Surat UU.Hamidy (2) – Pengarang 57 Buku tentang Budaya Melayu Riau

19 – 11 – 1983

Bung T.A. Sakti

Yogyakarta. Saya kembali menerima surat Bung pertengahan bulan ini. Meskipun saya cukup sibuk ; pertama menyiapkan bahan-bahan untuk pembahasan Tradisi Johor Riau, dalam HARI SASTRA 83 nanti di Johor Baharu 10-13 Desember, tugas akademis yang rutin, menulis kreatif, dan mempersiapkan penelitian mengenai Hutan Kepungan Sialang Suku Petalangan di Riau, namun saya tergoda untuk menulis secepatnya kepada Bung. Saya kuatir kalau ditunda, saya lupa.

Pasal Hang Tuah yang dikatakan Sayed Husein Alatas sebagai bajingan agung, itu adalah hasil kajiannya sendiri. Jika Bung mau sedikit berpikir dan menyimak sejarah, hal itu tidaklah  mengherankan.  Jika HT akan dinilai  dari segi kebenaran mutlak – tanpa melihat lenturan kebenaran itu dalam kehidupan sosial – maka tak ada salahnya SHA mengatakan demikian. Perhatikanlah  bagaimana HT berusaha mendapatkan Puteri Gunung Ledang. HT menjeratnya dengan pura-pura mencintai puteri itu, tetapi setelah putri itu jatuh hati, dibawanya ke Melaka, lantas diserahkannya kepada  Sultan Mahmud. Kemudian setelah SM dapat melepaskan nafsunya terhadap puteri jelita itu, maka HT dituduhnya berbuat zina  dengan puteri2 lainnya (yang tentulah juga difitnahkan orang atas sejarah HT menjerat PGL itu sendiri ). Lantas apa hanya yang dilakukan HT ? Dia menerima pembuangan atas hukuman Sang Raja. Untunglah Hang Jebat cukup tahu, bahwa antara raja Melayu dan rakyatnya pernah ada persetihan (sumpah serapah) yang dibuat semasa Demang Lebar Daun  “pantangan bagi rakyat mendurhaka kepada pemimpinnya, tetapi terkutuklah sang pemimpin yang menghina rakyatnya “. Nah, HT tetap berpegang kepada kerat pertama persetihan itu, sedangkan Jebat memegang bagian yang kedua.

Dari keadaan itu, maka HT dapat saja disebut sebagai bajingan, seorang yang telah melakukan tipudaya begitu rupa kepada PGL, demi pemimpin yang rupanya bejat. Tetapi kita hendaklah membaca sejarah, bukan hanya atas kebenaran yang sudah begitu saja, meskipun kebenaran yang mutlak, semisal kebenaran Ilahiah ( dari agama kita Islam ) . Sebagai bandingan Bung lihatlah kasus Husin anak Ali ( cucu Nabi ) di Padang Karbala. Semua sahabatnya yang terpercaya telah memberi nasehat agar jangan pergi ke Kufah ( Irak ) karena rakyat di sana curang. Namun Husin tetap memutuskan berangkat. Malah akhirnya dia tahu utusannya ke Irak telah dibunuh, dan para sahabat sekali lagi menganjurkan balik belakang. Bahkan panglima Al Hur sendiri dari pihak Yazid yang menjadi Khalifah, memandang kasihan kepada Husin, dan menyuruh kekasih Nabi itu  mengambil jalan lain kembali  ke Yaman. Namun Husin tetap keras kepala. Dan  hasilnya dia dipenggal, dan kepalanya diinjak-injak oleh orang Irak. Dari gambaran itu saja ( an sich ) tidaklah Husin terlalu bebal ? Bukankah dengan gambaran itu saja kita bisa mengatakan Husin itu bodoh ?

Pandangan semacam itu jugalah Bung Sakti yang berlaku atas pribadi HT. Dan kalau ada orang membaca  sejarah serupa itu Bung tak perlu gusar. Sejarah bukan harus dibaca dengan cara otoriter, yang hanya  harus dibaca dengan satu tafsir  semacam tafsiran UUD45 dan Pancasila di Indonesia. Sejarah akan tetap dibaca, dan bagaimanapun juga tidak dapat diharapkan bacaan yang senada.Lantas apakah ini maknnya ? Itu bermakna, kebenaran sebagai suatu konsep tidak akan selalu sejalan dengan kebenaran dalam keadaan realitas.

Nah, itulah yang dapat diulas. Dengan ini saya kirimkan sebuah kitab saya kepada Bung, yang agaknya dapat mendorong semangat Bung untuk menulis lebih banyak mengenai alam Melayu.

Wassalam

UU. Hamidy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s