Reformasi Sastra Aceh

Suarapublika:

Reformasi Sastra Aceh

Membaca artikel “Sastra & Budaya” yang berjudul “Sastrawan Indonesia Orde Reformasi’ (Republika, Minggu, 14 Juni 1998); saya teramat kagum kepada para sastrawan di Indonesia yang terus berkarya dan kreatif di dalam suasana ‘krisis kebudayaan’  yang kurang menguntungkan mereka.

Bila kehidupan sastra Indonesia (nasional) masih bisa hidup walaupun dalam keadaan diremehkan, bagaimana pula dengan sastra daerah???. Berita-berita tentang sastra daerah memang amat langka,  namun kadangkala pernah muncul seperti beberapa tahun lalu, ya.

Tahun 1994, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah; melakukan kreatifitas budaya maha besar, yang mungkin merupakan suatu kegiatan yang belum pernah dilakukan semua perguruan tinggi lain di Indonesia. Kegiatan dimaksud adalah memreproduksi manuskrip Jawa (naskah lama Jawa). Dari 147 judul naskah bahasa Jawa yang “diolah kembali” itu, salah satunya naskah ‘Tajussalatin” yang sebenarnya berasal dari Aceh (Baca ; Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu, 9 Oktober 1994 halaman 4).

Tentang perkembangan sastra daerah Aceh atau sastra Aceh khususnya bagaimana ?. Sebagai peminat sastra Aceh, saya dapat menyatakan sastra Aceh dewasa ini nyaris mati.

Keberadaan manuskrip Aceh (naskah lama bahasa Aceh) sekarang ini sangat memprihatinkan; menanti kepunahan. Sebagian masyarakat Aceh, kini menyimpan naskah lama di sembarang tempat. Akibatnya naskah-naskah itu bisa cepat rusak atau dimakan anai-anai/lipas.

Sebenarnya, isi sebagian besar naskah itu masih relevan dengan zaman sekarang. Namun, karena semua naskah lama ditulis dalam huruf Arab Melayu (bahasa Aceh; Arab Jawoe), sehingga generasi muda Aceh tidak bisa lagi membaca sekaligus tak mengetahui isinya.

Bagi daerah yang tidak memiliki Fakultas Sastra seperti di Aceh, tentu tak terbuka jalan untuk menyelamatkan warisan sastra daerahnya. Beruntunglah, naskah “Tajussalatin” telah diselamatkan oleh UNS, Solo. Mengharapkan kepada lembaga-lembaga kebudayaan resmi sebagai penyelamat manuskrip Aceh, tidaklah mungkin. Sebab jumlah naskah-naskah lama teramat banyak, sedang dana yang dimiliki lembaga-lembaga itu amat terbatas.

Reformasi yang perlu dilakukan terhadap manuskrip Aceh ialah mengalihkannya ke dalam huruf Latin dan mencetaknya untuk disebarkan kembali kepada masyarakat Aceh. Bila dikehendaki agar dipahami dalam lingkup nasional, tentu harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Upaya memperkenalkan kembali kepada masyarakat, termasuk kepada masyarakat Aceh, membutuhkan usaha pembahasan dan pengkajian yang kemudian disajikan lewat koran dan majalah.

Kesemua ancang-ancang reformasi sastra Aceh ini hanya menjadi angan-angan saja bagi pencinta sastra Aceh. Sementara dukungannya; hanya mudah diperoleh dalam bentuk kata-kata saja alias ‘omong kosong’, sedangkan bantuan dana-hingga hari ini belum ada pihak yang sedia menyantuninya.

Sebagai peminat sastra Aceh, dalam enam tahun terakhir ini, saya telah mengubah/mengalihkan huruf bagi 20 (dua puluh)  judul hikayat dan Nadlam Aceh dari aksara Arab Melayu/Jawoe ke huruf Latin. Upaya ini saya lakukan, mengingat sebagian besar generasi muda Aceh sekarang yang tidak bisa lagi menbaca dalam huruf Arab Jawoe. Karena isi naskah yang telah saya ubah huruf itu kesemuanya masih aktual/tak ketinggalan zaman, maka diperkirakan naskah itu akan dibaca generasi muda sekiranya naskah  itu diterbitka lagi.

Menurut hitungan kasar, hikayat-hikayat yang berbentuk Nadlam, tambeh dan hikayat Aceh itu ; jika semuanya (20 judul) dicetak dengan kualitas sederhana akan menghabiskan dana sekitar 40.000.000,- (empat puluh juta rupiah). Penerbitananya dalam bentuk buku saku dengan rata-rata 60 halaman, sehingga jumlahnya menjadi 70 jilid. Sementara setiap jilid dicetak 700 (tujuh ratus) eksemplar.

Berhubung ketiadaan dana, niat mencetaknya hanya bisa bersemi  sebagai angan-angan saya belaka. Berbagai pihak seperti lembaga resmi, yayasan, tokoh, konglomerat; baik di Aceh maupun di Jakarta telah pernah saya datangi atau surati, termasuk pula perusahaan raksasa di Aceh, namun sehingga hari ini hasilnya tetap nihil.

Adakah tokoh atau lembaga yang mencintai sastra Aceh di Jakarta atau dimana saja; yang sudi menyumbang dana untuk mencetak naskah-naskah itu???. Soal penyaluran hasil cetakan, dengan senang hati saya menerima syarat-syarat pihak pemberi dana. Apakah akan dihadiahkan ke pustaka dan sekolah-sekolah untuk mendukung Muatan Lokal. Atau dijual ke pasaran bukan bertujuan mencari laba. Himbauan ini tak lupa pula saya tujukan kepada Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda, sebuah perkumpulan masyarakat Aceh di Jakarta serta para tokoh dan sesepuh masyarakat Aceh di Jakarta lainnya.

T.A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

Banda Aceh,  22 Juni 1998.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s