Dana Pembinaan Kesenian di Aceh

Komentar Pembaca:

Dana Pembinaan Kesenian

Gebarakan TVRI Banda Aceh yang telah mengadakan festival kesenian seperti Dalail Khairat, Doda Idi dan Zikir Aceh; tentu sangat menggembirakan para pencinta kesenian Aceh di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam. Timbul pertanyaan, sebesar apakah perhatian Pemda Aceh terhadap pembinaan kesenian ini?

Memang harus diakui, bahwa munculnya TVRI Banda Aceh sebagai pelopor kesenian tradisional Aceh dengan semboyannya; “Kru Seumangat, Mari Tapeu udep Budaya Geutanyoe!”, juga tidak terlepas dari keterlibatan Pemda Aceh, namun yang menjadi sorotan di sini adalah upaya pembinaan lebih lanjut dari Pemda Aceh terhadap group-group kesenian yang telah muncul itu.

Dalam kata sambutan Gubernur Aceh Ir. H. Abdullah Puteh, M. Si, Rabu, 15 Mei 2002 sore pada penutupan Festival Zikir Aceh se-Naggroe Aceh Darussalam (NAD), yang dibacakan Kepala Dinas kebudayaan NAD Drs. H. Sofyan Muchtar, Gubernur Aceh antara lain mengatakan : “Baru saja kita menyaksikan penampilan pemenang, sekaligus penyerahan “Uang Pembinaan” kepada group peserta yang telah menunjukkan prestasinya dalam  Festival Zikir Aceh tahun 2002 ini”.

Sewaktu mendengar “Uang Pembinaan”, saya memperkirakan jumlah dana pembinaan itu lumayan besar. Betapa tidak, event Festival Zikir Aceh itu jangkauannya se-Nanggroe Aceh Darussalam.  Begitulah, jiwa saya terus berbunga-bunga  dengan dugaan besarnya dana pembinaan kesenian itu,  mengingat acara itu juga didukung sebuah perusahaan berkelas dunia!.

Namun, menjelang azan magrib, saya memutar kembali rekaman lengkap acara penutupan tersebut, yang tidak sempat saya dengar sendiri di televisi, barulah ketahuan, bahwa panitia memang telah mengumumkan jumlah hadiah/uang pembinaan kepada pemenang I, II, III, dan para juara harapan, yakni pemenang I Rp.1.500.000,- pemenang II Rp.1.250.000,- pemenang III Rp.1.000.000,- (  satu juta rupiah).

Setelah mendengar isi rekaman itu, saya benar-benar kaget dan terheran-heran. Kekagetan saya itu bukan lantaran jumlah hadiah itu kurang atau sedikit. Tetapi penggunaan kata “uang pembinaan” pada kata sambutan Gubernur Aceh terhadap hadiah yang diberikan itu.

Jelas, sebutan “uang pembinaan” itu terkesan terlalu muluk. Sepantasnya disebut saja “uang minum kopi dan transportasi”. Betapa tidak, setiap pemenang I, II, dan III itu telah ulang-alik/pulang pergi sebanyak empat kali dari gampong masing-masing ke studio TVRI Banda Aceh. Jumlah anggota group antara 15-20 orang, yang harus mendanai/meuripe ongkos transportasi dan biaya lainnya. Bila “Uang pembinaan” yang pantas diberikan adalah cukup untuk membeli pakaian lengkap bagi group mereka.

Inilah yang kita harapkan kepada anggota DPRD Aceh agar memperjuangkan anggaran yang mencukupi bagi bidang kesenian/kebudayaan di Naggroe Aceh Darussalam ini. Mudah-mudahan, pihak eksekutif dan legislatif  di era syariat Islam di Aceh sekarang, tidak semata-mata memikirkan nasib pribadi/kelompok sendiri saja!. insya Allah!..

T. A. Sakti

Banda Aceh

16 Mei 2002

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s