Keprihatinan T.A. Sakti

Keprihatinan TA Sakti

Saya juga ikut merasa prihatin membayangkan hikayat Aceh yang tiada lagi tempatnya di hati kita orang Aceh. Dan wajar saja kalau TA Sakti, pemerhati sekaligus pengarang hikayat Aceh, harus bersedih bahkan menangis (Serambi, 25/11). Dan sebenarnya apa yang disedihkan oleh TA Sakti adalah kesedihan kita semua. Untuk itu fenomena tersebut jangan dibiarkan berlarut-larut lagi, karena akibatnya akan sangat fatal, yaitu hilangnya budaya-budaya Aceh dari bumi “Serambi Mekkah”  ini. Pada akhirnya bodohlah orang Aceh tentang budaya sendiri dan merasa enggan berbahasa Aceh. Kalaupun masih berbahasa Aceh diucapkan dengan logat tilo-tilo han,. Untuk mempertahankan budaya kita sendiri sudah saatnya semua pihak terkait mengatasinya.

Semua media itu dapat berperan dengan mengadakan acara-acara khusus berbahasa Aceh dan menyiarkan hikayat-hikayat Aceh (untuk media elektronik) dan menyediakan rubrik-rubrik berbahasa Aceh (untuk media massa). Dan kiat-kiat lain yang dirasa perlu.

Kemudian membangkitkan kembali peran-peran badan pekerja seni di Daerah Istimewa Aceh. Mulai sekarang sudah boleh bekerja serius kembali. Jangan hanya sibuk meributkan  dana kesenian yang tidak sesuai Juklak/Juknis. Tapi bersibuklah mempermasalahkan keengganan orang Aceh berbahasa Aceh sekaligus gemar hikayat Aceh, sehingga tidak timbul pertanyaan pakon tuwo bahasa Aceh?. Dan tentunya dalam hal ini yang paling berperan adalah LAKA, DKA, TBA, MPD dan kita semua.

Keprihatinan TA Sakti adalah prihatin kita. Oleh karena itu sudah saatnya pihak-pihak terkait  bangkit kembali melestarikan budaya Aceh yang sangat istimewa, menggemari kembali hikayat Aceh yang sangat berjasa dulu. Jangan hanya pandai mengadakan seminar-seminar budaya dan pertemuan-pertemuan kesenian serta menanti kucuran dana-dana kesenian.

Khusus kepada Serambi Indonesia, sebagai satu-satunya surat kabar daerah Aceh, kiranya dapat membuka rubrik khusus bahasa Aceh selain’ Haba  Bak Rangkang’  dan  ” Aceh  Lam Haba”. Rubrik  khusus tersebut berisi hikayat/panton Aceh yang ditulis oleh orang luar redaksi (bukan dari redaksi). Bagaimana tanggapan redaksi, apakah merasa terketuk dengan keprihatinan ini?.

M. Fuad Abdullah, Aceh Besar

Red: Keprihatinan, keinginan dan saran Anda dalam komentar ini Insya  Allah akan diperhatikan, terima kasih.

Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Jum’at,  5 Desember 1997 halaman 4.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s