Pakar Hikayat Aceh, Mengapa Diam?

Komentar Pembaca:

Pakar Hikayat Aceh Mengapa Diam??

Waktu telah berlalu dua tahun lebih, sejak hikayat pertama Nun Parisi dimuat Harian Serambi Indonesia. Dalam jangka masa hampir 1000 (seribu) hari itu,  sudah 10 (sepuluh) judul/naskah hikayat Aceh yang “dipublikasi kembali” oleh suratkabar kecintaan masyarakat Aceh ini (termasuk hikayat Saidina Ali – yang sedang dimuat!).

Tetapi aneh, namun itulah kenyataan!!. Bahwa selama pemuatan hikayat-hikayat itu, amat jarang kita jumpai tanggapan masyarakat yang dimuat dalam media ini. Komentar pembaca tak pernah ada, kecuali pada awal-awal pemuatan hikayat tempo hari. Mungkinkah hikayat Aceh tak ada peminat/pembacanya. Kalau benar demikian, alangkah baiknya jika “Serambi” menghentikan pemuatannya. Peue guna teuma, arang habeh beusoe han peuja! (Arang habis, besi binasa). Menurut suatu informasi menyebutkan, dalam laporan penelitian yang dilakukan Fakultas Keguruan(FK) Unsyiah tahun 1971, memang terbukti sebagian besar remaja di Aceh sudah tak tahu apa-apa tentang hikayat Aceh. Jika pada tahun 1971 ternyata demikian, kenyataan sekarang besar kemungkinannya lebih parah lagi, sebab, anak-anak yang lahir dari generasi tahu 1971, tentu mewarisi jejak orang tua mereka. Pakriban u meunan minyeuk, lagee Du meunan aneuk (Anak hampir pasti mengikuti perilaku orang tuanya).

Seandainya Harian Serambi Indonesia hendak ‘melanggengkan’ pemuatan hikayat Aceh serta mengharapkan banyak peminatnya, banyak jalan yang bisa ditempuh. Dalam hal ini, sama sekali saya tidak bermaksud mengajari” kucing menerkam tikus!!”. Setahu saya, sebagian besar karyawan ”Serambi” baik para wartawan, redaktur dan staf lainnya terdiri dari para sastrawan, budayawan, seniman serta penulis-penulis handal/kawakan. Malah beberapa orang diantaranya sekiranya tinggal di Jakarta atau Yogyakarta; saya yakin mereka sudah populer sebagai sastrawan, budayawan atau seniman tingkat nasional, bahkan lingkup regional ASEAN. Dan saya yakin, beberapa orang diantaranya ada yang berminat di bidang bahasa dan sastra Aceh. Sekedar contoh (maaf..) amatilah ‘kolom tingkap’ yang ditulis Bapak Barlian A.W. Bila disimak isi “tingkap”  yang dikemas dalam judul-judul : Jingki, Daboh, Peunganjo, Syekh Rasyid, Al-mar’atu,

Neng, Bulan, dan Luha( Serambi, 1-8- 1994) ; sangat jelas bahwa beliau cukup menguasai akar-akar budaya Aceh. Dalam hal ini seluruh isi “Tingkap” yang ditulis merupakan upaya  ‘mengaktualkan kembali’ nilai-nilai keacehan dengan perkebangan sekarang.

Jadi, sekiranya para pakar/ahli hikayat Aceh masih tetap “diam/membisu” hingga sekarang; alangkah terpujinya bila para “orang dalam” Serambi” bergerak-serentak mempeloporinya. Menurut saya, tujuan dimuatnya Hikayat Aceh di Harian Serambi Indonesia, tidak semata agar dibaca oleh orang-orang tua di kedai-kedai kecamatan atau di kampung-kampung saja. Tujuan sebenarnya, yakni agar Hikayat Aceh mau dibaca segenap golongan serta semua umur bagi siapa saja yang berminat. Mengutip kembali hasil penelitian di Unsyiah tahun 1971;  “ menunjukkan  kontak batin” antara Hikayat Aceh dengan kaum muda ternyata  sudah putus alias tidak nyambung.

Di sinilah pentingnya kesediaan para pakar hikayat mau campur tangan atau ‘ berkotor tangan’. Bermodalkan keahliannya, para ahli ini mampu “menyambung”  kembali dawai-dawai yang sudah lama putus. Melalui artikel-artikel yang mengulas, mengupas, memilah seluk beluk Hikayat Aceh (maaf, saya kurang  paham masalah ini) seperti tujuan penulisan hikayat, lambang-simbol, persanjakan sastra Aceh dan lain-lain; tentu lama-kelamaan generasi muda Aceh akan paham dan mencintai kembali budaya Endatu(nenek moyangnya). Serta pada suatu ketika, kaum muda ini pun bakal mampu menyusun hikayat Aceh dengan corak ragam zaman canggih sekarang ini.

Setahu saya, kampus-kampus Perguruan Tinggi/Institut di Aceh banyak memiliki tenaga ahli atau pakar bahasa dan sastra Aceh-terutama pakar Hikayat Aceh. Banyak yang senior, tak kurang pula yang muda-muda.  Malah ada yang menyusun Thesis Pasca Sarjana dengan topik “Hikayat Aceh”. Saya tetap heran, sudah lebih dua tahun Hikayat Aceh dimuat dalam Harian Serambi Indonesia; namun mereka tetap diam-membungkam. Kenapa para pakar Hikayat Aceh ini terus diam???. Kita berharap, dalam Musyawarah Besar Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh(Mubes  LAKA) yang akan diadakan di Jakarta tanggal 12 s/d 15 September 1994; kiranya “kesenjangan” ini pantas jadi bahan diskusi para peserta musyawarah budaya Aceh yang bermartabat itu. Semoga…!!!.

T.A. Sakti

Banda Aceh,

22 – 2 – 1415/ 3 –  8 -1994

*Catatan kemudian: Alhamdulillah, dalam rangka Unsyiah Fair X, BEM Unsyiah akan melangsungkan acara Lomba Baca Hikayat Aceh pada Senin, 19 Oktober 2015 bertempat di Gedung Dayan Dawood, Darussalam, Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bale Tambeh, Sabtu, 17 Oktober 2015, pkl. 7:21 wib., T.A.Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s