Hapuskan saja Penulisan Skripsi!

Hapuskan saja Kewajiban Penulisan Skripsi Bagi Mahasiswa

“Tanggapan dari dosen pembimbing

Oleh:  T. A. Sakti

Tulisan saudara Syamsuddin di Harian Waspada, Jumat, Wage, 29 Maret 2002 halaman 10 (Pendidikan), yang berjudul “Mahasiswa dan Pembuatan Skripsi”; bagaikan “pameran borok/luka lama” yang sangat menjijikkan. Sebagian dari saran-saran resep pengobatan dari sang penulis, memang saya setujui, namun belum tentu menyelesaikan masalah. Dalam hal ini, saya lebih yakin kepada cara pengobatan penyakit tumor, yang salah satunya adalah ” amputasi”. Jadi, ada baiknya kewajiban pembuatan Skripsi dihapuskan saja dari kurikulum pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). Sebagai pengganti, tentu banyak jalan menuju Mekkah!.

Luka-luki

Luka-luki adalah istilah dalam bahasa Aceh untuk penyakit luka yang menyebar hampir di seluruh badan, tak sembuh-sembuh, mengeluarkan air yang baunya putoh bulee idong (putus  rambut hidung). Begitulah bandingan suasana penyusunan Skripsi sekarang. Bau busuknya sudah sekian lama menyebar, namun sejauh yang saya tahu belum pernah ada usaha serius untuk mengatasinya.

Terkuak adanya ‘pembusukan’ dalam seluk-beluk penyusunan Skripsi sudah cukup lama. Tindakan perorangan mahasiswa., bisik-bisikannya sudah terdengar sejak saya masih pada semester pertama di PT. tahun 70-an. Sementara munculnya Biro jasa Skripsi baru saya dengar dalam tahun 80-an.

Terungkapnya ‘jalan pintas’ pembuatan Skripsi pada tahun 80-an, telah dilakkukan oleh sebuah koran terbitan Yogyakarta. Waktu itu, seorang mahasiswa dari sebuah PT Negeri di Yogyakarta yang sedang menyusun Skripsi, ternyata menjiplak (menyalin utuh) sebuah Skripsi dari sebuah PT negeri di Jawa Tengah. Sayangnya “tindak pidana pencurian ilmu” ini baru diketahui setelah Skripsi itu disidangkan, dan mahasiswa yang bersangkutan telah dinyatakan lulus dengan pemberian ‘nilai sangat memuaskan’. Baru kemudian, kelulusan itu dibatalkan oleh almamaternya.

Berdasarkan peristiwa itulah, sebuah Tim wartawan dari koran yang bersangkutan melakukan penjelajahan ke segenap pojok kota/kampung di Yogyakarta untuk melacak Biro-biro jasa Skripsi. Sebab, sejak saat itu telah tercium pula, bahwa ‘jalan tol’ penyusunan Skripsi bukan hanya dengan menjiplak Skripsi orang lain, tetapi sudah lebih gampang lagi dengan munculnya Biro-biro jasa Skripsi yang membuka praktek secara sembunyi-sembunyi. Berkat pelacakan itu dijumpailah beragam jenis ‘Biro Jasa’ Skripsi di seantero kota Yogyakarta. Sejak saat itu kharisma kota Yogyakarta sebagai “kota pendidikan” terasa mulai goyah.

Aneka Ragam

Keanekaragaman “Biro Jasa Skripsi” itu dapat terlihat dalam beberapa hal. Pada dasarnya kerja membantu pembuatan Skripsi ini merupakan pekerjaan sambilan seorang sarjana baru yang tengah menunggu adanya pekerjaan tetap. Biasanya, sarjana baru itu sewaktu masih kuliah memang terhitung sebagai mahasiswa yang cerdas, bahkan pernah terlibat sebagai aktivis mahasiswa. Bermodalkan kepintaran dan keberanian itulah ia mencari kehidupan di kota dengan “membimbing” mahasiswa-mahasiswa yang kebingungan menyusun Sripsi. Kamar kostnya sekaligus berfungsi sebagai Biro skripsi.

Bentuk lain dari Biro-biro Jasa Skripsi adalah usaha fotocopy dan menjilid buku. Pemilik Toko atau karyawannya dalam hal ini bertindak sebagai perantara. Sementara yang mengerjakan pembuatan Skripsi adalah sarjana-sarjana yang sudah menjadi anggota dari ‘Jaringan gelap’ itu.

Bidang ilmu yang menjadi garapan Biro ini, tentu lebih luas bila dibandingkan dengan Biro jasa jenis pribadi. Sebab para anggota penyusun Skripsi terdiri dari sejumlah sarjana dari berbagai disiplin ilmu, yang umumnya masih lajang dan belum mempunyai pekerjaan tetap. Kepada Biro jasa Skripsi jenis ini dapat disodorkan beragam Skripsi, baik yang berhubungan dengan ilmu sosial, ilmu eksakta, bahkan bidang agama.

Selain itu ada pula Biro jasa skripsi yang dilakukan seseorang dalam rangka menambah penghasilan. Sebenarnya, orang yang bersangkutan sudah memiliki pekerjaan tetap, namun ia memiliki bakat dalam hal tulis-menulis cukup besar. Maka digunakanlah potensinya itu guna menambah kesejahteraan keluarga. Dalam hal ini, rumah/kamar tinggalnya sendiri juga berfungsi sebagai Biro jasa skripsi. Begitulah bentuk-bentuk Biro jasa Skripsi sebagaimana hasil pelacakan tim wartawan dari suratkabar  yang terbit di Yogyakarta tahun 80-an itu.

Sebagai pembimbing dua (II) yang sudah bertugas lebih sepuluh tahun, kadang-kadang saya pernah menjumpai sodoran calon Skripsi dari mahasiswa yang mencurigakan. Namun dalam hal ini saya tidak mampu berbuat banyak dalam rangka mengungkapkan kebenaran dari rasa curiga itu. Ketidakmampuan ini disebabkan Perguruan Tinggi belum memiliki “Lembaga Sensor Skripsi” atau ‘Pengadilan Skripsi’ serta “Polisi Skripsi”. Dalam kasus ini, sebagai pembimbing II, yakni yang bertugas pertama kali dalam urutan membimbing Skripsi, amat dibuat serba salah oleh “penyakit Skripsi” yang busuk ini!!!.

Iklan

3 pemikiran pada “Hapuskan saja Penulisan Skripsi!

  1. semoga banyak PT yang lebih terbuka, sehingga membuat Skripsi/Tugas Akhir atau setaranya hanya sebuah pilihan, bukan hal yang wajib. 🙂

  2. Sekedar info, katanya perguruan tinggi luar negeri seperti di jenjang sarjananya menggunakan ujian tertulis sebagai ujian akhir, dan pembuatan karya tulis untuk tugas akhir baru ada di tingkat S2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s