Di Hari Raya: Mahasiswa-Pelajar Aceh di Perantauan Terkenang Kampung!

Di Hari Raya

Pelajar Aceh Perantau Terkenang Kampung

Menjadi musafir di Idul Fitri, memang serba tidak enak. Betapa tidak!. Yang sepantasnya,  pada hari itu setiap orang berada di kampung halamannya; berkumpul bersama keluarga. Karena itu, tidaklah mengherankan bila berbagai kota di Indonesia – terutama Jakarta – serasa  ‘kosong’  karena ditinggalkan penduduknya yang hendak berlebaran ke kampung masing-masing.

Ber-Idul Fitri di rumah sendiri memang punya “nilai lebih”, dibandingkan merayakan di Lebaran di perantauan. Bagi mereka yang merantau,  sekiranya dalam setahun dapat sekali  berkumpul dengan keluarganya;  alngkah melegakan hati. Apalagi pada Hari Raya. Pada hari yang penuh khidmad ini, peristiwa saling bermaafan dengan  anggota keluarga terutama kedua orang tua: sungguh suatu nikmat tersendiri yang tinggi nilainya bagi orang yang bersangkutan.

Kesempatan menikmati masakan dan jenis kue khas Lebaran ‘made in’ kampung atau daerah sendiri, termasuk juga salah satu pendorong para perantau mudik ke desanya. Tambahan pula, banyak juga orang yang terkenang sesuatu menjelang Hari Raya Idul Fitri, seperti rindu anak istri, kekasih hati, sahabat, guru ngaji dan lain-lain; yang kesemuanya mampu memacu seseorang untuk segera pulang kampung menjelang Lebaran tiba. Tetapi sayangnya, tidak setiap orang yang dirantau punya kesempatan ber-Hari Raya di rumahnya sendiri. Ada-ada  saja perkara  yang menghalanginya berkumpul bersama keluarga pada hari yang mulia ini. Sebagiannya, karena nasib sialnya di  perantauan. Niat berangkat dari desa untuk mencari nafkah di rantau, tak pernah terlaksana. Malah banyak diantaranya yang terpaksa dililit utang, niat pulang kampung menjelang Lebaran, sama sekali tidak menggairahkan. Akhirnya dia memutuskan: “lebih baik saya tidak pulang”. Memang banyak sebab musabbabnya, “anak dagang di rantau  orang” tidak pulang, ada yang disebabkan keterbatasan biaya, ada tugas penting yang mesti segera dituntaskan dan sebagainya.

Diantara mereka yang tidak ada kesempatan pulang adalah sebagian putra-putri Aceh yang study di Yogyakarta. Tujuan pelajar dan mahasiswa merantau ke Yogyakarta guna menuntut ilmu. Jumlah mereka sekitar 1500 orang, tersebar di berbagai pusat pendidikan. Kebanyakan diantaranya tinggal di rumah kost, sebagian kecil lainnya tinggal di asrama-asrama “Daerah Aceh”. Asrama- asrama Aceh yang ada di Yogyakarta, yaitu Asrama Merapi Dua, Asrama Cut Nyak Dhien,  Asrama Sabena, Asrama  Kebun Dalem, Wisma Iskandar Muda, dan Asrama Laut Tawar. Kesemua asrama ini bernaung di bawah Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta yang kantor sekretariatnya asrama Merapi Dua Jl. Sunaryo No. 2 Yogyakarta.

Banyak perkara yang mengingatkan putra-putri Aceh ke kampung halamannya. Diantaranya terkenang kepada Ayah Bunda, makanan khas Aceh pada hari Lebaran seperti timphan, tape, loyang dan sebagainya. Kenyataan ini terungkap dalam wawancara penulis dengan beberapa mahasiswa-mahasiswi Aceh yang berada di Yogyakarta.

“Bagi saya Lebaran sudah tidak menjadi masalah lagi, cuma sayangnya pada saat Lebaran itu tidak bisa langsung minta maaf dengan orang tua dan kumpul dengan adik-adik saya. Hal ini disebabkan oleh keadaan atau sikon yang tidak mengizinkan. Jadi lebih baik saya tidak mau memikirkan atau bersedih-sedih” ungkap Syarifah Khausarina, mahasiswi Akademi Kesejahteraan Keluarga tingkat akhir yang  7 tahun sudah tinggal  di Yogyakarta. Lebih jauh putri Aceh asli ini menceritakan perasaannya berlebaran di rantau bahwa “saya punya target untuk menyelesaikan study. Dan juga kebetulan lebaran ini banyak kawan-kawan yang tidak pulang ke Aceh. Tapi Ipah yang panggilan sehari-harinya mengakui bahwa “saat sekarang perasaannya hanya sedikit sedih dan rindu dengan keluarga”.

Lain lagi halnya dengan Ratna Meutia, “sebenarnya sedih juga, apalagi ketika terdengar takbir di malam Hari Raya, keresahan hatinya memuncak teringat kedua orang tua nan jauh di sana. Kalau masalah kue Lebaran tidak menjadi problem bagi saya, karena di Yogya pun; kami warga asrama putri Cut Nyak Dhien bisa membuat sendiri seperti timphan, grieng, loyang dan lain-lain”. Pernyataan ini dibenarkan oleh Cut Izzaton Nasyiin yang sama-sama mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Malah Cut Izzaton Nasyiin yang panggilan akrabnya Iton menambahkan bahwa “meskipun kami berada di luar daerah, tapi tetap melestarikan budaya Aceh.”

Mutia Nanda mahasiswi Fakultas Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pada Lebaran kali ini pingin mencoba ber-Idul Fitri di rantau. Pada Lebaran yang lalu ia tidak sanggup menahan rindu terkenang keluarga, sehingga terpaksa ‘kabur’ ke Aceh untuk ber-Hari Raya bersama sanak familinya.

“Menurut saya;  pingin dekat dengan orangtua pada hari yang suci ini wajar, sedangkan saya sendiri yang jauh dengan orangtua hanya sekitar 90 km, namun rindu setengah mati, “ kata Syarifah Rose Pandawangi yang kedua orang tuanya asal Aceh, tapi ia sendiri lahir dan dibesarkan di Sargen, Jawa Tengah. “Apalagi Rose diharapkan pulang kerumah oleh kedua orangtuanya sehari sebelum Hari Raya,”, tandas mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Gambaran kesedihan antara pria dengan wanita tidaklah persis sama. Ini adalah lumrah alam. Suasana  demikian terlihat di saat mereka menjawab pertanyaan penulis sehubungan dengan Lebaran ini. Aminurasyid mahasiswa Fakultas  Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yang baru dua tahun study di Yogya menjelaskan, “Bagi saya yang paling mengesankan jika berlebaran di Aceh adalah di hari Makmeugang. Dan yang menyebabkan saya teringat ke kampung mungkin soal makanan sangat berbeda dengan di Yogya”, tandasnya dengan logat khas Aceh asli. Berbeda dengan Abdulla. “Menurut saya; lebaran di kampung suasananya lebih meriah, sebab dekat sanak keluarga, dan juga ber Hari Raya di kampung lebih gembira pada saat menikmati hidangan-hidangan bersama kerabat,” kata mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, Universitas Proklamasi 45 ini dengan nada blak-blakan. Mahasiswa yang lahir di Matang Geulumpang Dua, Aceh Utara selanjutnya mengutarakan bahwa, “Memang perasaan saya sedih kalau Lebaran di rantau ,karena saat takbiran menggema menyebut asma Allah;  saya merasa terasing dari sanak saudara, seakan tidak ada yang memperhatikan”.

Lain lagi dengan Teungku Saby (nama samarannya), ia mengungkapkan: “Sedih memang, apalagi saya sudah 4 tahun tidak pernah pulang untuk menemui orang tua”. Lebih jelas mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta ini menceritakan bahwa “Seolah-olah sepi Lebaran di rantau, ini karena tidak dekat dengan ayahanda-bunda, walaupun ada orang tua angkat di Yogyakarta, toh sama sekali tidak sama dengan orang tua yang asli. Apalagi saya di Yogya tidak punya family (keluarga) satupun”. Dengan nada sedikit berfilsafat mahasiswa yang lahir di Luengputu-Sigli ini katanya, “Ya….. memang begitulah lebaran versi mahasiswa, ini semuanya demi cita-cita”, tukasnya seperti merangkum kisah-kisah mahasiswa lainnya.

Begitulah, kisah suka-duka putra-putri Aceh di perantauan di saat Idul Fitri. Mereka terkenang ayah-bunda sanak keluarga, kue khas daerah dan berbagai kesyahduan lainnya; sekiranya berkesempatan Lebaran di kampung halaman. Suasana galauan hati yang demikian, memang tepat sekali seperti lirik lagu “Dendang Perantau” yang di dendangkan P. Ramly (almarhum) yang masih tetap disiarkan radio Malaysia-Kuala Lumpur dan radio Singapura, menjelang serta berhari-hari sesudah Hari Raya hingga sekarang.

Diakhir wawancara; kesemua putra-putri Aceh ini menitipkan salam lewat Siaran Minggu Harian Waspada, buat Ayah-bunda, sanak saudara, teman-teman, guru ngaji (Teungku), guru sekolah dan seluruh masyarakat Aceh dimana saja berada, dengan ucapan: “Selamat Hari Rya  Idul Fitri 1 Syawal 1408 H, mohon maaf lahir batin,” ucap mereka.

Kiriman T. A. Sakti dari Yogyakarta

( Sumber:  Rubrik REMAJA, Siaran Minggu “WASPADA”, Minggu, 29 Mei 1988  halaman  III.

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Di Hari Raya: Mahasiswa-Pelajar Aceh di Perantauan Terkenang Kampung!

  1. lon tuan karap 5 thon uroe raya haji di gampong gob 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s