Mahasiswa Unsyiah Malas Membaca?

Sanggahan Terhadap Sindiran:

MAHASISWA UNSYIAH MALAS MEMBACA???

Oleh: T.A. Sakti

Seringkali kita mendengar sentilan homoris, bahwa mahasiswa Unsyiah malas membaca. Sindiran ironis tersebut dilontarkan oleh berbagai kalangan, baik dari pihak luar maupun oleh mahasiswa Unsyiah sendiri. Sebagai mahasiswa dari Unsyiah, penulis merasa terpanggil untuk menelusuri, hingga di mana kebenaran tuduhan tersebut. Dan artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis!!!. Membaca, merupakan kebutuhan pokok seorang mahasiswa/i. Dari hasil membaca inilah si mahasiswa, memperluas horizon pemikirannya. Kalau kita hendak mengukur, sampai di mana tingkat intelektual seseorang. Lihatlah, apakah dia seorang yang banyak membaca atau tidak. Jika banyak, sudah pasti dia dapat bertanggung jawab sebagai insan Perguruan Tinggi. Jika sebaliknya, ia belum cukup syarat sebagai manusia akademis. Kebiasaan membaca tidak dapat dijadikan konsumen utama setiap hari, jika tidak dibiasakan sejak Sekolah Dasar. Membaca termasuk suatu pekerjaan yang membosankan, jika kita belum sampai ke taraf ‘ketagihan’, bagi seseorang. Hal ini akan tercapai kalau seorang anak dianjurkan banyak membaca sejak kecil. Pepatah Aceh menyatakan:” Auwalu kuttu biat, peue nyang lazem nyan mangat” (sesuatu yang dibiasakan, menjadi mudah). Berbahagialah orangtua, yang turut berpartisipasi serta mendorong anaknya rajin membaca. Dan yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ di sini adalah membaca berbagai ilmu pengetahuan, yakh, tentunya sesuai dengan umur. Jadi membaca bukanlah dimaksudkan mengulang kaji mata pelajaran saja. Tapi membaca segalanya, asal bermanfaat. Sayang sekali inisiatif yang baik dan berfaedah ini, tidak dapat dilakukan oleh setiap orangtua bangsa kita, karena bebagai faktor. Menjadi jelas, bahwa yang memberi kemungkinan membiasakan seorang anak suka membaca, hanyalah bagi orangtua yang domisili di kota. Dengan perpustakaan yang jumlahnya memadai serta dilengkapi dengan perlengkapan bahan bacaan yang sepadan, pasti memperoleh input yang diharapkan. Beruntunglah anak-anak yang hidup di kota. Dan mereka patut bergembira karenanya…!!! Tapi, bagaimana dengan anak desa?. Baru saja kita mengalihkan pikiran ke desa, dengan segera akan tampillah di depan kita bayang-bayangan kemunduran dan kekolotan.. Mau bicara soal perpustakaan desa?. Tunggu dulu!. Mencukupi buku mata pelajaran sekolah pun belum tentu terpenuhi. Dalam hal penggunaan waktu membaca, juga merupakan masalah yang sulit diatasi oleh anak-anak desa. Selain waktu sekolah formil, semua waktu selebihnya dipakai untuk membantu keluarga. Pak tani di desa memang membutuhkan bantuan yang banyak dari anggota keluarganya, terutama dari anak-anak yang telah sanggup bekerja di sawah/ladang. Keadaan bukanlah sebab orang tua tidak mengerti, bahwa anak-anak harus diberi waktu khusus untuk membaca, tapi memang keadaan terpaksa. Kita masih mendengar tuduhan-tuduhan, terutama dari pemimpin-pemimpin kita, bahwa masyarakat desa masih belum sadar betapa pentingnya pendidikan itu. Penulis berpendapat, tuduhan itu kurang tepat. Sebagian besar masyarakat desa telah sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Misalnya saja, di masa sekarang, sebuah anggapan umum di Aceh telah hilang lenyap. Anggapan salah itu di masa lalu sangat merintangi konsep tujuan pendidikan di Aceh, karena menganggap bahwa setiap orang yang bersekolah akan menjadi kafir (soe jak sikula jeut keu kafe). Anggapan tersebut berakar di zaman Belanda dan tumbuh subur, karena sangat memusuhi penjajah. Dan mereka membenci semua perkara yang berbau Belanda. Tapi kedasaran masyarakat desa akan pentingnya pendidikan itu, hingga kini belum juga mereka memberi waktu yang cukup anak-anaknya untuk membaca, terutama buku-buku pelajaran. Sebagian besar waktu tersita dengan membantu keluarga. Bila mana, fisik anak-anak telah lemah dan lesu,mana mungkin lagi mereka belajar. Banyak sekali pekerjaan yang dapat ditolong anak-anak yang sebahagian besar orang tuanya sebagai petani. Mulai dari mengembala ternak (rabe keubeue/lumo), memotong rumput (koh naleueng),menginjak tanah agar banyak lumpur (ceumacah) dan lain-lain. Semua problema orangtua di desa yang tersebut di atas, mudah-mudahan memndapat pemahaman dari tokoh-tokoh pendidikan kita, terutama yang tidak mengalami hidup di desa. Jadi sebagian telah penulis singgung di atas, bahwa dalam hal memupuk gemar membaca, perlengkapan dan kesempatan yang cukup, hanyalah bagi anak-anak kota. Di kota Banda Aceh misalnya, setiap sekolah sejak dari SD, SLTP, SLTA, dapat kita pastikan bahwa mereka dapat membaca dengan puas di sana. Apalagi bagi SMP dan SMA yang letak berdekatan dengan Pustaka Negara di Jalan Jenderal Sudirman, waaaaahhhh, mereka cukup segalanya. Letak Pustaka Negara itu tidak adil. Yaitu jauh sebagai tempat membaca bagi warga kota Banda Aceh secara keseluruhan. Letaknya jauh dipinggir kota. Sungguh berat si mahasiswa untuk datang ke sana. Setelah turun dari Robur (bis kampus), si mahasiswa terpaksa jalan kaki sejauh satu setengah kilometer. Perlu diingat, tidak semua mahasiswa memiliki kendaraan sendiri. Akibat terlalu jauh harus jalan kaki, sampai ke sana keadaan telah lelah dan pula semua kursi telah penuh dengan pelajar-pelajar pria dan wanita. Mahasiswa yang sengaja datang dari jauh, terpaksa berdiri di samping rak buku, jika mau membaca. Kasihan….,mereka!!!. Namun, si mahasiswa mungkin turut bergembira, karena melihat banyak sekali tunas-tunas bangsanya yang gemar membaca. Dan keadaan ini merupakan satu harapan besar bagi kemajuan bangsa kita di masa depan. Tapi ada baiknya, jika pihak pengurus yang mengelola Pustaka Negara itu, mengadakan ruang yang lebih banyak lagi untuk tempat membaca. Di mana ruang baca bagi pelajar (SD, SMP) dipisahkan dari ruang baca bagi siswa SLTA dan mahasiswa. Tidak sebagai sekarang; bercampur aduk. Kalau kita mengalihkan pandangan ke kampus, di sana pun Pustaka Fakultas dan Pustaka Induk, setiap waktu penuh dengan mahasiswa yang sedang membaca. Apalagi setelah Pustaka Induk tetap dibuka sejak 8.30 sampai 18 wib. Tapi satu hal yang menghalangi bagi kami adalah akibat sebahagian besar mahasiswa Unsyiah tidak mengerti bahasa Inggris. Sedangkan buku-buku dalam bahasa Inggris banyak sekali, suatu hal yang menggelikan. Kesimpulannya; tidaklah benar bahwa mahasiswa Unsyiah malas membaca!. Tapi mungkin hanya fasilitas yang kurang dan terbataassss!!!.

Bucue, 27 Januari 1981.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s