Di Hari Raya: Mahasiswa-Pelajar Aceh di Perantauan Terkenang Kampung!

Di Hari Raya

Pelajar Aceh Perantau Terkenang Kampung

Menjadi musafir di Idul Fitri, memang serba tidak enak. Betapa tidak!. Yang sepantasnya,  pada hari itu setiap orang berada di kampung halamannya; berkumpul bersama keluarga. Karena itu, tidaklah mengherankan bila berbagai kota di Indonesia – terutama Jakarta – serasa  ‘kosong’  karena ditinggalkan penduduknya yang hendak berlebaran ke kampung masing-masing.

Ber-Idul Fitri di rumah sendiri memang punya “nilai lebih”, dibandingkan merayakan di Lebaran di perantauan. Bagi mereka yang merantau,  sekiranya dalam setahun dapat sekali  berkumpul dengan keluarganya;  alngkah melegakan hati. Apalagi pada Hari Raya. Pada hari yang penuh khidmad ini, peristiwa saling bermaafan dengan  anggota keluarga terutama kedua orang tua: sungguh suatu nikmat tersendiri yang tinggi nilainya bagi orang yang bersangkutan.

Kesempatan menikmati masakan dan jenis kue khas Lebaran ‘made in’ kampung atau daerah sendiri, termasuk juga salah satu pendorong para perantau mudik ke desanya. Tambahan pula, banyak juga orang yang terkenang sesuatu menjelang Hari Raya Idul Fitri, seperti rindu anak istri, kekasih hati, sahabat, guru ngaji dan lain-lain; yang kesemuanya mampu memacu seseorang untuk segera pulang kampung menjelang Lebaran tiba. Tetapi sayangnya, tidak setiap orang yang dirantau punya kesempatan ber-Hari Raya di rumahnya sendiri. Ada-ada  saja perkara  yang menghalanginya berkumpul bersama keluarga pada hari yang mulia ini. Sebagiannya, karena nasib sialnya di  perantauan. Niat berangkat dari desa untuk mencari nafkah di rantau, tak pernah terlaksana. Malah banyak diantaranya yang terpaksa dililit utang, niat pulang kampung menjelang Lebaran, sama sekali tidak menggairahkan. Akhirnya dia memutuskan: “lebih baik saya tidak pulang”. Memang banyak sebab musabbabnya, “anak dagang di rantau  orang” tidak pulang, ada yang disebabkan keterbatasan biaya, ada tugas penting yang mesti segera dituntaskan dan sebagainya.

Diantara mereka yang tidak ada kesempatan pulang adalah sebagian putra-putri Aceh yang study di Yogyakarta. Tujuan pelajar dan mahasiswa merantau ke Yogyakarta guna menuntut ilmu. Jumlah mereka sekitar 1500 orang, tersebar di berbagai pusat pendidikan. Kebanyakan diantaranya tinggal di rumah kost, sebagian kecil lainnya tinggal di asrama-asrama “Daerah Aceh”. Asrama- asrama Aceh yang ada di Yogyakarta, yaitu Asrama Merapi Dua, Asrama Cut Nyak Dhien,  Asrama Sabena, Asrama  Kebun Dalem, Wisma Iskandar Muda, dan Asrama Laut Tawar. Kesemua asrama ini bernaung di bawah Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta yang kantor sekretariatnya asrama Merapi Dua Jl. Sunaryo No. 2 Yogyakarta.

Banyak perkara yang mengingatkan putra-putri Aceh ke kampung halamannya. Diantaranya terkenang kepada Ayah Bunda, makanan khas Aceh pada hari Lebaran seperti timphan, tape, loyang dan sebagainya. Kenyataan ini terungkap dalam wawancara penulis dengan beberapa mahasiswa-mahasiswi Aceh yang berada di Yogyakarta.

“Bagi saya Lebaran sudah tidak menjadi masalah lagi, cuma sayangnya pada saat Lebaran itu tidak bisa langsung minta maaf dengan orang tua dan kumpul dengan adik-adik saya. Hal ini disebabkan oleh keadaan atau sikon yang tidak mengizinkan. Jadi lebih baik saya tidak mau memikirkan atau bersedih-sedih” ungkap Syarifah Khausarina, mahasiswi Akademi Kesejahteraan Keluarga tingkat akhir yang  7 tahun sudah tinggal  di Yogyakarta. Lebih jauh putri Aceh asli ini menceritakan perasaannya berlebaran di rantau bahwa “saya punya target untuk menyelesaikan study. Dan juga kebetulan lebaran ini banyak kawan-kawan yang tidak pulang ke Aceh. Tapi Ipah yang panggilan sehari-harinya mengakui bahwa “saat sekarang perasaannya hanya sedikit sedih dan rindu dengan keluarga”.

Lain lagi halnya dengan Ratna Meutia, “sebenarnya sedih juga, apalagi ketika terdengar takbir di malam Hari Raya, keresahan hatinya memuncak teringat kedua orang tua nan jauh di sana. Kalau masalah kue Lebaran tidak menjadi problem bagi saya, karena di Yogya pun; kami warga asrama putri Cut Nyak Dhien bisa membuat sendiri seperti timphan, grieng, loyang dan lain-lain”. Pernyataan ini dibenarkan oleh Cut Izzaton Nasyiin yang sama-sama mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Malah Cut Izzaton Nasyiin yang panggilan akrabnya Iton menambahkan bahwa “meskipun kami berada di luar daerah, tapi tetap melestarikan budaya Aceh.”

Mutia Nanda mahasiswi Fakultas Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pada Lebaran kali ini pingin mencoba ber-Idul Fitri di rantau. Pada Lebaran yang lalu ia tidak sanggup menahan rindu terkenang keluarga, sehingga terpaksa ‘kabur’ ke Aceh untuk ber-Hari Raya bersama sanak familinya.

“Menurut saya;  pingin dekat dengan orangtua pada hari yang suci ini wajar, sedangkan saya sendiri yang jauh dengan orangtua hanya sekitar 90 km, namun rindu setengah mati, “ kata Syarifah Rose Pandawangi yang kedua orang tuanya asal Aceh, tapi ia sendiri lahir dan dibesarkan di Sargen, Jawa Tengah. “Apalagi Rose diharapkan pulang kerumah oleh kedua orangtuanya sehari sebelum Hari Raya,”, tandas mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Gambaran kesedihan antara pria dengan wanita tidaklah persis sama. Ini adalah lumrah alam. Suasana  demikian terlihat di saat mereka menjawab pertanyaan penulis sehubungan dengan Lebaran ini. Aminurasyid mahasiswa Fakultas  Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, yang baru dua tahun study di Yogya menjelaskan, “Bagi saya yang paling mengesankan jika berlebaran di Aceh adalah di hari Makmeugang. Dan yang menyebabkan saya teringat ke kampung mungkin soal makanan sangat berbeda dengan di Yogya”, tandasnya dengan logat khas Aceh asli. Berbeda dengan Abdulla. “Menurut saya; lebaran di kampung suasananya lebih meriah, sebab dekat sanak keluarga, dan juga ber Hari Raya di kampung lebih gembira pada saat menikmati hidangan-hidangan bersama kerabat,” kata mahasiswa Fakultas Teknik Mesin, Universitas Proklamasi 45 ini dengan nada blak-blakan. Mahasiswa yang lahir di Matang Geulumpang Dua, Aceh Utara selanjutnya mengutarakan bahwa, “Memang perasaan saya sedih kalau Lebaran di rantau ,karena saat takbiran menggema menyebut asma Allah;  saya merasa terasing dari sanak saudara, seakan tidak ada yang memperhatikan”.

Lain lagi dengan Teungku Saby (nama samarannya), ia mengungkapkan: “Sedih memang, apalagi saya sudah 4 tahun tidak pernah pulang untuk menemui orang tua”. Lebih jelas mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta ini menceritakan bahwa “Seolah-olah sepi Lebaran di rantau, ini karena tidak dekat dengan ayahanda-bunda, walaupun ada orang tua angkat di Yogyakarta, toh sama sekali tidak sama dengan orang tua yang asli. Apalagi saya di Yogya tidak punya family (keluarga) satupun”. Dengan nada sedikit berfilsafat mahasiswa yang lahir di Luengputu-Sigli ini katanya, “Ya….. memang begitulah lebaran versi mahasiswa, ini semuanya demi cita-cita”, tukasnya seperti merangkum kisah-kisah mahasiswa lainnya.

Begitulah, kisah suka-duka putra-putri Aceh di perantauan di saat Idul Fitri. Mereka terkenang ayah-bunda sanak keluarga, kue khas daerah dan berbagai kesyahduan lainnya; sekiranya berkesempatan Lebaran di kampung halaman. Suasana galauan hati yang demikian, memang tepat sekali seperti lirik lagu “Dendang Perantau” yang di dendangkan P. Ramly (almarhum) yang masih tetap disiarkan radio Malaysia-Kuala Lumpur dan radio Singapura, menjelang serta berhari-hari sesudah Hari Raya hingga sekarang.

Diakhir wawancara; kesemua putra-putri Aceh ini menitipkan salam lewat Siaran Minggu Harian Waspada, buat Ayah-bunda, sanak saudara, teman-teman, guru ngaji (Teungku), guru sekolah dan seluruh masyarakat Aceh dimana saja berada, dengan ucapan: “Selamat Hari Rya  Idul Fitri 1 Syawal 1408 H, mohon maaf lahir batin,” ucap mereka.

Kiriman T. A. Sakti dari Yogyakarta

( Sumber:  Rubrik REMAJA, Siaran Minggu “WASPADA”, Minggu, 29 Mei 1988  halaman  III.

 

 

“NU: Bencana di Indonesia Murni Hukum Alam”. Saya tidak setuju pendapat ini!.Bagaimana Menurut Anda???.

NU: Bencana di Indonesia Murni Hukum Alam Sabtu, 30 Oktober 2010 19:49 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 1212 kali Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) KH. Said Aqil Siradj. (ANTARA) Malang (ANTARA News) – Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, menyatakan bahwa banyaknya bencana yang menimpa bangsa Indonesia murni karena hukum alam atau “Sunnatullah”. Hal tersebut ditegaskan Said Aqil usai menghadiri “Simposium Nasional Deradikalisasi Agama” di Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim, Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu. “Bencana ini, bukan karena bangsa ini banyak dosa, jadi tidak ada hukum kausalitas dalam sejumlah bencana yang menimpa bangsa ini,” katanya. Dikatakannya, banyaknya bencana yang menimpa Indonesia mulai dari Wasior (Papua Barat), Mentawai (Sumatera Barat) serta bencana Gunung Merapi (Jawa Tengah), dikarenakan letak geografis Indonesia yang memang rawan terhadap bencana. “Musibah yang menimpah Indonesia memang karena kontruksi tanah kita terdiri dari beberapa lempengan yang rawan bencana,” ujarnya. Meski demikian, Ia hanya bisa mengimbau agar seluruh masyarakat Indonesia meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghentikan dan tidak terjadi lagi bencana serupa. “Saya hanya bisa mengimbau, agar seluruh masyarakat Indonesia memohon kepada Allah, cukup hanya ini yang terjadi, jangan sampai terulang lagi,” katanya. Sementara ditanya mengenai penanganan cepat bencana yang dilakukan pemerintah, Said Aqil mengaku bahwa pemerintah cukup tanggap terhadap bencana saat ini. “Pemerintah cukup tanggap sekali, dan saya nilai bagus dalam penanganan cepat bencana seperti di Warior, Mentawai dan Semeru,” ujar Said. (ANT/S026) COPYRIGHT © 2010

Catatan:  Pertamakali berita di atas saya baca dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, edisi Minggu, 31 Oktober 2010 halaman 16.Copy berita   ANTARA itu  saya posting pada hari Ahad, jam 12.oo  siang; saat-saat berita meletus Gunung Merapi, Jateng;  sedang hiruk-pikuk di semua siaran televisi!.Baru sekaranglah saya benar-benar tidak percaya lagi kepada ulama sejenis tersebut di atas!. Mereka nampak betul pengejar pangkat dunia!!!. Bagaimana komentar Anda???.

Cinta keu Nanggroe Termasuk Iman

Cinta Keu Naggroe Termasuk Iman

Oleh; T. A. Sakti


Sambungan PUAN NO. 40

golongan carong ureueng meupukat

golongan meukat dan kawom kuli

di kawom buruh roh keunan meuhat

peutani jeub bab keunan geuasi

 

tugas MPR jinoe lon sambat

dengo Nyak Ayat ulon peugah kri

ube teuingat cit ulon surat

laen tasasat keudroe teuh Nyak Ti

 

bagi adek cut nyang na hafai that

SMP tamat atawa SMI

nyang hana meuphom beuthat pih singkat

tabaca leugat meurunoe lagi

 

beudeh takalon geuhon deungon brat

beungkok  ngon teupat beuta teu’oh kri

jampang geutanyong le Nek rot barat

beujeuet ta jawab bek teuhing gusi

 

le that takalon masa nyoe siat

kureung peuingat aneuk miet kini

ban lheuh ji deungo cit tuwo leugat

saleh nyoe sabab wab nonton Tivi?

 

di aneuk inong meukeunong that-that

dale bak meucat peumirah bibi

keu peulajaran hana ji ingat

pane teuingat watee gob uji

 

watee ta tanyong di jaweub leugat

dilon Mawa that hana meungerti

lon lakee meu’ah beurayek that-that

di kamoe sabab tan meupeulajari

 

meunan keuh bagoe jinoe rame that

rugoe ta intat sikula tinggi

gadoh meucewek si bu ek kaplat

gadoh bak meucat di kawom putri

 

 

Allah dek payong tanglong hekeumat

jaroe lon angkat u ateuh dahi

beurayek meu’ah e rakan sahbat

karoh meuloncat haba lon rawi

 

karoh meujampu kulu pisang klat

karoh meusapat sira ngon campli

ban gado-gado dumpeue meusapat

meunan keuh sahbat ulon meurawi

 

keureutah puteh pulupen lon mat

daweuet pih meuhat jitron meunari

lon tuleh laju panton hekeumat

tabeue ngon mangat tan lon teu’oh kri

 

jinoe ta gisa bak punca muhat

ta balek ayat meulaen lagi

buhu ta balek titek ta sambat

ujong kon meuhat mate at ngon i

 

Taloe lueng beutong ureueng seumula

di dalam paya geukambam kawe

tugas MPR lon sambong sigra

deungo syedara bandum teuh sare

 

tugas di gobnyan ban ureueng tuha

ureueng seumeubla watee jeuet pake

kon na takalon di gampong gata

ureueng seb rasa baten ngon lahe

 

pat-pat na pageue salah glong unja

ureueng nyang publa bek jadeh pake

nyang keuh seb sidek bak pileh anggauta

bek roh silubha deungon si jahe

 

bek roh si jeungkat jeuhat lam dada

cit pruet droe saja nyang na geupike

keu soal rakyat peuduli hana

asai gobnyan na saboh kurusi

 

asai geuh kana sedan Toyota

rumoh nyang raya betee meu-uke

ka seungab sinan di apa ta’a

rakyat jeulata hana geupike

 

 

tugas pertama wahe syeedara

aturan Negara dum geupeulahee

presiden wakil geupeu ek tahta

seubagoe raja pimpinan ade

 

MRP pileh geupe ek tahta

ureueng geumita nyang ek seumike

ureueng nyang cakap mat pancasila

undang-undang teuma geupateh sare

 

tugas nyang laen keudroe pareksa

sinoe syeedara hana lon kheunle

nyang gohlom muphom peugah le gata

tuhan bri pahla elemee ta lahee

 

jinoe ho laen puteng meugisa

deungo calitra po ceudieng pade

ulon keumarang lagee croh bada

balek beurata bek angoh crebre

 

ureueng top teupong buleuen ramadhan

geupeugot timphan buleuen puasa

jinoe lon kisah keubhah pilihan

dalam Iseulam peukeuh meuguna

 

peukeuh na geuyue dalam Islam

kiban atoran dalam agama

peue jeuet  beurangkri pileh pimpinan

ureueng atasan nyang mat neuraca

 

peue jeuet meupolitek dalam Iseulam

peuekeuh seb rakan hanya meudo’a

hanya ibadat uroe ngon malam

peureumeun pih tan bacut keudonya?

 

peue seb kaluet-kaluet lam guha klam

duek mita ilham di dalam tapa

lale ngon “ boh it” uroe ngon malam

geutiek urosan bandum buet donya

 

jinoe adoe cut lon cuba reukam

mita atoran hukom sibeuna

ulon meudo’a uroe ngon malam

neubri le Tuhan keulon karonya

 

 

beuneubri peungeueh hate di dalam

bek salah lon pham bandum peukara

neubri trang hate wahe e Tuhan

gadoh kreuh ceukang meukeudo dada

 

deungon syafeu’at bak Muhammadan

sahabat sajan bandum ulama

beureukat dua kalimat syahadat

seurta beureukat bandum syuhada

 

beurang kapeue buet dalam Iseulam

geuyue hai rakan musyawarah na

han jeuet lagei kheun saboh golongan

beusapeue padan tiep-tiep peukara

 

konna ta deungo nyangka gob kheun-kheun

kheun ureueng jameuen bak dilee masa

“meunyo ka meupakat –lampoh jeurat tapeugala”

“meunyo kong unja pageue –leumo keubeue han ek jihila”

 

jinoe ulon boh fireuman Tuhan

ayat Quru’an surat Asysyuraa

ayat meuteuntee bak lhee ploh lapan

beudoh hai rakan kalon le gata

 

wa  amruhum syuraa bainahum

makna muphom dum teurata

beurang kapeue buet bek roh H’am H’um

beusapeue kheun dumna gata

 

lam ayat nyan munoe tapham

ureueng Islam han jeut meudawa

roh kadang na salah paham

taba rijang bak ureueng tuha

 

tayue timang ban nyang reumbang

bek hai rakan meucang gata

bek peurayek buet be jeundrang

dudoe alang telah teuka

 

teuka teulah dudoe teuman

sabab pih han jak bak tuha

hana tayue gob  peutimang

oh ka jeuet prang kepueue guna

 

 

rot noe mate rotdeh pansan

lop tahanan nyang tan ceudra

keunong kutok nibak tuhan

meung lagee nyan ta keureuja

 

meunan syarekh bacut rakan

be sanggopan nibak hamba

ube na jeuet di lontuan

roe teunuban  ‘et lagoena

 

kalon keudroe ayat Tuhan

mat di tangan tafse raya

bak ulama jak tanyong ban

pandangan Islam teutang negara

 

lheueh nyan tacok hadits janjongan

pakri padan lam agama

buet Negara beuta tuban

beudoh jak pham kheun Maulana

 

shaheh Bukhari Muslem sajan

dumpeue padan di sinan na

di sinan na hukom ahkam

boh pimpinan mat neuraca

 

“hubbul wathan minal iman”

rasul munan neu meusabda

‘cinta keu nanggroe termasuk iman’

nabi meunan neu calitra

 

cinta keu nanggroe gaseh keu bangsa

dum tanda-tanda bak tanyoe insan

udep lam aman sabe sibangsa

jeumot usaha meuncari makan

 

taat ibadat pujoe Rabbana

duengon teutangga bek muka masam

Indonesia merdeka 48 thon ka

ta lakee do’a beumakmu aman, Amiin..

 

 

Banda Aceh, 17 Agustus 1993.

T. A. Sakti

Sumber: Majalah PUAN no. 41/1995 halaman 25 s/d 27). Majalah PUAN terbitan

BP – 7  Propinsi Aceh, Banda Aceh.

 

 

 

Pakar Hikayat Aceh, Mengapa Diam?

Komentar Pembaca:

Pakar Hikayat Aceh Mengapa Diam??

Waktu telah berlalu dua tahun lebih, sejak hikayat pertama Nun Parisi dimuat Harian Serambi Indonesia. Dalam jangka masa hampir 1000 (seribu) hari itu,  sudah 10 (sepuluh) judul/naskah hikayat Aceh yang “dipublikasi kembali” oleh suratkabar kecintaan masyarakat Aceh ini (termasuk hikayat Saidina Ali – yang sedang dimuat!).

Tetapi aneh, namun itulah kenyataan!!. Bahwa selama pemuatan hikayat-hikayat itu, amat jarang kita jumpai tanggapan masyarakat yang dimuat dalam media ini. Komentar pembaca tak pernah ada, kecuali pada awal-awal pemuatan hikayat tempo hari. Mungkinkah hikayat Aceh tak ada peminat/pembacanya. Kalau benar demikian, alangkah baiknya jika “Serambi” menghentikan pemuatannya. Peue guna teuma, arang habeh beusoe han peuja! (Arang habis, besi binasa). Menurut suatu informasi menyebutkan, dalam laporan penelitian yang dilakukan Fakultas Keguruan(FK) Unsyiah tahun 1971, memang terbukti sebagian besar remaja di Aceh sudah tak tahu apa-apa tentang hikayat Aceh. Jika pada tahun 1971 ternyata demikian, kenyataan sekarang besar kemungkinannya lebih parah lagi, sebab, anak-anak yang lahir dari generasi tahu 1971, tentu mewarisi jejak orang tua mereka. Pakriban u meunan minyeuk, lagee Du meunan aneuk (Anak hampir pasti mengikuti perilaku orang tuanya).

Seandainya Harian Serambi Indonesia hendak ‘melanggengkan’ pemuatan hikayat Aceh serta mengharapkan banyak peminatnya, banyak jalan yang bisa ditempuh. Dalam hal ini, sama sekali saya tidak bermaksud mengajari” kucing menerkam tikus!!”. Setahu saya, sebagian besar karyawan ”Serambi” baik para wartawan, redaktur dan staf lainnya terdiri dari para sastrawan, budayawan, seniman serta penulis-penulis handal/kawakan. Malah beberapa orang diantaranya sekiranya tinggal di Jakarta atau Yogyakarta; saya yakin mereka sudah populer sebagai sastrawan, budayawan atau seniman tingkat nasional, bahkan lingkup regional ASEAN. Dan saya yakin, beberapa orang diantaranya ada yang berminat di bidang bahasa dan sastra Aceh. Sekedar contoh (maaf..) amatilah ‘kolom tingkap’ yang ditulis Bapak Barlian A.W. Bila disimak isi “tingkap”  yang dikemas dalam judul-judul : Jingki, Daboh, Peunganjo, Syekh Rasyid, Al-mar’atu,

Neng, Bulan, dan Luha( Serambi, 1-8- 1994) ; sangat jelas bahwa beliau cukup menguasai akar-akar budaya Aceh. Dalam hal ini seluruh isi “Tingkap” yang ditulis merupakan upaya  ‘mengaktualkan kembali’ nilai-nilai keacehan dengan perkebangan sekarang.

Jadi, sekiranya para pakar/ahli hikayat Aceh masih tetap “diam/membisu” hingga sekarang; alangkah terpujinya bila para “orang dalam” Serambi” bergerak-serentak mempeloporinya. Menurut saya, tujuan dimuatnya Hikayat Aceh di Harian Serambi Indonesia, tidak semata agar dibaca oleh orang-orang tua di kedai-kedai kecamatan atau di kampung-kampung saja. Tujuan sebenarnya, yakni agar Hikayat Aceh mau dibaca segenap golongan serta semua umur bagi siapa saja yang berminat. Mengutip kembali hasil penelitian di Unsyiah tahun 1971;  “ menunjukkan  kontak batin” antara Hikayat Aceh dengan kaum muda ternyata  sudah putus alias tidak nyambung.

Di sinilah pentingnya kesediaan para pakar hikayat mau campur tangan atau ‘ berkotor tangan’. Bermodalkan keahliannya, para ahli ini mampu “menyambung”  kembali dawai-dawai yang sudah lama putus. Melalui artikel-artikel yang mengulas, mengupas, memilah seluk beluk Hikayat Aceh (maaf, saya kurang  paham masalah ini) seperti tujuan penulisan hikayat, lambang-simbol, persanjakan sastra Aceh dan lain-lain; tentu lama-kelamaan generasi muda Aceh akan paham dan mencintai kembali budaya Endatu(nenek moyangnya). Serta pada suatu ketika, kaum muda ini pun bakal mampu menyusun hikayat Aceh dengan corak ragam zaman canggih sekarang ini.

Setahu saya, kampus-kampus Perguruan Tinggi/Institut di Aceh banyak memiliki tenaga ahli atau pakar bahasa dan sastra Aceh-terutama pakar Hikayat Aceh. Banyak yang senior, tak kurang pula yang muda-muda.  Malah ada yang menyusun Thesis Pasca Sarjana dengan topik “Hikayat Aceh”. Saya tetap heran, sudah lebih dua tahun Hikayat Aceh dimuat dalam Harian Serambi Indonesia; namun mereka tetap diam-membungkam. Kenapa para pakar Hikayat Aceh ini terus diam???. Kita berharap, dalam Musyawarah Besar Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh(Mubes  LAKA) yang akan diadakan di Jakarta tanggal 12 s/d 15 September 1994; kiranya “kesenjangan” ini pantas jadi bahan diskusi para peserta musyawarah budaya Aceh yang bermartabat itu. Semoga…!!!.

T.A. Sakti

Banda Aceh,

22 – 2 – 1415/ 3 –  8 -1994

*Catatan kemudian: Alhamdulillah, dalam rangka Unsyiah Fair X, BEM Unsyiah akan melangsungkan acara Lomba Baca Hikayat Aceh pada Senin, 19 Oktober 2015 bertempat di Gedung Dayan Dawood, Darussalam, Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bale Tambeh, Sabtu, 17 Oktober 2015, pkl. 7:21 wib., T.A.Sakti

Gagasan Pengajian di Gedung SD Seluruh Aceh

Komentar Pembaca:

GAGASAN PENGAJIAN DI GEDUNG SD SELURUH ACEH

Gagasan Kepala Dinas P dan K Propinsi Aceh Drs. H. Sofyan Muchtar amat mengejutkan sekaligus menggembirakan. Setahu saya, sampai hari ini belum pernah muncul gagasan seperti itu, yang begitu menyejukkan hati para orang tua murid Sekolah Dasar. Bahwa gedung-gedung Sekolah Dasar (SD) seluruh Aceh pada sore hari akan dijadikan sebagai tempat pengajian (Serambi, Rabu, 8 Mei 1996, hlm. 7).

Namun, sebagai   orang awam kita mungkin sudah amat sering mendengar gagasan dan janji-janji. Memang melontarkan gagasan amatlah mudah, sementara pelaksanaannya di lapangan sudah pasti bakal dihadang berbagai rintangan baik besar maupun kecil. Kemenangan dalam melawan rintangan-rintangan itulah yang merupakan terwujudnya gagasan atau terpenuhinya janji-janji itu.

Kita yakin, insya Allah: gagasan menjadikan gedung SD menjadi tempat pengajian di waktu sore akan menjadi kenyataan. Apalagi telah mendapat sambutan baik dan lampu hijau dari para ulama dan umara daerah Aceh (Serambi, 11 Mei 1996).

Faktor yang paling mendukung dengan gagasan ini memang telah sekian tahun menanti. Yaitu instruksi Gubernur Aceh tentang wajib bisa membaca Al-Qur’an bagi lulusan SD. Bolehlah dikatakan, bahwa gagasan Kepala Dinas P dan K Aceh itu merupakan salah satu cara pelaksanaan dari instruksi tersebut.

Hanya saja, sesuai harapan Prof. Dr. Muhibbuddin Wali, pemimpin Dayah-Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan; agar gagasan itu segera dilaksanakan sebelum dingin alias beku, Pesan atau saran dari ulama besar ini amatlah tepat, lebih-lebih mengingat hasil seminar tentang masalah itu (yang akan diadakan), bukanlah ‘lampu aladin’ yang menjanjikan kesuksesan. Semoga gagasan Kepala Dinas P dan K Aceh Drs. H. Sofyan Muchtar benar-benar berhasil hendaknya!!!!

T. A. Sakti

Banda Aceh, 11 Mei 1996.

Serambi, Perlu Mempeloporinya!

Komentar pembaca:

SERAMBI, PERLU  MEMPELOPORINYA

Membaca Opini (Serambi, Selasa, 17 Januari 1995 halaman 4); yang berjudul “Jiwa Bisnis Orang  Jepang dan Pidie” menggugah saya mengirimkan surat ini. Saya sependapat dengan penulis artikel itu, Hafasnudin, MBA yang menyarankan agar dilakukan pengkajian/penelitian terhadap rahasia atau kunci-kunci kesuksesan para usahawan Aceh. Sebab, keberhasilan itu mungkin banyak dilandasi “Muatan Lokal” daerah ini, yang sepatutnya perlu diajarkan di sekolah-sekolah daerah Aceh.

Sekiranya pengkajian itu benar-benar dapat terlaksana, kita harapkan hasilnya betul-betul disebarkan kepada masyarakat,  terutama buat generasi muda dan murid sekolah. Karena itu hasil kajian perlu dicetak menjadi buku-buku ukuran saku. Buku seukuran demikian bisa mendorong orang memilikinya,  karena harganya terjangkau dan mudah dibawa ke mana-mana.

Memang aneh, bila kita hanya “mengunyah” kiat-kiat bisnis yang diimpor dari luar seperti USA, Jepang, atau Cina. Padahal kita sedikit pun tidak peduli akan “Muatan Lokal Aceh” yang menyangkut bidang bisnis (jiwa bisnis). Mungkin kita asyik membaca buku-buku sejenis “dibalik sukses bisnis orang-orang Cina” karya Frena Bloomfield, terbitan Sangsaka Gotra, Jakarta ataupun buku karya Gao Yuan “Memancing Harimau Turun Gunung” – 36 strategi perang Cina kuno, Penerbit Grafiti, Jakarta; yang kedua buku itu berkaitan masalah dagang/bisnis; padahal kita tidak pernah mau melirik kepada “kiat bisnis” dalam sebuah pepatah Aceh (hadih maja) yang berbunyi : “tukok jok tukok u, nabuet nabu! (arti harfiahnya: pelepah enau pelepah kelapa, baru dapat makan jika sudah kerja!). Kiranya, Harian Serambi Indonesia mau  terus melakukan pengkajian awal tentang kesuksesan para usahawan Aceh dengan mewawancarai mereka, seperti yang pernah dimuat dalam “Serambi” selang setahun lalu. semoga!!!.

Wassalam: T. A. Sakti

Banda Aceh,

18 Januari 1995

 

 

 

Perlu Dialog antar Generasi Budayawan Aceh!

Komentar Pembaca:

PERLU DIALOG ANTAR GENERASI BUDAYAWAN ACEH

Baru-baru ini, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Tgk. Muhammad El Abdul Muthalib alias Tgk. Muhammad, pengarang hikayat Saidina Ali yang telah selesai dimuat Serambi. Dampak pertemuan itu, telah merobah total sikap keliru saya selama ini terhadap para sesepuh sastrawan, budayawan, seniman dan penulis Aceh yang bukan sarjana.

Hasil ‘dialog’ itu juga mengingatkan saya kembali kepada kebijakan-kebijakan Pemda Jawa Tengah pada tahun 80-an. Akibat sukar memperoleh guru-guru yang siap pakai menguasai “Ilmu Budaya Jawa” atau muatan lokal; maka direkrutlah para sesepuh budayawan, sastrawan dan para seniman yang tidak memiliki ijazah formal untuk mengajar muatan lokal di tingkat SD, SMP, dan SMTA. Sekedar mengenal metode mengajar, kepada para sesepuh ini diberikan kursus singkat dan praktis. Sementara imbalannya diberikan dalam bentuk honor yang memadai. Pada saat hampir bersamaan, malah Gubernur Jawa Tengah mengeluarkan ‘instruksi’,  agar di semua lokal sekolah dipajangkan ” gambar para tokoh wayang”  agar jadi sumber ‘bimbingan moral’ bagi generasi muda daerah itu. Mengenai muatan lokal, kalau tidak salah ingat, Pemda Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga menempuh jurus-jurus pintas yang sama.

Hingga hari ini, saya telah mengalih aksarakan sembilan judul/nskah tambeh dan hikayat Aceh. Enam judul diantaranya telah dimuat Serambi. Selain itu, beberapa judul ‘syair Aceh’ singkat karya sendiri juga telah dimuat dalam majalah/koran terbitan Banda Aceh. Namun, baru sekaranglah saya merasa janggal. bahwa saya sama sekali tidak memiliki ilmu atau rumus-rumus yang bisa memudahkan seseorang menyusun hikayat dan syair Aceh. Berarti, selama ini saya hanya meraba-raba tanpa pedoman dalam menulis syair-syair Aceh. Jika menguasai penuntun itu, malah hikayat lama bisa kita tulis -ulang ke dalam bahasa Aceh kontemporer sekarang ini.

Setelah diskusi dengan Tgk. Muhammad, barulah saya ketahui bahwa untuk mengarang hikayat Aceh yang bermutu memerlukan pengetahuan ilmu penuntunnya. Diantara istilah yang masih saya ingat adalah bahrul rijal, pakhok lapan dan pakhok 12, yaitu tentang jenis persanjakan syair Aceh.

Para sesepuh budayawan Aceh semacam Tgk Muhammad masih banyak terdapat di desa. Keterampilan mereka juga bereneka ragam. Akibat dihimpit kemiskinan dan pergaulan yang sempit; kreativitas mereka jadi tersendat-sendat dan banyak karya tulis mereka yang tidak mampu dicetak.

Dalam upaya memperluas wawasan kita tentang budaya Aceh, pantas diadakan ‘dialog’  yang berkesinambungan antar generasi peminat sastra Aceh. Penerbitan buku penuntun berbagai jenis kesusastraan Aceh sudah saatnya diedarkan ke masyarakat luas. Kepada peserta Mubes LAKA di Jakarta (12-5/9/1994); kita harapkan problema ini juga jadi topik yang serius mereka diskusikan!!!!!!!!!!!.

T. A. Sakti

Darussalam, Banda Aceh

7 September 1994.