Surat UU.Hamidy ( 4 ) – Penulis 57 buku tentang Kebudayaan Melayu Riau

Bung  T.A. Sakti, yang punya denyut hidup.

Saya gembira sekali setelah menerima surat Bung, yang memberitahukan bahwa Anda

dewasa ini telah bermukim di Aceh. Betapa tidak demikian, sebab dalam diri Bung saya melihat bayangan, betapa suatu semangat yang Islamik bersinar terus dalam dada anda. Sinar itu merupakan berbagai pancaran semangat, yang satu di antaranya adalah suatu kerinduan terhadap beberapa  yang  bernas dalam masa silam – suatu rekaan budaya para perancang masa silam yang punya kehalusan pandangan batin.  Anda seakan pernah mendengar ucapan Amir Hamzah – budak Melayu dari tanah Langkat itu – dalam beberapa hal yang lama tetap berharga.

Kehadiran Anda Bung Sakti, semoga menjadi sesuatu penampilan gerak hidup. Sebab kata Moh   Iqbal  ” hidup berarti menampakkan diri, hidup  ialah kemauan untuk membuktikan diri ada”  Dan satu diantara bukti diri itu  ada  ialah ujudnya karya seseorang.  Karya itulah bukti kehadiran orang di muka bumi ini. Sebab itu Islam hampir tak mungkin menerima seorang muslim tanpa karya.

Saya seakan melihat  semangat saya juga mengalir dalam diri Anda, bagaikan Nasser melihat semangat jiwanya dalam tubuh Moamar Khaddapi. Betapa tidak, Anda dan saya sama-sama punya kerinduan kepada tradisi Islamik yang pernah dilarutkan oleh para ulama, pengarang dan pemikir Islam masa silam. Saya rasanya telah mencoba membuat beberapa tempat bertumpu bagi kelanjutan kajian Islam dan budaya dalam masyarakat Aceh, yang hasil-hasilnya bisa menjadi kilat cermin bagi kehidupan hari ini, terutama rakyat Aceh khasnya, dan kaum muslimin umumnya. Untuk mendorong kajian Islamik bagi masyarakat Aceh saya telah menulis:

  1. Anzib Lamnyong : Gudang Sastra Aceh, diterbitkan oleh Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial,  Aceh, Darussalam 1974.
  2. Peranan Cerita Rakyat dalam Masyarakat Aceh, dimuat dalam kitab Segi Segi Sosial Masyarakat Aceh, Alfian ( ed ) LP3ES, Jakarta 1977.
  3. Islamisasi dalam Hikayat Aceh, kertas saya untuk Seminar Aceh, dalam Seminar+Kongres HIPIS  I, Oktober 1975 di Bukit tinggi.
  4. Kebijaksanaan Mempergunakan  Hikayat dalam Masuknya Islam di Aceh, makalah untuk Seminar Masuknya Islam di Aceh dan Nusantara, di Perlak Aceh Timur ( Pebruari ? ) 1982, yang kemudian dibukukan dengan judul  Masuknya  Islam di Aceh dan Nusantara, dengan A.Hasjmy (ed) terbitan AL Maarif, Bandung 1985.

Saya ingin sekali tumbuh suatu semangat dalam kalangan putra-putra Aceh yang  telah berpendidikan tinggi, agar menjadikan kajian Aceh dan Agama Islam, sebagai suatu strategi dari pada da’wah Islam. Sebab strategi ini pulalah yang pada hakekatnya saya lakukan di Riau.  Dalam hal ini, Bung T.A.Sakti, niscaya akan menjadi seorang yang potensial.

Saya dalam batas-batas tertentu – kelemahan dan kekurangan saya – – insya Allah akan Anda lihat sebagai orang yang menyokong kajian itu , sebab kajian Aceh dalam pandangan saya adalah kajian yang Islamik, sehingga akan selalu condong kepada kebenaran yang lurus itu.

Tahun 1987 yang lalu, saya diundang oleh  Fak.Sastra USU untuk membawakan seminar tentang sastra Melayu. Dari kertas yang saya hidangkan, mulai timbul kembali semangat beberapa budak Melayu di Sumut untuk melakukan kajian sastra  budaya dan masyarakat Melayu di sana. Tapi, bisa saja semangat itu sepi kembali,  jika tidak ada keberanian untuk berbuat.

Saya menambah semangat Anda TA Sakti dari belahan Riau.

Cobalah tampil menampakkan diri, agar kita punya keberadaan.

Wassalam

dto

UU. Hamidy

23 – 3 – 1989

Silaturrahmi

SILATURRAHMI

Assalamu’alaikom guree ngon sahbat

Jaroe lon angkat ateueh jeumala

Saboh karangan lon keuneuk catat

Peristiwa hibat di kanto PK

 

Silaturrhami lethat mamfaat

Nabi Muhammad meunan meusabda

Raseuki mudah han payah karat

Mate pih lambat Allah karonya

 

Meunan teuseubut lam kitab-kitab

Nadham hikayat tambeh agama

Han peue syok sangka hai rakan sahbat

Umu han singkat raseuki meuganda

 

Nibak uroe nyoe lon kureueng sihat

Lon karat-karat keunoe lon teuka

Han kong ngon gaki lon tamah tungkat

Nyang peunteng hajat trok kanto PK

 

Drop aneuk bileh payeh boeh alat

Kisah tasambat meupadum banja

Alumni seujarah le hibat-hibat

Boeh cuba catat hai mahasiswa

 

Ulon kon jampok nyang mata bulat

Bukeuti leungkap data ngon fakta

Teuku Alamsyah cunto nyang deukat

Jinoe bak pangkat Kepala PK

 

Bak Dekan FKIP na Pak Muhammad

Pak TS meuhat jameun dilee ka

Anggota Dewan dua droe sahbat

Pak Harun hibat jeuet PD II

 

Keutua seunat dua droe meuhat

Agussalim ahad Bustamam dua

Tacok teuladan pumpa seumangat

Beujeuet keu ubat dum mahasiswa

 

Nyoe sya-e Aceh ka lon peutamat

Pat kureung mangat mue’ah beuraya

Bak T.A. Sakti saleuem horeumat

Bandum lam sihat aman seujahtra

 

*Rumoh Meubale, Sabtu mlm 20 – 8 – 2005

pkl 23.7 WNAD.

Catatan: Sya-e di atas pernah disenandungkan oleh T. A. Sakti pada acara silaturrahmi antara Pengurus HIMAS FKIP Unsyiah dan para dosen Prodi Pend. Sejarah dengan Bapak Drs. Teuku Alamsyah Banta, M. Si sebagai Kepala Dinas Pendidikan Nasional NAD, bertempat di ruang pertemuan Kantor Dinas Pendidikan Nasional itu di Banda Aceh. Acara silaturrahmi yang istimewa dan amat berkesan itu berlangsung pada hari Ahad, 21 Agustus 2005, mulai jam 10 s/d 12.30 Wib.. Drs. Teuku Alamsyah Banta, M.Si  adalah alumnus Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah – satu leting dengan Drs. A. Hamid, M. Ali.( Red. ).

Siapa Yang Mau Peduli Nasib Hikayat Aceh?

HIKAYAT ACEH

Hikayat Aceh adalah sastra yang sangat tinggi mutunya. Jenis sastra yang satu ini pernah menjadi media komunikasi, dakwah, jihad, dan penyebar informasi ilmu agama.  Tetapi setelah media informasi canggih masuk ke ujung Sumatera ini, sastra hikayat Aceh mati pelan-pelan karena tidak lagi mendapat perhatian umat.

Dosen FKIP Unsyiah TA. Sakti pernah menangis sedih ketika meneliti di lapangan. ternyata sudah banyak generasi muda  Aceh tidak mampu lagi membaca ejaan Aceh. Kata kreueh (keras) di baca kreeh (kemaluan). Atau kreh (sejenis rencong), aleue (lantai) dibaca alue (sungai kecil), dan masih banyak kata lain yang tidak bisa dibaca secara benar. Seandainya generasi muda masih mau membeli hikayat Aceh, insya Allah tidak akan bodoh membaca bahasa ibunya sendiri.

Siapa yang mau peduli tentang nasib hikayat Aceh?.  Siapa lagi kalau bukan kita semua orang Aceh?.  Hikayat adalah warisan budaya yang sangat mahal harganya. Lewat hikayat, sejumlah nama menjadi masyhur di kalangan umat, meski mereka telah almarhum. semua kita pernah mendengar nama Tgk. Seumatang, pengarang hikayat Akhbarul Karim, Tgk Chik Pante Kulu, salah seorang  pengarang hikayat Prang Sabi. Anzib Lamnyong, pengarang hikayat Wajeb Iman. Abdullah Arif, MA,  pengarang hikayat Seumangat Aceh, Drs. Araby Ahmad pengarang hikayat Ie Mata Uroe Raya, Syekh Rih Krueng Raya pegarang hikayat Nasib Aneuek Meuntui, Tgk H Mahyuddin Yusuf menulis terjemahan al-Quran lewat pakhok hikayat.

Semua mereka sudah kembali ke hadirat Ilahi. Kini telah muncul generasi lapis berikutnya, namun mereka tidak bisa berkarya lebih baik sebab pasar hikayat sudah sangat minim. Sebagian orang sekarang lebih senang menyimak kisah cinta berahi lewat buku-buku novel Motinggo Busye, Mira T, Deddy D Iskandar, atau mereka menghabiskan waktu memirsa tuyul di televisi ketimbang membeli hikayat. Wajarlah TA Sakti menangis memikirkan sastra daerah ini yang hampir punah.

Ada LAKA dan DKA, ada Taman Budaya, ada MPD dan Yayasan Malem Putra yang menurut TA Sakti wajar membantu pengarang hikayat. Tetapi mereka tidak pernah berpikir untuk menyelamatkan sastra warisan yang sangat mahal ini. Dana bantuan pemerintah untuk membina budaya –termasuk hikayat—sebenarnya  ada, tetapi  tidak difokuskan untuk menggairahkan kembali  sastra Aceh, kata TA Sakti sambil menyapu air matanya.

(Sumber: Rubrik “Tafakkur”, Harian Serambi Indonesia, terbitan Selasa, 25 November 1997/25 Rajab 1418 H halaman 1).

Pakaian Aceh

Komentar Pembaca:

PAKAIAN ACEH

Akibat membaca tulisan H. Amir Husin yang berjudul: “Pendidikan Budaya” (Serambi, Sabtu, 29 Mei 2004 halaman 14), telah menyadarkan saya bahwa ada “versi lain” mengenai Pakaian Resmi Aceh yang berlainan  dengan  yang selalu dipakai oleh para pejabat dan tokoh-tokoh Adat dalam acara resmi di Aceh selama ini.

Kalau bahan pakaian adat  yang digunakan sekarang; yang dipakai di kepala adalah kupiah meukutob, sedangkan dalam “versi lain” adalah kupiah Aceh dan tangkulok Aceh berkasab. Hiasan yang diselipkan di pinggang juga bukan semata-mata rencong, tetapi boleh pula keris, siwah, badik dan rachuh.

Rujukan saya adalah kitab “Tazkirah Thabaqat” salinan Teungku Di Mulek tahun 1270 H, yang naskah aslinya sudah ditulis pada zaman Sultan Mahmud Al-Qahar abad ke-16 Masehi. Naskah “Tazkirah Thabaqat”; sekarang telah selesai saya salin ke huruf Latin, yang semula berhuruf Arab Melayu/Jawoe.

Saya yakin, pakaian Aceh versi ini dapat digunakan kembali sekarang untuk memperkaya variasi Pakaian Adat Aceh yang ada sekarang. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, pakaian ini dipakai pada saat seseorang hendak menghadap Sultan Aceh di Istana Darud Dunia. Baik orang Aceh maupun orang asing wajib memakai Pakaian Aceh ini bila mau menghadap Sultan. Bila tak ada milik sendiri, seseorang boleh meminjam pada Balai Baitur Rijal atau Balai Darul Atsar yang berada di depan pintu gerbang istana.

Oleh karena kitab “Tazkirah Thabaqat” ini tertulis dalam bahasa Melayu yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia sekarang, maka ada baiknya jika saya kutip langsung dari kitab itu perihal Pakaian Aceh tersebut, sebagai berikut:

“Dan demikian lagi Adat Kerajaan Sultan Aceh, yaitu apabila orang-orang yang masuk ke Dalam Darud Dunia: hendak menghadap Paduka Sri Baginda Sultan Aceh: walau siapapun sekalipun, yaitu orang Aceh sendiri, atau orang asing, maka tidak dibolehkan dia menghadap Sultan dengan memakai pakaian sendiri.

Melainkan yang dibolehkan dia memakai pakaian sendiri ialah orang ‘Arab dan ‘Alim ulama, tetapi tidak dibolehkan memakai warna kuning dan warna hijau.

Maka yang lain-lain, waktu menghadap Sultan diwajibkan memakai Pakaian Aceh, yaitu: pertama, kupiah Aceh, dan Tengkuloek Aceh berkasab, dan baju Aceh berkasab, dan berkain selimpang dari kanan ke kiri memakainya berkasab, dan seluar berkasab, dan kain pinggang berkasab, dan memakai rencong atau keris atau siwah atau badik atau rachuh yang berhulu suasa atau perak atau emas dan barang sebagainya. Maka hendaklah memakainya di hadapan di sebelah kanan.

Barangsiapa yang hendak Sultan, yakni hendak menghadap raja, maka hendaklah memakai pakaian seperti yang telah tersebut .

Maka kalau tidak ada pakaian sendiri, maka boleh mintak pinjam pakaian tersebut pada Imam Tandil Kawal dalam Balai Darul Atsar atau dalam Balai Baitur Rijal atau dalam Balai Nafiri Keujruen Genderang, sekalian barang tersebut.”

Sehubungan (Seumpeuna) Tahun Budaya 2004 dan PKA IV yang akan berlangsung; sudah sepatutnya isi kitab “Tazkirah Thabaqat” ini  kita diskusikan kembali. Isinya tentang “Struktur Pemerintah Kesultanan Aceh” sejak dari Geusyik sampai Sultan.

 

T. A. Sakti

Banda Aceh/31-5-2004

 

 

 

Menjaring Wali Nanggroe dalam Manuskrip Aceh

  1. MENJARING WALI NANGGROE DALAM MANUSKRIP ACEH

Oleh: T.A. Sakti

Qanun Wali Nanggroe, dipersiapkan oleh DPRA dengan menjaring berbagai informasi. Mulai Jakarta hingga luar negeri, begitu kata berita. Saya bersetuju apa yang berkembang dalam diskusi di Jakarta itu. Bahwa jabatan Wali nanggroe jangan sebatas simbol belaka, tapi harus ada sejumlah wewenang sehingga Wali nanggroe benar-benar berwibawa.

Dalam manuskrip (naskah-naskah lama) Aceh,  juga terdapat  nama  jabatan-jabatan  pemerintahan.  Sebagian naskah itu berhasil saya salin ke dalam huruf Latin selama 15 tahun terakhir. Baik berupa hikayat, nazam dan tambeh, maupun karya lainnya yang ditulis tempo dulu dalam bahasa Melayu, Arab dan Aceh.

Manuskrip itu banyak yang hilang karena tidak dirawat   dan juga tidak lengkap.   Diantaranya nama jabatan pemerintahan yang kurang tertera secara rinci. Misalnya jabatan sultan, raja, perdana menteri , menteri, hulubalang, kadli, bentara, panglima, kepala mukim, keuchik, waki keuchik, imam kampung, keujruen, bujang dan tuha peuet.

Ada beberapa naskah yang  menyebutnya  memadai, khusus menulis tentang jabatan-jabatan pemerintahan di Aceh pada masa lampau. Hal ini dapat dijumpai dalam naskah Adat Aceh, Tazkirah Thabaqat, Tajussalatin dan Adat Meukuta Alam.

Berkaitan dengan Wali Nanggroe, dapat dikaji dengan merujuk pada sejumlah manuskrip Aceh. Pertama, dalam naskah Adat Meukuta Alam. Naskah ini adalah Hukum Dasar atau Konstitusi Tertulis Kerajaan Aceh Darussalam, yang konon dipakai sejak Sultan Iskandarmuda. Selanjutnya direvisi oleh para sultan Aceh kemudian.

Buku Adat Meukuta Alam yang disusun Tuwanku Abdul Jalil (terbitan Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh, 1991), tersebut beberapa jabatan pemerintahan, yaitu Sultan, Kadli Malikul Adil, Raja Udah na Lela, Panglima Paduka Sinara, Sri Maharaja Indra  Laksamana, Panglima Sagi, Orang Kaya Sri Maharaja Lela, Hulubalang Rama Setia, Teuku Panglima Mesjid Raya, Bentara, Datu, Imum Mukim, Keujruen, Kechik.

Kedua, Hikayat Malem Dagang, yang menceritakan perjalanan Sultan Iskandarmuda beserta pasukannya untuk menyerang Raja Si Ujut-lambang Portugis- ke Malaka. Iskandarmuda bersama sebagian pasukan berangkat lewat darat ke pantai timur Aceh. Sedangkan sebagian lainnya berangkat melalui laut di bawah komando Kapal Cakra Donya. Pada bagian akhir Hikayat ini tertera tahun 1309 H, yang belum diketahui apakah tahun penulisannya atau tahun naskah itu disalin ulang. Dalam Naskah Hikayat Malem Dagang itu dijumpai beberapa nama jabatan pemerintah, Bujang, Teungku Pakeh, Maharaja Indra, (Panglima Pidie), Ja Ulama/ Ja Madinah (Meureudu), Maharaja (Samalanga), Panglima, Tandi, Keuchik, Waki dan Peutua Nanggroe.

Ketiga, Hikayat Akhbarul Karim, dikarang Teungku Seumatang menjelang Belanda menyerang Aceh tahun 1873. Isinya mencakup segala bidang agama Islam. Menurut kitab ini, seseorang memang telah ditentukan pangkatnya. Dalam kutipan berikut ini akan dijumpai beberapa jabatan yang sudah ‘diadatkan’ dikehendak Tuhan kepada seseorang, yaitu; Nyang keu Nabi han keu umat/Nyang keu rakyat hankeu raja. Nyang keu Geusyik han keu Waki/Nyang keu Tandi han Bentara.  Raja, Geusyik, Waki, Tandi dan Bentara adalah jabatan-jabatan pemerintahan masa kerajaan Aceh Darussalam.

Keempat, Hikayat Abunawah. Isinya mengkritik pemerintahan Baghdad. Jabatan-jabatan pemerintahan yang dijumpai di dalamnya adalah Khalifah, Mentroe, Raja, Peurdana Meuntroe, Wazi, Uleebalang, Bentara, Datu dan Bujang.

Kelima, Tazkirat Thabaqat. Naskah yang mengulas struktur pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam; sejak level Keuchik sampai Sultan. Pertama ditulis pada masa Sultan ‘Alaiddin Mahmud Alqahar (sebelum Sultan Iskandar Muda). Terakhir disalin Sayid Abdullah alias Teungku Di Mulek pada masa Sultan Ibrahim Mansur Syah tahun 1270 H. Ditulis jabatan pemerintahan, yaitu Sultan, Raja, Mangkubumi, Mufti, Perdana Menteri, Kadli Malikul Adil, Menteri, Raja Mudasyah Bandar, Hulubalang, Tandi Kawal, Panglima Laot, Panglima Meugoe, Kuejruen Blang, Keuchik, Waki Keuchik, Teungku Sagoe, empat orang wakil Teungku Sagoe dan Tuha Peuet.

Suatu hal yang belum pernah saya jumpai dalam naskah-naskah lain, bahwa Kerajaan Aceh Darussalam pernah membayar tadah (gaji/honor) kepada segenap pejabatnya sejak Sultan sampai kepada 11 orang pejabat dalam setiap kampung di seluruh Aceh. Gaji terendah itu sebesar setengah tahil dua mas (dua ringgit dua mas).

Dari lima manuskrip Aceh itu, ternyata tidak satu naskah pun yang menyebut lembaga Wali Nanggroe. Hanya  istilah Peutua Nanggroe, yang dapat kita temukan dalam hikayat Malem Dagang. Ketika perjalanan lewat darat sultan Iskandar Muda ke Peusangan, beliau bertanya kepada pemimpin masyarakat di sana;

//Padum na kapai di gata sinoe/Tapeugah bak kamoe sigra-sigra/kapai tuanku lah ka neu tanyong/kapai limong di sinoe nyang na/Kricit narit Peutua Nanggroe/ureueng mat sagoe muhon bak raja/Ampon tuanku cahi ‘alam/seumah laman duli sarpada/Kamoe bek neuba bak prang timu/Bek unoe juho prang Malaka/Kamoe tuanku sinoe neu keubah/Meudrop-drop gajah keupo meukuta//

Walaupun belum ke-30 judul naskah yang telah saya alihaksarakan ditampilkan, apalagi naskah-naskah lain yang entah di mana sekarang, untuk sementara saya berpendapat, bahwa jabatan Wali Nanggroe bukanlah produk lembaga politik masa Kerajaan Aceh Darussalam. tetapi hanya produk sejarah Aceh kontemporer. Bila membaca buku “Tgk. M. Daud Beureu-eh; Peranannya dalam Pergolakan di Aceh” yang ditulis M. Nur El Ibrahimy, terdapat enam buah lampiran yang menyebut jabatan Wali Negara. Semua surat-surat/seruan/pengumuman atas nama Wali Negara itu ditandatangani oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh. Menurut pendapat saya istilah Wali Negara itulah yang diterjemahkan ke bahasa Aceh menjadi Wali Nanggroe.

Bila benar demikian, maka wewenang dan kekuasaan Wali Nanggroe  sejajar dengan Gubernur. Agar tidak terjadi “Saboh inong dua lakoe/Saboh Nanggroe dua raja”, maka khusus bagi Nanggroe Aceh Darussalam gelar Gubernur diganti saja dengan Wali Nanggroe. Kalau begitu pun kurang cocok, bertanyalah kepada tokoh yang sekarang sedang digelarkan sebagai  Wali Nanggroe. Kepada Pansus XI DPRA selamat berdiskusi di luar negeri; asai bek huempah-heumpeh ngon peng rakyat Aceh.

  • T.A. Sakti, penulis, peminat sastra

dan penyalin manuskrip Aceh.

Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 31 Agustus 2008

Halaman 18/Budaya.

Pelatihan Jurnalistik

Komentar Pembaca:

Pelatihan Jurnalistik

Dalam bulan Oktober 1996, saya telah membaca dua berita ‘Pelatihan Jurnalistik”. Pada berita pertama, pelatihan itu dilangsungkan pada tingkat mahasiswa Se-Sumatera (Serambi, 4 Oktober 1996 halaman 3) dan kali kedua diadakan oleh sebuah sekolah menengah, yakni Sekolah Menengah Kejuruan Bisnis dan Manajemen (SMK BM) Banda Aceh (Serambi, 10/10- 1996 halaman 7).

Pelaksanaan penataran, pelatihan atau pun “kursus kilat” bidang jurnalistik yang semakin sering berlangsung di Aceh, menandakan suatu kemajuan bagi daerah Aceh. Tempo dulu, kegiatan serupa ini teramat langka diadakan di Aceh, baik oleh kalangan wartawan, pihak mahasiswa; apalagi pada tingkat sekolah menengah.

Sekarang memang sudah banyak kemajuan, malah berbagai organisasi dan lembaga berlomba-lomba mengadakan pelatihan jurnalistik (tulis-menulis). Saya yakin, kemajuan bidang “pelatihan jurnalistik”  di Aceh ini; tidak terlepas dari keberadaan Harian Serambi Indonesia yang hampir tujuh tahun terbit di Aceh. Berita-berita penataran “penulisan” dari daerah lain yang dimuat Serambi, telah mempengaruhi meningkatkan minat terhadap jurnalistik di Aceh.

Kita harapkan, mudah-mudahan kegiatan pelatihan jurnalistik bisa terus berkembang secara berkelanjutan di Aceh. Pada suatu saat nanti, setiap Sekolah Menengah dan Sekolah Dasar agar mampu mengelola sebuah penerbitan masing-masing seperti bulletin dan majalah dinding. Sementara itu kita mengharapkan, agar panitia pelaksanaan pelatihan jurnalistik selalu mengadakan seleksi ketat tentang minat dan bakat terhadap peserta pelatiihan itu. Keteledoran dalam hal penyaringan peserta ini, bisa menyebabkan pelaksanaan pelatihan jurnalistik tersebut menjadi sia-sia. Banyak bukti yang demikian.

T.A. Sakti

Banda Aceh, 4 – 10 – 1996.

 

Harapan Kita Kepada Unsyiah, IAIN & PTS di Aceh

Komentar Pembaca:

Harapan Kita Kepada

Unsyiah, IAIN & PTS di Aceh

Tahun 1994, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jateng ; melakukan kreatifitas budaya maha besar, yang mungkin merupakan suatu kegiatan yang belum pernah dilakukan semua perguruan tinggi lain di Indonesia. Kegiatan dimaksud adalah mengreproduksi manuskrip Jawa (naskah lama Jawa). Dari 147 judul naskah bahasa Jawa yang “diolah kembali” itu, salah satunya naskah ‘Tajussalatin” yang sebenarnya berasal dari Aceh (baca : Harian Serambi Indonesia, Minggu 9 Oktober 1994 halaman 4).

Manuskrip atau naskah lama merupakan catatan tertulis tentang peradaban suatu masyarakat. Bila kita bermaksud menilai, mengkaji dan mengungkapkan sejarah “tamaddun” suatu kelompok mayarakat, maka salah  satu cara yang perlu ditempuh adalah melakukan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip yang tersisa.

Keberadaan manuskrip di Aceh dewasa ini sangat memprihatinkan; menanti kepunahan. Sebagian masyarakat, kini menyimpan naskah lama di sembarang tempat seperti dibalai kandang lembu, atas kandang ayam, rak dapur (sandeng dapu), di sisi dinding (lungkiek binteh), di bara/para rumoh Aceh dan tempat-tempat lain yang bisa disangkutkan bundel-bundel kertas naskah.

Sekiranya tidak muncul upaya penyelematan dalam waktu dekat atau segera, saya yakin sisa-sisa manuskrip Aceh itu akan punah sama sekali. Bila ada kemauan, dapat saja kita mengkuti jejak Universitas Sebelas Maret (UNS) yang sedang mengolah kembali ratusan naskah bahasa Jawa. Namun, bila acara yang dilakukan UNS mungkin terlalu banyak menghabiskan dana; kita dapat berupaya dengan cara lain yang tidak menghabiskan dana dari perguruan tinggi/institut yang mempeloporinya.

Manuskrip Aceh yang umumnya ditulis dalam huruf Arab Melayu (huruf Jawoe) isinya mengandung berbagai ide, gagasan utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat Aceh, seperti ajaran keagamaan, pendidikan, politik, kemanusiaan, sejarah, perundang-undangan, hukum, filsafat, pemerintahan, kesenian dan unsur-unsur lain yang merupakan nilai luhur masyarakat Aceh saat karangan itu ditulis.

Sehubungan halnya yang demikian, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan, bahwa manuskrip atau naskah lama itu bisa dijadikan bahan pengkajian Skripsi Sarjana bagi hampir semua fakultas atau jurusan di semua perguruan tinggi/institut yang berada di Aceh.

Bagi perguruan tinggi umum misalnya, bahan penelitian Skripsi dari manuskrip dapat dilakukan oleh para mahasiswa yang berminat dari berbagai disiplin ilmu,  seperti kesenian, sosial politik, tata pemerintahan, antropologi, sejarah, tata boga, tata busana dan lain-lain. Tak terkecuali pula untuk ilmu kedokteran dan farmasi. Saya sendiri memiliki sebuah manuskrip yang cocok dijadikan skripsi kedokteran.

Hal serupa dapat pula dilakukan para mahasiswa yang berminat dari perguruan tinggi/institut agama Islam yang terdapat di Aceh. Boleh dikatakan, kesemua fakultas atau jurusan dapat menjadikan manuskrip Aceh sebagai kajian Skripsi Sarjana. Menyimak terhadap isi dari naskah lama seperti tersebut di atas, maka para mahasiswa dari Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Dakwah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Adab, Diploma Tiga Kepustakaan dan Diploma Dua Keguruan, jelas-jelas dapat menjadikan manuskrip Aceh sebagai tugas akhir karya ilmiah mereka. Akhrul kalam, kepada para pengambil kebijaksanaan dan keputusan di Unsyiah, IAIN Ar-Raniry dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Aceh kita mohonkan kesediaan merenunginya…..!

T.A. Sakti

Banda Aceh,

2 – 9 – 1997  — Hardikda Aceh ke 38.