Kisah Suka-Duka Proses Menyalin “Kitaburrahmah” – Manuskrip Aceh tentang Kesehatan dan Kedokteran

Kitabur Rahmah

Hari ini Jum’at, 24 Ramadhan 1431 H/3 September 2010 pukul 11.38 Wib., saya mulai menuliskan  kata pengantar menyambut penyalinan Kitabur Rahmah Fit Thib Wal Hikmah yang akan saya lakukan pada masa-masa selanjutnya – Insya Allah – sampai tamat. Sebenarnya, semula saya berniat melakukan transliterasi naskah Kitab Masailal Auwaliyah (Aceh: Masailai Meunadham)  karya Tgk. Abdullah Arief, MA pada bulan puasa tahun ini, tetapi karena naskah tak  saya jumpai maka rencana itu jadi batal.

Usaha pencarian dengan sungguh-sungguh telah saya lakukan. Hampir semua buku di dua lemari, satu tong, satu kotak terbuka telah saya bolak-balik, namun naskah tipis salinan tangan saya sendiri di tahun 1972 – atas anjuran Ibunda saya  —  itu tak berhasil ditemukan. Lalu, saya sms Dr. Salmawaty Arif, ananda Tgk. Abdullah Arief, MA bertanyakan naskah tersebut. Beliau pun belum tahu — kitab yang dikarang sang ayahanda sewaktu berumur 17 tahun dan dicetak di Pulo Pinang tahun 1948 – berada di mana naskah itu sekarang. Saat jawaban sms itu saya terima; hari-hari puasa telah berjalan 14 hari.

Sedari awal, disaat sedang mencari-cari kitab Masailai Meunadham, saya sudah berpikir untuk menyalin “Kitabur Rahmah” sekiranya kitab itu benar-benar tak  ketemu.  Hanya saja, setelah upaya pencarian dihentikankan,  saya pun belum mampu  “menggerakkan batin” guna terus menyalin  ‘kitab rahmat’ itu. Perasaan – kalah sebelum bertempur – benar-benar melilit pikiran saya.  Beban pikiran yang mengganjal adalah: penyalinan kitab itu tidak mungkin selesai, karena amat tebalnya. Kitab karya terjemahan Syekh Abbas Kuta Karang memang tebal, yaitu 226  halaman. Beliau sendiri menterjemahkan kitab itu dari bahasa  Arab ke bahasa Melayu memakan  waktu empat (4 ) tahun, yakni dari tahun 1266 s/d 1270 H.

Beberapa waktu setelah memiliki fotokopy kitab itu, yakni sebelum peristiwa tsunami Aceh, Ahad, 26 Desember 2004; saya memang pernah berencana menyalin “Kitabur Rahmah” .  Beberapa persiapan sudah diadakan. Banyak istilah,  jenis  penyakit, nama obat, nama tanaman obat, bahan obat, dan butir-butir penting lainnya dalam  ” kitab kedokteran dan kesehatan” itu  telah saya beri tanda dengan stabilo warna merah, kuning dan hijau. Begitu pula dengan urutan bab, pasal, dan urutan halaman yang meragukan sambungannya juga sudah diperjelas.

Namun demikian, karena melihat begitu tebal naskahnya, saya pun mencari pendorong alias sponsor  terlebih dahulu. Pikiran saya membisik, “biarlah naskah-naskah lain saya kerjakan dengan “ie babah puteh”(air liur putih/jerih payah sendiri) semata. Tapi buat naskah ‘ilmu kedokteran dan kesehatan’ itu perlulah ada dukungan dananya. Lalu, saya pun menyurati WHO Perwakilan Jakarta. Dalam surat balasannya, saya diminta mengajak lembaga resmi negara, agar bantuan dana dapat diberikan. Pertama-tama, saya menjumpai Dekan Fakultas Kedokteran ( FK ) Unsyiah di ‘lantai  atas’ fakultas itu. Dekan FK  tidak  mau  memberikan surat dukungan yang saya minta. Kemudian, dengan dibonceng Honda seorang teman, saya ke Kanwil  Kesehatan Propinsi Aceh. Karena pimpinan kantor pemerintah itu sedang ke Jakarta,padamlah rencana hari itu.

Sekitar tahun 2008 niat serupa tergerak lagi. Dengan ditemani tukang ojeg/RBT, saya bermaksud menjumpai Dekan FK  Unsyiah, yang telah menggantikan dekan dulu itu. Karena beliau asli Aceh, saya lebih berharap akan  ada hasilnya. Segala keperluan sudah saya siapkan. Selain naskah ‘Kitabur Rahmah’,  tulisan saya ( judulnya:  Setelah FK Unsyiah 20 Tahun: …) yang  menanggapi tulisan bapak tersebut di Serambi Indonesia – sewaktu ia masih sebagai Pembantu Dekan I –  juga ikut mengisi tas saya.

Setelah bertanya ke sana-sini, tahulah saya kantor Dekan FK  di lantai dua. Langsung  saya bersama Pak RBT menuju tangga. Menyaksikan tangga yang tinggi meliuk-liuk itu, timbullah rasa ngeri di hati. Kami pulang, maka batal lagi rencana  saya. Sebenarnya, tangga itu pernah saya lalui beberapa tahun lalu, ketika saya menjumpai Dekan FK yang  sudah mantan itu. Tapi, kaki saya yang patah sudah semakin ‘tua’ pada tahun 2008.

Paling akhir, di bulan Juni 2010 naskah ‘Kitabur Rahmah’ pernah pula saya bawa ke kompleks FK Unsyiah,yakni di kantinnya. Hari itu, saya ingin menjumpai seorang mahasiswa FK senior yang sudah tahap koas yang belum saya kenal.Bersama tukang ojeg/RBT lebih satu jam saya menunggu di kantin. Barulah pada pencarian kali kedua – dengan RBT lain – saya dapat menjumpai calon dokter yang berminat bidang bahasa Aceh itu. Waktu saya bacakan beberapa baris tentang “ ilmu kedokteran”  dalam kitab tua itu, ia terlihat mengangguk-angguk.  Entah karena paham atau bingung, wallahu’aklam!.

Begitulah, hari-hari di bulan Ramadhan tahun 1431/2010 terus saja berlalu. Sementara ‘batin saya’ terus bercerai-berai tak mampu saya “persatukan” untuk menyambut  tugas berat, yakni mengalihaksarakan ‘kitab rahmat’ dari huruf Jawoe/Jawi/Arab Melayu ke aksara Latin. Momoknya tetap sama seperti sebelum tsunami  tahun 2004, yaitu rasa tak mampu saya selesaikan penyalinan itu karena tebalnya kitab tersebut.

Sebenarnya,  selain “momok”  itu, ada beberapa penghambat lain  “baik lahir maupun batin” yang muncul akibat peredaran waktu, yakni:  1. Kaki patah saya semakin lanjut ‘umurnya’, ( besok genap  26 tahun)  yang  jelas semakin menjejas kekuatan fisik saya.   2. Sejak tiga tahun terakhir, penyakit diabetes/darah manis  menjangkiti saya, sehingga terasa separauh tenaga normal fisik saya sudah ‘diganggu’nya.    3. Sejak tsunami 2004, pangkal ibu jari dan telunjuk tangan kiri saya terkena rematik/kebas-kebas. Penyakit ini merupakan sakit yang kambuh kembali, setelah  selama tiga hari saya menjemur buku-buku yang terendam air/lumpur tsunami. Sakit ‘rematik’[i] itu  kini semakin parah. Setelah mengetik komputer barang setengah halaman, jari telunjuk saya tak bisa ‘dibengkokkan’ lagi  guna mengetik, karena

seluruh telapak tangan kiri saya  ketika itu  bergetar (Aceh: meukhot-khot). Jika sudah demikian, tinggal jari telunjuk tangan kanan yang meneruskan kerja beberapa saat lagi.   4. Kedua belah mata saya yang telah dioperasi katarak pada tahun 2004 dan 2007, tentu harus saya pelihara kesehatannya. Dalam pikiran awam saya, penyakit mata katarak yang saya alami adalah  akibat  kerja salin-menyalin hikayat, nadham,  tambeh  dan naskah bahasa Melayu,  yang saya lakukan sejak tahun 1992, yang di tahun 2004 sudah selesai 25 judul. Alasannya, dalam ‘kitabur Rahmah’  sendiri pada pasal “mentadbir mata” telah dijelaskan, bahwa banyak  menyalin  bahan berwarna hitam pada kertas putih dan halus-halus lagi, akan membawa rusak mata, bahkan sampai buta. Na’uzubillah minzalik!.   5. Saya amat kecewa, karena sebagian besar  naskah hasil alih aksara  –  tahun 2009 sudah 32 judul — tidak dapat tercetak menjadi buku. Upaya mencari dana/sponsor telah amat lelah saya usahakan, namun hasilnya tidak seberapa!.

Oleh berbagai faktor itulah,   kegiatan transliterasi yang pernah saya lakukan, sekarang tidak bersemangat lagi.  Sebagai akibatnya,  rencana menyalin ke huruf Latin ‘Kitabur Rahmah’ terus-menerus tertunda-tunda;  sejak sebelum tsunami tahun 2004 sampai menjelang bulan puasa tahun  ini berakhir. Upaya ‘pelarian’ atau alih isu juga sengaja saya ciptakan. Yaitu, sejak hari ke 16 puasa saya bergiat mengumpulkan berbagai tulisan dan  “surat pembaca” yang pernah saya tulis selama ini. Setelah terkumpul, kertas-kertas yang  berketikan mesin tik manual/biasa dan sudah lisyek oleh lumpur tsunami itu,  saya bawa ke tukang komputer guna diketik ulang. Kini, puluhan judul karangan saya tahun 80-an sedang dalam proses ketikan ulang; sementara  57 judul tulisan lainnya  – kebanyakan surat pembaca – telah selesai diketik serta sudah  pula saya edit dengan dibantu anak-anak. Insya Allah, setelah Lebaran Idulfitri nanti; semua tulisan itu satu-persatu akan saya postingkan ke dalam blog saya.

Hari ini, tanggal 24 bulan puasa. Semua bentuk “pelarian” ( Aceh: mita-mita daleh) harus dihentikan. Saya mesti mempersatukan segenap ‘kekuatan batin’ untuk menyalin “Kitabur Rahmah”, walaupun sebatas setengah atau  satu halaman pertamanya saja. Karena besok tanggal 25 bulan  Ramadhan  adalah Hari Ulang Tahun ke – 26 dari peristiwa tabrakan yang saya alami. Sudah menjadi hobi saya, setiap hari ‘keramat’ itu tiba, hampir selamanya saya buat catatan, terutama pada hikayat/nadham/tambeh/kitab  bahasa Melayu yang sedang saya salin di bulan puasa  selama 25 tahun terakhir ini. Alhamdulillah, insya Allah; semoga cacatan ulang tahun ke 26 ‘musibah saya’ dapat saya catat pada transliterasi “Kitabur Rahmah” pada  tanggal 25 bulan Ramadhan tahun 1431 H ini. Untuk mengusir rasa was-was akan tidak selesainya penyalinan kitab itu, saya pun memakai ‘prinsip hidup’ Ibunda saya. Dalam usia  lebih 85  tahun, beliau masih gigih menabur rahmat bagi hamba Tuhan. Suatu siang saya ikut beliau ke Lampoih Uteuen Beuraleuen(kebun tak lengkap pagar di semua sisi ). Di sana beliau sibuk menyisip/menyusun ulang duroe trieng ngon keureungkeum(tumpukan duri) pada  tiga ( 3 ) tanaman biji nangka yang sudah selutut tingginya. Ketika menarik duri bambu sambil melirik kepada saya, beliau berujar: “Bak panah nyoe kon lon harap meuteumei pajoh boh keudroe, meutapi keu ureueng dudoe!” (Nangka ini ditanam bukan mengharap dapat saya nikmati buahnya, tetapi buat orang-orang di belakang saya!). Kemudian ternyata, beliau sendiri dapat menikmati –  misalnya keu gule kuah  leumak  – dari hasil buah nangka itu. Ketika beliau berpulang kerahmatullah pada 2 Rabiul Awal 1430/ 28 Februari 2009,  salah satu  batang nangka itu sudah berbuah  berkali-kali. Sementara 2 ( dua )  batang lagi belum berbuah karena reului – tidak kena sinar matahari – akibat terlindung pepohonan.

Begitu pula dengan rujukan pikiran saya sekali ini. Bila ‘kebetulan’ saya tak sanggup menyalin ‘Kitabur Rahmah’ sampai tamat, saya harap  mudah-mudahan akan hadir orang lain menyalinnya sampai tuntas serta mencetaknya. Tapi, siapa tahu, saya sendiri  yang bakal  melakukan alih aksara hingga rampung, insya Allah. Berpangkal pada prinsip ‘untung-untungan’ itu, dengan mungucap “Bismillahirrahmanirrahim”,  hari ini Sabtu, 25 Ramadhan 1431/4 September 2010  pukul 10. 19 Wib., mulailah saya kerjakan transliterasi “Kitaburrahmah Fit Thib wal Hikmah” dari huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe ke  huruf Latin; peninggalan penjajah Belanda. Mudah-mudahan tanpa rintangan, Insya Allah; Amin!!!.


Bismillahirrahmanirrahim

00

Adapun kemudian dari pada itu, maka berkata hamba Allah yang dinamai dengan ‘Abbas yang mengharap kepada Tuhannya Allah Ta’ala, tang Tuhan sekalian manusia. Syafi’i nama Mazhabnya, Aceh nama negerinya, Mesjid Jamiek Ulee Susu tempat kediamannya dan kejadiannya. 00  Makan menuntut kepada aku beberapa kali oleh setengah taulanku akan diterjemah dengan bahasa Jawi akan “Kitabur Rahmah fit Thib wal Hikmah” bagi setengah fadhla.  00

Maka aku istikharah kepada Allah Ta’ala kemudian; daripada bahwa tiada dilulus akan daku menyalahi bagi demikian itu, akan bahwa mengurniai atasku atas  mudah bagi terjemahnya. Dan redla segala manusia bagi demikian itu.  00     Maka aku masuk taklif terjemah pada dua hari bulan Muharram bagi permulaan tahun dua ratus enam puluh enam tahunkemudian seribu tahun bagi demikian terjemah itu.

Dan jika tiada aku ahli bagi demikian itu sekalipun, karena aku berbaik bagi dhannya bagi barang demikian itu.

00    Maka sanya aku sebut dalam terjemah ini akan beberapa faedah dengan matan sebenarnya, serta aku bangsakan pula bagi orang yang empunya katanya dan tempat tinggalnya.   00   Dan kunamai akan terjemah ini dengan “Kitabur Rahmah Fit Thib wal Hikmah” seperti nama aslinya jua, karena aku harap akan kabul dan redha antara segala manusia dengan sebab berkat aslinya.   00   Dan kepada Allah Ta’ala jua aku mohon, bahwa memberi   manfaat ia dengan dia seperti barang yang memberi manfaat ia dengan aslinya yang ‘adhim. Dan menjadi akan dia semata-mata bagi ZatNya yang mulia. Dan jalan bagi beroleh kemenangan  Hari Kiamat dengan beroleh Syurga yang empunya nikmat.

Kata mushannif rahmatullahi Ta’ala  00   Dan aku  simpan  akan hikmat barang yang dalam kitab ini dalam lima bab,  00  Bermula bab yang pertama, pada menyatakan Ilmu Tabiat dan barang yang menaruh oleh Allah Ta’ala  padanya.  00  Bermula bab yang kedua, pada menyatakan berbaiki segala makanan dan segala ubat-ubat dan daun segala manfaatnya.  00 Bermula bab yang ketiga, pada menyatakan barang yang berbaik bagi badan padahal sehat.  00   Bermula bab yang keempat, paada menyatakan ubat segala penyakit yang tertentu bagi tiap-tiap anggota yang makhsus. 00   Bermula bab yang kelima, pada menyatakan ubat segala penyakit yang ‘am yang berpindah-pindah dalam badan dan lagi akan kami sebut demikian itu hal keadaannya di tafshilkan,Insya Allah Ta’ala.

Hari ini, Sabtu, 25 Puwasa 1431/ 25 Ramadhan 1431 H/ 4  September  2010 M pukul 18.00 Wib.,

hanya sebagian  kata pengantar dalam ‘Kitabur Rahmah” yang telah saya salin ke huruf Latin. Namun Syukur Allahmdulillah, sampai hari ini saya masih sehat-wal’afiat, walaupun dengan badan  sadikit sakit-sakitan akibat musibah tabrakan 26 tahun lalu. Ketika itu, hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405 H/15 Juni 1985 M sekitar pukul 13.00 Wib., saya ditabrak bis colt barang/tivi. Pada hari naas itu,  saya dan rombongan mahasiswa KKN-UGM  dalam perjalanan pulang  Ke  Kampus UGM Yogyakarta; setelah menyelesaikan tugas Kuliah Kerja Nyata(KKN) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Saya sendiri: T. Abdullah Sulaiman  beserta beberapa teman ditempatkan di Desa Guli, Kecamatan Nogosari selama dua setengah bulan. Begitulah, dalam konvoi pulang itu, setiba di wilayah Kalasan-dekat Candi Prambanan, Saya mengalami musibah tersebut. Akibatnya, saya nyaris tak bisa menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Gadjah  Mada (UGM ) Yogyakarta. Namun akhirnya, dengan rahmat Allah SWT, saya dapat menyelesaikan Skripsi pada 5 Nopember 1987 yang sempat “tertunda”  hampir   dua setengah tahun. Kini, saya telah hampir  21  tahun menjadi Staf pengajar di FKIP Unsyiah, Banda Aceh. Syukur Alhamdulillah!!!.( T.A. Sakti ).

Bab auwal  00

Bermula bab yang pertama pada menyatakan ‘Ilmu Thabiat dan barang yang telah menaruh oleh Ta’ala padanya dari pada hikmat  yang indah-indah.ahui olehmu bahwa sanya bab ini itu, yaitu selebih-lebih 00  Iham  artinya terlebih cita-cita  dan maksud dari pada segala bab yang lain dan terlebih besar faedah bagi orang yang menuntut ilmu ini, karena bahwa barangsiapa yang sangat mahir pada Ilmu Thabiat, niscaya tiada lalu atasnya sesuatu dari pada Ma’adin artinya galian dan ? rtinya tumbuhan dan heyawan, melainkan mengetahui ia akan tarkibnya, yajni disusun akan ubat atau lainnya dan mengetahui akan manfaatnya.

Maka bahwa sanya awal-awal barang yang dijadikan oleh Allah Ta’ala atas Mazhab Hukamak itu tabiat hararat  00 , yakni hangat. Karena bahwa sanya baginya  dari pada Harakat Kauniah 00, yaitu qudrat Allah Ta’ala.

Dan ‘ilat segala ‘ilal pada segala perkara  yang berharakat, yakni bergerak-gerak.

Kemudian, maka menjadi oleh Allah Ta’ala akan thabiat Burudad    00   , yakni sejuk. Bermula asalnya itu dari pada Sukun Kauny  00   yakni qudrat Allah Ta’ala. Dan ‘ilat segala ‘ilal pada segala perkara yang berharakat  00

Yakni bergerak-gerak. Maka inilah yang awal-awal berjodo, seperti isyarat firman Allah Ta’ala  waming kulli syai-in khalaq na zaujaini, Yakni dan dari pada tiap-tiap suatu kami jadikan berjudo-judo.

Kemudian, maka bergerak-gerak hangat atas sejuk dengan rahasia yang telah menaruh oleh Allah Ta’ala padanya dari pada harakat yang termazkur. Maka jadi bercampur keduanya,maka jadilah dari pada Hararat itu

Bayusa   00  yakni jadi pada hangat itu kering. Dan jadi  dari pada sejuk itu basah. Maka jadilah tatkala itu empat tabiat, yang pmasing-masing pada jisim yang sanan  00     yang ruhani 00   dan yaitulah awal mazaj

Basih 00

Kemudian dari itu, naiklah Hararat dengan rathubat  00. Maka menjadi oleh Allah Ta’ala dari padanya akan tabiat hayat dan segala falak yang ‘alawi. Dan turunlah barudat  serta  rathubat  00    kepada bawah. Maka dijadikan Alah Ta’ala dari padanya akan tabiat maut, artinya mati, dan segala falak yang safli  00   artinya di bawah.

Kemudian dari  itu, maka bercerai-cerailah segala Ajsam  00 maut kepada segala arwahnya yang telah naik dari padanya. Maka manakala berkehendak oleh Allah Ta’ala akan falak yang di atas dengan barang yang dalamnya, niscaya berkisar ia akan sebagai kisar yang kedua. Maka bercampurlah tabiat hararat dengan barudat dan tabiat rathubat dengan bayusat. Maka jadilah ‘anasir empat

Bermula yang demikian itu, bahwa hasil dari pada Mazaj Hararat  00  serta Bayusat itu ‘anasir api. Dan bahwa hasil dari pada Mazaj Hararat serta Rathubat itu ‘anasir angin. Dan bahwa hasil dari pada Mazaj Barudat serta Rathubat itu ‘anasir air. Dan bahwa hasil dari pada Mazaj Barudat serta Bayusat itu ‘anasir tanah. Maka inilah Mazaj ‘anasir empat.

( Catatan: Sekedar itulah awal dari upaya salinan/alih aksara/transliterasi “ Kitaburrahmah” . Mudah-mudahan dapat berlanjut sampai tamat. Segala perbaikan/edit akan dilakukan kemudian. Tanda   00  adalah istilah/kalimat bahasa Arab/Ayat Al Qur’an/Hadits Nabi yang belum disalin!. Bale Tambeh Darussalam. Jum’at, 16 Syawal 1431/ 24 September 2010, pukul 9/21  malam Sabtu, T.A. Sakti ).

( Catatan lanjutan: Alhamdulillah, akhirnya niat menyalin “Kitaburrahmah” sampai  tamat kesampaian jua. Atas dukungan penuh sahabat saya Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag  alias Pak Kalam, kini kitab ‘kedokteran dan kesehatan’ itu telah tuntas tersalin, malah dalam dua macam huruf sekaligus, yakni huruf Jawi dan aksara Latin. Penyalinan  ke huruf Jawi seperti huruf asli kitab itu utuh dilakukan Pak Kalam, sementara alih aksara ke Latin saya yang melaksanakannya dengan dibantu Pak Kalam juga – khusus yang terkait istilah bahasa Arab -. Pada hari-hari terakhir ini  Pak Kalam  malah sedang menyalin ulang Bagian Obat dari Kitab Tajul Muluk untuk digabungkan dengan Kitaburrahmah. Saya sebut menyalin ulang, karena bagian Tajul Muluk itu telah saya salin ke huruf Latin pada tahun 1998, serta telah saya jilid dengan judul “Resep Obat Orang Aceh”. Isinya, selain kutipan Tajul Muluk adalah catatan harian saya tentang obat tradisional, baik selama setahun masa berobat patah di Rumoh Teungoh, Ulee Jalan, Beutong, Aceh Barat/Nagan Raya, maupun cacatan harian lainnya. Sekarang, kami tinggal menunggu ada pihak yang sudi menjadi sponsor mencetaknya/menerbitkannya menjadi buku!!!. Bale Tambeh, 21 November 2011, pkl 7.57   Wib., T.A. Sakti ).

Berikut dicamtumkan cuplikan dan lika-liku penyalinan ‘Kitaburrahmah’ itu:

Hari ini, Rabu  pukul 10. 15 Wib., bertepatan Malam Nuzulul Qur’an tanggal 17 Ramadhan 1432, beriringan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66 tanggal 17 Agustus 2011; saya mulai menyalin kembali “Kitaburrahmah”.  Senin, 15 Ramadhan 1432 telah ‘diikat janji’ dengan Pak Kalam  yang akan bersama-sama menyalin kitab ini, yakni saya bertugas menyalin ke huruf Latin, sedangkan Pak Kalam akan menyalinnya tetap dalam huruf Arab Melayu alias Jawi atau Jawoe. Bale Tambeh, 17 Agustus 2011 poh 10.31 Wib., T.A. Sakti.

Dan yaitu disusun daripada arwah thabiat dua kali. Kemudian maka menjadi oleh Allah Ta’ala daripadanya akan segala ‘alam yang diatas. Dan susun daripadanya makan 00 yakni galian. Dan yaitulah awal-awal bagi segala tarkib 00 yakni yang disusunkan kemudian. Dari itu maka berkisar Falak yang di atas atas Falak yang di bawah akan sebagai kisaran yang ketiga kali.

Maka jadilah segala tumbuh-tmbuhan dan hewan bahimy 00 , yakni binatang. Kemudian dari itu berkisar Falak yang di atas atas Falak yang di bawah akan sebagai kisaran yang keempat kali. Maka jadilah daripadanya Hewan Nathiq  Insany, 00  yakni manusia. Dan yaitlah akhir segala Tarkib 00 , yakni yang disusun dan sebaik-baiknya dan yang terlebih sempurna susun. Dan yaitulah maksud kami bagi barang yang telah kami kashad dari pada menyatakan ‘Ilmu Thabi’i 00 ini

TAMBEH, bermula segala Qaul tang telah tersebut itu semuanya atas Mazhab Hukamak Falasifah; bukan Qaul kita Ahlissunnah Wal Jamaah.

Adapun sebab disebutkan ‘Ilmu Thabi’i, karena  ‘Ilmu Thabi’i  itu tadapat tiada dari pada mengetahui  ‘Ilmu Thabi’i

FASAL

Pada menyatakan segala ikhlath 00 yang empat yang tersebut dalam Qamus Wa Ikhlathul Insan 00 00  00  dan Ikhlathul Insan itu segala tabiat insan yang empat.  Pertama  00   yaitu hangat lagi kering yang jadi maka ?? dari pada 00 00 tabiat dan tempat diamnya dari pada insan itu dalam Phet 00.

Kedua 00 artinya darah. Yaitu yang jadi ashalnya dari pada anasir Angin Thabi’i??. Dan yaitu hangat lagi basah dan tempat diamnya dari pada insan itu 00 yakni hati. Ketiga 00 yaitu khalatt balgham dan sejuk basah.

Bermula asalnya jadi dari pada anasir Air Thabi’i. Dan temapat diamnya dari pada insan itu Riyyat, artinya paru-paru.

Keempat Khalatus Sauda 00, yaitu khalat Siwad yaitu sejuk kering. Bermula asalnya  jadi  dari pada anasir Tanah Thabi’i. Dan tempat diamnya dari pada insan itu 00 yakni limpa.

Maka  inilah segala Ikhlath yang empat. Dengan dialah berdiri  badan dan dari padanyalah baik badan. Dari padalah jadi kebesarannya seperti yang lagi akan termazkur, Insya Allah Ta’ala.

PASAL

Pada menyatakan segala Mizaj. Dan tersebut dalam Mukhtar 00    dan Mizaj badan itu barang yang disusun atasnya dari pada segala tabiat empat yang tersebut, intahy. Ketahui olehmu bahwa sanya Mizaj Thabi’i tiada jatuh pada segala badan hal keadaan bersamaan atas ‘iktidal, artinya  atas bersamaan timbangan tabiatnya. Dan tetapi bersalahan ia. Maka bertambah-tambah setengah tabiatnya dengan harak ?? dan bertambah-tambah setengahnya serta rathubath dan bayusat, yakni kering. Maka jadi berbahagi-bahagilah Mizaj itu kepada lima bahagi.

yang tersebut dalam Qamus atau urat yang tumbuh pada zakar sampai panjangnya kepada tempat tumbuh bulu ari-ari. Bermula asalnya  sebab  penyakit  00  yakni penyakit sebelah badan disana? Serta bertambah-tambah sejuk dan kering. Bermula ubatnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengsifat bagi demikian itu, yaitu diambil ekor kibas ‘Arab yang pertengahan, yakni tiada besar dan tiada kecil, maka diambil minyaknya. Maka diminum akan dia hari?. Kata Anas ibnu Malik radhiallahu ‘anhu: dan sanya aku sifat ubat yang demikian itu kepada tiga puluh orang dan satu tiap orang. Mereka itu semuanya sembuhlah ia. Dan apabila dihimpun minyak sapi dan air madu serta minyak ekor kibas, niscaya adalah ia terlebih baik.

Dan tersebut dalam Kitab Maghribun 00  Bermula nisfu? itu dari pada satu hingga tiga  malhu? , yaitu penyakit kembung pada kulit dan kelilingnya, pada bahasa Aceh dinamai penyakit dari pada jenis Untot. Bermula sebabnya berhimpun Khalath balghami dan Khalath damawi? Disana bertambah-tambah keduanya. Bermula ubatnya, dibekam keliling lutut, kemudian maka diambil terusi, dipipis dicampur dengan cuka maka disapu akan dia.  Setelah itu maka diminum cuka dan air madu. Dan makanannya tatkala diperubat penyakit ini, dimakan barang yang adalah tabiatnya lathif lagi pertengahan dan dijauhi makanan yang berat tabiatnya.

Al Dakhis, yaitu penyakit bahu kembung, salah suatu bagi anak jari dari pada uramnya hingga kukunya. Bermula asalnya sebab Hararat Damwiat yang berhimpun di sana.  Bermula ubatnya dijadi atas jari buah lim? Yakni buah mental/meunteue? sehari semalam. Yakni diambil buah lim dikurik akan dia. Maka dimasuk anak jari ke dalamnya sehari-semalam lamanya. Kemudian dari itu maka diambil anak jari dari pada buah lim itu, maka dipupuk atas anak jari dengan tepung manjakani yang sudah terkhamer dengan cuka. Setelah itu, maka dihantar  akan  anak jari itu dalam hal pupuknya ke dalam air yang sejuk.

BAB LIMA

00  Bermula bab yang kelima pada menyatakan  ubat  segala penyakit yang ‘am yang berpindah-pindah pada tubuh.  Alhamiyat?, artinya penyakit demam. Ketahui olehmu bahwa sanya demam itu banyak baginya. Dan tetapi kita sebut dari padanya akan yang terlebih besar mara bahayanya. Dan yaitu yang bersalah-salahan ia dengan sebab bersalahan bertambah tabiat dan bersalah-salahan ikhlath yang empat yang telah tersebut.

Maka yaitu terbahagi kepada empat  bahagi. Pertama Hamal ghab? namanya. Artinya demam ghab namanya. Yaitu demam yang hilang satu hari dan datang ia satu hari. Bermula sebabnya itu, bertambah-tambah Khalath shafrawi. Bermula ubatnya diminum air buah lim, artinya air buah mental/boh menteue dengan sakar pada pagi-pagi kadar tiga hari. Dan pada tiap – tiap  kali diminum dimuntah akan dia. Bermula makanan tatkala dimakan ubat ini, ruti tepung jagung dan sakar. Dan ruti tepung gandum yang sudah terkhamer? dimakan akan dia dengan kuah daging anak hayam.

Jika hilang ia dalam tiga hari, maka bahwa sanya sembuh ia. Dan jika tiada sembuh dalam tiga hari, maka dibekam akan dia. Maka bahwa sanya sembuh ia. Kemudian diminum ubat yang menciret penyakit shafrawi serta dipakai ubat yang telah tersebut itu. Dan tempat berbekam telah lalu sebutnya pada pasalnya.

Kedua, Hamas tsani, yaitu demam yang berganti-ganti pada tiap-tiap hari. Bermula sebabnya Khalath Damawi?. Bermula ubatnya diminum cuka pada pagi-pagi dan dijauhi diminum barang yang lain dari padanya. Dan diminum akan dia kadar tiga hari jua. Maka bahwa sanya sembuh ia. Dan jika tiada sembuh maka dibekam ia seperti dahulunya. Maka bahwa sanya sembuh ia.

Ketiga, Hamiyil Muthabi’at. Yaitu demam yang ada ia dalam rungga perut. Dan jadi lahir badan berat yang bergerak-gerak dengan sebab hangat yang sedikit. Dan terkadang ada ia sejuk yang sangat serta berbangkit-bangkit seperti bertanak api dalam badan  dan lagi berat jua.  Hingga sampai yang demikian itu tujuh hari pada ghalibnya. Kemudian maka  berganti dengan Hararat seperti api yang ditanak dalam  badan sekaliannya. Dan adalah Hararat itu huap yang dinamai pada ulama Tabib dengan sab’ak.

Apabila bernyala-nyala demikian itu, niscaya jadi bertanak sekalian badan seperti bertanak periuk atas api. Maka jadi hangat hutak dengan sebab hangat yang sangat. Maka jadi ubah ‘akal orang itu. Maka datang akan orang sakit itu Ghisyawat, artinya hilang kuat dan harakat dan perasaan panca indera. Dan lagi datang akan dia  wayang pada kalam, padahal tiada mengetahui akan yang dikatanya.  Kemudian dari itu hilang sakit itu, adakalanya jadi selamat orang itu atau jadi kepada mati. Dan yaitulah sebesar-besar demam yang mara bahaya.

Bermula asal sebabnya itu, bertambah Ikhlath?. Bermula ubatnya, apabila datang ia pada mula-mulanya dimuntah ia pada tiap-tiap hari dengan cuka dan air madu. Setelah itu, maka dimakan ruti tepung jagung serta sakar. Dan jika tiada sembuh dengan dia,  maka dimakan ruti tepung gandum yang terkhamer? Serta kuah daging anak hayam.

( Sabatas inilah yang saya alih aksarakan  sampai pagi Sabtu, 1 Oktober 2011 sebelum berangkat  mengajar ke kampus pukul 10.00 Wib. Pada Rabu malam/malam Kamis, 28  September 2011 disaat menyudahi salinan malam itu dengan  ‘lelah rasa  dan jemu yang berat”, saya pun menulis sms kepada Pak  Kalam dengan bunyi:”Alhmdllh kalh bab 4.Sang ka gleuen that bak lon salen bab 5”. Pada tgl. 30- 9 – 2011 Pak Kalam membalas sms saya begini:”Toh nyang han ekle, akan lon lanjut le lon, lon pih ka rab lheueh. Sekitar 17 menit kemudian Pak Kalam sms lagi:”Lon peumeulayu rab abeh bab 5”. Memang kami saling sms selama bergiat menyalin Kitaburrahmah. Hal ini bermanfaat sebagai pendorong semangat sekaligus bisa meringankan rasa jemu-jenuh, bahkan stres – terutama bagi saya yang sudah ‘trauma’ dengan kegiatan salin-menyalin manuskrip Aceh ini!!!. Di antara sms kedua kami yang masih tersimpan di HP saya adalah sbb: Dari Pak Kalam ialah: 1) “Sdh masuk bab empat blum diberi titik tiga tak termasuk latin” ( 13 -09 – 2011). 2)“Rab abeh limong bab arab asli, jawoe gohlom”( 18 – 09 – 2011).   3)“Alhamdulillah ka abeh teukeutik arab asli, akan lon mulai sigo treb treuk arab jawoe (24-09-2011).  Sementara sms dari saya adalah 1)”Asw. Alhmdllh, ka lhh saboh bab potong tls bhs Arab”( 13 -09- 2011). 2) “Hati2 bab 4 na 2 tmpt.na bak hlm 73 dn 40/80 hlm sblmnya”( 13 -09- 2011/mlm). 3)”Asw. Alhmdllh ka lhh bab 2, ka maju keu bab 3. Tp  ‘ohlhh 4 on ka kaco, ka bab 4 laju!.Payah pike2 dilee…”( 20 -09 – 2011). 4)” oo… neu tlg mita siat lam kamus arab, arti pohon kayu tahrfak/tharfan keu bhn ubat gigi runtuh-ngalir darah dan bhn ubt  besar limpa  atau pnyakit kura!”(28 -09- 2011).  Dan….5) seperti tersebut di atas!. 6)” Get, Insya Allah singoh rab poh 12 lon ba bak droeneuh”(30 -09- 2011). Maka besok Sabtu, 1 Oktober 2011 sepulang dari Kampus saya antarlah –  numpang RBT Muhajir – naskah Kitaburrahmah-pegangan saya – kepada Bapak Drs. Mohd. Kalam Daud, M. Ag. Bale Tambeh Darussalam, malam Rabu, 7 Zulkaidah 1432/5 Oktober 2011 pkl 21.37 Wib., T.A. Sakti).

( Lon sambong ketik lom bak uroe Rabu, 13 Zulkaidah 1432/ 12 Oktober 2011 poh 17.00 selesai shalat ‘Ashar, T.A. Sakti )

Dari pada bekas sujud. Dan seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 00 artinya tiada jua perbaiki Allah subhanahu wa Ta’ala akan rupa laki-laki dan perangainya. Maka dirasakannya akan dia pada api neraka. Kata 00 artinya yang firasat itu menyatakan batin dari pada kias yang lahir. Maka adalah tanda kebajikan pada pekerjaan dan perbuatan dan kelakuan dan dari pada segala itu pada manusia yang gahara? Dan sederhana. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 00  artinya dijadikan Allah subhanahu wa Ta’ala akan sekalian kebajikan itu pada yang sederhana. Dan lagi sabda Nabi  00  artinya takut oleh kamu akan segala yang kuning mukanya. Maka bahwa sanya jika tiada ada dari pada suatu penyakit atau berjaga, maka bahwa sanya ini dari pada dendam hati mereka itu akan  segala Islam.

Dan demikian lagi kayanya tanda kebajikan manusia dan kejahatan  itu dari pada segala kelakuan anggutanya jua. Seperti kata ‘Arif 00 artinya barang siapa permaikan? batinnya, yakni dengan takutnya dan merendahkan dirinya akan Allah Ta’ala niscaya tetaplah segala anggautanya, dan barang siapa bermainkan anggautanya, maka batinnya binasa.

Sekali peristiwa, suatu hari sembahyang seorang sahabat, maka dipermainnya janggutnya dengan jarinya. Tatkala itu dilihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  00  artinya jikalau takut hatinya akan Allah Ta’ala, niscaya takutlah anggautanya, yakni tetaplah segala anggautanya.

Dan demikian lagi kenyataan? Tanda kebajikan manusia dan ??kejahatan itu bersahabat dengan orang yang baik, maka nyatalah ia orang yang baik. Dan jikalau bersahabat dengan orang yang jahat, maka itupun orang yang jahat jua. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 00  artinya kiaskanlah akan bumi dengan ngapa? Yakni dengan perangai orang yang mendiami dia itu. Dan  dengan orang yang bersahabat dengan dia. Dan lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 00 artinya yang manusia itu, yaitu mengambil dalil dan kias dari pada kelakuan dan pekerjaan dan perkataan dan kejadian manusia yang lahir kepada perangainya dan kelakuan yang batin. Dari karena kejadian yang batin itu mengikat khasiat tubuhnya jua, Maka berlakulah kejadian yang lahir itu kepada kelakuan yang batin. Maka yaitu takluk kepada thib jua. Insya Allah Ta’ala lagi akan disebutkan Fakir pada Pasal Ilmu Tabib.

Pertama, Mizaj Safrawi namanya, dan yaitu Mizaj yang banyak padanya Hararat ??   dan Bayusat dan sedikit padanya sejuk dan basah.

Bermula alamat orang yang empunya Mizaj Shafrawi itu tujuh perkara. Pertama, lekas bergerak-gerak tubuh  pada segala ihwal. Kedua,  segera mendatang pada segala pekerjaan yang dicita-cita. Ketiga, berani. Keempat, gagah pada jimak. Kelima, baik paham. Keenam, kurus badan sedikit. Ketujuh, sedikit tidur.

Dan apabila Hararat pada orang itu banyak dari pada kering; niscaya adalah  warna tubuhnya merah. Dan apabila adalah Bayusat itu terbanyak dari pada Hararat; niscaya adalah warna tubuhnya yang bercampur merah. Dan apabila bersamaan Hararat dan Bayusat padanya; niscaya adalah kuning warnanya, wallahu’aklam.

Kedua, Mizaj Damwi; yakni darah. Yaitu Mizaj yang banyak padanya Hararat serta Rathubat dan sedikit padanya Barurat dan Bayusat. Bermula alamat  orang yang Mizaj Damwi itu lima perkara. Pertama, besar tubuhnya dan banyak dagingnya. Kedua, banyak darahnya Ketiga, banyak nafsunya. Kelima, baik   perangai. Keenam, pertengahan pahamnya

Dan apabila adalah Hararat itu terbanyak dari pada Rathubat; niscaya adalah ia kuning warnanya. Dan apabila adalah  Rathubat padanya   terbanyak dari pada Hararat; niscaya adalah warna tubuhnya putih yang bercampur merah. Maka jika bersamaan Hararat dan Rathubat padanya; niscaya adalah warnanya Asfar ??, yaitu  warna antara putih dan merah, walalahu ‘aklam!.

Ketiga Mizaj Balghami namanya. Yaitu Mizaj yang banyak padanya Barudat dan Rathubat dan sedikitnya padanya hangat dan kering. Bermula alamat  orang  yang empunya Mizaj Balghami itu delapan perkara. Pertama, tumbun badan. Kedua banyak gapas. Ketiga, banyak Rathubat. Keempat, banyak tidur. Kelima,  kaslan ?? artinya malas. Keenam, tiada segera bergerak-gerak anggota pada ketika berkerja. Ketujuh, tiada tajam paham. Kedelapan, banyak lupa, tiada hampir teringat akan sesuatu.

Dan apabila adalah Barudat padanya terbanyak  dari pada Rathubat;  niscaya adalah warnanya putih kasar ??  Dan apabila adalah Rathubat padanya terbanyak dari pada Barudat; niscaya adalah warnya putih halus yang berkilat; hampir ia kepada warna supak. Maka jika brsamaan antara Rathubat dan Rathubat ?? dan Barudat pada orang itu; niscaya adalah warnanya  Rushashi, artinya warna putui yang bercampur hijau ??

Keempat, Mizaj Saudawi namanya. Yaitu Mizaj yang banyak padanya Barudat serta Bayusat dan sedikit padanya Hararat dan Rathubat. Bermula alamat orang yang empunya Mizaj Saudawi itu lima perkara. Pertama, besar badannya. Kedua, kurus tubuhnya. Ketiga, banyak lelah payah ketika berkerja-berkerja. Keempat,  sedikit tidur. Kelima, tiada sabar ia dari pada jimak, tetapi jimak atasnya mudlarat yang besar.

Dan apabila adalah Barudat padanya terbanyak dari pada Bayusat; niscaya adalah  ia pucat warnanya. Dan apabila adalah Bayusat padanya terbanyak dari pada  Barudat; niscaya adalah ia aghbar ?? warnanya, artinya warna yang serupa  dengan  raghbar ??   Maka jika bersamaan anatara Barudat dan Bayusat; niscaya adalah  warnanya rushashi, yakni putih yang bercampur hijau ?? , wallahu ‘aklam.

Kelima, Mizaj ‘Iktidal namanya. Yakni Mizaj yang bersamaan antara segala tabiatnya pada mizan ?? tabiat dari pada Mizajnya.  Bermula alamat orang yang empunya  ‘Iktidal itu enam perkara. Pertama,  cerdik pahamnya. Kedua, bersamaan timbangan antara segala anggota pada sekalian kejadian. Ketiga, pertengahan ikhwal pada sekalian pekerjaannya. Keempat, kuat nadhar ??  antara lambatan dan lekas pada barang perbuatannya dan antara berani dan ketakutan. Kelima,  baik perangai. Keenam, bersamaan hal  pada segala pekerjaannya.

PASAL pada menyatakan

( Hanya sebatas ini yang sempat saya ketik “Kitaburrahmah” yang dimulai tgl. 17 Ramadhan 1432/17 Agustus 2011  itu. Mungkin hanya 3 hari/ lhee go duek saja sempat saya kerjakan. Setelah itu, saya lalai dan gabhuek dengan urusan lain. Diantara kegiatan yang berguna adalah:

1)  Lima kali/5  hari bertugas di Museum Aceh- menyeleksi manuskrip Aceh,

2) Suatu sore tgl 21 Ramadhan 1432/21 Agustus 2011 melakukan wawancara dengan Tgk. Ismail alias Cut ‘E,  figur pembaca Nazam Teungku Di Cucum yang berpengalaman membaca hikayat 40 tahun, sejak tahun 1970. 3) Sehubungan berpulangnya kerahmatullah Dr. Hasballah  M. Saad tgl. 23 Puasa 1432 di Jakarta, saya disibukkan dengan:

a). Memabaca  sms yang masuk ke Hp, b). Mempersiapkan dua tulisan buat blog saya tentang beliau, ikut menjemput jenazah ke bandara SIM dengan numpang RBT/ojeg, c) Menyusun syair Aceh tentang beliau, d) Mengirim syair itu ke Serambi, e) dan mengantar syair itu ke studio ACEHTV untuk dilantunkan oleh Medya Hus.

4) Mewawancarai Medya Hus di Studio ACEHTV  mengenai kegiatan beliau “berhikayat” selama 30 tahun.

5) Bersama 5 teman peminat Cae Aceh lainnya, hadir pada acara Syukuran Wisuda Sarjana Siti Asra yang diadakan pada Kamis,  8 Agustus 2011  di  Arafah Kos,  Lamnyong. Siti Asra adalah Sastrawati Aceh satu-satunya yang muncul saat ini.

6) Peringatan  Ultah ke 27 musibah tabrakan Colt barang di Kalasan, Yogyakarta yang jatuh pada 25 Ramadhan 1432 H bersamaan 25 Agustus 2011 M, khusus kali ke 27 ini saya ‘peringati’ dengan mencetak dua judul hikayat hasil alih aksara saya, yakni HIKAYAT RANTO dan HIKAYAT TEUNGKU DI MEUKEK, yang Insya Allah akan terbit tidak lama lagi!.

7) Waktu selebihnya, menjalani puasa, membaca Qur’an, istirahat dan berdo’a…

Hari ini, Aleuhad/Ahad, 13 Uroe Raya 1432 atau  13 Syawal 1432 H bertepatan 11 September 2011 M – Hari peringatan ke 10 tahun hancurnya Gedung WTC di New York ; lambang keangkuhan Amerika Serikat –, dalam suasana menjalani puasa sunat Syawal/Puwasa nam, saya mulai kembali menyalin ke huruf Latin “Kitaburrahmah”; semoga ke depan mampu menjadi lancar hendaknya, Insya Allah!, T.A. Sakti ).

PASAL

Pada menyatakan Ghadan, yang ditashrifkan pada insan. Artinya makanan dan minuman dari pada barang yang jadi akan kuat bagi badan. Dan tersebut dalam Mukhtar 00  Bermula Ghadan itu barang yang dimakan-minum dengan dia dari pada makanan dan minuman. Ketahuilah olehmu, bahwa sanya Ghadan itu dengan dialah berdiri badan dan ketetapan roh dalam jasad. Dan dari padanyalah jadi baik badannya dan dari padanyalah jadi kesakitannya?.

Bermula pasal ini, itu memberi faedah yang paham? Tiada terkaya? Oleh orang yang berakal jauh dari pada mengenalnya. Bermula yang demikian itu, bahwa sanya Ghadan, apabila hancur ia dalam perut dan telah cerai-berai ia dalam sekalian alat yang menghancurkan, niscaya bernyala-nyalalah tabiat badan, padahal berkhendak ia bagi makanan. Dan yang demikian itulah Lapar yang makruf namanya. Maka apabila tiada hasil baginya Madat Ghadan, artinya makanan; niscaya kembalilah tabiat badan atas Rathubat Ashliah yang dalam badannya. Maka makan oleh tabiat badan akan Rathubat itu. Maka apabila hilanglah Rathubat itu, niscaya padamlah Hararat tabiat. Dan adalah yang demikian itu sebab bagi datang kibasan? Badan

Dan jika hasil bagi tabiat yang tersebut Madat Ghadan,  niscaya mengutus akan dia oleh hujung  gigi  yang hangat atasnya barang yang kesukaran menghancur atasnya oleh tabiat.  Bermula bergerak-gerak lidah yang telah menjadi oleh Allah padanya dikenal rasa makanan dan juru bahasa kalam dan berbaik-baik ia ? ke kanan dan ke kiri hingga kepada gusi. Maka menglumat-lumat oleh gigi akan dia. Maka jika adalah makanan itu kering, maka sanya telah menjadi oleh Allah Ta’ala di bawah lidah dua sungai yang ngalir keduanya adalah dari pada dua air sungai itu kuah bagi makanan. Setelah itu menolak akan dia oleh lidah. Apabila sudah baik dimamahnya kepada  ‘Alshamat

Dan tersebut dalam  00 artinya  bermula Ghalshamat itu kepala halkum, dan yaitu tempat yang tinggi pada Halkum Intahy. Dan menolak akan dia oleh Ghulshamat kepada mare, yaitu mulut ma’idah yang di atas karena bahwa sanya ma’idah itu seperti serahi kaca, yang ada baginya leher dan rongga dalamnya. Maka apabila turun ia  kepada rongga ma’idah sedikit-sedikit dan penuh limpah ia, yaitulah kenyang yang makruf.

Iklan

2 pemikiran pada “Kisah Suka-Duka Proses Menyalin “Kitaburrahmah” – Manuskrip Aceh tentang Kesehatan dan Kedokteran

  1. Assalamualaikum,

    Bapak TA Sakti,

    Salam dari Malaysia. Saya ingin menanyakan jika proses transliterasi kitab ini sudah selesai atau belum? Saya sendiri adalah lulusan dari bidang sains perubatan yang memang berminat dengan kitab-kitab Jawi dan tahun lepas ada dating ke ar-Raniriy membuat pembentangan kertas kerja ke atas manuskrip perubatan dari Terengganu.

    Saya doakan kerja-kerja pentransliterasi kitab ini masih lancar kalaupun tidak sudah sempurna semuanya.

    Wassalamualaikum.

    Affendi
    Universiti Islam Antarabangsa Malaysia.

    • Asw. Maaf, amat terlambat saya membuka/membaca kiriman surat ini. Saya juga memiliki satu copy manuskrip perubatan Trengganu.Kitaburrahmah punya kisah penyalinan yang panjang. Setelah selesai transliterasi, perlu waktu bertahun-tahun lagi untuk sampai ke percetakan. Untung ada seorang profesor dari ar-Raniry yang sudi membela. Alhamdullah, dalam tahun 2014 Kitaburrahmah dicetak oleh tiga penerbit. Hasil cetakan salah satu penerbit, tahun 2014 dijual di banyak Toko Buku di Banda Aceh. Sekarang sudah habis, sekitar dua bulan lalu masih sempat saya beli 10 buku di toko penerbitannya!. (T.A. Sakti).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s