Lebaran di Tanah Rencong

 

Lebaran di Tanah Rencong

Oleh: T.A. Sakti

Dalam bahasa Aceh, Llebaran disebut  Uroe Raya (Hari Besar). Karena dalam setahun ada dua kali Lebaran, yaitu lebaran Idulfitri dan Idul adha, hingga  dalam bahasa Aceh  dijuluki Uroe Raya Puasa dan Uroe Raya Haji. Mungkin sama dengan  di daerah-daerah lain,    bahwa  Lebaran  Idul fitri lebih semarak dan meriah dibandingkan dengan penyambutan Hari Raya Idul adha. Kegembiraan nampak jelas terbayang di wajah masyarakat semua umur di Idul fitri, sedang waktu Idul adha nampaknya hanya pihak anak-anak saja yang tidak kurang pula gembiranya.

Masih populer di Aceh sebait syair: “geureudam geureudum Tambo dipeh, tanda jadeh Uroe Raya. Ho kadum ureung  Iseulam jak semayang Uroe Raya. Ta meu’ah ta seumah mamandum kawom syedara”(geredam geredum bedug ditabuh, tanda jadi Hari Raya(Lebaran). Wahai semua umat Islam, mari sembahyang  Hari Raya. Bermaafan-bersalaman dengan semua kaum saudara) .

Syair di atas sering dinyanyikan oleh anak-anak menjelang Lebaran.  Mereka cukup gembira, …….  menantikan kapan tibanya hari , si……. ………pakai serba baru ;baju…..sandal baru,di bawa ayah……………..balon (si kumbong) dan…………………………………………………………………yang di rantau juga  pulang………………………………………………………Lebaran. hari baik dan bulan baik (buleun get dan uroe get) lebih ……………………………………ditengah keluarga,kata ……………………………………………semua upacara adat yang………………………………………………semua  anggota keluarga,……………………………………kan sehabis lebaran,mum-…………………………………..balik lagi ke rantau orang…………………pulang waktu lebaran,…………………………lagee aneuk bude, ohleuh diwoele(sungguh bagai……………………………tembakan tak pernah…………………………………………………………………………………………

Mencari siapa yang paling sibuk menjelang lebaran tak ada lain yang dapat kita sebut kecuali para ibu rumah tangga. Mereka mempersiapkan kue-kue Hari Raya, sejak 10  hari  bahkan setengah bulan sebelumnya. Sering terjadi persaingan sehat dengan tetangga dalam hal penyediaan kue ini. Seorang ibu merasa bangga, bila dirinya merupakan orang yang paling banyak jenis kue lebaran dari ibu-ibu lain di desanya. Tetapi keadaan ini hanya terjadi di kalangan ibu- ibu muda, sedangkan bagi nenek nenek(ureueng syik) biasanya memadai dengan membikin “timphan” saja. “untuk apa aku buat kue banyak banyak, kan pokoknya: piasan Rapa-i, khanduri Timphan(kalau kesenian  Aceh: Rapa-i, jika makanan Aceh adalah timphan), begitu celoteh sang nenek dengan senyum bangganya, sambil tangannya gosok gusi ompong dengan tembakau Aceh(cedeut bakong asoe). Timphan, adalah sejenis kue yang sudah diadatkan harus ada di tiap rumah bila menyambut lebaran.

Rasanya, kita kasihan melihat kerepotan kaum ibu memasak kue berhari- hari. Selesai satu, buat lain lagi, hingga sampai sepuluh jenis atau lebih. Disamping jenis-jenis kue modern, kue-kue tradisi dibikin pula. Seperti peukarah, samaloyang, bhoi, bohlu, wajeb, ruti, meuseukat, dhoi-dhoi, seupet kuet, ruti aneuk jaroe, sumpriet, dahlia, ruti bungong, bingkang, tape, timphan dan sebagainya. Yang paling banyak membikin kue adalah ibu penganten baru (Ma Dara baro), karena di Hari Raya mereka terikat tradisi “jak bak tuan” (mengunjungi mertua)

Demikian pula dengan sang Linto baro(penganten pria),ia  juga tidak terlepas dengan sejumlah adat tradisi Lebaran. Sehari sebelum lebaran, ia harus membawa pulang daging Makmeugang(sie Makmeugang) ke rumah Dara baronya. Dan yang paling banyak butuh uang ialah untuk membeli perlengkapan  Peuneuwoe Linto baro(persembahan penganten). Perlengkapan tersebut terdiri dari beberapa setel pakaian, alat-alat kosmetik, sandal bertumit tinggi(silop ceudang-ceudeung), beberapa macam buah-buahan, seikat leumang, haluwa, beberapa ikat sirih  serta bumbu-bumbunya. Kalau selendang harus model terbaru, kain baju dan sarung begitu pula. Sekitar tahun 1963-‘64 selendang “Ibu Fatmawati” mesti dibeli. Dan sekitar tahun 1967-‘69 kain selendang “Ibu Tien” yang jadi rebutan massa. Inilah kepintaran para pedagang tekstil, mencatut nama “Ibu Negara” istri presiden-presiden kita yang sangat populer menurut masanya.

Semua barang bawaan pengantin pria(peunuwoe Linto baro) diperlihatkan kepada ahli kerabat pihak Dara baro. Dan buah-buahan serta makanan lainnya, dibagi-bagikan kepada semua  famili  dan tetangga.

Ada satu tradisi  menjelang Lebaran yang tidak dipraktekkan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh masa kini , khususnya di  Pidie, yakni boeh gaca(berinai). Kalau dulu, kaum ibu, anak-anak baik pria apalagi wanita; jari tangan dan jari kaki mereka diberi inai.  Beberapa malam  menjelang Lebaran  mereka menggiling daun inai (on gaca). Biasanya mereka berkumpul di rumah seorang nenek-tua (nek tuha)  yang  ahli   mengukir inai di desa. Inai dipakai beberapa malam beturut-turut, hingga pada hari Lebaran kelihatan merah bagaikan kesumba. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi orang desa di masa itu.

Akibat perkembangan dan perobahan zaman “berinani” sudah ditinggalkan. Inai sudah diganti dengan memakai “kotek” bagi gadis-gadis. Kalau  pakai inai takut dicap “kampungan – kolot”, kata gadis masa kini.

Begitu pula dulu, gadis-gadis tanggung di desa, rambutnya digunting bagian depan(koh andam) bila Lebaran. Modelnya sama seperti “potong poni”, yakni suatu mode potongan rambut wanita yang juga sudah ditinggalkan belum berapa lama. Berinai(boeh gaca) dan potong poni(koh andam) adalah dua tradisi Lebaran yang lenyap di Aceh(hanya di Pidie?).

Tempo dulu, bila malam Lebaran,  orang laki- laki bertakbir dan bertahmid  memuji ke-Agungan Allah. Takbiran itu ada kalanya diadakan di Meunasah (nama langgar/Surau  di Aceh) atau di mesjid.mereka tidak bergerak kemana. Akan tetapi kalau sekarang,  takbiran sering  dilakukan secara pawai   berkeliling. Kalau di kota-kota, termasuk kota kecamatan di Aceh; pawai takbiran pakai kendaraan. Baik bis umum, mobil pribadi,mobil-mobil dinas,truk-truk dan sepeda motor, sehingga memang ramai dan cukup meriah.  Syiar islam menonjol sekali pada malam Lebaran di Aceh.

Bagi penduduk desa , pawai takbiran sepanjang  jalan desa dengan jalan kaki. Sambil menjinjing (tijik) beberapa  lampu strongking (pretomak), mereka mengelilingi desa. Terkenal dikalangan anak-anak “pawai  let jen”, artinya pawai menghalau iblis dan syaitan di desa.

Allahu  Akbar(3 x)….Laila hailallah Wallahu  Akbar…..  Allahu Akbar Walillahilhamd …. dan seterusnya. Itulah kalimat-kalimat suci  yang merupakan takbir dan tahmid;  mereka dengungkan hingga tengah malam. Rasa keimanan betul-betul meresap  kedalam hati sanubari peserta pawai takbiran di malam Lebaran. Meriah sekali!!.

Pagi-pagi sekali selesai shalat subuh, mereka mandi sunat  Idulfitri. Selesai berpakaian Lebaran yang sudah membudaya,  harus serba baru,  mereka menuju mesjid-mesjid atau lapangan untuk shalat ‘Id.  Berangkat ketempat shalat ‘ Id secara rombongan  jalan kaki, sambil takbiran sepanjang jalan. Sementara itu, bagi Linto baro sebelum  berangkat shalat  Id  lebih dulu melakukan tradisi “seumah tuwan” , artinya bersalaman atau sungkem  dengan kedua orang mertuanya. Yaitu tuan agam dan tuan inong (mertua laki-laki dan perempuan) sambil mencium tangan keduanya.

Di saat itu, sang  mertua memberikan sejumlah uang kepada menantunya. Tradisi ini disebut “teumeutuek keu Linto baro( memberi hadiah untuk penganten)  pada hari Lebaran.  Tradisi ini tidak merata dilakukan di semua daerah. Karena di Aceh, tidak setiap  Linto baro tetap tinggal bersama mertua. Ada daerah, dimana setelah hari peresmian perkawinan, si Linto baro besoknya harus langsung memboyong Dara baro/isterinya ke rumah orangtua sendiri.

Selesai  shalat Idul fitri, baru mulai berbagai acara menurut tradisi. Bagi orang-orang tertentu ziarah kekubur leluhur mereka. Tapi kelihatannya, ziarah kubur di hari Lebaran, kurang membudaya di Aceh. Entahlah dizaman dulu.

Acara yang paling pokok bagi setiap orang, termasuk anak-anak berkunjung kerumah guru ngaji (Teungku seumeubuet) didesa. Sebab di  Aceh,setiap desa ada  Bale Beuet (pesantren kecil ) tempat pengajian anak-anak. Guru pengajian (guree  seumeubeut)  sangat dihormati dalam masyarakat  Aceh. “Tak dhim keu  gurei meuteumei  ijazah, tak dhim keu nangbah geubri hareuta” (Menghormati guru mendapat ijazah, hormat ibu-bapak diberi harta pusaka). Kemuliaan seorang guru disamakan dengan memuliakan kedua orang tua. Ini terkandung dalam sebuah hadih Maja (pepatah) Aceh: “Bunda ngon ayah lhei dengon gurei, ureung  nyan ban lhei wajeb tapeu mulia “(Ibu dan bapak beserta guru, ketiga orang itu wajib dihormati), begitu bunyi dua pepatah Aceh yang menganjurkan menghormati guru serta kedua orang tua.

Sesampai di rumah Teungku (Ustaz), lebih dulu bermaafan-bersalaman dengan Teungku. Cara nya sama saja seperti tradisi salaman lainnya. Setelah menjabat tangan Teungku kemudian tangan kita menyentuhkan pipi sendiri, atau pun meletakkan tangan diatas dada. Tapi yang lebih sopan lagi adalah dengan mencium tangan Teungku, namun sekarang jarang dilakukan orang, karena ditentang oleh sebagian Ulama. Bagi anak-anak kecil, sering dianjurkan “semah bak tuot” (sujud di lutut) Teungku dan orang-orang tua. Ketika menyambut dengan kedua belah tangan sembahan anak-anak itu, para Teungku dan orang tua biasanya mengucapkan:” beu meutuah- meubahgia, bemalem-beukaya (semoga bertuah nasibmu-berbahagia, jadi  orang berilmu dan kaya raya).

Di zaman dalu,  sebagian besar zakat fitrah dibayarkan kepada Teungku pengajian, Keadaan ini telah berlangsung  lama sekali, tanpa ada pihak yang pernah menggugat. Tapi sejak keluar peraturan penertiban zakat; termasuk zakat fitrah dari pemerintah, tradisi bayar zakat fitrah pada Teungku, tak dapat dihapuskan secara tuntas. Setiap orang tua pasti menyisihkan zakat fitrah anaknya  yang masih mengaji, guna nanti diserahkan kepada guru ngajinya(Teungku). Hanya fitrah orang-orang tua saja yang dibayarkan kepada panitia zakat fitrah di Meunasah. Hal ini masih berlaku di desa-desa.

Apalagi nenek-nenek tua, mereka biar bagaimana pun dihalang, pasti diserahkannya kepada Guree(gurunya). “Fitrah keu soe cit geubri meukon keu Teungku, cit ka lagee nyan bak-bak Endatu kamoe”(Untuk siapa lagi diberi Fitrah, kalau bukan untuk guru ngaji, memang sudah demikian praktek leluhur kami);  komentar sang nenek sambil mencibir  Keuchik (Kepala Gampong), yang coba menjelaskan peraturan penertiban zakat fitrah yang berlaku sekarang.

Tempat-tempat pengajian di Aceh diadakan secara sukarela oleh orang-orang yang mau menyebarkan ilmunya. Jadi tanpa gaji tetap bagi   seorang guru.  Disamping banyak Dayah-dayah  besar  yang terkenal di Aceh , banyak pula tempat pengajian kecil-kecilan  di  hampir isemua desa. Kentara sekali; setelah pemerintah (Daerah?)  menerapkan peraturan penertiban zakat /zakat fitrah, pengajian anak-anak  dan Dayah-dayah runtuh dan hapus satu demi satu di tiap desa.

Kenyataan ini mungkin efek samping dari  pengalihan zakat/zakat fitrah bagian hak Teungku kepada panitia pemerintah(Badan Harta Agama/BHA). Keadaan ini patut mendapat perhatian pihak Pemerintah Daerah Istimewa   Aceh, Kanwil  Departemen Agama Daerah Aceh, BHA;  dan pihak-pihak yang prihatin atas kemerosotan “Pesantren Gampong” atau Bale Seumeubeuet di gampong-gampong di Aceh. Sungguh hal ini bahaya atau bala besar bagi Aceh!!!.

Kalau memang zakat/zakat fitrah itu tidak berhak diterima oleh Teungku-Teungku “gampong”, mengapa tidak dicari sumber-sumber lain  bagi ‘sagu hati’ untuk orang-orang yang telah sukarela mengajar anak-anak kita tentang ilmu agama?. – Seperti  gaji resmi dari pemerintah misalnya! -.

Aneh rasanya, bila putra-putri Aceh di masa datang, tidak dapat membaca Al Qur’an. Apalagi  untuk memahami hukum Islam secara memadai. Kalau waktu demikian tiba, berarti gelaran SERAMBI MEKKAH yang masih dilekatkan pada nama Aceh hingga sekarang, sudah boleh dicopot dibuang saja!!!.  Bagaimana hai Teungku Aceh?/hei  ureueng Aceh???.

 

Sumber:  Harian MERDEKA, Jakarta, Jum’at, 30 Juli 1982 halaman VII.

 

(Catatan:  Artikel di atas  aslinya lima kolom dalam koran “Merdeka”. Kolom pertama sudah dirusak air lumpur tsunami, Ahad, 26 Desember 2004. Alinea  pertama saya buang semua. Alenia ke 3 dan 4 disalin seberapa yang tersisa. Sementara kata-kalimat yang hilang ditandai dengan titik-titik. Penyalinan  isi koran ini turut dibantu ketiga putri-putra saya. Bale Tambeh Darussalam, 14 Puwasa 1431/ 24 Agustus 2010 pukul 16.38 Wib., T.A. Sakti ).

 

 

 

 

Iklan

Tunku Abdul Rahman Putera Al Haj, PM Malaysia I Keturunan Aceh!!!

Kunjungan “ Calon”  Perdana Menteri

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………dst…………………………………………………………………………………………………………………………….dst………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………dst………………………………………………………………………………………………………………………..

Dalam tahun 40-an, Dayah Baroe Bueng Asam mendapat kunjungan   seorang pemuda dari Kedah Semenanjung Melayu .Kedatangan sang tamu ini adalah dalam rangka kunjungan keluarga. Kunjungan tersebut,  yang pada saat itu   dianggap kejadian  biasa,tapi sejak tahun 1957,peristiwa kunjungan tadi menjadi suatu sejarah yang perlu diberi catatan khusus. Orang yang mengunjingi Dayah Baro Bueng Asam, Lam Jruen,  Seulimum  ketika Tanah Semenanjung  Melayu mendapat kemerdekaan dari penjajah Inggris tanggal 31 agustus 1957, menjadi tokoh yang paling penting di Malaya.

Beliau adalah Tengku Abdul Rahman Putera Al  Haj,yang memegang jabatan Perdana  Menteri  di Malaysia  selama 13 tahun. Beliau adalah pimpinan tertinggi partai UMNO yang berkuasa di sana masa itu. Pengganti beliau sebagai Perdana Menteri  Malaysia, adalah Tun Abdul Razak bin Datuk Husein (Alm).

Berkaitan dengan negara kita Indonesia,  Tengku Abdul  Rahman terkenal sekali di masa beliau jadi PM Malaysia. Masa itulah terjadi peristiwa sejarah yang terkenal dengan sebutan konfrontasi. Pihak kita pada saat itu sangat menentang  gagasan pembentukan sebuah negara  Federasi Malaysia yang kedalamnya juga digabungkan daerah Sabah di Kalimantan Utara. Setelah   Indonesia dipimpin Presiden Suharto, maka kekeruhan itu dapat dijernihkan kembali. Malaysia dan Indonesia sekarang, telah sama-sama menjadi anggota kelompok negara ASEAN.

SAKSI   mata terhadap kunjungan Bapak Kemerdekaan Malaysia itu, masih hidup hingga saat ini. Beliau adalah istri Tgk.  H.Ibrahim sendiri, yang masih sehat wal afiat sekarang . Tengku Abdul Rahman Putera Al  Haj, sangat berjasa dalam mempersatukan negara-negara Islam. Jalan pertama yang beliau tempuh, yaitu dengan mengadakan MTQ  tingkat Internasional setiap tahun di Kuala Lumpur. MTQ Internasional  adalah negara Malaysia yang merintisnya buat pertamakali. Karena jasanya, Tengku Abdul Rahman pernah diangkat oleh negara-negara Islam menjadi  presiden pertama   Persatuan Negara  Islam Sedunia.  Sekarang beliau bergiat dibidang Dakwah Islamiah di Malaysia.  ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………dst……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..dst……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………dst…………………………………………………………………………………………………

( Catatan: Tulisan di atas dicuplik dari laporan panjang  reporter T.A. Sakti  yang berjudul “Almarhum  Prof. H.A. Madjid Ibrahim berasal dari keluarga Ulama”. Laporan itu merupakan hasil liputan ke kampung asal Gubernur Aceh itu yang baru 15 hari meninggal  ketika itu, yaitu di Lam Jruen, Seulimum, Aceh Besar. Laporan yang banyak membahas perkembangan Dayah  Baro Bueng Asam yang dibangun pertama kali oleh seorang ulama asal Baghdad-Irak itu, telah dimuat secara bersambung dalam Harian “WASPADA”, Medan, pada Selasa, 21 April 1981, Rabu, 22 April 1981, Kamis, 23 April 1981, semuanya di halaman IX. Cuplikan  dari lembaran koran yang lisyek dengan air lumpur tsunami ini,  saya dektekan kepada putra saya yang pertama guna diketik komputer. Bale Tambeh Darussalam,  Kamis, 16 Puwasa 1431/26 Agustus 2010, pukul 15.40 Wib.,  T.A. Sakti).

 

Tambahan kemudian: Sekitar 33 tahun kemudian, pada  hari Ahad, 25 Zulkaidah 1434/1 September 2013 ditemani anak saya, kami datang lagi ke rumah keluarga Tengku Abdurrahman Putera Al Haj di Lam Jruen, Seulimum Aceh Besar. Satu jam lebih saya berbincang dengan Teungku Ainal Mar’iyah ,yaitu adik dari Prof. A.Madjid Ibrahim. Kamis, 5 September 2013. sekali lagi bersama anak disertai seorang wartawan muda dengan sepeda motor, sekali lagi kami menjumpai Teungku Ainal Mar’iyah. Dengan penuh minat, sang wartawan mencatat asal-usul Perdana Menteri Malaysia I itu!. Bale Tambeh, 20 November 2013 pkl 7.05 pagi, T.A. Sakti.

Khanduri Thon

Khanduri Thon

 

Oleh: T.A. Sakti

Khanduri Thon, berarti kenduri tahunan yang diadakan sekali dalam setahun. Seiring dengan berlalunya waktu, maka prosesi  atau tatacara Khanduri Thon juga berubah  mengikuti perkembangan zaman. Namun, prinsip dasarnya masih seperti semula, yaitu  Khanduri Thon adalah sarana seorang/keluarga muslim  dalam bermunajat kepada Allah SWT  dan menjadi ajang memperkuat silaturrahmi sesama hambaNya.

Dalam pengamatan saya sejak kecil, acara Khanduri Thon tidaklah dilakukan oleh semua keluarga, tetapi hanya dilaksanakan oleh keluarga-keluarga mampu  saja dalam sesuatu kampung. Lagi pula tidaklah tetap diadakan setiap tahun, tergantung kemudahan rezeki yang diperoleh di tahun yang bersangkutan.

Bila keluarga yang bersangkutan lebih makmur, kenduri pun lebih besar dan meriah. Sanak famili, sahabat dan tetangga yang diundang pun lebih banyak. Jenis kenduri juga lengkap, yakni ada kenduri siang(khanduri uroe) dan kenduri malam(khanduri malam). . Jika dana terbatas, biasanya orang lebih mengutamakan kenduri malam saja,  sedang pada siang hari hanya diundang

tetengga kiri-kanan rumah , terutama untuk membantu mempersiapkannya(peuhase khanduri). Pada kenduri malam; setelah selesai makan kenduri diikuti acara do’a bersama.

Dalam hal pengisian acara  khanduri malam inilah hadirnya perbedaan antara khanduri malam tempo dulu dengan sekarang.

Sejauh ingatan saya, sampai tahun 70-an acara utama pada khanduri malam adalah pengajian Al Qur’an(beuet Quru’an). Selesai menyantap nasi kenduri, mulailah beuet Quru’an itu. Hampir semua yang hadir ikut mengaji, termasuk anak laki-laki. Beberapa qari terkenal dari sekitar kampung kadangkala diundang pula. Pada kesempatan inilah  anak-anak(aneukmiet) menampilkan kemampuannya membaca Al Qur’an di depan umum. Mereka amat bangga!.  Hal ini, dapat mendorong pula anak-anak yang lain lebih rajin belajar membaca Al Qur’an, agar dapat ikut mengaji di acara kenduri( Jeuet beuet bak khanduri).

Tata tertib pengajian secara berkelompok antara 3-4 orang. Sebelum dimulai, tuan rumah lebih dulu memberitahukan apakah acara pengajian itu sekali minum atau dua, yang dalam bahasa masyarakat disebut neulop/tanggul, yaitu neulop sa dan neulop dua.  Pembukaan Sumon pertama, yaitu  Alham dan Alif Lam Mim dibacakan oleh Teungku Peutuwa(Imam kampung) atau yang paling patut diantara hadirin. Sumon; adalah batas-batas bacaan Al Qur’an per-kelompok. Sumon Innallaha, Atakmuru,Waizqultum, Afatatma’u, Waiza qiilalahum, Manansakhmin,Waizibtala; dan Juz Sayaqulus;  terus-menerus dibaca oleh kelompok-kelompok lain.  Anak-anak(aneukmiet) biasanya kebagian pada Sumon Afatatma,u.

Bila acara beuet Quru’an itu hanya satu neulop, maka pengajian itu langsung diteruskan sampai tamat/selesai pada Juz Sayaqulus. Sementara jika dua neulop, pengajian dihentikan sementara sesampainya pada Sumon Manansakhmin. Di saat jeda itu, beberapa judul Like Aceh atau Kasidah dikumandangkan riuh sekampung. Lalu hidang  minuman pun diangkat orang sebagai neulop pertama.  Juadahnya  terdiri dari beragam kue khas Aceh tempo dulu.

Malah pernah  saya dengar, pada era belum hadirnya minuman kopi dan teh di Aceh – selain ie kahwa/air kahwa yang sangat mahal harganya – dihidangkan pula teubee; potongan-potongan tebu yang sudah dikupas kulitnya. Tugas mengupas kulit tebu ini dikhususkan kepada orang-orang yang tidak menjadi peserta pengajian karena ia tak mampu membaca Al Qur’an. Mereka duduk di belakang pintu, dan hal ini suatu ‘aib!. Maka tak heran, jika dulu ada ungkapan orangtua kepada anak-anaknya: “Hai,  kabeuet beusunggoh-sunggoh, bek jeuet keu ureueng sek    teubee dilikot pinto rumoh gob!(Hai, belajar mengajilah bersungguh-sungguh, agar tidak jadi tukang kupas  tebu di belakang pintu rumah orang!).

Di bagian neulop dua, peserta pembaca Al Qur’an telah dijatahkan bagi orang-orang yang qari atau fasih tajwidnya. Saat inilah tampil para undangan khusus, termasuk pula qari-qari dari kampung tuan rumah. Pembacaan dimulai pada Sumon Manansakhmin atau Waizibtala sampai satu halaman setelah Juz Sayaqulus, yakni pada ayat: “Innash shafa..”. Walaupun jumlah Sumonnya sedikit, tetapi waktu yang dihabiskan cukup lama. Hal ini disebabkan cara  mereka  mengaji  cukup syarat tajwid, lagu atau iramanya yang berdengung, beralun-alun.

Bahkan Lagu Pidie, yang berirama nyaring, keras, melengking; kadang-kadang sempat ditampilkan pula. Bacaan Al Qur’an neulop dua ini baru berakhir lewat tengah malam. Kasidah atau Like tentu lebih meriah serta membahana pada penutupan neulop dua ini.

Acara Khanduri Thon ditutup dengan do’a yang dibacakan oleh Teungku/’alim terpandang.

Disaat para hadirin sedang berdo’a  menadah tangan (leueng jaroe) ; sambil membaca…amin!… muncullah tuan rumah atau yang mewakilinya membagikan sedekah; dengan cara meletakkan di dalam telapak tangan yang sedang menadah/terbuka itu. Kemudian;  sekali lagi para tamu disuguhi minuman dengan hidangan yang lebih “wah”/mewah dari hidangan neulop pertama.

Barulah Khanduri Thon berakhir  ketika  tengah malam telah lewat. Semua tamu beranjak pulang. Pada era belum adanya lampu senter di kampung-kampung, perjalanan malam lebih merepotkan.Namun, tuan rumah telah menyediakan dari awal. Kepada para undangan yang jauh diberikan suwa atau suloh sebagai alat penerang saat pulang. Suwa adalah  ubeue(daun kelapa kering) yang disimpulkan dalam satu ikatan, sedangkan suloh, yakni satu ruas  bambu kecil(buloh) yang diisi minyak serta kain sumbu diujungnya.

Diiringi salam-menyalami dengan tuan rumah atau yang mewakilinya; maka pulanglah para tamu undangan yang jauh itu diterangi  suloh atau suwa yang menyala. Selaku anak-anak, dulu saya sempat merenungkan; sungguh susahnya kepulangan mereka itu.

Betapa tidak, mereka berjalan kaki tertatih-tatih di pematang sawah, melintasi jalan-jalan kampung di malam yang gelap gulita. Kr’ep-kr’op suara itik bertelur(itek toeh boh) terdengar di kejauhan; pertanda malam sudah amat larut. Bila tempat yang dituju sejauh 3 – 4 km, maka tepat disaat ku’uk manok/kokok ayam; menjelang subuh barulah mereka tiba di rumah.

Sejak sekitar tahun 80-an, pemandangan deretan  suwa/nyala  api di pematang sawah lewat tengah malam;  nyaris  tak terlihat lagi. Sebab, acara Khanduri Thon pada malam hari tidak lagi diisi dengan pengajian Al Qur’an(Hanale beuet Quru’an). Selesai santapan nasi kenduri, mulailah acara do’a bersama dengan Shamadiah, berupa membaca selawat, zikir/meurateb, dan qulhu puluhan kali. Bila pun ada pembagian sedekah oleh tuan rumah, lebih sering diberikan dalam amplop.  Paling lambat jam 10.30 Wib.  malam segala kegiatan selesai. Khanduri Thon paling aktual bagi civitas akademika Unsyiah adalah Kenduri Thon di rumah dinas Rektor Universitas Syiah Kuala; Prof.Dr. Darni M. Daud,MA yang dilangsungkan baru-baru ini. Kebetulan saya tak dapat menghadirinya, karena sedang di kampung buat mengadakan Khanduri Thon keluarga pula. Menurut info dari teman-teman, acara Kenduri Thon pada Rektor Unsyiah kali ini cukup berkesan, karena semua menu  masakan khas Aceh dan makanan/kue Aceh serta ditampilkan pula Seulaweuet dan Like Aceh yang dibawakan oleh Medya Hus; seniman Aceh terkenal saat ini.

Para undangan Khanduri Thon sekarang, biar pun jauh   tak sempat lagi mendengar kr’ep-kr’op itek toeh boh(suara itik bertelur) ketika  pulang,   karena jam 10.30  malam memang belum  saatnya itik bertelur. Selain itu, para tamu  pun tidak lagi berjalan kaki.  Sewaktu datang atau pulang mereka menaiki kenderaan;  baik  roda empat atau dua. Seiring dengan hal demikian,  itik pun sekarang tidak ribut lagi  (hana kiroehle)   saat  bertelur. Tidak percaya?.   Silakan teliti dan periksa sendiri!!!.

 

Sumber:  Buletin   WARTA UNSYIAH, edisi Juni 2010.

 

 

 

 

 

Hapuskan saja Penulisan Skripsi!

Hapuskan saja Kewajiban Penulisan Skripsi Bagi Mahasiswa

“Tanggapan dari dosen pembimbing

Oleh:  T. A. Sakti

Tulisan saudara Syamsuddin di Harian Waspada, Jumat, Wage, 29 Maret 2002 halaman 10 (Pendidikan), yang berjudul “Mahasiswa dan Pembuatan Skripsi”; bagaikan “pameran borok/luka lama” yang sangat menjijikkan. Sebagian dari saran-saran resep pengobatan dari sang penulis, memang saya setujui, namun belum tentu menyelesaikan masalah. Dalam hal ini, saya lebih yakin kepada cara pengobatan penyakit tumor, yang salah satunya adalah ” amputasi”. Jadi, ada baiknya kewajiban pembuatan Skripsi dihapuskan saja dari kurikulum pendidikan di Perguruan Tinggi (PT). Sebagai pengganti, tentu banyak jalan menuju Mekkah!.

Luka-luki

Luka-luki adalah istilah dalam bahasa Aceh untuk penyakit luka yang menyebar hampir di seluruh badan, tak sembuh-sembuh, mengeluarkan air yang baunya putoh bulee idong (putus  rambut hidung). Begitulah bandingan suasana penyusunan Skripsi sekarang. Bau busuknya sudah sekian lama menyebar, namun sejauh yang saya tahu belum pernah ada usaha serius untuk mengatasinya.

Terkuak adanya ‘pembusukan’ dalam seluk-beluk penyusunan Skripsi sudah cukup lama. Tindakan perorangan mahasiswa., bisik-bisikannya sudah terdengar sejak saya masih pada semester pertama di PT. tahun 70-an. Sementara munculnya Biro jasa Skripsi baru saya dengar dalam tahun 80-an.

Terungkapnya ‘jalan pintas’ pembuatan Skripsi pada tahun 80-an, telah dilakkukan oleh sebuah koran terbitan Yogyakarta. Waktu itu, seorang mahasiswa dari sebuah PT Negeri di Yogyakarta yang sedang menyusun Skripsi, ternyata menjiplak (menyalin utuh) sebuah Skripsi dari sebuah PT negeri di Jawa Tengah. Sayangnya “tindak pidana pencurian ilmu” ini baru diketahui setelah Skripsi itu disidangkan, dan mahasiswa yang bersangkutan telah dinyatakan lulus dengan pemberian ‘nilai sangat memuaskan’. Baru kemudian, kelulusan itu dibatalkan oleh almamaternya.

Berdasarkan peristiwa itulah, sebuah Tim wartawan dari koran yang bersangkutan melakukan penjelajahan ke segenap pojok kota/kampung di Yogyakarta untuk melacak Biro-biro jasa Skripsi. Sebab, sejak saat itu telah tercium pula, bahwa ‘jalan tol’ penyusunan Skripsi bukan hanya dengan menjiplak Skripsi orang lain, tetapi sudah lebih gampang lagi dengan munculnya Biro-biro jasa Skripsi yang membuka praktek secara sembunyi-sembunyi. Berkat pelacakan itu dijumpailah beragam jenis ‘Biro Jasa’ Skripsi di seantero kota Yogyakarta. Sejak saat itu kharisma kota Yogyakarta sebagai “kota pendidikan” terasa mulai goyah.

Aneka Ragam

Keanekaragaman “Biro Jasa Skripsi” itu dapat terlihat dalam beberapa hal. Pada dasarnya kerja membantu pembuatan Skripsi ini merupakan pekerjaan sambilan seorang sarjana baru yang tengah menunggu adanya pekerjaan tetap. Biasanya, sarjana baru itu sewaktu masih kuliah memang terhitung sebagai mahasiswa yang cerdas, bahkan pernah terlibat sebagai aktivis mahasiswa. Bermodalkan kepintaran dan keberanian itulah ia mencari kehidupan di kota dengan “membimbing” mahasiswa-mahasiswa yang kebingungan menyusun Sripsi. Kamar kostnya sekaligus berfungsi sebagai Biro skripsi.

Bentuk lain dari Biro-biro Jasa Skripsi adalah usaha fotocopy dan menjilid buku. Pemilik Toko atau karyawannya dalam hal ini bertindak sebagai perantara. Sementara yang mengerjakan pembuatan Skripsi adalah sarjana-sarjana yang sudah menjadi anggota dari ‘Jaringan gelap’ itu.

Bidang ilmu yang menjadi garapan Biro ini, tentu lebih luas bila dibandingkan dengan Biro jasa jenis pribadi. Sebab para anggota penyusun Skripsi terdiri dari sejumlah sarjana dari berbagai disiplin ilmu, yang umumnya masih lajang dan belum mempunyai pekerjaan tetap. Kepada Biro jasa Skripsi jenis ini dapat disodorkan beragam Skripsi, baik yang berhubungan dengan ilmu sosial, ilmu eksakta, bahkan bidang agama.

Selain itu ada pula Biro jasa skripsi yang dilakukan seseorang dalam rangka menambah penghasilan. Sebenarnya, orang yang bersangkutan sudah memiliki pekerjaan tetap, namun ia memiliki bakat dalam hal tulis-menulis cukup besar. Maka digunakanlah potensinya itu guna menambah kesejahteraan keluarga. Dalam hal ini, rumah/kamar tinggalnya sendiri juga berfungsi sebagai Biro jasa skripsi. Begitulah bentuk-bentuk Biro jasa Skripsi sebagaimana hasil pelacakan tim wartawan dari suratkabar  yang terbit di Yogyakarta tahun 80-an itu.

Sebagai pembimbing dua (II) yang sudah bertugas lebih sepuluh tahun, kadang-kadang saya pernah menjumpai sodoran calon Skripsi dari mahasiswa yang mencurigakan. Namun dalam hal ini saya tidak mampu berbuat banyak dalam rangka mengungkapkan kebenaran dari rasa curiga itu. Ketidakmampuan ini disebabkan Perguruan Tinggi belum memiliki “Lembaga Sensor Skripsi” atau ‘Pengadilan Skripsi’ serta “Polisi Skripsi”. Dalam kasus ini, sebagai pembimbing II, yakni yang bertugas pertama kali dalam urutan membimbing Skripsi, amat dibuat serba salah oleh “penyakit Skripsi” yang busuk ini!!!.

Mencari Hikayat Peutheun Meurdehka!

Sudah siap!

PEUTHEUN   MEURDEHKA

Gubahan   Ibnu ‘ Abbas

Syair yang dapat membangkitkan semangat perjuangan.

Pengarangnya jadi jaminan.

Pesanlah  lekas!. Dicetak hanya sedikit

a   f  3, ditambah  10 % amal

Penjual :   Pustaka Rakyat

Kutaraja

“Penerbit: Penerangan Umum”

Rep.  Indonesia  D. Aceh

 

Sumber: Suratkabar “ Semangat Merdeka” edisi  no.  26, Selasa, 11 Bulan XII 1945 – 7 Muharram 1365  Th.   1

 

( Catatan: Di benua manakah hikayat dalam iklan di atas masih tersimpan???. Transliterasi huruf dari ejaan Belanda ke EYD; saya dektekan kepada putra saya yang bungsu. Sungguh disayangkan, beribu karya cipta /kekayaan intelektual Aceh sepanjang sejarahnya  telah punah dan hilang;  tak ada pihak yang mempedulikannya!!!. Bale Tambeh Darussalam, Selasa, 17 Agustus 2010/ 6 Puwasa 1431, pukul   12. 21 Wib., T.A. Sakti ).

Mencari Hikayat Semangat Aceh!

Sudah terbit

SEMANGAT   ATJEH

Oleh:  Abdullah Arif

Sebuah buku kecil  ukuran

saku, tersusun dalam syair Aceh

yang indah  bersemangat, menjunjung

Negara Republik Indonesia dan menganjurkan

anti penjajahan.

Harga a   f  1.50

Pesan kepada:

Nyak Raden Toko Baru

No.  130. Kutaraja

 

Sumber: Suratkabar “Semangat Merdeka”, edisi no. 3 Tahun ke – 1     Selasa,   20 Bulan X  1945  – 17 Zulhijjah 1364  halaman 2         Hari ini 2 halaman

 

(Catatan: 1.  Di museum, pustaka, rumah, dan dunia   manakah   hikayat dalam iklan di atas masih disimpan???. Perubahan  dari ejaan lama ke baru; saya dektekan kepada anak saya yang bungsu!.

2.  Di tahun 1983, saya sempat melihat di katalog Perpustakaan Islam, Jalan Mangkubumi, Yogyakarta, bahwa banyak karya  Tgk. Abdullah Arif, MA tersimpan di sana. Masih  adakah hingga sekarang??!!!. Bale Tambeh Darussalam, Selasa, 6 Ramadhan 1431 H/17 Agustus 2010 M, T.A. Sakti)

 

 

 

Iklan Hikayat

Sudah terbit. Buku syair Aceh yang bersemangat SEMANGAT ACEH KE 3 Gubahan Abdullah Arif Jilid ke 1 dan 2 menjadi rebutan para pembaca di seluruh Aceh. Jilid yg ke 3 nya lebih bersemangat dari yang sudah-sudah, karena ia mengan- dung Kisah Prang Sabil, pe- tikan dari hikayat-hikayat Aceh yg lama-lama. Dua kali lebih tebal dari jilid ke 2. Harga f 5 – Beli banyak potong 20 pCt. Pesan kepada Penerbit: ABDULLAH ARIF Semangat Merdeka K.Raja Sumber: Suratkabar “Semangat Merdeka” edisi no. 34, Kemis, 20 Bulan XII 1945/16 Muharram 1365, Th. 1 halaman 2. Catatan: Di tempat mana masih tersimpan hikayat yang disebut dalam iklan di atas???. Penggatian dari ejaan lama ke EYD oleh saya sendiri. Bale Tambeh Darussalam, Selasa, 6 Ramadhan 1431/17 Agustus 2010, pukul 11.44 Wib. T.A. Sakti).