KENEKATAN SASTRA ACEH

Redaksi Yth :

Kenekatan Sastra Aceh

Sekilas setelah membaca tulisan yang berjudul “Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali” (Kompas, Rabu, 9 Februari 2000 halaman 12); langsung terasa ada persamaannya antara nasib sastra daerah Bali dengan sastra daerah Aceh. Kepedulian masyarakat, pemerintah pusat dan daerah nyaris nihil sama-sekali.

Meski sudah bergiat di bidang sastra daerah Bali hampir setengah abad  (sejak 1954), namun hingga kini Gde Dharna belum pernah merasakan adanya perhatian yang serius dari pihak-pihak terkait terhadap kegiatannya. Bahkan untuk menerbitkan hasil karyanya, ia masih perlu membiayai sendiri dengan mencetak dalam bentuk cetakan amat sederhana dan tensilan.

Mudah-mudahan, dengan memperoleh Hadiah Sastra “Rancage” tahun 2000 ini, hati dan jiwa Bapak Gde Dharna bisa sedikit terhibur dan mampu melelehkan segenap kelelahan yang sudah menumpuk di dalam ‘batinnya’ selama setengah abad belakangan ini. Dari Aceh, saya mengucapkan selamat menerima Hadiah Sastra “Rancage” kepada Bapak Gde Dharna di Bali!. Semoga terus tetap berkarya. Ternyata, persamaan antara orang Bali dengan Aceh bukan hanya dalam mengucapkan “huruf T” saja Pak!. Tetapi juga dalam hal nasib sastra daerahnya!.

Walaupun belum sepengalaman Gde Dharna, saya telah menceburi/menggeluti sastra Aceh hampir delapan tahun (sejak 1992). Kegiatan saya lebih bersifat menyelamatkan sastra Aceh lama dari kepunahannya. Kini telah sekitar 30 judul naskah lama sastra Aceh telah saya kumpulkan, baik asli maupun fotocopy. Sebanyak 25 judul dari padanya telah saya alihkan hurufnya (transliterasi) dari huruf ArabMelayu/ Jawi/Aceh: Jawoe ke dalam huruf Latin. Tujuan di “Latinkan”, karena mayoritas orang Aceh sekarang tidak bisa lagi membaca dan menulis dalam huruf Arab Melayu (Aksara Jawoe).

Semula, saya berangan-angan kesemua naskah sastra Aceh –dalam bahasa Aceh- yang telah saya ubah ke huruf Latin, akan saya cetak menjadi buku-buku kecil atau buku saku. Namun, sampai hari ini ketika 25 judul naskah telah selesai di Latinkan yang bisa menghasilkan buku saku setebal 60-an halaman sebanyak 75 jilid, ternyata angan-angan saya belum bisa  terlaksana.

Hingga hari ini, baru 6 jilid yang sudah mampu dicetak dengan biaya sendiri. Bermodalkan 15 mayam emas murni (1 mayam = 3 gram lebih) sebagai dana/ongkos cetak, iklan di koran dan radio amatir; sejak tahun 1997 sekitar 7000 jilid/buah buku hikayat/nazam/tambeh Aceh telah beredar dalam masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya. Paling akhir, tahun 1999  saya cetak karya saya sendiri yang berjudul “Lingkungan Udep Wajeb Tajaga” (artinya: Lingkungan Hidup Wajib Kita Lestarikan).

Secara finansial/materi hasil penjualan buku saku sastra Aceh itu memang tidak menguntungkan –malah rugi, akibat harganya terlalu saya murahkan-, namun hati saya merasa lega, karena ternyata masyarakat Aceh masih mau membaca/mencintai sastra daerahnya.

Upaya mencari sponsor guna mencetak naskah-naskah sastra Aceh telah bertahun-tahun saya lakukan, namun nyaris tak berhasil. Berbagai lembaga terkait, perusahaan-perasahaan besar di Aceh, para konglomerat asal Aceh dan sejumlah perorangan, yang pernah saya mohon bantuan dana, ternyata hasilnya nihil. Baru pada pertengahan tahun 1999, The World Bank Resident Staff  in Indonesia (Jakarta) telah sudi membantu kegiatan saya dengan meminta saya menterjemahkan 4 (empat) buah naskah lama sastra Aceh ke dalam bahasa Indonesia.

Kalau Bapak Gde Dharna yang bergelut dengan sastara Bali, pernah menyesali nasibnya dengan kegiatannya itu –namun terus berkarya, saya sendiri juga menyesali “ujung jari telunjuk saya, kiri dan  kanan” yang tidak bisa dipakai mengetik lagi berlama-lama, karena ia telah terlalu “lumat” akibat kerja mengetik terus-menerus dengan menggunakan kedua jari telunjuk saja!. Padahal masih ada 5 buah naskah lama lagi yang belum selesai saya alihkan ke huruf Latin. Baru sebatas itu penyesalan saya, selama delapan tahun ikut melestarikan sastra daerah Aceh!.

T. A. Sakti

Drs. Teuku Abdullah, SmHk

13 Februari 2000

Catatan:

–         Saya mohon surat pembaca ini bisa dimuat di Hr. Kompas

–         Kalau memang dianggap panjang, boleh saja disingkatkan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s