Mungkinkah Mendapatkan Kembali: Aset Sastra Aceh yang hilang!

Mungkinkah Mendapatkan Kembali :

ASET SASTRA ACEH YANG HILANG???

Sebagai peminat keduayaan Aceh, pertama-tama saya mengucapkan ‘selamat’ atas pencetusan Tahun Budaya 2004 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dilangsungkan dikampus Darussalam baru-baru ini. Mudah-mudahan pencanangan Tahun Budaya itu, benar-benar berlangsung sesuai dengan harapan masyarakat Aceh, dan tidak hanya berupa ‘semboyan-semboyan’ kosong belaka, Amin ya Rabbal ‘Alamin…. EMPAT PULUH EMPAT TAHUN yang lalu, A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh yang pernah mengatakan bahwa: “Saya telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, dimana saya lihat suku-suku bangsa itu tidak menyia-nyiakan kebudayaan, selain suku kitalah telah menyia-nyiakan kebudayaannya. Padahal dimasa yang lampau Aceh cukup mempunyai kebudayaan yang tinggi” (Baca buku: “Gadjah Putih” tulisan M. Junus Djamil halaman 21. Bagian kutipan di atas, telah saya sesuaikan dengan EYD). Pernyataan itu diucapkan Gubernur Aceh A. Hasjmy ketika meresmikan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA I) pada hari Selasa, 12 Agustus 1958. Apakah masyarakat Aceh sekarang masih menyia-nyiakan kebudayaannya?. Entahlah. Masyarakat Aceh sendirilah yang dapat menilainya. Namun, menurut hemat saya; ungkapan A. Hasjmy itu masih tetap berlangsung hingga sekarang. Alasannya, lihatlah betapa khazanah ‘budaya Aceh’ tercerai berai tidak terpelihara dengan baik. Coba saja cari karangan-karangan almarhum Abdullah Arif, MA, almarhum Drs. Araby Ahmad, bahkan karya-karya Syeh Rih Krueng Raya yang baru meninggal pada tahun 1997. Masih adakah di took-toko Buku atau di pustaka-pustaka di Aceh?. Malah, kalau karya-karya Abdullah Arif lebih banyak dipelihara/disimpan di Perpustakaan Islam Yogyakarta. Masya Allah…… Alasan lain, yang turut mendukung hasil pengamatan Gubernur Aceh A. Hajmi itu adalah; tidak pernah adanya usaha untuk menebus kembali aset kesusastraan Aceh yang hilang. Benda budaya itu berupa 600 (enam ratus) judul naskah hikayat yang telah dialihkan hurufnya dari aksara Arab Melayu (Aceh: Jawoe) ke huruf Latin. Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh telah berkali-kali mendorong para pemimpin Aceh untuk membeli kembali “Benda Budaya Aceh” itu, namun tak pernah mendapat sambutan. Terakhir kali, hal serupa juga disampaikan lagi oleh Prof. Dr. Aboebakar Atjeh, yaitu pada konferensi kebudayaan Aceh II atau Pekan Kebudayaan Aceh II (PKA II) tahun 1972, “agar collectie Hikayat-hikayat Aceh dengan huruf Latin itu dibeli oleh Pemerintah Daerah Istimewa Aceh dan dipelihara.” (Lihat buku : Aceh dalam sejarah kebudayaan Sastra & kesenian oleh : Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh, halaman 21). Hikayat-hikayat itu, semula milik Dr. Hoesein Djajadingrat yang tinggal di Jakarta, Setelah ia meninggal, kumpulan hikayat itu dibeli oleh Mr. Muhammad Jamin – yang pernah menjadi Menteri P dan K Republik Indonesia – yang dijadikan koleksi perpustakaannya. Sekarang, koleksi hikayat-hikayat itu berada di Perpustakaan Pertamina, Jakarta (Baca: Bagaimana Memperoleh aset kesusasteraan Aceh yang hilang”, Harian Serambi Indonesia, 31 Juli 1994 halaman 4). Sekarang tahun 2004, sekitar sepuluh tahun telah berlalu dari informasi koran Seramb itu. Masihkah kumpulan sastra Aceh tersebut tersimpan di sana???. Siapakah yang paling patut mencari dan menebusnya kembali????

. T. A. Sakti, 8 – 1 – 1425/29 – 2 – 2004

* Peminat Sastra Aceh Tinggal di Banda Aceh

NB. Coretan di atas tanda tangan saya bukan dicoret, tetapi tercoret tanpa sengaja. Maklum, mata saya sudah katarak sebelah kiri dan kabur sebelah kanan!. TA

29 Februari 2004 Pkl. 11.55 Wib.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s