Sastra Aceh, Nyaris Punah!

  1. Sastra Aceh, Nyaris Punah

Membaca berita Republika yang berjudul; ‘Sastra belum Dekat di Masyarakat” (Republika, Senin, 17 Januari 2000 halaman 10), membuat hati saya sedikit lega. Dalam hal ini, walaupun sudah agak terlambat, pertama-tama saya mengucapkan selamat atas berdirinya “Yayasan Antara Kita” yang hendak mempedulikan sastra. Ucapan selamat dan semoga sukses; juga saya sampaikan kepada Yayasan Antara Kita Cabang Yogjakarta yang baru dibuka, yang peresmiannya dilakukan oleh Bapak Parni Hadi, Pimpinan Umum LKBN Antara, yaitu lembaga yang mempelopori Yayasan Antara kita itu. Sebagai alumnus fakultas Sastra Jurusan Sejarah UGM, saya juga ikut bangga dengan dibukanya “Yayasan Peduli Sastra” di Yogjakarta yang ‘kota budaya’ adiluhung itu. Saya berharap, Yayasan Antara Kita Cabang Aceh; mudah-mudahan dibuka pula.

Sebagai pencinta sastra, terutama terhadap sastra asli Aceh saya sangat merasa prihatin. Betapa tidak, beratus-ratus naskah lama sastra Aceh yang masih tersisa tak ada yang mempedulikannya. Untung, sebagian orang masih mau menyimpannya, karena dianggap membawa berkah. Para penyimpan memang tidak membacanya lagi, terutama karena mereka sudah ‘buta’ dengan aksara Arab Melayu (Jawoe) yang dipakai dalam naskah-naskah lama sastra Aceh itu. Mayoritas masyarakat Aceh sekarang hanya bisa membaca dalam huruf  Latin.

Akibat risau dengan kenyataan demikian, sejak tahun 1992 saya telah berusaha mengumpulkan naskah-naskah lama sastra Aceh. Secara sedikit-demi sedikit naskah-naskah itu saya ubah ke dalam huruf Latin. Sampai hari ini ada sekitar 25 judul naskah telah rampung saya alihkan aksaranya ke huruf latin. Jika seluruhnya kita buat jilid-jilid kecil/buku saku, lebih kurang akan cukup sebanyak 80 jilid, dengan tebalnya rata-rata 60 halaman.

Dalam upaya mencari dana untuk mencetak naskah-naskah lama sastra Aceh yang sudah berhuruf Latin itu, saya nyaris tak pernah berhasil. Berbagai pihak, sejak dari Aceh, Jakarta dan sampai ke luar negeri yang pernah saya hubungi; selamanya hasilnya nihil. Dalam kegigihan mencari dana yang sudah 8 tahun itu, baru dari Bank Dunia Perwakilan Indonesia (Jakarta) yang pernah membantu dalam tahun 1999 yang lalu. World Bank Resident Staff in Indonesia, saat itu meminta saya menterjemahkan 4 naskah sastra Aceh ke bahasa Indonesia.

Mudah-mudahan dengan berdirinya Yayasan Antara Kita yang akan memperdulikan sastra, diharapkan dunia sastra kita, baik lama maupun baru; akan terus bisa berkembang di masa-masa mendatang. Dan…., saya pun nanti bisa mendapatkan dana/sponsor untuk mencetak naskah-naskah Nazam, Tambeh dan Hikayat Aceh yang sudah berhuruf Latin untuk diedarkan kembali ke kalangan masyarakat Aceh yang kita cintai…. Semoga.

Salam,

T. A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

Banda Ace,

19 Januari 2000.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s