Kewartawanan Aceh Bagaikan Lilin!

KEWARTAWANAN DI ACEH BAGAIKAN LILIN:

HIMBAUAN BUAT PWI ACEH

 

 

Dalam upaya mengumpulkan data untuk menulis sebuah karangan tentang “Kiprah Kewartawanan di Aceh”, saya telah menjumpai beberapa ‘mantan’ wartawan Aceh yang sampai hari ini masih sehat wal’afiat. Rata-rata usia beliau sekitrar 70-80-an  tahun. Namun sungguh saya kagum; daya pikir serta daya ingat mereka masih sangat jernih dan selalu tangkas dalam membicarakan berbagai topik, baik peristiwa masa lampau, masa kini, bahkan analisis tentang kemungkinan-kemungkinan buat masa mendatang.

Suatu sore, saya mengunjungi seorang mantan wartawan Aceh yang berusia 71 tahun. Jadilah, kekaguman di batin   saya semakin tambah-melimpah. Betapa tidak, segala segi kehidupan beliau patut menjadi contoh teladan bagi setiap keluarga yang mengharapkan kesuksesan pendidikan bagi putra-putri mereka. Beliau mampu berdiri dalam menyekolahkan semua putra-putrinya sehingga hampir semua telah menyelesaikan perguruan tinggi. Dalam umur sesenja itu, beliau masih mampu mengingat berbagai peristiwa yang berkaitan dengan “Dunia Kewartawanan” yang pernah digelutinya. Setiap topik yang saya minta tanggapan, selalu mendapat jawaban yang lancar, jernih, dan tidak pernah ‘ngawur” atau keseleo lidah, seperti kebiasan orang-orang sebaya beliau. Saya mengagumi, baik keberhasilan memberi pendidikan kepada putra-putrinya maupun kerjernihan ingatan dan pikiran yang masih dimiliki (dikarunia Allah SWT) itu sangat besar kaitannya dengan “bakat kewartawanan” yang telah dijalani dikala usia muda.  Beliau bernama Ibu Aminah Abdullah Arief. Pengalaman berbincang-bincang dengan ‘mantan’ wartawati Aceh inilah yang menggugah saya menulis komentar pembaca ini.

Aneh yang nyata. Dunia Kewartawanan Aceh semampu saya ketahui belum mempunyai catatan lengkap. Saya vonis aneh, karena kiprah para wartawan sehari-hari adalah “mencatat, mengulas, membujuk, mengutuk’ hampir segala kegiatan yang lain’. Semua itu dikemas dalam bentuk ‘tulisan’ yang menggugah orang untuk membacanya. Sementara itu, pihak para wartawan sendiri lupa (sengaja melupakan?) mencatat tentang kiprah dirinya dalam sebuah buku “Sejarah Wartawan Aceh” atau “Dunia Pengarang Aceh”. Sungguh saya prihatin, Dunia Kewartawanan di Aceh terus-menerus bagaikan lilin. Tak bakal adakah terobosan???. Padahal salah satu modalnya telah tersedia, yaitu para “mantan” wartawan/wartawati Aceh itu. Ingatlah, sesal kemudian tidak berguna. Sungguh!!!. Tahun 1980, saya pernah membaca sebuah catatan ringkas tentang kewartawanan Aceh milik sebuah kantor kearsipan. Kalau tak keliru judulnya; “Almanak Pers Aceh” disusun oleh Zainal Abidin P.T. Sewaktu saya mencari lagi tahun 1989, petugas kantor yang mencarinya tak bisa menemukan lagi  ‘buku’ tersebut. Melalui komentar pembaca ini, saya menghimbau Departemen Penerangan, PWI Pusat,  PWI Cabang Aceh serta pihak-pihak yang merasa prihatin terhadap ‘nasib lilin” kewartawanan di Aceh, agar mempelopori usaha mencetak sebuah buku tentang “Dunia Kewartawanan di Aceh”. Semoga!.

T.A Sakti

Darussalam – Banda Aceh

28 Agustus 1994

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s