Pakaian Aceh

Komentar Pembaca:

PAKAIAN ACEH

Akibat membaca tulisan H. Amir Husin yang berjudul: “Pendidikan Budaya” (Serambi, Sabtu, 29 Mei 2004 halaman 14), telah menyadarkan saya bahwa ada “versi lain” mengenai Pakaian Resmi Aceh yang berlainan  dengan  yang selalu dipakai oleh para pejabat dan tokoh-tokoh Adat dalam acara resmi di Aceh selama ini.

Kalau bahan pakaian adat  yang digunakan sekarang; yang dipakai di kepala adalah kupiah meukutob, sedangkan dalam “versi lain” adalah kupiah Aceh dan tangkulok Aceh berkasab. Hiasan yang diselipkan di pinggang juga bukan semata-mata rencong, tetapi boleh pula keris, siwah, badik dan rachuh.

Rujukan saya adalah kitab “Tazkirah Thabaqat” salinan Teungku Di Mulek tahun 1270 H, yang naskah aslinya sudah ditulis pada zaman Sultan Mahmud Al-Qahar abad ke-16 Masehi. Naskah “Tazkirah Thabaqat”; sekarang telah selesai saya salin ke huruf Latin, yang semula berhuruf Arab Melayu/Jawoe.

Saya yakin, pakaian Aceh versi ini dapat digunakan kembali sekarang untuk memperkaya variasi Pakaian Adat Aceh yang ada sekarang. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, pakaian ini dipakai pada saat seseorang hendak menghadap Sultan Aceh di Istana Darud Dunia. Baik orang Aceh maupun orang asing wajib memakai Pakaian Aceh ini bila mau menghadap Sultan. Bila tak ada milik sendiri, seseorang boleh meminjam pada Balai Baitur Rijal atau Balai Darul Atsar yang berada di depan pintu gerbang istana.

Oleh karena kitab “Tazkirah Thabaqat” ini tertulis dalam bahasa Melayu yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia sekarang, maka ada baiknya jika saya kutip langsung dari kitab itu perihal Pakaian Aceh tersebut, sebagai berikut:

“Dan demikian lagi Adat Kerajaan Sultan Aceh, yaitu apabila orang-orang yang masuk ke Dalam Darud Dunia: hendak menghadap Paduka Sri Baginda Sultan Aceh: walau siapapun sekalipun, yaitu orang Aceh sendiri, atau orang asing, maka tidak dibolehkan dia menghadap Sultan dengan memakai pakaian sendiri.

Melainkan yang dibolehkan dia memakai pakaian sendiri ialah orang ‘Arab dan ‘Alim ulama, tetapi tidak dibolehkan memakai warna kuning dan warna hijau.

Maka yang lain-lain, waktu menghadap Sultan diwajibkan memakai Pakaian Aceh, yaitu: pertama, kupiah Aceh, dan Tengkuloek Aceh berkasab, dan baju Aceh berkasab, dan berkain selimpang dari kanan ke kiri memakainya berkasab, dan seluar berkasab, dan kain pinggang berkasab, dan memakai rencong atau keris atau siwah atau badik atau rachuh yang berhulu suasa atau perak atau emas dan barang sebagainya. Maka hendaklah memakainya di hadapan di sebelah kanan.

Barangsiapa yang hendak Sultan, yakni hendak menghadap raja, maka hendaklah memakai pakaian seperti yang telah tersebut .

Maka kalau tidak ada pakaian sendiri, maka boleh mintak pinjam pakaian tersebut pada Imam Tandil Kawal dalam Balai Darul Atsar atau dalam Balai Baitur Rijal atau dalam Balai Nafiri Keujruen Genderang, sekalian barang tersebut.”

Sehubungan (Seumpeuna) Tahun Budaya 2004 dan PKA IV yang akan berlangsung; sudah sepatutnya isi kitab “Tazkirah Thabaqat” ini  kita diskusikan kembali. Isinya tentang “Struktur Pemerintah Kesultanan Aceh” sejak dari Geusyik sampai Sultan.

 

T. A. Sakti

Banda Aceh/31-5-2004

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s