Kerjasama Meningkatkan Citra Muatan Lokal di Aceh

Komentar Pembaca:

Kerjasama Meningkatkan Citra Muatan Lokal di Aceh

Biar sedikit terlambat, namun terlebih dahulu saya mengucapkan Selamat Hari Jadi atau Ulang Tahun ke-8 kepada Harian Serambi Indonesia yang diperingati 1 Februari 1997 lalu. Semoga selalu bersemangat dan berjaya di Bumi Iskandar Muda.

Sesuai semboyan Serambi: “ Terpercaya di Tanah Aceh”; surat kabar ini memang telah dipercaya masyarakat Aceh. Buktinya cukup banyak. Salah satunya adalah telah berlangsungnya beberapa kali kerjasama antara Serambi dengan sejumlah lembaga yang terdapat di Aceh.

Misalnya, beberapa waktu yang lalu diadakannya kerjasama antara IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh dengan Harian Serambi Indonesia untuk mewujudkan rubrik Tafsir Al Qur’an yang dimuat setiap hari Jum’at dalam surat kabar kebanggaan masyarakat ini. Selain itu, rubrik “Meukat” yang masih berlangsung hingga sekarang adalah berkat kerjasama Program Manajemen (MM) Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala dengan Harian Serambi Indonesia (Baca : “Makna Idul Fitri” oleh Drs. Jasman J, Ma’ruf, MBA;( Serambi, 18 Februari 1997 hlm. 4). Nampaknya, Serambi masih membuka diri untuk bekerjasama dengan lembaga-instansi lain yang ada di Aceh. Dipercaya atau tidak, Muatan Lokal yang dianjurkan agar diajarkan di sekolah-sekolah di Aceh, sebenarnya masih bercitra ‘buruk” (kurang penting) dalam anggapan masyarakat Aceh. Pandangan demikian adalah sesuai dengan watak orang Aceh yang kurang menghargai kebudayaannya sendiri.

Dalam hal ini, lembaga-lembaga atau instansi yang berkaitan dengan kebudayaan di Aceh seperti Kanwil Depdikbud Aceh, Kanwil Depag Aceh, Dinas P dan K Aceh, lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), Dewan Kesenian Aceh (DKA) dan lain-lain; tentu dapat melakukan kerjasama dengan Harian Serambi Indonesia untuk meningkatkan citra Muatan Lokal dalam pandangan masyarakat Aceh sendiri.

Jika pada suatu saat nanti, masyarakat Aceh sudah mengakui tentang pentingnya mengajar muatan lokal “keacehan” di sekolah-sekolah; pasti mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang di saku untuk mendanai pencetakan buku-buku tentang muatan lokal itu, misalnya. Bila keadaan demikian sudah tercapai, tentu daerah Aceh tidak ketinggalan lagi dalam hal pengajaran muatan lokal dibandingkan daerah-daerah lain yang sudah berkembang pesat sekarang.

Banda Aceh,

 

(   dto           )

 

T.A Sakti

Sabtu, 14 Syawal 1417

22 Februari 1997

“Ban trok u Banda”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s