Mencari Penebus Aset Sastra Aceh

“Surat pembaca”

Mencari Penebus Aset Sastra Aceh

TIGA PULUH DELAPAN TAHUN  yang lalu, A. Hasjmy selaku Gubernur Aceh pernah mengatakan, bahwa:“Saya telah mengunjungi beberapa daerah di Indonesia; di mana saya lihat suku-suku bangsa itu tidak menyia-nyiakan kebudayaaannya, selain suku kitalah telah menyia-nyiakan kebudayaannya. Padahal di masa yang lampau Aceh cukup mempunyai kebudayaan yang tinggi”(baca: buku “Gadjah Putih” karangan M. Junus Djamil halaman 21. Bagian kutipan di atas telah saya ubah sesuai EYD).

Pernyataan itu diucapkan Gubernur Aceh A. Hasjmy ketika meresmikan Pekan Kebudayaan Aceh Pertama (PKA I) pada hari Selasa, 12 Agustus 1958.

Apakah masyarakat Aceh sekarang masih tetap menyia-nyiakan kebudayaanya ?. entahlah. Jawaban pasti memang belum dapat diberikan, karena belum ada penelitian khusus tentang hal itu. Sebaiknya, memang Prof. A. Hasjmy yang pantas menjawabnya. Apalagi mengingat beliau adalah Ketua Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) sekarang.

Meski belum ada jawaban pasti yang dapat meyakinkan, kita bisa mengatakan bahwa apa yang diucapkan A. Hasjmy itu masih berlangsung hingga sekarang; setelah hampir 40 tahun berlalu.

Perkiraan ini semakin diperkuat dengan menyimak kata sambutan Wakil Gubernur Aceh Zainuddin AG pada peresmian Napak Tilas di Meureudu, Pidie tahun lalu (baca : Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Rabu, 29 Maret 1995 halaman 2).

Dengan judul berita: “Jika tak peduli, Kebudayaan Aceh bakal terancam Punah”, Hr. Serambi Indonesia menguraikan ucapan Wakil Gubernur Aceh itu sebagai berikut : “Karena sangat minim pakar sejarah, apalagi yang mau menggali sekaligus menulis tentang persejarahan di Aceh, Wakil Gubernur Zainuddin mengkhawatirkan bakal terjadi “abrasi” terhadap kebudayaan yang merupakan jatidiri masyarakat suatu daerah”.

Apabila hasil pengamatan A.Hasjmy disandingkan dengan isi ucapan Wakil Gubernur Aceh itu, memberi kesan kepada kita bahwa masyarakat Aceh memang kurang mencintai budaya daerahnya. Kenyataan ini juga makin diyakinkan dengan macetnya pendidikan/pelajaran Muatan Lokal di tingkat sekolah SD, SMP dan SLTA di daerah Aceh (baca ; “Akibat Ketiadaan Dana Pengadaan Buku Materi Muatan Lokal Macet”, Hr. Serambi Indonesia, 1 November 1996 halaman 1).

Bukti lain yang ikut membenarkan hasil pengamatan A.Hasjmy adalah tidak pernah adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menebus kembali asset kesusastraan Aceh yang hilang. Benda budaya ini berupa 600 judul naskah hikayat yang telah dialihkan hurufnya dari aksara Arab Melayu ke Latin. Hikayat-hikayat itu, semula adalah milik Dr. Hoesein Djajadiningrat yang tinggal di Jakarta. Setelah ia meninggal, kumpulan naskah hikayat ini dibeli oleh Mr. Muhammad Jamin yang dijadikan koleksi perpustakaannya.

Sekarang hikayat-hikayat itu berada di Perpustakaan Pertamina, Jakarta (baca ; “Bagaimana memperoleh asset kesusastraan Aceh yang hilang”, Serambi Indonesia, 31 Juli 1994 halaman 4). Sejumlah naskah memang pernah “ditebus” oleh Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Banda Aceh. Ratusan judul naskah hikayat Aceh lainnya, tentu masih di sana. Siapa putra Aceh yang akan mampu menembusnya kembali???

T.A. Sakti (Drs, Teuku Abdullah, SmHk)

 

Banda Aceh,

17 Desember 1996

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s