Buat Sastrawan dan Seniman Aceh

Komentar Pembaca:

BUAT SASTRAWAN DAN SENIMAN ACEH

Cerpen Karya J. Kamal Farsa berjudul “Kesatria” (Serambi,13-11-1994 halaman 4 – Budaya), menggugah saya menulis Komentar Pembaca ini. Isi cerpennya memang biasa, yakni kisah asmara antara Romi dengan Yuli. Keistimewaannya adalah kemampuan atau kesediaan penulis meramu ceritanya dengan memasukkan akar-akar budaya Aceh, yaitu Hikayat Malem Diwa. Dalam kisahnya, sewaktu Romi menerima surat cinta dari Yuli, si Romi terkenang pada ketekunan/ketabahan Malem Diwa dalam upaya mempersunting Putroe Aloh. Malem Diwa bisa lulus dari ujian, yaitu setelah mampu memetik buah pinang yang batangnya tinggi menjolok awan. Cerpen berakhir, bahwa si Romi tidak sanggup jadi seperti “Kesatria Malem Diwa”.

Cerita-cerita berlatar belakang budaya Aceh amat jarang ditulis para pengarang di Aceh. Satu-dua judul yang pernah dimuat koran/majalah terbitan Aceh, segera terkubur bersamaan selesai pemuatannya. Ketidakmampuan mencetak menjadi buku novel atau buku kumpulan cerpen merupakan pangkal kemalangan bagi para sastrawan di daerah ini. Terasa ada benarnya sebuah ungkapan, bahwa daerah Aceh memang bukan “bumi” yang subur bagi tunas-tunas muda peminat sastra dan seni. Padahal, khazanah budaya Aceh termasuk “gudang inspirasi” yang belum pernah kita jamah. Dimanakah letak kesalahannya???.

Khusus inspirasi dari Hikayat Aceh, Tuan Guru “privat” saya, yang ahli Hikayat Aceh Drs. UU. Hamidy, MA (orang Melayu) dosen Universitas Riau; baru-baru ini melalui surat menjelaskan antara lain : “Berbagai hikayat dan haba jameun itu hendaklah disegarkan dengan ulasan yang bisa merajut kepada nilai-nilai masa lampau, yang jika ditapis bisa dilestarikan untuk masa kini. Cobalah buat berbagai pertunjukan yang memakai bahan dari hikayat tersebut, sehingga seniman-seniman muda mendapat bahan inspirasi yang kaya. Kalau ada pelukis anak jati Aceh yang mengambil inspirasi lukisan dari hikayat, niscaya amat mencengangkan. Betapa menakjubkan jika tupai Teungku Malem dibuat lukisannya…Dan masih banyak lagi”.

Mengingat  kondisi daerah Aceh yang sangat  kurang menguntungkan bagi profesi  sastra dan seni,   sangat  diyakini  saran-saran pakar Hikayat Aceh asal Riau ini tak bakal  terangkat kepermukaan. Tapi siapa tahu nasib bisa diubah.   Bukankah “GATOTKACA” (nama tokoh Cerita Wayang) sudah terbang bersama peluncuran perdana Pesawat N 250 Produksi IPTN Bandung (Iklan Hr. Kpmpas, 14-11-1994).  Marilah kita mengangkasa bersama Gatotkaca!!!.

 

T. A. Sakti

Banda Aceh,

26 Nopember 1994..

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Buat Sastrawan dan Seniman Aceh

  1. Ping balik: Komunitas Blogger Aceh » Buat Sastrawan dan Seniman Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s