungkapkan juga dalam rangkaian tulisan terdahulu, supaya kajian mengenai  hikayat Aceh ini semakin marak, kiranya buku-buku tentang itu hendaklah diterbitkan. Edarkan buku-buku itu ke sekolah-sekolah dengan bekerjasama dengan pihak P dan K

dan jadikan perguruan tinggi seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia, Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Ushuluddin, sebagai basis sumber daya kajian. Berbagai buku saya dewasa ini  telah menjadi sangat penting bagi berbagai mahasiswa seperti di atas, ketika mereka akan membuat skripsi, bahkan untuk membuat tesis S2 dan S3. Cobalah berazam, bahwa anda akan dikenal karena karya anda yang khas mengenai Aceh, bukan oleh gelar-gelar yang hanya memberikan kesombongan, untuk mengundang penyesalan. Itulah jalan yang saya lalui selama ini T.A. Sakti,

jalan yang mencoba memberi ruh kepada budaya, agar semangat Islam membara di dalamnya, sehingga kita berkarya dengan  rendah hati, tetapi dalam perjalanan menuju ridha dan keridhaan-Nya.

Wassalam

dto

UU.Hamidy

(Catatan Mutakhir:

ad. 1. Sekitar pertengahan  tahun 1994 ada sebuah hikayat  setebal  650 halaman Latin baru saja selesai saya transliterasikan. Judulnya “Hikayat Banta Keumari” Mengenai salah satu sub-isi dari hikayat itulah, yakni yang di dalamnya ada sosok ‘burung garuda’ yang menimbulkan perbedaan pendapat.

ad. 2.  ” teman Bung” dalam surat ini adalah Prof.Dr.    Bahrein T.Sugihen,MA, yaitu seorang Guru Besar di Unsyiah yang  mudah diajak “dialog kecil bersama”. Pada beliaulah saya sering mencari “inspirasi dan semangat” demi mendukung kegiatan Sastra Aceh saya.  

 Ad. 3. Setelah sekitar 12  tahun berlalu – dari tanggal surat di atas, akhirnya harapan saya terkabul juwa;…..dalam tahun 2007  s/d  2008  Bapak UU.Hamidy telah menulis 5 artikel tentang Hikayat Aceh dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh.  Selain di  Serambi Indonesia, 2  artikel  mengenai Hikayat Aceh juga  masing-masing dimuat pada  Harian Aceh dan majalah Aceh Magazine, Banda Aceh. Bale Tambeh, 29 Desember 2010, T.A. Sakti ).

Soal Jika, Peminat Hikayat Disapa Wartawan, yang Berharap Hikayat Terangkat!

Perawat Hikayat Aceh

Oleh Adi Warsidi*
Di kamar ukuran 4 x 3 meter itu, sebuah lemari penuh buku menempel di dinding. Tak ada meja dan kursi, hanya selembar ambal berwarna biru. Itulah ruang kerja Drs. Teuku Abdullah Sakti (TA Sakti), perawat hikayat Aceh yang telah lebur dan tercerai berai bersama waktu.

Pekan lalu, Tempo diajak menyelami ruangan yang terletak pada sudut rumahnya di    Banda Aceh. Mesin tik model lama tergeletak persis di depan lemari. Tak ada komputer, dengan mesin itulah TA Sakti bekerja merangkai kata.

Lemari bagian atas berisi buku-buku hikayat Aceh dan Melayu yang telah dialih-aksarakan olehnya, sebagian lagi adalah buku-buku sejarah Aceh. Pak TA –begitu orang memanggilnya- adalah salah seorang yang berminat pada manuskrip Aceh.

Harta karun ada di bagian bawah lemari kayu itu. Dokumen-dokumen tua berumur ratusan tahun tertata rapi, sebagian hampir tak terbaca. “Ini adalah kumpulan-kumpulan hikayat lama Aceh, sempat basah direndam tsunami,” sebutnya. Hikayat adalah cerita-cerita dongeng yang bersyair dan bisa berupa petunjuk dalam kehidupan. Seringkali hikayat hanya diketahui secara turun temurun yang diceritakan secara lisan.

Kumpulan yang dimaksudkan adalah buku-buku tua yang lebih tepat disebut lembaran, tak mirip lagi sebuah buku. Berisikan hikayat-hikayat lama dalam bahasa Aceh dan Melayu, tulisan dalam kertas-kertas kusam itu berhuruf arab, bukan latin. Di sinilah peran TA bermain dalam merawat hikayat-hikayat lama, menuliskan kembali kisah dalam huruf latin, bahasa Aceh atau Melayu persis aslinya. “Agar semua orang bisa tahu dan membaca.”

TA menyebutnya alih aksara, tak kurang 28 buku yang memuat hikayat lama telah berhasil disusunnya kembali, beberapa lagi masih dalam tahap pengerjaan. Kesibukan itulah yang dilakoninya setiap hari, ketika tak sibuk mengajar. Hikayat-hikayat yang dialih-bahasakan kembali, kerap muncul di media massa Aceh, seperti di Harian Serambi Indonesia dan Harian Rakyat Aceh.

Selain itu, juga dituangkan dalam buku-buku kecil seukuran saku, untuk dijual bebas. Uangnya dipakai untuk mencetak lagi sebanyak-banyaknya, agar hikayat lama dikenali luas dan tak mudah punah. Jika ditotalkan, kisah lama yang telah berhasil dialih-aksarakan sebanyak 7.000 halaman buku saku.

Hikayat yang dituliskan kembali beragam, ada Hikayat Meudehak (cerita tentang keberhasilan raja), Gomtala Syah (kisah binatang), Hikayat Tajussalatin (pedoman dan nasehat untuk raja-raja) dan lain sebagainya. Cerita itu telah berumur lama, Tajussalatin misalnya telah dikarang sejak 1603 oleh Bukhari Al-Jauhari atas perintah Sultan Aceh saat itu. Memakai bahasa Melayu,  kisah  itu ditulis dalam huruf Arab  Melayu.

Naskah yang menjadi tuntunan para raja-raja di Aceh itu kemudian menyebar di seluruh nusantara. Pernah Sultan Hamengkubuwono V menerjemahkannya dalam bahasa Jawa pada abad ke-18. Konon, salinannya masih tersimpan rapi di ruangan klasik meseum Suno Bodoyo, Yogyakarta.

***
Ketertarikan TA terhadap hikayat telah lama. Dilahirkan di  Pidie pada Tahun 1954 lalu, kehidupannya sudah biasa dengan cerita-cerita dongeng Aceh alias hikayat. Darah budaya mengalir sejak belajar di dayah Titeue – Keumala, yang diasuh oleh T. Muhammad Syeh Lammeulo, saat itu.

Selain itu, rumah orang tuanya di desa juga banyak tersimpan dokumen hikayat dulu warisan moyangnya. “Umumnya, kitab hikayat lama yang ada sama saya adalah warisan keluarga,” sebutnya.

Saat kecil, dia sudah bisa menghafal Hikayat Akhbarul Karim, yang bercerita tentang agama. Kehidupan di desanya juga tak jauh dari hikayat, setiap pesta perkawinan di Aceh dulunya, selalu dihiasi dengan hikayat syair yang didendangkan siang dan malam. Perlahan-lahan kebiasaan itu hilang berganti musik.

Umur 13 tahun, TA mengenal Adnan PMTOH saat pementasan di Lapangan Kota Bakti, Sigli. Diakuinya, begitu terpana TA menyaksikan keahlian Adnan yang mahir membacakan hikayat-hikayat diluar kepala, ditambah dengan peragaan alat-alat yang sangat bagus dan menghibur. Saat itu, ribuan orang hadir menyaksikan keahlian Adnan.

Setelah itu, TA muda menjadi rajin mengumpulkan kembali hikayat-hikayat yang tersebar di kumpulan buku-buku usang rumahnya. Dihafalnya dan diingatnya setiap kisah yang dibaca.

Tahun 1985, TA meneruskan sekolah ke Jogya. Di sana kecintaannya kepada hikayat menipis. Sampai suatu hari dia mendapat kecelakaan tabrakan mobil yang ditumpanginya. Hanya setahun di Yogya, TA kembali ke Aceh untuk penyembuhan kakinya, dia kemudian berobat satu tahun di Beutong, Aceh Barat. “Kendati sembuh, kaki saya tak sempurna lagi, saya mulai menggunakan tongkat sejak itu,” sebutnya.

Tapi di Beutong lah, hari-harinya diisi dengan lantunan hikayat yang pernah dihafalnya. Kecintaannya bertambah lagi sampai kembali ke Yogya meneruskan study yang sempat macet. Tahun 1990, TA resmi menjadi dosen dan rutin menuliskan dan sekaligus merawat hikayat-hikayat lama.

Bukan tanpa kendala, menurutnya pemerintah Aceh masih kurang bisa merawat budaya. Buktinya, TA kerap mencari dukungan kepada Pemda Aceh untuk mencetak hikayat-hikayat lama yang telah dialih-aksarakan kembali, tapi tak ada perhatian. TA tak patah arang, menyisihkan sedikit gajinya hikayat itu tetap dicetaknya dan dikeluarkan sendiri, dijual murah dan kemudian hasilnya untuk dicetak lagi. “Saya ingin cerita-cerita lama di Aceh tetap terpelihara,” sebutnya.

Mengumpulkan bahan juga hal yang susah. Banyak kitab lama yang hilang bersama konflik di Aceh, tsunami menambahnya lagi. Misalnya, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang rata dengan tanah. Padahal, tempat itu kaya dengan cerita Aceh dulunya.

TA yang pernah mendapatkan ‘Bintang Budaya Parama Dharma’ –untuk mereka yang memelihara budaya nasional- semasa Presiden Megawati dulunya, sering menyelami di mana karya budaya Aceh banyak tersangkut. Temuannya, hikayat Aceh sebanyak 600 judul pernah di-latin-kan semasa perang Belanda di Aceh.

Adalah Hosein Djayadiningrat yang menggubah saat itu. Dia merupakan ajudan dari Snouck Hurgronje, peneliti Belanda yang dianggap berjasa dalam perang Belanda di Aceh. Indonesia merdeka, karya itu dibeli oleh Muhammad Yamin, menteri  era Soekarno. Setelah itu, tidak diketahui lagi keberadaan kisah itu.

Baru tahun 1994, TA mendapatkan kabar kalau hikayat 600 judul itu berada di Museum Pertamina, Jakarta. Dulunya, (Alm) Prof. Dr.  Aboebakar  Atjeh pernah mengusulkan agar hikayat itu dibeli kembali oleh Pemda Aceh untuk dibawa ke Serambi. Tapi, tak pernah digubris. “Saya sendiri berkali-kali menuliskan di koran tentang itu,” sebut TA.

Menurutnya, Snock Hungronje pernah menuliskan pujian terhadap Aceh dulunya dalam sebuah buku. “Satu-satunya cerita dongeng lisan tentang binatang yang pernah dibukukan di Nusantara adalah di Aceh,” sebut TA mengulang pujian. Cerita binatang yang dimaksud adalah Hikayat Kisason Hiyawan(Kisah Dunia Hewan).

TA sendiri sempat heran terhadap orang Aceh yang tidak begitu serius merawat cerita budaya. “Masak orang luar Aceh yang lebih peduli, kita sendiri tidak.”

Kekhawatirannya terhadap hikayat yang hampir punah, membuatnya terus bekerja merawat kembali kisah-kisah dalam bentuk syair itu. Kemampuannya tentu terbatas, apalagi tak banyak yang melakukannya. Hanya beberapa orang, salah satunya adalah (Alm) Adnan PMTOH.

***
Mengenang sang fenomenal Adnan, ingatan TA melenting ke tahun 1967. Kembali ke alun-alun Kota Bakti, saat pertama kali melihatnya beraksi. Hikayat-hikayat Malem Diwa dan Sang Deuria meluncur bebas dari mulut penutur PMTOH itu.

Dengan berbagai alat peraga, Adnan melakonkan Malem Diwa, sang tokoh cerita. Lalu berubah jadi Putri Bungsu dengan perubahan suaranya, sesaat kemudian jadi Banta Muda lalu berubah lagi menjadi Raja Muda Negeri Antara.

Kisah Malem Diwa menurut TA adalah cerita yang bukan sepenuhnya dongeng, ada kejadian sebenarnya dan tokoh sejarahnya. Inti cerita, bagaimana penyebaran agama Islam di Aceh saat itu. Kisah dimulai dari turunnya tujuh putri dari negeri Antara (Aceh Tengah) untuk mandi di Krueng Peusangan (Bireuen).

Malem Diwa mengintip para putri mandi dan tertarik dengan si Bungsu alias Putroe Bungsu. Singkat kisah, diapun mencuri baju terbang Putroe Bungsu, hingga tak bisa kembali ke negerinya. Malem muncul sebagai pahlawan dan kemudian menikahi putri jelita itu. Berbilang tahun kemudian, mereka dikaruniai anak, bernama Banta Muda.

Banta lewat masa balita, saat Putroe Bungsu menemukan baju terbangnya yang disembunyikan Malem Diwa di bawah dapur rumah. Kerinduan pada kerajaannya, membuat Putroe terbang kembali ke Negeri Antara membawa Banta Muda, tanpa sepengetahuan suami.

Inti kisah dimulai. Malem dirudung duka lalu berusaha mencari istrinya ke Negeri Antara. Dia menyamar menjadi seorang guru mengaji dan mengajarkan ngaji di kerajaan. Salah satu murid adalah anaknya sendiri, Banta Muda. Di sini hikayat menggambarkan bagaimana penyebaran Islam dilakukan.

Tak lama setelah pertemuan itu, Putroe Bungsu akan dipersunting oleh seorang Raja yang belum beragama Islam. Malem Diwa dan Banta Muda bersekutu melawan Raja. Penguasa itu kalah dan Malem Diwa bahagia kembali bersama seluruh keluarga.

Di tangan Adnan PMTOH, kisah itu disajikan dengan unik. “Semua orang pasti akan tertawa, merenung dan sedih mendengarnya,” sebut TA.

TA memuji Adnan sebagai tokoh pujangga Aceh yang unik. Hanya Adnan yang bisa membacakan hikayat dengan menghibur. Dia juga berhasil membacakan kisah dengan tambahan tiruan bunyi-bunyian semisal burung dan binatang lainnya. Derap langkah tokoh cerita kerap digantikan dengan suara pentongan. Tapi, tak pernah mengubah inti cerita.

Di sisi lain, Adnan juga mengarang cerita-cerita baru dengan model hikayat bersyair. Memasukkan zaman sekarang ke kisahnya. Dibacakan dengan menutur dan menghibur ribuan orang Aceh semasa hidupnya. “Jarang mendapatkan orang sepertinya sekarang,” sebut TA.

Sepeninggal Adnan, TA mengakui sedikit resah akan kelanjutan hikayat lama Aceh yang umumnya masih terkubur. Takut suatu saat tak ada yang memperdulikan lagi dan membacakan lagi. Harapannya, Pemda Aceh bisa terjun labih dalam lagi untuk melestarikan budaya, terutama hikayat Aceh. Selain itu, bisa mendirikan sebuah Fakultas Sastra di Aceh, setidaknya anak-cucu bisa terus membaca dan tahu cerita lama.

Walau tak pernah bertemu dan berbicara secara langsung, Adnan adalah inspirasi bagi TA dalam bekerja mengamankan hikayat-hikayat bersyair. Keduanya sama-sama mencintai budaya. Bedanya, Adnan adalah penutur dan TA adalah perawat.

Di ruang kerjanya, TA masih meneruskan tugasnya mengalih-aksarakan kitab berhuruf Arab ke huruf latin. Tik…tik… mesin ketik masih menemaninya dalam kegundahan memikirkan kelanjutan hikayat lama Aceh. Tugasnya masih belum selesai, impiannya masih bergantung, mungkin sampai dia tak bisa bermimpi lagi. ***

*Tulisan ini bersumber   dari situs/blog    Adi Warsidi

Sekeping Hikayat dari Banda Aceh

You Are Here: Home » Buku » Sekeping Hikayat dari Banda Aceh

Sekeping Hikayat dari Banda Aceh

Posted on admin on January 3, 2009 // 1 Comment

Hikayat ini berjudul ‘Tambeh Tujoh Blah” jilid 3, ditulis oleh T.A. Sakti. Tebalnya 236 halaman.Aku dulunya penyuka hikayat. Namun, kini tak pernah membacanya lagi. Bukan karena sudah tak suka, namun karena tak ada hikayat yang ditulis serius–ini menurutku.

Bapakku seorang penyuka hikayat, sama sepertiku. Aku suka hikayat karena kalimatnya bersajak, baik sajak tengah, awal maupun akhir. Persajakan dalam hikayat membuat ia merdu saat diucapkan. Dulu, saat siaran radio menghadirkan ruang pembacaan hikayat bersambung, ayahku suka mendengarnya tiap malam. tentulah aku ikut mendengarnya karena suara radio tersebut, ia bunyikan keras. Terdengar sampai ke kaki bukit. Nah, karenanya aku suka mendengar orang membaca hikayat.

Di rumahku dulu, juga ada beberapa naskah hikayat, namun kini tak ada lagi. Aku suka membacanya di sela jam belajarku di ujung selatan kampung terpencil. Aku membaca hikayat sesukaku, karena aku tak tahu bagaimana menbaca hikayat dengan tepat. Kini aku juga tak tahu bagaimana membaca hikayat dengan tepat.

Dua bulan lalu aku ke Meseum Aceh. Di sana aku minta Hikayat Indra Budiman. Penjaganya, yang saat itu bertugas, seorang perempuan berumur. Ia mencari sendiri hikayat tersebut. Setelah beberapa menit, ia keluar dengan tiga jilid tipis hikayat Indra Budiman.

Kuperhatikan hikayat yang telah kudengar judulnya bertahun lalu. Bapakku dulu sering menceritakan isi hikayat Indra Budiman. Aku suka mendengar dongeng berbentuk puisi itu. Aku memang suka puisi, kendati aku tak pernah menjadi penyair.

Dulu, aku menerka, bagaimana, ya, orang bisa mengarang hikayat yang begitu panjang dan sentiasa setia pada persajakannya? Kini aku tahu, mengarang hikayat itu mudah. Namun, jangan tanya padaku apa yang disebut hikayat. Aku tak tahu. Yang kutahu, hikayat adalah puisi panjang bersajak tetap dalam bahasa Aceh. Bentuknya boleh lirik atau epic. Biasanya epic.

Aku menyebut hikayat sebagai ‘novelnya’ orang Aceh tempo dulu. Novel itu ditulis oleh pujangga masa silam. Mereka sanggup menulisnya dalam bentuk puisi yang begitu panjang sampai berjilid-jilid. Kalau ditanya padaku, hebat mana para novelis dulu dengan kini, pasti aku jawab hebat novelis dulu. Orang zaman itu menulis novel berbentuk puisi. Adakah orang sekarang yang bisa?

Jangan tipu aku dengan sebutan ‘sastra zaman modern dan sastra melayu lama’ aku tak akan percaya, kendati aku tak mau berdebat. Kautahu kan, sastra kita orang Melayu telah dijajah habis oleh kebodohan kita sendiri yang bekiblat pada barat. Ini bukan berarti aku menolak kemajuan yang dimitoskan itu. Bukan sama sekali!

Aku hanya menyayangkan, orang kita latah membuang budaya tulisnya dan memuja habis seperti memuja gaya tulis negeri orang. Sebelum zaman ini, barat berkiblat ke timur. Namun, di zaman ini, timur telah berhasil sepenuhnya dikuasai barat, baik ekonomi maupun budayanya, termasuk budaya tulis-menulis. Apa yang bisa dibanggakan? Mungkin tak ada kebanggaan lagi di Aceh selain kebanggaan itu sendiri. Oleh Thayeb Loh Angen

(Sumber: Blog Harian Aceh, Banda Aceh, 3 Januari 2009 . Jumlah halaman  huruf Latin ‘Kitab Tambeh Tujoh Blaih”    untuk jilid  1, 2,  dan 3   adalah 236 halaman. Bale Tambeh, 24 Desember 2010, T.A. Sakti)

Perihal Sastrawan Aceh, menurut Rubrik Pustakaloka, Harian KOMPAS, Jakarta.

Rabu, 03 Maret 2010

BEBERAPA PENDAPAT TENTANG L.K. ARA

SASTRAWAN ACEH SUNYI DI TENGAH KERAMAIANHr. Kompas, Jakarta, Jumat, 19 Juni 2009 | 03:54 WIB

Oleh ANUNG WENDYARTAKA

Karya-karya besar sering kali dihasilkan dari tempat-tempat yang jauh dari memadai. Tengok saja karya legendaris novel petualangan Old Shatterhand dan sobatnya orang Indian, Winnetou, karya Dr Karl May maupun tetraloginya Pramoedya Ananta Toer yang dihasilkan dari balik jeruji penjara. Masih banyak karya-karya besar dunia lain, terutama sastra, yang dihasilkan dari tempat yang jauh dari fasilitas memadai.
Mungkin hanya kebetulan saja apabila salah satu karya besar dalam dunia sastra di bumi Serambi Mekkah Aceh, yaitu Ensiklopedi Aceh, juga dihasilkan dari sebuah mess yang berbentuk rumah petak ukuran sekitar 3 x 5 meter. Rumah tanpa kamar itu terletak di dalam lingkungan Taman Budaya Aceh di kota Banda Aceh, Provinsi Nanggore Aceh Darussalam. Di tempat inilah, Lesik Keti Ara atau lebih dikenal dengan LK Ara (71), salah satu sastrawan Aceh, ditemani istrinya menyusun karya babon, yakni Ensiklopedi Aceh, dalam 2 tahun terakhir ini.

Di dalam rumah tanpa kamar yang merangkap fungsi sebagai kamar tidur dan ruang kerja yang disesaki dengan buku dan naskah, LK Ara, pensiunan penerbit Balai Pustaka Jakarta, sekarang tengah menyusun Ensiklopedi Aceh yang kedua. Ensiklopedi Aceh jilid satu dengan tebal lebih dari 460 halaman yang disusunnya bersama Merdi sudah terbit tahun 2008. ”Jilid 2 ini bisa lebih dari 1.000 halaman,” kata LK Ara menjelaskan.

Ensiklopedi Aceh merupakan pengembangan dari buku Seulawah: Antologi Sastra Aceh yang diterbitkan oleh Yayasan Nusantara Jakarta bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias dan pemda tahun 1995. ”Jika pada Seulawah berisi karya-karya sastrawan Aceh dari Hamzah Fansuri pada awal abad ke-17 sampai sekarang, pada Ensiklopedi Aceh nama pengarang disertai riwayat hidup singkat, pencapaiannya, dan contoh karyanya yang berupa tulisan pendek, seperti puisi, hikayat diurutkan secara alfabetis. Karya berupa novel atau prosa tidak bisa dicantumkan karena akan menjadi terlalu panjang,” tandas LK Ara. Selain itu, Ensiklopedi Aceh juga memuat hikayat dan adat istiadat Aceh. ”Buat kita di Indonesia, sebenarnya hikayat adalah juga sastra atau bagian dari sastra. Tetapi, kalau di Aceh sini kalau disebut sastra saja orang belum tahu kalau ada hikayat di dalamnya. Oleh karena itu, dalam sampul ensiklopedi ini, saya tampilkan subjudul adat, hikayat, dan sastra.

Menggumuli sastra dan budaya memang sudah menjadi jiwa sekaligus jalan hidup LK Ara. Kendati sudah sepuh, semangat untuk terus berkarya di bidang sastra, terutama sastra Aceh, tetap menggelora di tengah minimnya fasilitas dan penghargaan yang memadai dari pemerintah maupun masyarakat. Sudah lebih dari 10 tahun semenjak pensiun dari Balai Pustaka tahun 1985, LK Ara yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerita anak-anak ini dengan tekun mendokumentasikan syair Gayo yang biasanya didendangkan para seniman Gayo. ”Saya pernah dalam setahun di Takengon (Gayo) sendiri. Tiap hari tertentu mereka (penyair) itu saya undang ke tempat saya. Saya ajak ngobrol dan menyalin lirik-lirik mereka,” kata LK Ara. Ia lebih memfokuskan untuk mendokumentasikan lirik atau teks, bukan lagunya. ”Karena saya bukan penyanyi,” kata Ara. Syair Gayo yang disalin lewat rekaman kaset ini tebalnya sudah ribuan halaman. Padahal, teks tersebut masih dalam bahasa asalnya. ”Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia bisa 2 juta halaman lebih,” tandas Ara.
Usaha yang dilakukan LK Ara untuk mendokumentasikan syair Gayo selama puluhan tahun ini bukan tanpa halangan. Namun, berkat ketekunan, kesabaran, dan kecintaannya untuk melestarikan salah satu kekayaan budaya Aceh ini, persoalan-persoalan yang ada dapat teratasi. ”Penyair Gayo itu umumnya enggak hirau dokumentasi. Begitu selesai mendendangkan syair, enggak lagi terdokumentasi,” kata LK Ara. Hal inilah yang menjadi salah satu kesulitan LK Ara dalam mendokumentasikan syair Gayo. Contohnya, dalam mengumpulkan karya Teuku Yahya, ia harus rela mengunjungi istri Teuku Yahya, tetapi hasilnya nihil. Akhirnya, seperti tidak habis akal, LK Ara pun mencari murid-murid Teuku Yahya. ”Malam-malam ada yang datang, namanya Siti Juariah kalau tidak salah. Masih ingat lagu-lagu karya mendiang gurunya?” tanyanya. ”Oh, bisa,” jawab Juariah. Kemudian dia langsung berdendang. ”Dari situ salah satu contoh saya mengumpulkan syair Gayo,” tandas LK Ara.

LK Ara membedakan antara syair Gayo dan Didong. Menurut dia, kendati keduanya sama-sama didendangkan, Didong lebih membicarakan masalah duniawi. Sementara syair Gayo temanya lebih religius dan biasanya memakai tradisi Islam.

Dalam satu-dua bulan ini, salah satu buku yang berisi syair Gayo yang ia kumpulkan rencananya akan terbit. Selain itu, ada satu naskah sastra Gayo yang juga sudah siap terbit. ”Ini adalah salah satu dari sastra Gayo selain Didong, peribahasa, pantun, teka-teki atau kekitikan, teka-teki panjang yang disebut ulo-ulo dan sebuku atau seni meratap,” jelas LK Ara yang bersama K Usman, Rusman Sutiasumarga, dan M Taslim Ali ikut mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Selain itu, dulu ia juga pernah memopulerkan penyair tradisional Gayo atau Didong yakni, almarhum Abdul Kadir To’et pentas di berbagai tempat di Indonesia.

Dalam menyelesaikan karya-karyanya, LK Ara biasanya tidak pernah memasang tenggat waktu kapan akan selesai. ”Jadi, saya sesantainya dan seadanya saja. Kadang ada yang mau membantu, seperti dinas kebudayaan ada biaya sedikit. Hal ini bisa lebih mempercepat,” jelas Ara. Kendati hidup di tengah situasi yang kurang memadai untuk berkarya, seperti rumah tanpa kamar, jalan becek pada waktu hujan, dan minimnya honor yang diterima, LK Ara tetap teguh bekerja untuk menghasilkan karya-karya besar bagi dunia satra Aceh.

TA Sakti
Terus berkarya kendati hanya bermodal semangat dan kecintaan terhadap sastra Aceh seperti yang dilakukan LK Ara ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Teuku Abdullah atau yang lebih dikenal dengan TA Sakti.  Ia  juga dikenal sebagai pelestari sastra Aceh seperti juga LK Ara. Berbekal kemampuan membaca huruf Arab Melayu (Pegon) dan kecintaannya terhadap sastra Aceh sejak tahun 1992, ia mulai mengalihaksarakan (transliterasi) naskah-naskah sastra Aceh ke dalam huruf Latin. ”Tujuannya biar orang Aceh bisa kenal lagi hikayat,” ujar TA Sakti.

Menurut TA Sakti, sebelum tahun 1960, hikayat masih sangat berpengaruh bagi masyarakat Aceh. ”Kalau mau memajukan orang Aceh itu lewat hikayat. Tulis hikayat sebagus-bagusnya, bagi orang Aceh itu akan berpengaruh. Tetapi, sekarang orang sudah tidak kenal hikayat lagi,” kata TA Sakti.

Awalnya, kegiatan TA Sakti melatinkan hikayat dan naskah Aceh lain itu hanya sekadar mengisi waktu luang. ”Ada naskah yang sudah dibuang di tempat sampah. Sudah tidak ada yang menyentuh lagi. Jadi saya sentuh, gara-gara tidak ada kegiatanlah, untuk mengisi waktu luang,” kata TA Sakti.

Saat ini TA Sakti yang pernah mendapatkan Bintang Budaya Parama dari pemerintah berkat jasanya melestarikan naskah-naskah kuno Aceh ini sudah berhenti mentransliterasi hikayat mengingat kondisi fisiknya yang semakin lemah. ”Sekarang ini mengetik satu halaman saja kaki saya sudah sakit. Kalau diteruskan terus bengkak. Jadi, berpikir pun tidak boleh terlalu berat,” kata TA Sakti. ”Kalau pergi ke mana-mana saya tergantung sama tukang RBT (rakyat banting tulang) atau ojek karena harus dipapah,” tutur TA Sakti.

TA Sakti menyalin hikayat sama sekali bukan demi uang. Bagaimana tidak, satu buku kecil/saku dengan hikayat ukuran 10,5 X 16 cm dan tebal sekitar 80 halaman ia jual ke toko buku seharga Rp 1.200,-. Biasanya ia mencetak paling banyak 1.000 eksemplar, sebagian besar malah hanya dicetak 500 buah. ”Saya kira semua (judul) kurang laku, amat kurang. Malah sudah tidak laku lagi. Bukan zamannya hikayat lagi,” kata TA Sakti. Dengan keuntungan hanya sekitar Rp 600,- per buku karena ongkos cetaknya saja sudah Rp 600,- per buku, itu pun kalau laku semua, ia hampir-hampir sama sekali tidak mendapat keuntungan materi. ”Saya malah rugi, buat ongkos RBT ke sana kemari dan beli kertas sudah harus nombok. Kalau bukan gara-gara kaki saya patah dan tidak ada kegiatan. Saya tidak akan mau,” tutur Sakti. Selain diterbitkan dalam bentuk buku saku, sebelum ini ia juga menyalin hikayat untuk koran lokal, Serambi Indonesia. ”Lebih kurang ada 1.000 hari dimuat, jadi tiap hari bersambung. Satu hari 5 halamanl. Tetapi, sekarang sudah tidak lagi,” jelas TA Sakti.

Saat ini TA Sakti sudah tidak lagi menyalin hikayat lagi setelah sudah mentransliterasikan 25 judul hikayat, tambeh, dan nazam Aceh, seperti Hikayat Mendeuhak dan Hikayat Nabi Yusuf, serta lebih kurang 22.000 buku saku telah ducetak. Salah satu hikayat terakhir yang dibukukan oleh penerima penghargaan Kehati Award 2001 kategori ”Citra Lestari Kehati” berkat kumpulan hikayat yang bertema cinta lingkungan hidup, seperti Wajeb Tasayang Binatang  Langka  dan Binatang Ubit Kadit Lam Donya, ini adalah hikayat Tambeh Tujoh Blah (2008). Juga tulisan mengenai salah satu sastrawan Aceh paling populer Syekh Rih  Kruengraya yang meninggal tahun 1997.
Padahal, masih banyak bahan-bahan yang belum disentuh. Ada dua prosa Aceh yang belum ia sentuh dan bahan-bahan lain yang kemungkinan besar masih tersimpan di rumah-rumah orang.(bip/wen, Litbang Kompas)

( Sumber: dari blog  LK. Ara:” Beberapa Pendapat tentang  LK. Ara”. Bale Tambeh, 24 Desember 2010, T.A. Sakti).

Bila sang Murid Bersamaan Minatnya dengan sang Guru

HIKAYAT SAKTI

Posted: Juli 14, 2010 by Boy in Feature
Tag:

Namanya tidak begitu dikenal layaknya Aly Hasjmy  dan Do Karim, namun karyanya telah banyak dilahap oleh pecinta seni budaya di Aceh, khususnya masalah Hikayat. Teuku Abdullah, begitulah nama laki-laki yang dilahirkan   tahun 1954.

“Nama saya Teuku Abdullah, Sakti itu nama Kecamatan asal saya. Tapi biar lebih gampang dihafal oleh kawan-kawan, saya sisipkan nama Sakti dibelakang nama saya,” jelasnya.

Ia telah memfokuskan diri di bidang sastra Aceh sejak tahun 1992. Awalnya rutinitas menuliskan sastra Aceh ini dijalankan hanya sebagai pelarian saja, disela-sela kesibukan akademisnya di Yogyakarta.

Akan tetapi, setelah kecelakaan menimpa dirinya di kota gudeg tersebut, T. Abdullah harus menderita kerugian, kondisi fisiknya membatasi kegiatannya sebagai mahasiswa dan wartawan freelance di beberapa media di kota tersebut

Oleh karenanya, T.A Sakti, mencoba menuliskan dan menstranslitkan beberapa hikayat Aceh yang merupakan kegemarannya saat kecil.

“Kalau dulu, di kampung saya ada beberapa orang kaya, apabila membuat suatu perayaan, mereka juga menggelar hikayat. Sebagai anak-anak, tentu saja saya tertarik,” ungkapnya.

Selain itu juga, ia  mengaku keluarganya mempunyai koleksi hikayat Aceh lama, sehingga iapun menjadi tertarik dengan sastra Aceh ini.

Meskipun sebagai pelarian, rutinitas tersebut ia kerjakan dengan sepenuh hati. Bahkan ia mengaku pada awalnya, semua cetakan hikayat miliknya adalah modal sendiri.

“Saya menyisihkan seratus ribu rupiah dari gaji saya untuk membayar percetakan,” terangnya.

Kegigihan yang ia lakukan sepenuh hati itu akhirnya mendapat penghargaan, baik dari pemerintah maupun lembaga terkait. Salah satunya adalah penghargaan berupa Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI atas jasanya mendorong, mengembangkan dan melestarikan naskah-naskah sastra lama Aceh yang hampir punah.

Bersamaan dengan itu juga turut diberikan penghargaan kepada 4 orang lainnya, yaitu Edi Sunarso, Sardhono W. Kusumo, Ki Djeno Harum Brodjo dan Christine Hakim serta A.T. Mahmud.

Akan tetapi, penghargaan tersebut tidaklah membawa perubahan apa-apa bagi Abdullah. Untuk ia coba memperbanyak tulisan hasil karyanya dengan mengandalkan proposal-proposal ke dinas-dinas dan Pemerintahan Daerah termasuk DPRD Aceh. Sekian banyak proposal tersebut, hanya lembaga utang luar negeri, yakni World Bank yang mampu memberikan pinjaman kepadanya.

Sebagai sastrawan Aceh, T.A Sakti telah banyak menghasilkan hikayat. Lebih kurang 28 buah hikayat telah ditranslitkan yang di dalamnya termasuk naskah hikayat kontemporer ciptaannya sendiri.

Karyanya yang terakhir untuk saat ini adalah Hikayat Muda Balia dan Aceh Ka Damei, telah dicetak menjadi sebuah buku. Ia juga mengaku, hasil karyanya ini telah disumbangkan ke berbagai instansi pendidikan dan perpustakaan termasuk Pustaka di University Sains-Malaysia.

Banyak hikayat koleksinya telah rusak akibat tsunami, meskipun begitu TA Sakti optimis dan tetap akan mengembangkan serta memperkenalkan kembali hikayat Aceh kepada generasi muda tanah rencong ini. []

( Sumber: Blog Boy Nasruddin Agus.  Ia mahasiswa saya ketika masih kuliah. Bale Tambeh, 24 Desember 2010, T.A. Sakti).

Laporan Majalah Tempo,Jakarta

Sale dan Madeueng dalam Tradisi Pengobatan di Aceh

dsc00076

Afif Widhi Ananto sedang mempresentasikan karya tulisnya di depan tim penguji

un, Dec 5th 2010, 09:30

Apresiasi

Sale dan Madeung dalam tradisi pengobatan di Aceh

TIGA siswa SMPN 1 Banda Aceh, Afif Widhi Ananto, Ghina Luqiyana Rusman, dan Nadila Anindita, melakukan penelitian suatu tradisi pengobatan Aceh yang sudah lama tertimbun “sampah Budaya Aceh”,yakni Sale dan Madeung. Mereka meraih Medali Perunggu pada “Lomba Penelitian Ilmiah Remaja ( LPIR ) SMP Tingkat Nasional yang  diselenggarakan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional ( 27 September — 2 Oktober 2010). Sayang mereka tak bisa berangkat semua ke Yogyakarta, karena tak cukup biaya.Salè sinonim dari bersalai atau berdiang-dengan cara dipanaskan, dikeringkan, didekatkan ke api atau diasapi. Cara itu bukan asing lagi dalam masyarakat Aceh. Maka ada panganan cukup terkenal seperti pisang salè dan ikan salè. Cara pengobatan dengan sale, diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti sakit lutut, tulang, betis, dan itu tersebut dalam naskah lama Aceh  yang  telah berusia sekitar 177 tahun. Biasanya kayu yang digunakan (dibakar) untuk bersale, adalah bak Reudeup (kayu dadap).

Jadi, salè  sebuah teknik pengobatan sederhana. Cukup menggunakan tempat tidur atau dipan dan bagian bawah tertutup, hanya  memiliki pintu untuk memasukkan angglo atau tungku sebagai alat pembakar bahan yang lainya adalah  arang, dan kayu dadap. Teknik ini sudah dilakukan  secara turun temurun.

dsc00078

Sementara Madeung adalah teknik pengobatan yang lazimnya dilakukan wanita Aceh yang baru selesai melahirkan. Hanya saja kayu bakar dicampur dengan daun dan rempah-rempah tertentu yang mengandung aroma harum serta berkhasiat untuk kesehatan, rempah-rempah yang digunakan ini termasuk dalam daftar jamu empat puluh empat,atau “aweueh peuet ploh peuet” — biasa juga disebut dengan rempah ratus. Ureung madeung ini, biasanya menyebutnya “ureung didapu”(orang yang membaringkan dirinya di ruangan dapur.

Ketika seorang wanita habis melahirkan melakukan Madeueng. Caranya: menyediakan tunggul-tunggul kayu untuk dibakar.  selama empat puluh empat hari. Ini disebut “Tungoe”,  setelah itu dipersiapkan juga balai-balai atau dipan yang dibuat dari batang bambu yang cukup tua atau batang pinang atau batang kelapa atau batang nibung yang telah dibelah memanjang selebar kurang lebih tiga jari, dewasa ini karena bahan-bahan tersebut sudah agak sulit ditemukan, maka dipersiapkanlah balai atau dipan untuk orang yang masih melakukan ritual madeung dengan menggunakan papan atau kayu yang dibelah memanjang dengan lebar sekitar lima sentimeter, disusun memanjang dengan jarak antara satu bilah papan dengan papan yang lain berjarak 2 cm (agar asap dan panas bisa masuk melalui celah-celah tersebut) dan dipan yang digunakan biasanya berukuran panjang disesuaikan dengan tinggi tubuh seseorang, agar orang tersebut dapat tidur dengan nyaman dan leluasa, lebarnya minimal 75 cm atau tergantung selera dan kebutuhan serta tingginya lebih kurang 1 meter, dibawah dipan itu ada yang menggunakan pembakaran model tungku, bahannya ada yang terbuat dari semen dan pasir ada juga gerabah dari tanah liat seperti anglo yang  diisi dengan “teungo” atau kayu,dengan melalui proses pembakaran dari api berubah menjadi bara merah, barulah diatasnya diletakkan kayu-kayu kecil yang mengandung obat, seperti: kayu dadap, kayu rambutan, kayu cendana dll. Selain itu juga disediakan juga batu kali sebesar tempurung kelapa sebanyak tiga buah yang berbentuk agak gepeng (pipih) dan bisa juga berbentuk bulat, sehinggga mudah untuk disandarkan pada perut perempuan yang tidurnya miring (menyisi).

Ada kalanya dimulai pada hari ketiga setelah bersalin, biasanya sekitar jam sepuluh pagi setelah sang ibu selesai mandi. Prosesnya selama 7 hari berturut-turut,tetapi ada juga yang dilakukan oleh orang-orang tertentu selama empat puluh empat hari berturut-turut (selama masa nifas) yang biasanya selesai ritual madeung ini sang ibu akan melaksanakan “manoe peut ploh peut” atau mandi suci.

Selanjutnya dilakukan proses bakar batu Toet Batee (pemanasan batu),batu yang telah dipanaskan lalu diangkat dan dibungkus dedaunan tertentu,seperti “Oen Nawah” (daun jarak) lalu dibalut kain beberapa lapis hingga panasnya masih dapat dirasakan tetapi tidak menimbulkan bahaya.Gulungan batu tersebut lalu disandarkan pada perut perempuan yang sedang berbaring di balai-balai tersebut, jika batu pertama sudah dingin,maka akan digantikan oleh batu kedua yang dibuat serupa dengan batu pertama, dan begitu juga dengan batu yang ketiga yang dipakai setelah batu kedua dingin terus-menerus secara bergantian, batu dipanaskan di dapur di bawah balai tersebut yang terus menerus berapi, api dari tungku kayu itu tak boleh terlalu besar, maka dari itu apinya perlu dijaga..

Yang bertugas sebagai penjaga dilakukan secara bergantian yaitu: orang tua,mertua,dan tetangga atau kerabat.Ini juga adalah sebagai ajang kebersamaan dan mempererat silaturahmi.Sewaktu menjaga,mereka disuguhi makanan berat dan makanan ringan.Di sebuah daerah Aceh yang bernama Takengon, yang terletak di Dataran Tinggi Gayo termasuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah, yang bertugas menjaga orang madeung itu adalah suaminya dan orang laki-laki yang masih kerabatnya sendiri,kebiasaan tersebut bernama “melee-melee.” Mereka begadang semalam suntuk tidak tidur sambil minum-minum kopi dan berdiang di sekitar dipan atau balai tersebut..

Selama empat puluh empat hari menjalani prosesi madeung, makanan yang boleh dimakan hanyalah nasi putih dengan lauk pauk yang diolah secara khusus sehingga bebas lemak, seperti ikan yang direbus bisa juga dipanggang, atau dikukus dan digoreng setengah matang.Yang boleh mereka minum hanyalah air putih saja, makanan dan minuman yang lainnya tidak diperbolehkan sama sekali untuk dikonsumsi, karena menurut mitos orangtua zaman dahulu, meraka berpesan melalui nenek-nenek jika anak atau cucunya kelak bersalin, jangan sekali-kali  memakan telur ayam apalagi telur bebek, katanya, bisa berbahaya dan bila dimakan telur akan keluar telur (peranakan), demikian juga dilarang memakan pisang,karena makanan itu dianggap tajam.Tetapi hal tersebut sangat bertolak belakang jika ditinjau dari segi medis.

Setelah empat puluh empat hari lamanya, barulah diperbolehkan untuk acara turun mandi yang diistilahkan dengan  “manoe peut ploh peut” artinya mandi suci atau mandi hadas besar yang dilaksanakan setelah hari ke empat puluh empat, yang biasanya dipandu oleh orang tua atau dukun/bidan gampong atau biasa disebut Ma Blien.

Usai acara mandi Wiladah dan mandi nifas setelah suci dari melahirkan atau mandi adat setelah 44 hari, barulah sang ibu diperbolehkan untuk menjejakkan kakinya diatas tanah, karena dianggap telah suci. Pengalaman yang diungkapkan oleh Narasumber tentang Madeung.

Proses Madeung ( salè, toet bate atau bakar batu, dan ramuan tradisional ) ini bisa disebut juga alat KB Tradisional, karena dengan melakukan serangkaian proses Madeung bisa mengatur jarak kelahiran karena pada jaman dahulu belum ada program keluarga berencana (KB) yang modern seperti sekarang ini.

Madeung dan Salè mempunyai beberapa fungsi, yaitu: dapat mengeringkan peranakan, tubuh menjadi singset, dapat mengecilkan perut, dapat mengatur jarak kelahiran, dan mendatangkan aroma harum pada tubuh.

Serangkaian prosesi tersebut saya lakukan 14 tahun yang lalu, ketika kelahiran anak tunggal saya, tetapi manfaatnya masih saya rasakan sampai sekarang. Antara lain, sebagai  berikut : badan selalu fit dan tidak mudah lelah, Badan tidak melar/tidak gemuk dan singset, Tidak mudah terserang penyakit, Selalu kelihatan awet muda ( jauh berbeda dengan yang tidak melakukan proses madeung, seperti adik kandung saya yang tidak melakukan proses itu, sekarang dia terlihat menjadi gemuk dan badannya melar, serta mudah lelah dalam mengerjakan suatu pekerjaan)

Mdeueng lebih hebat dari mandi uap, dalam tradisi Aceh disebut Ukoep. Sebelum prosesi Ukoep, terlebih dahulu harus disiapkan bahan-bahan berupa ramuan daun-daunan dan rempah-rempah, misalnya: “Oen Kuyun” (daun jeruk nipis) dan “Oen Mee” ( daun asam Jawa ), bisa juga dengan “Oen Limeeng Engkoet” ( daun belimbing wuluh ), “Oen Ranuep” ( daun sirih ), “Bak Rheu”( batang serai ), “Kuleet Bak Geurundoeng” ( kulit batang kuda-kuda ), “Kuleet Maneh” ( kayu manis ), “Bungoeng Lawang” ( bunga cengkeh ), “Boh Pala” ( biji pala ), “Boh Langkueuh”( umbi lengkuas ), “Oen Sekee Puloet” ( daun pandan ).

Jika Ukop ini dilakukan secara berkala dan teratur, Insya Allah berat tubuh seseorang akan selalu ideal, bukankah ini yang menjadi dambaan bagi semua orang khususnya kaum perempuan. Orang yang berat badannya ideal biasanya sehat. Antara lain dapat mengobati penyakit inflensa dan demam ( meriang)

* T.A. Sakti,   pemerhati obat tradisional.

(Catatan: 1. Sumber, Harian Serambi Indonesia Banda Aceh, Minggu, 5 Desember 2010, halaman Budaya.
2. Saya,  sesungguhnya hanya sebagai pelapor dari hasil penelitian yang dilakukan tiga siswa  SMPN 1 Banda Aceh   yang melibatkan saya sebagai salah seorang narasumbernya.Bale Tambeh, Jum’at, 24 Desember 2010. T.A. Sakti )
3. Ketiga photo dalam artikel ini baru diposting oleh Oga UD, Jum’at, 23 Desember 2016 lk jam 11.00 bertempat di Kantin belakang Gedung ACC Dayan Dawood, Kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.
dsc00196