Peranan Aksara Arab Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa

Peranan Aksara Arab Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa

Oleh: T.A. Sakti

Setelah saya menulis ulang hikayat ‘Meudeuhak” dari huruf Jawi ke huruf Latin, dan kemudian dimuat secara bersambung di harian “Serambi Indonesia” beberapa dosen  baru di Unsyiah berdecak kagum. “Kok bisa?”,  tanya mereka.

Saya pun bertanya balik kepada mereka, “Apakah Anda tidak bisa membaca bahasa Jawi?” “Tidak”, jawab mereka. Hampir saya tidak percaya, sebab setiap anak Aceh, sebelum ke universitas umumnya tinggal di desa. Siang sekolah dan malam hari mengaji ke rumah teungku.

Katakanlah, waktu mereka masih SD, menamatkan Muqaddam (Juz ‘Amma) dan al-Quran, tingkat SMP dan SMA mengaji kitab Jawi, seperti Masailal Muhtadi, Bidayah dan Shirathal Mustaqim. Nah, kalau setiap mereka mempergunakan usianya untuk itu, tidak ada alasan untuk “tidak bisa” membaca huruf Arab Jawi, meski sekarang mereka sudah drs, insinyur, SH dan sebagainya.

Huruf Arab Jawi, bukan bahasa Arab, Cuma kita menggunakan huruf itu untuk menulis bahasa Melayu, bahasa Aceh, Jawa dan bahasa-bahasa lainnya.

Semua pujangga tempoe doeloe di Nusantara hanya mengarang dalam huruf Jawi sebelum Belanda memperkenalkan huruf Latin. Raja-raja Nusantara menulis surat untuk Raja Inggris dengan tinta emas dalam aksara ini. Begitu juga buku-buku agama, sastra, dan ilmu pengetahuan umum.

Kitab-kitab yang dikarang dalam bahasa Jawi tersebut dicetak di Bairut (Libanon), di Kairo (Mesir), di Istanbul (Turki), di Baghdad (Irak), di Makkah (Arab Saudi) dan di beberapa kota lain di Timur Tengah. Kitab-kitab tersebut dikirim ke negeri-negeri Melayu dan sampai sekarang masih dikaji oleh para santri dan sarjana Islam.

Ulama-ulama kaliber dunia, seperti Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Abdurrauf, Hamzah Fansury, Syamsuddin As-Sumatra-i/Sumatrany, Syekh Nawawi Banten, Arsyad Al-Banjary dan lain-lain adalah intelektual yang dicerdaskan aksara Jawi.

***

Diplomat besar dan ilmuwan ternama, Haji Agussalim pernah menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi. Dalam buku “Djedjak Langkah Hadji Agussalim”, terbitan Tinta Mas halaman 316 menyebutkan : “…pelbagai partai, perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dengan menerbitkan bacaan-bacaan huruf Latin saja.

Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita”.

Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli dari pada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh pemerintah dan pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka kita semua.

Bukan hanya orang yang beragama Islam, agama Qur’an saja. Bunyi bacaan Qur’an tambah berkurang di negeri kita ini yang memakai nama negeri Islam, seolah-olah tambah berkurangnya paham-paham ajaran Qur’an di hati bangsa kita. Sehingga bagaimana akan akhirnya? Mungkinkah kita akan mendapat kemajuan kebudayaan. Jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudyaan yang sebesar-besarnya itu?”, (Perubahan dari  ejaan lama menjadi EYD oleh penulis)

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas dengan jelas dapat kita pahami, betapa seriusnya masalah aksara Jawi menurut pendapat Haji Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan baha penghapusan mata pelajaran huruf Jawi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia sendiri.

Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia adalah merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kita. Tujuan penjajah adalah untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan Barat pada setiap anak negeri generasi-generasi kemudian. Politik Belanda yang demikian, bertujuan untuk mengekalkan penjajahannya di Bumi Indonesia.

Kebudayaan Nasional

Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara,  yang dilangsungkan di Rantau Kuala Simpang, tanggal 25-30 September 1980 telah menetapkan/memutuskan 8 buah kesimpulan dan 10 butir saran-saran. Bunyi saran no. 9 sebagai berikut: “Di dalam sejarah bangsa-bangsa di Asia Tenggara bahwa huruf Arab yang disebut huruf Jawi telah merupakan huruf resmi dalam berbagai kegiatan komunikasi. Dalam usaha melestarikan dan  mengembangkan kebudayaan nasional, dipandang perlu diajarkan kembali huruf Arab Jawi di sekolah-sekolah” (lihat buku “Sejarah Masuk  dan Berkembangnya Islam di Indonesia, halaman 55 oleh Prof. A. Hasjmy, PT Al-Ma’arif, Bandung (1981).

Timbul pertanyaan dalam hati kita, benarkah huru Jawi itu termasuk dalam kebudayaan kita bangsa Indonesia?, dan adakah fakta-fakta sejarah yang menunjukkan, bahwa huruf (aksara) ini telah pernah berperan sekali di Asia Tengara di masa silam? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas patut kita perhatikan terlebih dulu, bahwa yang menghadiri seminar yang berlangsung di Aceh tersebut terdiri dari ulama-ulama, para ahli sejarah dan pakar kebudayaan. Apalagi, banyak juga peserta seminar dari luar negeri.

Kalau sudah demikian kenyataannya, pastilah setiap keputusan, saran yang dicetuskan telah dipertimbangkan sematang-matangnya. Setiap kalimat, kata dan huruf sebagai isi pernyataan atau kesimpulan; tentunya telah dibahas  bersama. “dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional, dipandang perlu diajarkan kembali huruf Arab Jawi di sekolah-sekolah,” demikian bunyi kesimpulan itu.

Sejarah mencatat, huruf Jawi itu telah pernah menjadi mata pelajaran penting di setiap sekolah di negara kita di masa lalu. Dan dengan demikian berarti pemerintah kita disaat tersebut, mengakui aksara Jawi sebagai kebudayaan nasional Indonesia.

Di masa itu yang mengelola pendidikan dan kebudayaan di negara kita juga sebuah departemen  sebagai sekarang, yakni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

KAYA AKSARA

Negara kita INDONESIA sangat kaya dengan berbagai atribut kebudayaan, termasuk aksara. Sederetan nama-nama huruf (aksara) yang telah pernah dipakai bangsa Indonesia, misalnya: huruf  Pallawa, aksara Nagari, aksara Batak, aksara Jawa, aksara Makasar, aksara Bali dan Latin. Di samping aksara-aksara yang penulis sebutkan, kita tak boleh melupakan Aksara Jawi yang sangat berjasa itu.

Aksara ini sangat berjasa dalam mempersatukan suku-suku bangsa yang mendiami ribuan pulau di nusantara ini, yang sekarang menjelma menjadi beberapa bangsa dan negara, yaitu bangsa Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Mindanau (Filiphina), Pattani (Muangthai) dan Singapura.

Surat menyurat dalam hubungan diplomatik dalam kerajaan-kerajaan di nusantara, selalunya menggunakan aksara Jawi yang berasal dari huruf Arab, yang telah disesuaikan menurut tutur lidah serta logat bahasa-bahasa daerah di nusantara.

Begitu pula para ulama dan cerdik pandai di zaman itu menyebarkan ilmu pengetahuan dengan perantaraan tulisan  Jawi.

Di Aceh penggunaan huruf Arab Jawi di masa itu meliputi dalam soal administrasi resmi kerajaan maupun dalam kehidupan rakyat sehari-hari; tersebar ke segenap bidang kehidupan masyarakat.

Mudah-mudahan di masa mendatang, apa yang telah disia-siakan itu  sanggup disegarkan kembali, sehingga Wasiat Haji Agussalim tidak selamanya kita kuburkan. Semoga!!!.

(Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Banda Aceh, Jum’at, 9 Oktober 1992 halaman 4/Opini)

Iklan

2 pemikiran pada “Peranan Aksara Arab Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa

  1. الحمد الله، سكارڠ انا سداڠ مندالامي حورف جاو. انا سناڠ ، تاڤي كرن تيادا ڤمبيمبيڠ جادي ماسيه باڽق يڠ سالاه، سموڬا ادا يڠ ممبانتو.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s