Harapan Kita Kepada Unsyiah, IAIN & PTS di Aceh

Komentar Pembaca:

Harapan Kita Kepada

Unsyiah, IAIN & PTS di Aceh

Tahun 1994, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jateng ; melakukan kreatifitas budaya maha besar, yang mungkin merupakan suatu kegiatan yang belum pernah dilakukan semua perguruan tinggi lain di Indonesia. Kegiatan dimaksud adalah mengreproduksi manuskrip Jawa (naskah lama Jawa). Dari 147 judul naskah bahasa Jawa yang “diolah kembali” itu, salah satunya naskah ‘Tajussalatin” yang sebenarnya berasal dari Aceh (baca : Harian Serambi Indonesia, Minggu 9 Oktober 1994 halaman 4).

Manuskrip atau naskah lama merupakan catatan tertulis tentang peradaban suatu masyarakat. Bila kita bermaksud menilai, mengkaji dan mengungkapkan sejarah “tamaddun” suatu kelompok mayarakat, maka salah  satu cara yang perlu ditempuh adalah melakukan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip yang tersisa.

Keberadaan manuskrip di Aceh dewasa ini sangat memprihatinkan; menanti kepunahan. Sebagian masyarakat, kini menyimpan naskah lama di sembarang tempat seperti dibalai kandang lembu, atas kandang ayam, rak dapur (sandeng dapu), di sisi dinding (lungkiek binteh), di bara/para rumoh Aceh dan tempat-tempat lain yang bisa disangkutkan bundel-bundel kertas naskah.

Sekiranya tidak muncul upaya penyelematan dalam waktu dekat atau segera, saya yakin sisa-sisa manuskrip Aceh itu akan punah sama sekali. Bila ada kemauan, dapat saja kita mengkuti jejak Universitas Sebelas Maret (UNS) yang sedang mengolah kembali ratusan naskah bahasa Jawa. Namun, bila acara yang dilakukan UNS mungkin terlalu banyak menghabiskan dana; kita dapat berupaya dengan cara lain yang tidak menghabiskan dana dari perguruan tinggi/institut yang mempeloporinya.

Manuskrip Aceh yang umumnya ditulis dalam huruf Arab Melayu (huruf Jawoe) isinya mengandung berbagai ide, gagasan utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat Aceh, seperti ajaran keagamaan, pendidikan, politik, kemanusiaan, sejarah, perundang-undangan, hukum, filsafat, pemerintahan, kesenian dan unsur-unsur lain yang merupakan nilai luhur masyarakat Aceh saat karangan itu ditulis.

Sehubungan halnya yang demikian, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan, bahwa manuskrip atau naskah lama itu bisa dijadikan bahan pengkajian Skripsi Sarjana bagi hampir semua fakultas atau jurusan di semua perguruan tinggi/institut yang berada di Aceh.

Bagi perguruan tinggi umum misalnya, bahan penelitian Skripsi dari manuskrip dapat dilakukan oleh para mahasiswa yang berminat dari berbagai disiplin ilmu,  seperti kesenian, sosial politik, tata pemerintahan, antropologi, sejarah, tata boga, tata busana dan lain-lain. Tak terkecuali pula untuk ilmu kedokteran dan farmasi. Saya sendiri memiliki sebuah manuskrip yang cocok dijadikan skripsi kedokteran.

Hal serupa dapat pula dilakukan para mahasiswa yang berminat dari perguruan tinggi/institut agama Islam yang terdapat di Aceh. Boleh dikatakan, kesemua fakultas atau jurusan dapat menjadikan manuskrip Aceh sebagai kajian Skripsi Sarjana. Menyimak terhadap isi dari naskah lama seperti tersebut di atas, maka para mahasiswa dari Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Dakwah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Adab, Diploma Tiga Kepustakaan dan Diploma Dua Keguruan, jelas-jelas dapat menjadikan manuskrip Aceh sebagai tugas akhir karya ilmiah mereka. Akhrul kalam, kepada para pengambil kebijaksanaan dan keputusan di Unsyiah, IAIN Ar-Raniry dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Aceh kita mohonkan kesediaan merenunginya…..!

T.A. Sakti

Banda Aceh,

2 – 9 – 1997  — Hardikda Aceh ke 38.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s