Berapa Orang Buta Huruf Al Qur’an di Aceh???

Komentar Pembaca:

Berapa Orang Buta Huruf Al Qur’an di Aceh???

 

Membaca penjelasan Drs. H.Hasyim Daud selaku sekretaris panitia tetap  Hari Aksara Internasional tingkat Propinsi Daerah Istimewa Aceh tahun 1996, bahwa jumlah penduduk Aceh yang masih buta huruf pada tahun 1997/1998 hanya sebanyak 71.125 orang (Serambi, 24 September 1996 halaman 3). Sebagai warga masyarakat daerah Aceh, kita patut bersyukur dan bangga atas kemajuan yang dicapai upaya pemberantasan buta huruf di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Acungan jempol dan salam hormat pantas kita alamatkan kepada pihak-pihak yang berperan aktif dalam kerja memberantas buta huruf ini.

Mengetahui keberhasilan pemberantasan huruf (khususnya huruf Latin) di Aceh, kita pun bertanya berapa jumlah orang Aceh yang buta huruf Al Quran sekarang ini?. Pertanyaan yang timbul di benak kita ini amatlah wajar, mengingat daerah Aceh memiliki tiga predikat keistimewaan, yakni bidang pendidikan, adat- istiadat dan agama (Islam).

Kiranya, instansi-instansi terkait seperti Kanwil Departemen Agama Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Majelis Ulama Propinsi Daerah Istimewa Aceh (MUI Aceh); memang memiliki data-data tentang hal ini dan sekaligus perlu mengumumkannya kepada khalayak masyarakat Aceh. Pengumuman ini penting, agar masyarakat tergugah untuk melestarikan dan membina pengajian-pengajian yang ada selama ini.

Hingga tahun 70-an tempat-tempat pengajian (Bale seumeubeuet) hampir merata di setiap desa di Aceh. Saat itu, sebagian besar masyarakat Aceh bukan hanya lancar membaca Al Qur’an dan kitab-kitab agama yang ditulis dalam bahasa Melayu berhuruf Arab Jawi, tetapi juga mahir dan cekatan ketika membaca naskah-naskah sastra Aceh seperti nadlam, tambeh dan hikayat.

Dewasa ini tempat mengaji anak-anak di desa semakin berkurang jumlahnya. Mungkin para orangtua makin kurang bersungguh-sungguh dalam memberi dasar pelajaran agama kepada anak-anaknya. Tempat pengajian yang sudah ada semakin tidak mampu bertahan, sementara yang dibangun baru biasanya tak bertahan lama. Salah satu sebabnya, karena para orang tua semakin “pelit” dalam menyalurkan “sedekah” bagi meringankan kehidupan Teungku (Ustaz) pengajian putra-putrinya.

Merosotnya jumlah putra-putri Aceh yang melek huruf Al Qur’an memang sudah amat terasa. Mungkin karena itulah lahirnya Instruksi Gubernur Aceh yang mewajibkan murid-murid lulusan Sekolah Dasar (SD) mesti bisa membaca Al Qur’an. Sebelum kita benar-benar mengetahui sejauh mana Instruksi Gubernur Aceh itu berlaku dalam praktek di lapangan, malah baru-baru ini muncul lagi gagasan agar semua Gedung SD di Aceh pada waktu sore digunakan menjadi tempat pengajian bagi murid-murid sekolah bersangkutan. Lagi-lagi sebelum gagasan ini terwujud nyata, secara nasional dilaksanakan pula ‘Pesantren Kilat”.

Tanggapan Gubernur Aceh Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA waktu itu terhadap keresahan masyarakat yang memprihatinkan putra-putri Aceh yang tidak mampu membaca Al Qur’an memang menyejukkan. Beliau mengeluarkan instruksinya. Sebenarnya instruksi itu bakal lebih mudah mempraktekkannya di lapangan, sekiranya diikuti upaya-upaya lain dalam pembinaan Bale Seumeubeut di Aceh. Misalnya Pemda Aceh memberikan “honor tetap” kepada Teungku-Teungku Seumeubeut. Mudah-mudahan kepemimpinan Aceh sekarang rela memikirkan ke arah itu. Semoga!!.

Dto

T.A. Sakti

Banda Aceh, 29 – 9 – 1996

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s