Perlu Dialog antar Generasi Budayawan Aceh!

Komentar Pembaca:

PERLU DIALOG ANTAR GENERASI BUDAYAWAN ACEH

Baru-baru ini, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Tgk. Muhammad El Abdul Muthalib alias Tgk. Muhammad, pengarang hikayat Saidina Ali yang telah selesai dimuat Serambi. Dampak pertemuan itu, telah merobah total sikap keliru saya selama ini terhadap para sesepuh sastrawan, budayawan, seniman dan penulis Aceh yang bukan sarjana.

Hasil ‘dialog’ itu juga mengingatkan saya kembali kepada kebijakan-kebijakan Pemda Jawa Tengah pada tahun 80-an. Akibat sukar memperoleh guru-guru yang siap pakai menguasai “Ilmu Budaya Jawa” atau muatan lokal; maka direkrutlah para sesepuh budayawan, sastrawan dan para seniman yang tidak memiliki ijazah formal untuk mengajar muatan lokal di tingkat SD, SMP, dan SMTA. Sekedar mengenal metode mengajar, kepada para sesepuh ini diberikan kursus singkat dan praktis. Sementara imbalannya diberikan dalam bentuk honor yang memadai. Pada saat hampir bersamaan, malah Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan ‘instruksi’,  agar di semua lokal sekolah dipajangkan ” gambar para tokoh wayang”  agar jadi sumber ‘bimbingan moral’ bagi generasi muda daerah itu. Mengenai muatan lokal, kalau tidak salah ingat, Pemda Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga menempuh jurus-jurus pintas yang sama.

Hingga hari ini, saya telah mengalih aksarakan sembilan judul/nskah tambeh dan hikayat Aceh. Enam judul diantaranya telah dimuat Serambi. Selain itu, beberapa judul ‘syair Aceh’ singkat karya sendiri juga telah dimuat dalam majalah/koran terbitan Banda Aceh. Namun, baru sekaranglah saya merasa janggal. bahwa saya sama sekali tidak memiliki ilmu atau rumus-rumus yang bisa memudahkan seseorang menyusun hikayat dan syair Aceh. Berarti, selama ini saya hanya meraba-raba tanpa pedoman dalam menulis syair-syair Aceh. Jika menguasai penuntun itu, malah hikayat lama bisa kita tulis -ulang ke dalam bahasa Aceh kontemporer sekarang ini.

Setelah diskusi dengan Tgk. Muhammad, barulah saya ketahui bahwa untuk mengarang hikayat Aceh yang bermutu memerlukan pengetahuan ilmu penuntunnya. Diantara istilah yang masih saya ingat adalah bahrul rijal, pakhok lapan dan pakhok 12, yaitu tentang jenis persanjakan syair Aceh.

Para sesepuh budayawan Aceh semacam Tgk Muhammad masih banyak terdapat di desa. Keterampilan mereka juga bereneka ragam. Akibat dihimpit kemiskinan dan pergaulan yang sempit; kreativitas mereka jadi tersendat-sendat dan banyak karya tulis mereka yang tidak mampu dicetak.

Dalam upaya memperluas wawasan kita tentang budaya Aceh, pantas diadakan ‘dialog’  yang berkesinambungan antar generasi peminat sastra Aceh. Penerbitan buku penuntun berbagai jenis kesusastraan Aceh sudah saatnya diedarkan ke masyarakat luas. Kepada peserta Mubes LAKA di Jakarta (12-5/9/1994); kita harapkan problema ini juga jadi topik yang serius mereka diskusikan!!!!!!!!!!!.

T. A. Sakti

Darussalam, Banda Aceh

7 September 1994.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s