Hikayat Aceh Bagaikan Sidalupa!

Komentar Pembaca:

HIKAYAT ACEH BAGAI SIDALUPA

Sidalupa bukan nama seseorang. Tapi sangat terkait dengan nasib malang yang menimpa pribadi tertentu dalam masyarakat Aceh. Nama itu merupakan sebutan/simbol pertanda seseorang telah kalah total dalam persaingan atau pertarungan hidup. Dalam kehidupan dewasa ini, gelaran itu mungkin tak pernah anda dengar. Itu, perkara lazim, bahwa pergantian masa akan menggantikan pula peribahasa. Namun, jika anda suka membolak-balik berbagai jenis hikayat Aceh; barulah kembali anda berjumpa Sidalupa!.

Begitu malangnya sidalupa!. Kemegahannya  telah berlalu, harta benda juga sirna. Tembahan lagi, anak serta suami atau isteri pun sudah meninggal dunia; mungkin pula sudah minggat dari sisinya. Dalam saat ketidakberdayaannya demikian, sanak keluarga pun menjauh, sementara kawan setia hanya tinggal bayang-bayang; bila matahari membakar Sidalupa. Selama menunggu panggilan ke alam baka, kehidupannya penuh derita. Sidalupa tak masuk hitungan; tidak dipedulikan orang. Ia bagaikan angin (maaf) kentut yang diharap cepat berlalu, agar tak menggangu pertemuan. Jadilah Sidalupa insan kesepian, kesendirian;luput dari kepedulian masyarakat lingkungannya. Di Aceh, kepahitan bagai Sidalupa sering menimpa seseorang yang miskin harta-benda, terutama yang pernah jaya dan kaya-raya.

Hikayat Nasruwan Ade, ikut menyinggung kesenjangan sosial ini sbb:

”Meutan areuta hanle makmu

Hanle soe eu hansoe teuka

Saleh hansoe le kheun Teungku

Gob hoi badu Sidalupa

 

( Artinya secara bebas: Bila harta sirna kemakmuran pergi/Sanak-famili kawan pun tak hendak jumpa/Gelar kehormatan tak pantas lagi/Orang gelari dia  Sidalupa).

Hikayat Aceh dewasa ini bagaikan Sidalupa!. Vonis ini tidaklah berlebihan. Kini, naskah-naskah hikayat Aceh tercecer-berserakan. Di kampung-kampung, sering naskah hikayat ditaruh orang di atas kandang ayam, dalam bungkusan goni tua yang juga diisi barang-barang bekas pakai lainnya. Itu, baru secuil kisah nasib hikayat Aceh di desa-desa. Bagaimana keadaannya di ibukota Negara!. Aduuh… di sana lebih parah lagi! Menurut informasi, ratusan naskah yang telah dihuruf Latinkan, saat ini sedang disantap anai-anai secara beramai-ramai di Museum Pertamina, Jakarta (Serambi, 1-8-1994, budaya). Sungguh, nasib hikayat Aceh sekarang ini bagaikan Sidalupa!.. amat  terlupakan!!!.

T.A. Sakti

Banda Aceh,

4 Agustus 1994

Iklan

Satu pemikiran pada “Hikayat Aceh Bagaikan Sidalupa!

  1. Ping balik: Jangan Melupakan Sidalupa! « JEJAK KATA BUANA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s