Hikayat: Ciri Serambi Mekkahnya Aceh

Hikayat : Ciri Serambi Mekkahnya Aceh

Menangapi dua komentar pembaca, masing-masing berjudul “Muat Kembali Hikayat Aceh”! (Serambi, 9-12-1995) dan “Dukungan Untuk Hikayat Aceh” (Serambi, 23-12-1995); saya akan mengacu kepada sebuah artikel yang dimuat dalam majalah Sinar Darussalam No. 205 Agustus 1993 terbitan Kampus Darussalam, Banda Aceh.

Karya tulis itu bertopik “Sastra, Sisi Serambi Mekkahnya Aceh”, ditulis oleh Prof. A. Hasjmy –Ketua LAKA dan MUI Aceh sekarang ini. Mempedomankan pendapat beliau sangatlah tepat, karena beberapa alasan. Selain dikenal sebagai ulama, sejarawan; Prof. A. Hasjmy juga seorang sastrawan Angkatan Pujangga Baru,- sekaligus termasuk pakar sastra Aceh. Beberapa buku yang mencakup sastra Aceh telah diterbitkannya.

Menyimak tulisan A. Hasjmy berjudul “Sastra, Sisi Serambi Mekkahnya Aceh”, kita segera mengetahui bahwa tradisi hikayat di Aceh telah berlangsung berabad-abad. Setiap generasi selalu produktif menulis hikayat sesuai “permintaan pasar” pada zamannya.

Malah disebutkan, sampai-sampai pada zaman paling gersang pun (di zaman Aceh diduduki tentara Belanda), Tanah Aceh masih sanggup melahirkan putra-putranya yang menjadi Sastrawan Hikayat, seperti Syekh Min Janthoe, Syekh Lah Jeureula dan Syekh Tam Bayu. Pada saat para pujangga asal Minangkabau banyak menerbitkan roman-roman percintaan, seperti novel Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Anak Perawan Diserang Penyamun, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dan lain-lain; maka dengan tangkas Sastrawan Aceh mengalihkan karya-karya sastra itu ke dalam bahasa Aceh dalam bentuk hikayat.

Dewasa ini; tahun 90-an yang merupakan ” saat-saat paling kritis bagi karya baru hikayat Aceh”, daerah Aceh juga tidaklah sepi samasekali dari para penulis hikayat. Dalam hal ini, Prof. A. Hasjmy menunjuk kepada sastrawan Mahyuddin Yusuf yang telah mengarang “Al-Quranul Karim Berwajah Hikayat” dan Drs. Ameer Hamzah yang sangat produktif menulis Hikayat Aceh.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, saya ikut menghimbau Harian Serambi Indonesia ; agar sudi memuat kembali Hikayat Aceh. Kepada Ketua Umum Dewan Kesenian Aceh (DKA) H. Sjamsul Kahar yang juga Pemimpin Redaksi “Harian”  tercinta ini; saya mohon perhatian yang sepantasnya terhadap salah satu bidang seni yang sangat terlupakan : “Hikayat Aceh”.

Sardani MSI

Alumnus Fakultas Adab

IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s