Lebaran di Tanah Rencong

 

Lebaran di Tanah Rencong

Oleh: T.A. Sakti

Dalam bahasa Aceh, Llebaran disebut  Uroe Raya (Hari Besar). Karena dalam setahun ada dua kali Lebaran, yaitu lebaran Idulfitri dan Idul adha, hingga  dalam bahasa Aceh  dijuluki Uroe Raya Puasa dan Uroe Raya Haji. Mungkin sama dengan  di daerah-daerah lain,    bahwa  Lebaran  Idul fitri lebih semarak dan meriah dibandingkan dengan penyambutan Hari Raya Idul adha. Kegembiraan nampak jelas terbayang di wajah masyarakat semua umur di Idul fitri, sedang waktu Idul adha nampaknya hanya pihak anak-anak saja yang tidak kurang pula gembiranya.

Masih populer di Aceh sebait syair: “geureudam geureudum Tambo dipeh, tanda jadeh Uroe Raya. Ho kadum ureung  Iseulam jak semayang Uroe Raya. Ta meu’ah ta seumah mamandum kawom syedara”(geredam geredum bedug ditabuh, tanda jadi Hari Raya(Lebaran). Wahai semua umat Islam, mari sembahyang  Hari Raya. Bermaafan-bersalaman dengan semua kaum saudara) .

Syair di atas sering dinyanyikan oleh anak-anak menjelang Lebaran.  Mereka cukup gembira, …….  menantikan kapan tibanya hari , si……. ………pakai serba baru ;baju…..sandal baru,di bawa ayah……………..balon (si kumbong) dan…………………………………………………………………yang di rantau juga  pulang………………………………………………………Lebaran. hari baik dan bulan baik (buleun get dan uroe get) lebih ……………………………………ditengah keluarga,kata ……………………………………………semua upacara adat yang………………………………………………semua  anggota keluarga,……………………………………kan sehabis lebaran,mum-…………………………………..balik lagi ke rantau orang…………………pulang waktu lebaran,…………………………lagee aneuk bude, ohleuh diwoele(sungguh bagai……………………………tembakan tak pernah…………………………………………………………………………………………

Mencari siapa yang paling sibuk menjelang lebaran tak ada lain yang dapat kita sebut kecuali para ibu rumah tangga. Mereka mempersiapkan kue-kue Hari Raya, sejak 10  hari  bahkan setengah bulan sebelumnya. Sering terjadi persaingan sehat dengan tetangga dalam hal penyediaan kue ini. Seorang ibu merasa bangga, bila dirinya merupakan orang yang paling banyak jenis kue lebaran dari ibu-ibu lain di desanya. Tetapi keadaan ini hanya terjadi di kalangan ibu- ibu muda, sedangkan bagi nenek nenek(ureueng syik) biasanya memadai dengan membikin “timphan” saja. “untuk apa aku buat kue banyak banyak, kan pokoknya: piasan Rapa-i, khanduri Timphan(kalau kesenian  Aceh: Rapa-i, jika makanan Aceh adalah timphan), begitu celoteh sang nenek dengan senyum bangganya, sambil tangannya gosok gusi ompong dengan tembakau Aceh(cedeut bakong asoe). Timphan, adalah sejenis kue yang sudah diadatkan harus ada di tiap rumah bila menyambut lebaran.

Rasanya, kita kasihan melihat kerepotan kaum ibu memasak kue berhari- hari. Selesai satu, buat lain lagi, hingga sampai sepuluh jenis atau lebih. Disamping jenis-jenis kue modern, kue-kue tradisi dibikin pula. Seperti peukarah, samaloyang, bhoi, bohlu, wajeb, ruti, meuseukat, dhoi-dhoi, seupet kuet, ruti aneuk jaroe, sumpriet, dahlia, ruti bungong, bingkang, tape, timphan dan sebagainya. Yang paling banyak membikin kue adalah ibu penganten baru (Ma Dara baro), karena di Hari Raya mereka terikat tradisi “jak bak tuan” (mengunjungi mertua)

Demikian pula dengan sang Linto baro(penganten pria),ia  juga tidak terlepas dengan sejumlah adat tradisi Lebaran. Sehari sebelum lebaran, ia harus membawa pulang daging Makmeugang(sie Makmeugang) ke rumah Dara baronya. Dan yang paling banyak butuh uang ialah untuk membeli perlengkapan  Peuneuwoe Linto baro(persembahan penganten). Perlengkapan tersebut terdiri dari beberapa setel pakaian, alat-alat kosmetik, sandal bertumit tinggi(silop ceudang-ceudeung), beberapa macam buah-buahan, seikat leumang, haluwa, beberapa ikat sirih  serta bumbu-bumbunya. Kalau selendang harus model terbaru, kain baju dan sarung begitu pula. Sekitar tahun 1963-‘64 selendang “Ibu Fatmawati” mesti dibeli. Dan sekitar tahun 1967-‘69 kain selendang “Ibu Tien” yang jadi rebutan massa. Inilah kepintaran para pedagang tekstil, mencatut nama “Ibu Negara” istri presiden-presiden kita yang sangat populer menurut masanya.

Semua barang bawaan pengantin pria(peunuwoe Linto baro) diperlihatkan kepada ahli kerabat pihak Dara baro. Dan buah-buahan serta makanan lainnya, dibagi-bagikan kepada semua  famili  dan tetangga.

Ada satu tradisi  menjelang Lebaran yang tidak dipraktekkan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh masa kini , khususnya di  Pidie, yakni boeh gaca(berinai). Kalau dulu, kaum ibu, anak-anak baik pria apalagi wanita; jari tangan dan jari kaki mereka diberi inai.  Beberapa malam  menjelang Lebaran  mereka menggiling daun inai (on gaca). Biasanya mereka berkumpul di rumah seorang nenek-tua (nek tuha)  yang  ahli   mengukir inai di desa. Inai dipakai beberapa malam beturut-turut, hingga pada hari Lebaran kelihatan merah bagaikan kesumba. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi orang desa di masa itu.

Akibat perkembangan dan perobahan zaman “berinani” sudah ditinggalkan. Inai sudah diganti dengan memakai “kotek” bagi gadis-gadis. Kalau  pakai inai takut dicap “kampungan – kolot”, kata gadis masa kini.

Begitu pula dulu, gadis-gadis tanggung di desa, rambutnya digunting bagian depan(koh andam) bila Lebaran. Modelnya sama seperti “potong poni”, yakni suatu mode potongan rambut wanita yang juga sudah ditinggalkan belum berapa lama. Berinai(boeh gaca) dan potong poni(koh andam) adalah dua tradisi Lebaran yang lenyap di Aceh(hanya di Pidie?).

Tempo dulu, bila malam Lebaran,  orang laki- laki bertakbir dan bertahmid  memuji ke-Agungan Allah. Takbiran itu ada kalanya diadakan di Meunasah (nama langgar/Surau  di Aceh) atau di mesjid.mereka tidak bergerak kemana. Akan tetapi kalau sekarang,  takbiran sering  dilakukan secara pawai   berkeliling. Kalau di kota-kota, termasuk kota kecamatan di Aceh; pawai takbiran pakai kendaraan. Baik bis umum, mobil pribadi,mobil-mobil dinas,truk-truk dan sepeda motor, sehingga memang ramai dan cukup meriah.  Syiar islam menonjol sekali pada malam Lebaran di Aceh.

Bagi penduduk desa , pawai takbiran sepanjang  jalan desa dengan jalan kaki. Sambil menjinjing (tijik) beberapa  lampu strongking (pretomak), mereka mengelilingi desa. Terkenal dikalangan anak-anak “pawai  let jen”, artinya pawai menghalau iblis dan syaitan di desa.

Allahu  Akbar(3 x)….Laila hailallah Wallahu  Akbar…..  Allahu Akbar Walillahilhamd …. dan seterusnya. Itulah kalimat-kalimat suci  yang merupakan takbir dan tahmid;  mereka dengungkan hingga tengah malam. Rasa keimanan betul-betul meresap  kedalam hati sanubari peserta pawai takbiran di malam Lebaran. Meriah sekali!!.

Pagi-pagi sekali selesai shalat subuh, mereka mandi sunat  Idulfitri. Selesai berpakaian Lebaran yang sudah membudaya,  harus serba baru,  mereka menuju mesjid-mesjid atau lapangan untuk shalat ‘Id.  Berangkat ketempat shalat ‘ Id secara rombongan  jalan kaki, sambil takbiran sepanjang jalan. Sementara itu, bagi Linto baro sebelum  berangkat shalat  Id  lebih dulu melakukan tradisi “seumah tuwan” , artinya bersalaman atau sungkem  dengan kedua orang mertuanya. Yaitu tuan agam dan tuan inong (mertua laki-laki dan perempuan) sambil mencium tangan keduanya.

Di saat itu, sang  mertua memberikan sejumlah uang kepada menantunya. Tradisi ini disebut “teumeutuek keu Linto baro( memberi hadiah untuk penganten)  pada hari Lebaran.  Tradisi ini tidak merata dilakukan di semua daerah. Karena di Aceh, tidak setiap  Linto baro tetap tinggal bersama mertua. Ada daerah, dimana setelah hari peresmian perkawinan, si Linto baro besoknya harus langsung memboyong Dara baro/isterinya ke rumah orangtua sendiri.

Selesai  shalat Idul fitri, baru mulai berbagai acara menurut tradisi. Bagi orang-orang tertentu ziarah kekubur leluhur mereka. Tapi kelihatannya, ziarah kubur di hari Lebaran, kurang membudaya di Aceh. Entahlah dizaman dulu.

Acara yang paling pokok bagi setiap orang, termasuk anak-anak berkunjung kerumah guru ngaji (Teungku seumeubuet) didesa. Sebab di  Aceh,setiap desa ada  Bale Beuet (pesantren kecil ) tempat pengajian anak-anak. Guru pengajian (guree  seumeubeut)  sangat dihormati dalam masyarakat  Aceh. “Tak dhim keu  gurei meuteumei  ijazah, tak dhim keu nangbah geubri hareuta” (Menghormati guru mendapat ijazah, hormat ibu-bapak diberi harta pusaka). Kemuliaan seorang guru disamakan dengan memuliakan kedua orang tua. Ini terkandung dalam sebuah hadih Maja (pepatah) Aceh: “Bunda ngon ayah lhei dengon gurei, ureung  nyan ban lhei wajeb tapeu mulia “(Ibu dan bapak beserta guru, ketiga orang itu wajib dihormati), begitu bunyi dua pepatah Aceh yang menganjurkan menghormati guru serta kedua orang tua.

Sesampai di rumah Teungku (Ustaz), lebih dulu bermaafan-bersalaman dengan Teungku. Cara nya sama saja seperti tradisi salaman lainnya. Setelah menjabat tangan Teungku kemudian tangan kita menyentuhkan pipi sendiri, atau pun meletakkan tangan diatas dada. Tapi yang lebih sopan lagi adalah dengan mencium tangan Teungku, namun sekarang jarang dilakukan orang, karena ditentang oleh sebagian Ulama. Bagi anak-anak kecil, sering dianjurkan “semah bak tuot” (sujud di lutut) Teungku dan orang-orang tua. Ketika menyambut dengan kedua belah tangan sembahan anak-anak itu, para Teungku dan orang tua biasanya mengucapkan:” beu meutuah- meubahgia, bemalem-beukaya (semoga bertuah nasibmu-berbahagia, jadi  orang berilmu dan kaya raya).

Di zaman dalu,  sebagian besar zakat fitrah dibayarkan kepada Teungku pengajian, Keadaan ini telah berlangsung  lama sekali, tanpa ada pihak yang pernah menggugat. Tapi sejak keluar peraturan penertiban zakat; termasuk zakat fitrah dari pemerintah, tradisi bayar zakat fitrah pada Teungku, tak dapat dihapuskan secara tuntas. Setiap orang tua pasti menyisihkan zakat fitrah anaknya  yang masih mengaji, guna nanti diserahkan kepada guru ngajinya(Teungku). Hanya fitrah orang-orang tua saja yang dibayarkan kepada panitia zakat fitrah di Meunasah. Hal ini masih berlaku di desa-desa.

Apalagi nenek-nenek tua, mereka biar bagaimana pun dihalang, pasti diserahkannya kepada Guree(gurunya). “Fitrah keu soe cit geubri meukon keu Teungku, cit ka lagee nyan bak-bak Endatu kamoe”(Untuk siapa lagi diberi Fitrah, kalau bukan untuk guru ngaji, memang sudah demikian praktek leluhur kami);  komentar sang nenek sambil mencibir  Keuchik (Kepala Gampong), yang coba menjelaskan peraturan penertiban zakat fitrah yang berlaku sekarang.

Tempat-tempat pengajian di Aceh diadakan secara sukarela oleh orang-orang yang mau menyebarkan ilmunya. Jadi tanpa gaji tetap bagi   seorang guru.  Disamping banyak Dayah-dayah  besar  yang terkenal di Aceh , banyak pula tempat pengajian kecil-kecilan  di  hampir isemua desa. Kentara sekali; setelah pemerintah (Daerah?)  menerapkan peraturan penertiban zakat /zakat fitrah, pengajian anak-anak  dan Dayah-dayah runtuh dan hapus satu demi satu di tiap desa.

Kenyataan ini mungkin efek samping dari  pengalihan zakat/zakat fitrah bagian hak Teungku kepada panitia pemerintah(Badan Harta Agama/BHA). Keadaan ini patut mendapat perhatian pihak Pemerintah Daerah Istimewa   Aceh, Kanwil  Departemen Agama Daerah Aceh, BHA;  dan pihak-pihak yang prihatin atas kemerosotan “Pesantren Gampong” atau Bale Seumeubeuet di gampong-gampong di Aceh. Sungguh hal ini bahaya atau bala besar bagi Aceh!!!.

Kalau memang zakat/zakat fitrah itu tidak berhak diterima oleh Teungku-Teungku “gampong”, mengapa tidak dicari sumber-sumber lain  bagi ‘sagu hati’ untuk orang-orang yang telah sukarela mengajar anak-anak kita tentang ilmu agama?. – Seperti  gaji resmi dari pemerintah misalnya! -.

Aneh rasanya, bila putra-putri Aceh di masa datang, tidak dapat membaca Al Qur’an. Apalagi  untuk memahami hukum Islam secara memadai. Kalau waktu demikian tiba, berarti gelaran SERAMBI MEKKAH yang masih dilekatkan pada nama Aceh hingga sekarang, sudah boleh dicopot dibuang saja!!!.  Bagaimana hai Teungku Aceh?/hei  ureueng Aceh???.

 

Sumber:  Harian MERDEKA, Jakarta, Jum’at, 30 Juli 1982 halaman VII.

 

(Catatan:  Artikel di atas  aslinya lima kolom dalam koran “Merdeka”. Kolom pertama sudah dirusak air lumpur tsunami, Ahad, 26 Desember 2004. Alinea  pertama saya buang semua. Alenia ke 3 dan 4 disalin seberapa yang tersisa. Sementara kata-kalimat yang hilang ditandai dengan titik-titik. Penyalinan  isi koran ini turut dibantu ketiga putri-putra saya. Bale Tambeh Darussalam, 14 Puwasa 1431/ 24 Agustus 2010 pukul 16.38 Wib., T.A. Sakti ).

 

 

 

 

Iklan

7 pemikiran pada “Lebaran di Tanah Rencong

  1. betoi that nyan tgk, bek tuwe ke aceh

  2. tat betoy nyan.peulom jinoe kaitamong awak lua nangro.jilee taparoeh awak kafee jinoe kaiduek i tanoeh tanyo.misee hana yang peuduli kakeuh tinggai sejarah bangsa geutanyo yang pernah jaya masa kaulikoet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s