Buat Biro Perempuan Kantor Gubernur NAD

DROE keu DROE:

 

Buat Biro Perempuan Kantor Gubernur NAD

Pada akhir Oktober 2002, Dinas Kebudayaan Provinsi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) mempercayai saya sebagai salah seorang anggota Dewan Juri Lomba Penulisan (Mengarang) Hikayat Aceh yang diselenggarakan lembaga itu. Lomba mengarang hikayat yang berkaitan dengan “pelaksanaan syariat Islam di Aceh itu diikuti dua puluh (20) peserta dari seluruh Aceh. Semua pesertanya adalah laki-laki.

Dari 20 judul karangan yang saya terima, ternyata 16 orang pengarangnya banyak menyoroti perihal orang perempuan. Prosentase keprihatinan terhadap perempuan ini bervariasi, mulai yang sangat dominan, separuh karangan, dan sampai beberapa bait saja. Fokus “serangan” terhadap perempuan secara umum dapat kita simpulkan yang berkaitan dengan akhlak/perilaku yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam, seperti masalah pakaian, gerak-gerik yang dianggap gatal di depan umum, pamer kekayaan sampai hubungan dengan suami dan keluarga. Sebagai pembaca, kesan yang mengendap di benak saya, bahwa sumber rusaknya Syariat Islam di Aceh adalah dari orang perempuan.

Masalah ini sepantasnya menjadi bahan  masukan bagi Biro Perempuan Kantor Gubernur NAD, yang kini sedang menggebu-gebu ingin memberdayakan perempuan di Nanggroe Aceh Darussalam.

Kalau sampai saat ini (abad ke 21), ternyata pandangan orang laki-laki di Aceh masih seperti tersebut di atas, tentu program-program Biro Perempuan NAD hanya akan berjalan di tempat, tidak mengahsilkan apa-apa. Sebab hampir semua laki-laki menganggap perempuan tetap sebagai pihak yang harus “diajari, dikasihani, tak tahu diri, dan tidak berdaya”. Pandangan pihak laki-laki yang demikian, tercermin dari 16 orang pengarang hikayat tersebut. Kalau pandangan pengarang Aceh sekarang demikian, bagaimana tempo dulu?

Sebagai pecinta sastra Aceh, saya terlah membaca dan mengamati sejumlah hikayat/naskah lama seperti hikayat, nadham dan tambeh Aceh. Ternyata, isinya hampir semuanya “memojokkan” perempuan atau paling kurang menganggap perempuan sebagai pihak yang perlu dikasihani pihak laki-laki.

Dari 26 naskah yang telah saya alihkan dari huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe  ke aksara Latin, hanya naskah Tambeh Tujoh Blaih yang ada “mengajari” orang laki-laki;  yang pada halaman-halaman   sebelumnya telah “mengajari” perempuan yang dianggap kurang ajar. Sayangnya, tulisan yang mengkritik laki-laki hanya terdapat satu bait  permulaan saja — pada naskah fotocopy yang saya miliki — yang tertulis pada ujung halaman bagian bawah. Ternyata beberapa halaman sesudahnya telah hilang/dicopot orang. Saya menduga, pihak yang membuang halaman yang menyoroti laki-laki ini adalah orang laki-laki pula.

Bila menyimak isi naskah-naskah lama yang sebagaimana dikarang berabad-abad yang lalu, yang amat banyak memuji laki-laki, segera member kesan kepada kita bahwa pemberdayaan perempuan yang sedang digerakkan Biro Perempuan NAD hampir-hampir tidak mempunyai akar dalam tradisi kebudayaan Aceh.

Sesungguhnya tidaklah demikian, walaupun dalam jumlah kecil, sebenarnya terdapat pula beberara hikayat Aceh yang tokoh utamanya diperankan orang perempuan. Judul hikayat jenis ini biasanya diawali dengan kata “Putroe (putri)”, seperti Hikayat Putroe Siti Zubaidah, Hikayat Putroe Nurul ‘Akla, Hikayat Putroe Jeumpa, Hikayat Putroe Geumbak Meuh dan Putroe Ijo.

Dalam rangka memperkuat akar budaya Aceh dalam gerak dan kegiatannya, ada baiknya pihak Biro Perempuan NAD mengedarkan kembali hikayat-hikayat perempuan ini. Sayangnya, saya sendiri tidak pernah membaca sendiri hikayat tersebut sampai hari ini. Naskahnya, sungguh amat langka!!!.

 

T. A. Sakti

Banda Aceh

(Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA,Kamis,  27 Februari 2003/Opini).

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s