Nasib Guru Mengaji di Aceh!

Komentar Pembaca:

Nasib Guru Mengaji di Aceh

Di halaman rumah dari “kamar kost” saya selama tujuh tahun terakhir ini, berdiri sebuah balai (bahasa Aceh ; Bale) ukuran  5 x 3 meter. Bentuk bangunan balai sangat mirip dengan balai pengajian (Bale seumeubeuet) yang tempo dulu terdapat hampir di setiap kampung di Aceh.

Entah karena bangunan sejenis Bale Seumeubeuet sudah amat langka di Aceh. Atau pun “kaget” menyaksikan bangunan serupa itu; kog ada dekat kota Banda Aceh. Atau terkenang masa lalu masing-masing ketika belajar mengaji di desa; yang jelas saya memperhatikan, bahwa hampIr setiap orang yang baru pertamakali lewat di depan “kamar kost” saya; selalu berlama-lama melihat bangunan Bale ; nyaris tanpa berkedip.

Bagi para tamu yang mampir ke tempat kost saya, keheranan demikian segera disusuli dengan sebuah pertanyaan : “Peue nyoe Bale Seumeubeuet?” (apakah ini balai pengajian?). Terhadap pertanyaan itu, saya selalu menjawab, bahwa mengajar ngaji anak-anak terlalu sulit, karena anak-anak sekarang amat sukar diatur. Salah-salah kita guru ngaji yang dipukuli orangtua murid (Ta seumeubeuet jameuen nyoe kon mudah. Salah-salah tanyoe Teungku Seumeubeut nyang dipohle ureueng syik aneukmiet beuet). Tanpa pikir panjang, memang dengan kalimat itulah saya menjawab bagi setiap orang yang mempersoalkan tentang keberadaan Bale itu.

Setelah membaca berita Serambi yang berjudul “Anak Dipukul Teman, Ibu Hantam Guru Mengaji” (Serambi, 4/10/1996 halaman 3), barulah saya sadar, bahwa apa yang terpendam di benak saya selama ini memang sedang “ngetren” di Aceh dewasa ini. Bukan itu saja, malah ada anak yang tidak segan memukul ayah atau ibunya sekarang.

Dalam kehidupan dan tradisi Aceh tempo dulu, kedudukan guru mengaji (Teungku seumeubuet) termasuk suci, sehingga beliau sangat dihormati dan dimuliakan. Bahkan martabatnya dianggap setaraf dengan ayah dan bunda bagi seseorang. “Bunda ngoh ayah lhee deungon guree ureung nyan ban lhee meubek tadhot-dhot. Jampang na salah meu’ah talakee, peutukui ulee sujud bak teuot” (Artinya : ibu dan ayah serta guru ngaji, ketiga orang itu jangan sampai disakiti. Bila terlanjur ‘menyakiti’ mereka, mintalah maaf dengan segera, sambil sujud sungkem/seumah di lututnya).

Kini, panilaian sebagian orang Aceh terhadap guru mengaji sudah jauh berubah. Nilai ke-Acehan telah bergeser drastis. Tanpa sungkan-sungkan si orangtua murid akan segera memukul balas sang guru, bila Teungku Seumeubeut terlanjur memukul anaknya selama berlangsung pengajian. Padahal zaman dulu; pemukulan murid dengan “rotan” memang hal biasa, walaupun amat jarang dilakukan. Batas pukul yang ‘mendidik’ adalah sebatas bak juleng ngon buta (tidak sampai juling dan buta).

Sikap atau pandangan yang meremehkan guru mengaji itulah; antara lain yang menyebabkan kuantitas tempat pengajian anak-anak di Aceh menurun drastis. Kalau dulu, dalam sebuah desa kadangkala bisa ditemui dua-tiga tempat pengajian kecil-kecilan. Sebab, setiap orang yang ‘sudah bebas’ dari urusan mengurus anggota keluarga serta memiliki ilmu agama Islam ala kadarnya, biasanya dengan rela mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak belajar membaca Al Qur’an. Kini, mendapatkan orang yang berusia lanjut yang sudi mengabdikan diri untuk mengajar mengaji anak-anak di desa amatlah sukar.

Sehubungan upaya mengisi keistimewaan daerah Aceh di bidang agama (Islam), sekaranglah saat yang tepat bagi Pemda Aceh, MUI Aceh, BAZIS Aceh dan berbagai pihak lainnya, untuk memberi perhatian serius terhadap krisis pengajian anak-anak di desa-desa seluruh Aceh.

 

T.A. Sakti

Banda Aceh, 15 Oktober 1996.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s