Dirgahayu atau Tirgahayu?

 

Komentar Pembaca:

Dirgahayu Atau Tirgahayu?

Saya telah membaca Komentar Pembaca yang berjudul “Dirgahayu” oleh Ridwan Azwad (Serambi, 23 Agustus 1996). Komentar saya ini hanya bermaksud memberi sedikit tambahan mengenai kata “Dirgahayu”, khususnya tentang ‘deelat teugayo’ dalam hikayat Nabi Yusuf.

Ketika mengutip “Kamus Bahasa Aceh – Belanda” karya Dr. Hoesein Djajadiningrat, Ridwan Azwad menyebutkan bahwa kata “Dirgahayu” dalam bahasa Aceh adalah “teugayo” dengan contoh dua baris sanjak dari Hikayat Nabi Yusuf, yaitu : ‘ deelat teugayo cahi ‘ alam, seumah laman di sroepada (sarpada, pen) yang dalam bahasa Indonesia berarti “daulat seluruh alam, dirgahayu, sembah kami kepada sripaduka”.

Saya salah seorang peminat sastra Aceh dan hingga kini telah melakukan alih aksara dari huruf Arab Melayu (Jawoe) ke dalam huruf Latin sebanyak 12 buah “hikayat” Aceh. Salah satunya adalah Hikayat Nabi Yusuf, yang selesai alih hurufnya pada awal April 1995.

Dalam Hikayat Nabi Yusuf saya dapati puluhan kata “deelat teugayo cahi ‘alam” seperti ditulis Dr. Hoesein Djajadinigrat. Namun, dalam alih aksara Hikayat Nabi Yusuf itu ; saya tidak membaca/menulis kata “teugayo = dirgahayu” tersebut dengan “teugayo” juga, tetapi dengan kata “dirgahayu”. Pada bagian mukaddimah hikayat, saya menulisnya dengan kata “teugahayu”, yang kemudian saya mengubahnya dengan kata “tirgahayu” sampai selesainya alih aksara hikayat itu.

Alasan saya menyebutkan “tirgahayu” dan bukan “teugayo” adalah karena urutan huruf Arab bagi perkataan itu adalah ta, ra, kaf, ha dan ya. Saya tetap menghidupkan bacaan huruf ha, sedangkan Dr. Hoesein Djajadiningrat membuangnya. Menurut saya huruf ha tidak boleh benar-benar dihilangkan dalam membacanya, paling-paling hanya bisa “disukunkan”/dimatikan, sehingga sewaktu membacanya menjadi “tirgahyu” atau  “teugahyu”. Jadi, hingga hari ini, saya masih tetap yakin; bahwa dirgahayu adalah dibaca tirgahayu dalam bahasa Aceh, dan bukan teugayo.

Masih adakah ahli bahasa Aceh di dalam dan luar negeri yang sedia menjelaskan, mana yang benar antara pendapat saya dengan Dr. Hoesein Djajadiningrat???.

T.A. Sakti

Banda Aceh, 24 – 8 – 1996

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s