Menyambut Puasa Ramadhan di Aceh

MENYAMBUT PUASA DI ACEH

Oleh: T.A. Sakti

Jauh sebelum bulan puasa tiba, masyarakat Aceh telah mengemas diri menyongsong bulan mulia ini. Semua kerja di percepat, biar nanti lebih banyak waktu dapat digunakan buat beribadat di bulan suci. Pak tani yang belum selesai menanam disawah, mempercepat mengolah tanah.

Jarang sekali Pak tani  mulai turun kesawah yang jatuhnya pada bulan puasa. Kalau tidak lebih awal, pasti sehabis bulan puasa mulai menggarap sawah. Bagi Pak tani yang gesit(banyak perhitungan), tiga atau empat bulan menjelang puasa, menyangkul kebun menanam mentimun, rasanya berbuka puasa belum memenuhi syarat. Bagi yang dirantau biasanya pulang.di hari baik dan bulan baik ini ( puasa ), mereka merasa lebih sreg(afdol) berada di tengah-tengah keluarga sendiri.Jadilah anak dagang di rantau orang; mudik ke desa, hingga mobilitas manusia yang hilir-mudik sangat meningkat.

Bagi kaum ibu tidak kurang pula repotnya. Mereka lebih banyak berurusan dengan penyediaan konsumsi beras dan tepung yang mencukupi untuk tempo sebulan. Untung sekarang, akibat proses modernisasi mesin giling padi telah banyak masuk merata ke desa di Aceh, hingga untuk pengadaan persediaan beras yang banyak itu tidak menghabiskan tenaga dan waktu lagi. Kalau zaman dulu, bukan main riuh-rendahnya suara “ Jingki”  penumbuk padi. Tingkah suaranya bagaikan gema nyanyian katak di musim hujan. Tambahan pula, biasanya dalam sebuah desa paling banyak Jingki hanya dua – tiga buah saja, hingga hampir sebulan penuh sebelum puasa, Jingki bertingkah mengupas padi terdengar bersahut-sahutan  ke seantero desa.

Di samping mempersiapkan beras, kaum ibu juga menumbuk tepung( top teupong) untuk juadah buka puasa. Yang paling banyak ditumbuk adalah tepung  ketan, karena kue-kue khas Aceh seperti timphan, timphan balon, boh meucot(onde-onde), kueh sumprit, haluwa dan lain-lain lebih banyak menggunakan tepung  ketan (teupong leukat). Kalau Anda kebetulan naik bis dari Banda Aceh menuju kota Medan( Sumut) menjelang bulan puasa.”jemuran tepung” merupakan suatu pemandangan  indah yang  anda dapat nikmati. Putih-memutih bagaikan salju disepanjang jalan-raya. Apalagi kalau anda memasuki sedikit ke pedalaman di desa, pemandangan yang sama dapat anda saksikan: di atas atap rumah, di atas sebatang galah; di lapangan bola, di kebun kosong; dipenuhi dengan jemuran tepung puasa. Di saat-saat yang demikian, yang paling bergembira ialah anak-anak, karena mereka dapat menikmati “geuleupak”, yang dibuat dari tepung campur kelapa yang setelah ditumbuk pada Jingki.

Geuleupak biasanya dibuat dari sisa-sisa tepung yang kasar. Sangat populer di Aceh hingga sekarang sebuah pameo yang berbunyi: “Ureung pajoh geuleupak gob top”( orang yang hanya bisa makan geuleupak yang ditumbuk orang), sebagai sindiran sinis bagi orang yang tidak berguna bagi masyarakat dan keluarganya(sampah masyarakat). Perlu juga anda ketahui, bahwa sudah jadi tradisi kaum ibu di Aceh sejak dahulu, baik menumbuk padi maupun ‘tepung khusus” menjelang puasa, biasanya dikerjakan secara gotong royong antara kaum ibu sedesa tambah anak-anak.

Suara Bedug Bertalu-talu

Bagi kaum bapak (kepala keluarga) banyak beban yang ditanggung menjelang Ramadhan, karena penguluaran uang memang lebih banyak dari bulan-bulan biasa, terutama bagi mereka(keluarga) yang baru saja menjodohkan putranya (Lintobaro). Lebih-lebih pada Hari Meugang(Uroe Makmeugang).

Yang disebut Hari Makmeugang dalam tradisi-tradisi yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Aceh, bahwa pada Hari Makmeugang itu di setiap desa/kota diadakan penyembelihan binatang ternak. Untuk Makmeugang puasa biasanya kerbau (kalau di Pidie), sedangkan untuk Makmeugang Idulfitri dan Idul Adha disembelih lembu, sebab makan daging lembu di bulan puasa dapat mengakibatkan sakit gigi atau gatal gus, kata mereka. Modal untuk membeli binatang sembelihan adalah secara patungan  antara rakyat desa, yang dikoordinir oleh Kepala Kampung(Geusyik). Sementara bagi masyarakat di kota kebanyakan membeli sendiri di pasar daging.

Kalau kita hitung-hitung, dalam propinsi Daerah Istimewa Aceh terdapat ribuan desa, tentu dapat anda bayangkan, beberapa ribu ekor kerbau/lembu yang disembelih di Aceh setiap kali hari Makmeugang, yang  tiga kali dalam setahun. Dalam versi uraian di atas menunjukkan masyarakat Aceh “makan enak” sebelum mereka berpuasa. Mereka berpesta besar dengan makan daging Makmeugang (sie Makmeugang) bersama anggota keluarga, bahkan turut yatim piatu serta fakir miskin jiran tetangga turut diundang makan bersama. Menyo hana takhanduri keu aneuk yatim bengeh areuwah Endatu(kalau tidak diundang anak yatim, bisa marah arwah leluhur), kata mereka. Dalam hal ”makan enak”  dalam bulan puasa, terkenal pribahasa Aceh yang menyatakan: Siblah buleun hareukat, sibuleun pajoh toh (sebelas bulan mencari nafkah hidup, memang untuk sebulan memakannya), namun berkat kesadaran setelah zaman kemerdekaan, praktek rakus akibat dari Hadih Maja Firman Datok(Pepatah) yang keliru ini semakin ditinggalkan masyarakat.

Setelah matahari dari hari Makmeugang terbenam di ufuk barat, malam Ramadhan pun tiba. Sambil mencicipi sop daging kerbau, mereka menantikan pengumuman resmi, kapan kepastian mulai puasa. Ada yang meyetel radio atau pun mengikuti siaran TVRI. Tetapi kebanyakan masyarakat desa, merasa lebih afdhal mendengar bunyi bedug(Tambo) dari Meunasah di desa mereka. Mereka bukan alergi dengan siaran TV, tapi memang siaran dari stasiun pusat Jakarta sering kurang jelas di desa sana. Kecuali stasiun Relley, stasiun TV Daerah di Aceh(1981) memang belum ada.kapan terwujud;Wallahu A’lam.

Bila ketetapan awal puasa telah pasti, maka orang pun mulai memukul bedug(peh Tambo), sebagai pengumuman bahwa puasa dimulai besok hari. Dari setiap Mesjid dan setiap Meunasah (Langgar di Aceh) suara bedug bertalu-talu. Bedug di Aceh disebut Tambo, dibuat dari kayu besar yang dilubangi bagian tengahnya sepanjang  lebih kurang 2 meter.

Para ahli menabuh bedug (peh Tambo) menggunakan kesempatan malam pertama puasa dengan menabuh tambo sepuas-puasnya. Kesempatan terbuka lebar malam itu. Mereka dapat menabuh dalam berbagai nada dan irama, hingga kedengarannya merdu sekali. Baik irama padang pasir,dangdut,Melayu asli dan tidak ketinggalan pula irama dari lagu-lagu Aceh dengan sempurna dapat mereka lagukan.

Pengumuman mulai puasa telah berlalu, rakyat desa baik tua maupun muda berkumpul di Meunasah. Mereka mulai Tadarus Al Qur’an. Kalau terasa haus, mereka minum Ie bu (bubur beras encer) yang telah disediakan di seurambi Meunasah. Tadarus Al Qur’an berlangsung hingga waktu sahur.

Sekitar jam   2   dinihari Tambo mulai  ditabuh kembali. Ini merupakan kode bagi kaum ibu supaya bangun untuk mempersiapkan makanan sahur. Memang dari irama/jenis bunyi  Tambo sendiri, orang dapat mengenal, bahwa suara bedug itu membangunkan para ibu rumah tangga pada tahap awal. Jadi mereka tidak perlu takut kepepet waktu. “Beudoh-beudoh taguen bu laju hai Ma jih”(ayo bangun-bangun wahai Ibu si polan); begitu seolah-olah bunyinya.  Kira-kira 15 menit, suara bedug pun berhenti. Dan kaum muslimin di Meunasah meneruskan Tadarusnya.

Tapi kalau bulan puasa telah melewati 20 hari, Tambo ditabuh lebih lama. Hal ini mengingat, bahwa kaum ibu khususnya telah sangat lemas  selama  puasa, hingga mereka tidur nyenyak sekali. Untuk itu Tambo harus didera lebih lama, biar ibu-ibu rumah tangga tersentak dari gangguan mimpi. Kalau tidak sabar membangunkan mereka, ada harapan kaum bapak yang di Meunasah pun bakal puasa tanpa sahur (puasa soh). Sekitar jam 3.30 Wib, sekali lagi giliran  menabuh Tambo. Kali ini memberi aba-aba  kepada kaum ibu supaya siap-siap untuk makan sahur dan kaum bapak akan segera turun dari Meunasah pulang kerumah masing-masing. Pada saat kemudian, dirumah pun telah siap segalanya.

Bagi yang sedang mengemong Linto Baro (pengantin baru), segalanya telah di atas meja makan disediakan oleh Dara Baro(pengantin perempuan)  di rumoh inong (ingat:bentuk rumah Aceh),sedang bagi yang tua-tua cukup lumayan makan di rumah dapur (tiphiek) saja. Jadi santapan Linto Baro  serba tersusun rapi; sejak dari kuah lemak campur kulit kerbau bakar/goreng , acar ketimun pedas, cicah daging, daging rebus, daging rendang, ikan pepes dan sebagainya, tinggal melahapnya saja. Boleh dikatakan hampir semua jenis masakan Aceh rasanya pedas.

Lebih kurang jam 5.00 Wib “dum, dum…bum…bum”bunyi bedug terakhir. Ini menandakan waktu imsak (menahan) dimulai. Suara Tambo yang terakhir ini juga sekaligus untuk memanggil ummat berjamaah Shubuh.

Waktu buka puasa pun di tandai dengan tabuhan bedug. Juga sudah menjadi tradisi yang mendarah daging dalam masyarakat Aceh, bahwa semua  orng pria buka puasa di Meunasah. Konsumsi makanan dikenakan bergiliran dari rumah ke rumah. Juadah yang di antarkan ke Meunasah paling kurang 3-4 jenis kue, seperti timphan, agar-agar, boh meuron-ron/boh rom-rom, timphan balon, bada (pisang goreng) dsb. Yang akan diminum selain kopi, juga ie bu kanji atau ie bu biasa, yang memang tiap sore di masak di setiap Meunasah di  sebagian daerah Aceh.

Hadirin yang telah hadir di Meunasah, yang terdiri dari berbagai umur termasuk anak-anak,duduk bersila di  tukar lantai Meunasah sambil menunggu waktu buka puasa tiba. Salah seorang diantara mereka mendekati Tambo (bedug). Setelah jarum jam cocok dengan jadwal Imsakiyah Ramadhan, maka bedug pun berdentum-dentum di setiap desa. Dengan demikan orang yang buka puasa di Meunasah, dapat bersamaan waktunya dengan ibu rumah tangga yang berbuka di rumah setelah mendengar suara Tambo tadi..

Selesai buka puasa d teruskan dengan shalat maghrib berjamaah, baru setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Setengah jam  berikutnya, lagi-lagi suara Tambo bertalu-talu  mengajak muslimin /muslimat untuk shalat Tarawih. Dapat ditambahkan bahwa  Tambo  juga di tabuh, bila ada kematian, rapat desa, mau gotong- royong, dimana  untuk setiap kepentingan itu punya ciri khas tersendiri ketika menabuhnya.

( Sumber: Harian MERDEKA, Jakarta, Rabu, 14 Juli 1982 halaman VII).

( Catatan: Tulisan di atas terpancar sebagai reaksi terhadap pengalaman berpuasa pertama kali di Yogyakarta di tahun 1982. Pada malam pertama bulan Ramadhan  saya berhadapan dengan suasana lain tidak seperti yang saya nikmati di kampung saya di Aceh. Sebagai mahasiswa anak rantau, tentu hati saya gundah-gulana. Panggilan: sahur, sahuur, sahuur …… sahuuurrr! riuh-rendah terdengar di sekeliling kamar kost saya malam itu. Sumber ajakan bangun dan makan sahur ada yang berasal dari Mesjid-mesjid melalui mick pengeras suara atau dari anak-anak muda sekampung yang keliling desa sambil memukul kentongan bambu. Lokasi kost saya adalah di Jalan Kaliurang km 5, Tawang Sari,  Gang Gayamsari sekitar  500 meter sebelah utara Kampus UGM. Berselang sekitar seminggu, muncullah tulisan di atas dalam suratkabar “Merdeka” Jakarta; dan ini merupakan artikel perdana saya dalam koran taraf nasional.Di saat 28 tahun yang lalu  itu, peran tabuhan Tambo   di Aceh  masih amat besar untuk segala urusan bermasyarakat, termasuk selama puasa. Kini, peran Tambo sudah punah di Aceh.  Tabuhan Tambo terakhir yang sempat saya dengar setiap shubuh selama bertahun-tahun di sekitar Kampus Darussalam, Banda Aceh, juga telah ranab/berakhir bersamaan gempuran bala tsunami, Ahad, 26 Desember 2004.Sekarang  di Aceh; panggilan bangun sahur pun melulu dengan mic pengeras suara dengan bunyi panggilan: ” Beudoih beudoih, beudoh( Bangun-bangun) atau jeuem ka poh peuet (jam sudah pukul empat!) atau  poh 2, poh 3 dst.  yang dikumandangkan dari Meunasah dan Mesjid. Jadi sudah sama dengan di Yogyakarta seperti yang saya alami dimalam 28 tahun lalu itu. Hanya sanya, anak-anak muda yang keliling kampung  dan  berteriak: sahurrr, sahuurrr sambil meningkah kentongan bambu masih tetap lestari di Yogyakarta sana!. Usaha salinan komputer akan fotocopy  koran Merdeka, Jakarta  yang sudah liyek akibat air tsunami ini;  turut dibantu ketiga putri-putra saya. Nyang teulot(bungsu) baru sehari pulang dari perantauan sekolah di kampung. Karena “libur puasa” dia berkumpul kembali/ pulang  ke Banda Aceh untuk menyambut Uroe Makmeugang dan Puwasa. Akhirul kalam, saya mengucapkan ‘selamat beribadah puasa’ kepada ummat Islam di seluruh dunia!. Semoga Allah swt menerima segala amal-ibadah kita di bulan mulia ini, Aminn!!!. Senin, 28 Sya’ban 1431 H/ 9 Agustus 2010 H, pukul 16. 55 Wib, T.A. Sakti).

Iklan

5 pemikiran pada “Menyambut Puasa Ramadhan di Aceh

  1. Terima kasih banyak Pak atas tulisannya! Sangat berharga. Saya anak muda kelahiran tahun 1986 yang lahir dan besar di Banda Aceh (di Komplek PGA lama sekarang Komplek Dayah Modern Darul Ulum di Gp. Keuramat) tetapi tidak pernah mengalami suasana keacehan sesempurna yang Bapak ceritakan. Cerita Bapak memberi saya banyak informasi yang berharga. Tetap menulis Pak!

  2. Assalamu-alaikum wr wb. Saleuem meuturi…..

  3. assalamua”kum warahmatunglahi wabarakatuh.lon ureung aceh,seunang that ta baca meunye na kabar tengtang kehidupan ureung aceh di internet nyan merupakan saboh kemegahan bagi kamoe sebagai ureung aceh.muda2han beuna sabe&beumaju. amin ya rabbal a”lamin…….!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s