Keprihatinan T.A. Sakti

Keprihatinan TA Sakti

Saya juga ikut merasa prihatin membayangkan hikayat Aceh yang tiada lagi tempatnya di hati kita orang Aceh. Dan wajar saja kalau TA Sakti, pemerhati sekaligus pengarang hikayat Aceh, harus bersedih bahkan menangis (Serambi, 25/11). Dan sebenarnya apa yang disedihkan oleh TA Sakti adalah kesedihan kita semua. Untuk itu fenomena tersebut jangan dibiarkan berlarut-larut lagi, karena akibatnya akan sangat fatal, yaitu hilangnya budaya-budaya Aceh dari bumi “Serambi Mekkah”  ini. Pada akhirnya bodohlah orang Aceh tentang budaya sendiri dan merasa enggan berbahasa Aceh. Kalaupun masih berbahasa Aceh diucapkan dengan logat tilo-tilo han,. Untuk mempertahankan budaya kita sendiri sudah saatnya semua pihak terkait mengatasinya.

Semua media itu dapat berperan dengan mengadakan acara-acara khusus berbahasa Aceh dan menyiarkan hikayat-hikayat Aceh (untuk media elektronik) dan menyediakan rubrik-rubrik berbahasa Aceh (untuk media massa). Dan kiat-kiat lain yang dirasa perlu.

Kemudian membangkitkan kembali peran-peran badan pekerja seni di Daerah Istimewa Aceh. Mulai sekarang sudah boleh bekerja serius kembali. Jangan hanya sibuk meributkan  dana kesenian yang tidak sesuai Juklak/Juknis. Tapi bersibuklah mempermasalahkan keengganan orang Aceh berbahasa Aceh sekaligus gemar hikayat Aceh, sehingga tidak timbul pertanyaan pakon tuwo bahasa Aceh?. Dan tentunya dalam hal ini yang paling berperan adalah LAKA, DKA, TBA, MPD dan kita semua.

Keprihatinan TA Sakti adalah prihatin kita. Oleh karena itu sudah saatnya pihak-pihak terkait  bangkit kembali melestarikan budaya Aceh yang sangat istimewa, menggemari kembali hikayat Aceh yang sangat berjasa dulu. Jangan hanya pandai mengadakan seminar-seminar budaya dan pertemuan-pertemuan kesenian serta menanti kucuran dana-dana kesenian.

Khusus kepada Serambi Indonesia, sebagai satu-satunya surat kabar daerah Aceh, kiranya dapat membuka rubrik khusus bahasa Aceh selain’ Haba  Bak Rangkang’  dan  ” Aceh  Lam Haba”. Rubrik  khusus tersebut berisi hikayat/panton Aceh yang ditulis oleh orang luar redaksi (bukan dari redaksi). Bagaimana tanggapan redaksi, apakah merasa terketuk dengan keprihatinan ini?.

M. Fuad Abdullah, Aceh Besar

Red: Keprihatinan, keinginan dan saran Anda dalam komentar ini Insya  Allah akan diperhatikan, terima kasih.

Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Jum’at,  5 Desember 1997 halaman 4.

Iklan

Peranan Aksara Arab Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa

Peranan Aksara Arab Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa

Oleh: T.A. Sakti

Setelah saya menulis ulang hikayat ‘Meudeuhak” dari huruf Jawi ke huruf Latin, dan kemudian dimuat secara bersambung di harian “Serambi Indonesia” beberapa dosen  baru di Unsyiah berdecak kagum. “Kok bisa?”,  tanya mereka.

Saya pun bertanya balik kepada mereka, “Apakah Anda tidak bisa membaca bahasa Jawi?” “Tidak”, jawab mereka. Hampir saya tidak percaya, sebab setiap anak Aceh, sebelum ke universitas umumnya tinggal di desa. Siang sekolah dan malam hari mengaji ke rumah teungku.

Katakanlah, waktu mereka masih SD, menamatkan Muqaddam (Juz ‘Amma) dan al-Quran, tingkat SMP dan SMA mengaji kitab Jawi, seperti Masailal Muhtadi, Bidayah dan Shirathal Mustaqim. Nah, kalau setiap mereka mempergunakan usianya untuk itu, tidak ada alasan untuk “tidak bisa” membaca huruf Arab Jawi, meski sekarang mereka sudah drs, insinyur, SH dan sebagainya.

Huruf Arab Jawi, bukan bahasa Arab, Cuma kita menggunakan huruf itu untuk menulis bahasa Melayu, bahasa Aceh, Jawa dan bahasa-bahasa lainnya.

Semua pujangga tempoe doeloe di Nusantara hanya mengarang dalam huruf Jawi sebelum Belanda memperkenalkan huruf Latin. Raja-raja Nusantara menulis surat untuk Raja Inggris dengan tinta emas dalam aksara ini. Begitu juga buku-buku agama, sastra, dan ilmu pengetahuan umum.

Kitab-kitab yang dikarang dalam bahasa Jawi tersebut dicetak di Bairut (Libanon), di Kairo (Mesir), di Istanbul (Turki), di Baghdad (Irak), di Makkah (Arab Saudi) dan di beberapa kota lain di Timur Tengah. Kitab-kitab tersebut dikirim ke negeri-negeri Melayu dan sampai sekarang masih dikaji oleh para santri dan sarjana Islam.

Ulama-ulama kaliber dunia, seperti Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Abdurrauf, Hamzah Fansury, Syamsuddin As-Sumatra-i/Sumatrany, Syekh Nawawi Banten, Arsyad Al-Banjary dan lain-lain adalah intelektual yang dicerdaskan aksara Jawi.

***

Diplomat besar dan ilmuwan ternama, Haji Agussalim pernah menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi. Dalam buku “Djedjak Langkah Hadji Agussalim”, terbitan Tinta Mas halaman 316 menyebutkan : “…pelbagai partai, perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dengan menerbitkan bacaan-bacaan huruf Latin saja.

Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita”.

Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli dari pada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh pemerintah dan pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka kita semua.

Bukan hanya orang yang beragama Islam, agama Qur’an saja. Bunyi bacaan Qur’an tambah berkurang di negeri kita ini yang memakai nama negeri Islam, seolah-olah tambah berkurangnya paham-paham ajaran Qur’an di hati bangsa kita. Sehingga bagaimana akan akhirnya? Mungkinkah kita akan mendapat kemajuan kebudayaan. Jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudyaan yang sebesar-besarnya itu?”, (Perubahan dari  ejaan lama menjadi EYD oleh penulis)

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas dengan jelas dapat kita pahami, betapa seriusnya masalah aksara Jawi menurut pendapat Haji Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan baha penghapusan mata pelajaran huruf Jawi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia sendiri.

Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia adalah merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kita. Tujuan penjajah adalah untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan Barat pada setiap anak negeri generasi-generasi kemudian. Politik Belanda yang demikian, bertujuan untuk mengekalkan penjajahannya di Bumi Indonesia.

Kebudayaan Nasional

Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara,  yang dilangsungkan di Rantau Kuala Simpang, tanggal 25-30 September 1980 telah menetapkan/memutuskan 8 buah kesimpulan dan 10 butir saran-saran. Bunyi saran no. 9 sebagai berikut: “Di dalam sejarah bangsa-bangsa di Asia Tenggara bahwa huruf Arab yang disebut huruf Jawi telah merupakan huruf resmi dalam berbagai kegiatan komunikasi. Dalam usaha melestarikan dan  mengembangkan kebudayaan nasional, dipandang perlu diajarkan kembali huruf Arab Jawi di sekolah-sekolah” (lihat buku “Sejarah Masuk  dan Berkembangnya Islam di Indonesia, halaman 55 oleh Prof. A. Hasjmy, PT Al-Ma’arif, Bandung (1981).

Timbul pertanyaan dalam hati kita, benarkah huru Jawi itu termasuk dalam kebudayaan kita bangsa Indonesia?, dan adakah fakta-fakta sejarah yang menunjukkan, bahwa huruf (aksara) ini telah pernah berperan sekali di Asia Tengara di masa silam? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas patut kita perhatikan terlebih dulu, bahwa yang menghadiri seminar yang berlangsung di Aceh tersebut terdiri dari ulama-ulama, para ahli sejarah dan pakar kebudayaan. Apalagi, banyak juga peserta seminar dari luar negeri.

Kalau sudah demikian kenyataannya, pastilah setiap keputusan, saran yang dicetuskan telah dipertimbangkan sematang-matangnya. Setiap kalimat, kata dan huruf sebagai isi pernyataan atau kesimpulan; tentunya telah dibahas  bersama. “dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional, dipandang perlu diajarkan kembali huruf Arab Jawi di sekolah-sekolah,” demikian bunyi kesimpulan itu.

Sejarah mencatat, huruf Jawi itu telah pernah menjadi mata pelajaran penting di setiap sekolah di negara kita di masa lalu. Dan dengan demikian berarti pemerintah kita disaat tersebut, mengakui aksara Jawi sebagai kebudayaan nasional Indonesia.

Di masa itu yang mengelola pendidikan dan kebudayaan di negara kita juga sebuah departemen  sebagai sekarang, yakni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

KAYA AKSARA

Negara kita INDONESIA sangat kaya dengan berbagai atribut kebudayaan, termasuk aksara. Sederetan nama-nama huruf (aksara) yang telah pernah dipakai bangsa Indonesia, misalnya: huruf  Pallawa, aksara Nagari, aksara Batak, aksara Jawa, aksara Makasar, aksara Bali dan Latin. Di samping aksara-aksara yang penulis sebutkan, kita tak boleh melupakan Aksara Jawi yang sangat berjasa itu.

Aksara ini sangat berjasa dalam mempersatukan suku-suku bangsa yang mendiami ribuan pulau di nusantara ini, yang sekarang menjelma menjadi beberapa bangsa dan negara, yaitu bangsa Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Mindanau (Filiphina), Pattani (Muangthai) dan Singapura.

Surat menyurat dalam hubungan diplomatik dalam kerajaan-kerajaan di nusantara, selalunya menggunakan aksara Jawi yang berasal dari huruf Arab, yang telah disesuaikan menurut tutur lidah serta logat bahasa-bahasa daerah di nusantara.

Begitu pula para ulama dan cerdik pandai di zaman itu menyebarkan ilmu pengetahuan dengan perantaraan tulisan  Jawi.

Di Aceh penggunaan huruf Arab Jawi di masa itu meliputi dalam soal administrasi resmi kerajaan maupun dalam kehidupan rakyat sehari-hari; tersebar ke segenap bidang kehidupan masyarakat.

Mudah-mudahan di masa mendatang, apa yang telah disia-siakan itu  sanggup disegarkan kembali, sehingga Wasiat Haji Agussalim tidak selamanya kita kuburkan. Semoga!!!.

(Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Banda Aceh, Jum’at, 9 Oktober 1992 halaman 4/Opini)

Hikayat: Ciri Serambi Mekkahnya Aceh

Hikayat : Ciri Serambi Mekkahnya Aceh

Menangapi dua komentar pembaca, masing-masing berjudul “Muat Kembali Hikayat Aceh”! (Serambi, 9-12-1995) dan “Dukungan Untuk Hikayat Aceh” (Serambi, 23-12-1995); saya akan mengacu kepada sebuah artikel yang dimuat dalam majalah Sinar Darussalam No. 205 Agustus 1993 terbitan Kampus Darussalam, Banda Aceh.

Karya tulis itu bertopik “Sastra, Sisi Serambi Mekkahnya Aceh”, ditulis oleh Prof. A. Hasjmy –Ketua LAKA dan MUI Aceh sekarang ini. Mempedomankan pendapat beliau sangatlah tepat, karena beberapa alasan. Selain dikenal sebagai ulama, sejarawan; Prof. A. Hasjmy juga seorang sastrawan Angkatan Pujangga Baru,- sekaligus termasuk pakar sastra Aceh. Beberapa buku yang mencakup sastra Aceh telah diterbitkannya.

Menyimak tulisan A. Hasjmy berjudul “Sastra, Sisi Serambi Mekkahnya Aceh”, kita segera mengetahui bahwa tradisi hikayat di Aceh telah berlangsung berabad-abad. Setiap generasi selalu produktif menulis hikayat sesuai “permintaan pasar” pada zamannya.

Malah disebutkan, sampai-sampai pada zaman paling gersang pun (di zaman Aceh diduduki tentara Belanda), Tanah Aceh masih sanggup melahirkan putra-putranya yang menjadi Sastrawan Hikayat, seperti Syekh Min Janthoe, Syekh Lah Jeureula dan Syekh Tam Bayu. Pada saat para pujangga asal Minangkabau banyak menerbitkan roman-roman percintaan, seperti novel Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Anak Perawan Diserang Penyamun, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dan lain-lain; maka dengan tangkas Sastrawan Aceh mengalihkan karya-karya sastra itu ke dalam bahasa Aceh dalam bentuk hikayat.

Dewasa ini; tahun 90-an yang merupakan ” saat-saat paling kritis bagi karya baru hikayat Aceh”, daerah Aceh juga tidaklah sepi samasekali dari para penulis hikayat. Dalam hal ini, Prof. A. Hasjmy menunjuk kepada sastrawan Mahyuddin Yusuf yang telah mengarang “Al-Quranul Karim Berwajah Hikayat” dan Drs. Ameer Hamzah yang sangat produktif menulis Hikayat Aceh.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, saya ikut menghimbau Harian Serambi Indonesia ; agar sudi memuat kembali Hikayat Aceh. Kepada Ketua Umum Dewan Kesenian Aceh (DKA) H. Sjamsul Kahar yang juga Pemimpin Redaksi “Harian”  tercinta ini; saya mohon perhatian yang sepantasnya terhadap salah satu bidang seni yang sangat terlupakan : “Hikayat Aceh”.

Sardani MSI

Alumnus Fakultas Adab

IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Sebagian Tulisan Saya di Media-massa

Lampiran

SEBAGIAN TULISAN SAYA YANG PERNAH DIMUAT DALAM MEDIA-MASSA

Penjelasan:

  1. Nama-nama samaran  yang pernah saya pakai sejak mulai menulis di media massa, yaitu: – El Kandy Bucue. –  Nuga Lantui.–  Awak Tunong,- T. A. Soelaihu Bucue.
  2. – T. Abdullah Soelaihu Bucue. – T. A. Sakti Bucue., dan – T. A. Sakti.
  1. Media-massa yang pernah memuat “karangan” saya, yaitu: Hr. Waspada (Wsp), Medan,  – Hr. Merdeka (Mdk) – Jakarta, – Hr. Kedaulatan Rakyat (KR) – Yogyakarta, Sk. Peristiwa (PR), – Banda Aceh, majalah Santunan Kanwil Depag Aceh, Gema Ar-Raniry IAIN Banda Aceh, Bulletin PEUNAWA,  Fekon Unsyiah, KERN,  FT Unsyiah.
  1. Materi/isi tulisan-tulisan saya antara lain mengenai:( 1)  Kebudayaan Aceh,(  2) Dongeng Aceh Atau “Cerita Rakyat Aceh”.

Uraian:

  1. Tulisan yang berkaitan dengan “Kebudayaan Aceh” antara lain berjudul:
    1. Fungsi Ranub Dalam Tradisi Dan Adat-Istiadat Aceh … (Wsp).
    2. Di Bulan Ramadhan:

Wot ie Bu, Suatu Tradisi di Aceh… (Wsp).

  1. Seudati, Lambang Keperkasaan Orang Aceh … (Mdk)
  2. Tari Ranub Lampuan, Lambang Keramahan Wanita… (Mdk)
  3. Khanduri Bulukat.                 (dalam tradisi Aceh)   … (Mdk)
  4. Membaca Dalail Khairat, Suatu Tradisi di Aceh… Dalail Khairat = Dala-E. (Mdk).
  5. Uroe Makmeugang, Suatu Tradisi di Aceh… (Mdk).
  6. Jak Bak Tuwan, Dalam Kehidupan Masyarakat Aceh…  (Mdk).
  7. Bila Khatam al-Quran di Bulan Ramadhan:

Khanduri Tamad Daroih, Mentradisi di Aceh…. (Mdk).

10.  Mengapa Aceh Disebut Daerah Istimewa?. (Bagi pengetahuan kafilah MTQN) ke 12 di Banda Aceh) … (Wsp).

11.  Bagi pengetahuan kafilah MTQN ke-12 asal luar daerah:

Sedikit Tentang “Museum” Aceh. … (Wsp).

12.  Sepucuk Surat dari Syiah Kuala. … (membahas tentang suatu aliran “sesat” yang dianut masyarakat Aceh sebelum Syekh Abdurrauf berada di Aceh. … (Santunan). Kisah ini dimuat dalam “Kitab Jawoe” tulisan tangan yang masih utuh tersimpan di rumah saya. Kapan ditulis (?).

13.  Ikrar Baiturrahman. (Kebulatan tekad masyarakat Aceh untuk mempertahankan gelar “Serambi Mekkah” bagi daerahnya). Diucapkan dihadapan Ketua Majelis ulama Indonesia –HAMKA, bertempat di Mesjid Raya Baiturrahman- Banda Aceh, pada tanggal 12 Maret 1980. … (Gema ar-Raniry).

14.  Mengapa Wasiat Haji Agussalim Dilupakan?. (Tentang kepunahan pemakaian huruf Jawoe/Jawi/Arab Melayu) … (Santunan).

15.  Mencari Jejak Langkah Haji Agussalim. (sama dengan di atas/sda).

16.  Bila bulan Rajab tiba:

Khanduri Apam, Masih Mentradisi di Aceh. … (Wsp).

Karangan yang mengisahkan dongeng Aceh atau Cerita Rakyat Aceh(hampir semua bersumber Hikayat Aceh Kisason Hiyawan) antara lain berjudul:

  1. Pungguk Yang Malang. (mengisahkan tentang pungguk (Jampok) yang usil. mengejek kebodohan  kera.
  2. Pahlawan Cilik dari Tangse. (Tentang kemujuran nasib dua anak kecil kakak-kakak-beradik, yang ditinggalkan kedua orang tuanya di gubuk Rangkang/Jambo pade. Sementara ibu-bapa mereka pergi ke ladang. Seekor harimau besar datang, mengintip kedua anak itu di bawah Rangkang Tanpa bermaksud membunuh harimau, anak yang lebih tua menuangkan labu rebus (boh labu tanoh seu uem teureuboih) ke dalam mulut harimau yang menganga sambil mendongak ke atas hendak menerkam kedua anak tersebut. Akhirnya, harimau besar itu pun mampus. … (Wsp).
  1. Hakim Gandungan. (Mengisahkan pertengkaran antara burung/ticem Tit Lantahit dengan Ticempala Ekbam yang memperebutkan sarang. Mereka minta diadili/dihakimkan (diri) pada seekor kucing petapa (Teungku Syiah). Akibatnya, penggugat dan tergugat sama-sama menjadi santapan empuk “Teungku Syiah” cerdik itu.
  2. Niat Haji Memeluk  Gunung. (Kisah Sitty Rakus yang berperangai rakus (jumoh, raya napsu) dan ia berasal dari tikus. Bermula dari seorang ‘alim: Teungku Syiah yang sangat mendambakan hadirnya seorang anak. Atas kemujaraban do’a beliau, maka seekor anak tikus dapat menjelma jadi seorang bayi yang cantik-mungil. Sesudah besar anak tersebut, yaitu Sitty Rakus berangan-angan kawin dengan makhluk Tuhan yang paling berkuasa/kuat di dunia. Capek Teungku Syiah Kuala mendatangkan bulan, matahari, awan, angin, gunung; dan ternyata yang paling kuat hanyalah tikus. Akhirnya, Sitty Rakus dimohonkan pada Tuhan oleh Teungku Syiah Kuala menjadi TIKUS kembali. … (Wsp).
  3. Menepuk Air di Dulang. (mengisahkan kesetiaan yang konyol antara seekor lembu dengan seekor keledai milik Teungku Malem). Keledai yang goblok mengajar lembu tentang suatu muslihat, supaya si lembu tidak dipakai membajak di sawah setiap hari oleh jongos/khadam Teungku Malem. Akibatnya, akal licik itu menjera sang KELEDAI sendiri. .. (wsp).
  4. Putera Mahkota. (Kisah seorang raja yang mempunyai anak 3 orang laki-laki dan seorang wanita. Sang putri bernama putroe Laila Kandy. Mereka memilih pekerjaan sesuai bakat masing-masing. Anak tertua menjadi prajurit sejati dari suatu kerajaan Antah Berantah. Anak yang tengah menjadi  pegawai/birokrat terpandang di sebuah negeri, sedangkan yang bungsu berprofesi petani cengkeh  yang kaya raya. Ketika mendengar berita bahwa ayahanda mereka Sultan Khalifatul Adil sedang sakit berat, ketiga anak bertuah itu berlomba-lomba pulang dengan berbekal: durian ajaib, kuda sang kilat, dan cermin tembus pandang. Satu orang memiliki hanya satu keajaiban tersebut di atas.  Dalam perjalanan pulang, ketiga calon raja itu bertemu di suatu pertigaan jalan. Kisah berakhir dengan teka-teki siapakah yang berhak menjadi Putera Mahkota pengganti raja yang sudah pikun itu (?). … (Wsp).
  5. Nasib Desa Terpencil. (Kisah rekaan mengenai keadaan desa saya sendiri) … (Wsp).

Karangan khusus dan cerpen “edukatif” sehubungan meninggalnya Gubernur Aceh.

  1. Almarhum Prof. A. Madjid Ibrahim Keturunan Ulama. (Laporan hasil liputan saya yang dimuat Harian Waspada 3 hari berturut-turut).
  2. Cerpen yang judulnya  MA. (Introspeksi diri/renungan seorang mahasiswa abadi di hari ketibaan jenazah alm. Prof. A. Madjid Ibrahim di Banda Aceh dari Jakarta. Bertitik-tolak/bersempena hari penguburan almarhum yang semasa hidup beliau banyak berjasa pada Unsyiah; maka sang mahasiswa abadi itu mulai menyusun tekad untuk “mempersetankan” gelar mahasiswa abadi yang menjeratnya selama ini. Ia bertekad belajar giat, supaya cepat mendapat gelar yang baru, yaitu SARJANA. … (Peunawa).

Mungkin masih ada beberapa judul lagi, naskah karangan  saya yang ada sangkut pautnya dengan ACEH serta kebudayaan masyarakatnya. Namun sayang, judul atau materi bahasannya tidak saya ingat lagi. Maklum saja, mungkin tulisan itu sudah terangkai pada tahun 1979 atau 1981 dan seterusnya; sedangkan hampir kesemua arsipnya tidak terbawa ke Yogyakarta, tapi  tertinggal di Aceh. Hanya arsip tunggal yang turut terlampir menyertai senarai ini yang ikut terbawa ke kota pendidikan dan budaya; Yogyakarta yang tercinta.

Yogyakarta, 13 Rabiul Akhir 1408 H

5 Desember 1987 M

Yang membuat catatan karang-mengarang:

T. A. Sakti

Alias Drs. T. Abdullah Sulaiman BcHk.

Jln. Sunaryo No. 2, Kotabaru, Yogyakarta.

KENEKATAN SASTRA ACEH

Redaksi Yth :

Kenekatan Sastra Aceh

Sekilas setelah membaca tulisan yang berjudul “Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali” (Kompas, Rabu, 9 Februari 2000 halaman 12); langsung terasa ada persamaannya antara nasib sastra daerah Bali dengan sastra daerah Aceh. Kepedulian masyarakat, pemerintah pusat dan daerah nyaris nihil sama-sekali.

Meski sudah bergiat di bidang sastra daerah Bali hampir setengah abad  (sejak 1954), namun hingga kini Gde Dharna belum pernah merasakan adanya perhatian yang serius dari pihak-pihak terkait terhadap kegiatannya. Bahkan untuk menerbitkan hasil karyanya, ia masih perlu membiayai sendiri dengan mencetak dalam bentuk cetakan amat sederhana dan tensilan.

Mudah-mudahan, dengan memperoleh Hadiah Sastra “Rancage” tahun 2000 ini, hati dan jiwa Bapak Gde Dharna bisa sedikit terhibur dan mampu melelehkan segenap kelelahan yang sudah menumpuk di dalam ‘batinnya’ selama setengah abad belakangan ini. Dari Aceh, saya mengucapkan selamat menerima Hadiah Sastra “Rancage” kepada Bapak Gde Dharna di Bali!. Semoga terus tetap berkarya. Ternyata, persamaan antara orang Bali dengan Aceh bukan hanya dalam mengucapkan “huruf T” saja Pak!. Tetapi juga dalam hal nasib sastra daerahnya!.

Walaupun belum sepengalaman Gde Dharna, saya telah menceburi/menggeluti sastra Aceh hampir delapan tahun (sejak 1992). Kegiatan saya lebih bersifat menyelamatkan sastra Aceh lama dari kepunahannya. Kini telah sekitar 30 judul naskah lama sastra Aceh telah saya kumpulkan, baik asli maupun fotocopy. Sebanyak 25 judul dari padanya telah saya alihkan hurufnya (transliterasi) dari huruf ArabMelayu/ Jawi/Aceh: Jawoe ke dalam huruf Latin. Tujuan di “Latinkan”, karena mayoritas orang Aceh sekarang tidak bisa lagi membaca dan menulis dalam huruf Arab Melayu (Aksara Jawoe).

Semula, saya berangan-angan kesemua naskah sastra Aceh –dalam bahasa Aceh- yang telah saya ubah ke huruf Latin, akan saya cetak menjadi buku-buku kecil atau buku saku. Namun, sampai hari ini ketika 25 judul naskah telah selesai di Latinkan yang bisa menghasilkan buku saku setebal 60-an halaman sebanyak 75 jilid, ternyata angan-angan saya belum bisa  terlaksana.

Hingga hari ini, baru 6 jilid yang sudah mampu dicetak dengan biaya sendiri. Bermodalkan 15 mayam emas murni (1 mayam = 3 gram lebih) sebagai dana/ongkos cetak, iklan di koran dan radio amatir; sejak tahun 1997 sekitar 7000 jilid/buah buku hikayat/nazam/tambeh Aceh telah beredar dalam masyarakat di Banda Aceh dan sekitarnya. Paling akhir, tahun 1999  saya cetak karya saya sendiri yang berjudul “Lingkungan Udep Wajeb Tajaga” (artinya: Lingkungan Hidup Wajib Kita Lestarikan).

Secara finansial/materi hasil penjualan buku saku sastra Aceh itu memang tidak menguntungkan –malah rugi, akibat harganya terlalu saya murahkan-, namun hati saya merasa lega, karena ternyata masyarakat Aceh masih mau membaca/mencintai sastra daerahnya.

Upaya mencari sponsor guna mencetak naskah-naskah sastra Aceh telah bertahun-tahun saya lakukan, namun nyaris tak berhasil. Berbagai lembaga terkait, perusahaan-perasahaan besar di Aceh, para konglomerat asal Aceh dan sejumlah perorangan, yang pernah saya mohon bantuan dana, ternyata hasilnya nihil. Baru pada pertengahan tahun 1999, The World Bank Resident Staff  in Indonesia (Jakarta) telah sudi membantu kegiatan saya dengan meminta saya menterjemahkan 4 (empat) buah naskah lama sastra Aceh ke dalam bahasa Indonesia.

Kalau Bapak Gde Dharna yang bergelut dengan sastara Bali, pernah menyesali nasibnya dengan kegiatannya itu –namun terus berkarya, saya sendiri juga menyesali “ujung jari telunjuk saya, kiri dan  kanan” yang tidak bisa dipakai mengetik lagi berlama-lama, karena ia telah terlalu “lumat” akibat kerja mengetik terus-menerus dengan menggunakan kedua jari telunjuk saja!. Padahal masih ada 5 buah naskah lama lagi yang belum selesai saya alihkan ke huruf Latin. Baru sebatas itu penyesalan saya, selama delapan tahun ikut melestarikan sastra daerah Aceh!.

T. A. Sakti

Drs. Teuku Abdullah, SmHk

13 Februari 2000

Catatan:

–         Saya mohon surat pembaca ini bisa dimuat di Hr. Kompas

–         Kalau memang dianggap panjang, boleh saja disingkatkan!

DISIPLIN NASIONAL

Disilpin Nasional

Oleh: T.A Sakti


Bismillahirrahmanirrahim kalam lon mula

Nibak Rabbana rahmat talakee

Beutrang pikiran ilham beuteuka

Syedara lingka beurijang geuthee


Nyoe rubrik baro mula geubuka

Saboh pusaka budaya dilee

Beuneutem bantu tuleh ngon baca

Mangat peunula teuga peureudee


Wareh ngon sahbat peucinta sastra

Neukarang sigra kirem beuteuntee

Budaya Aceh rab layee rata

Duson ngon kuta ka habeh padee


Tanyoe kabeh dok budaya luwa

Trok dalam kamba dum filem lahee

Hanale soe tham tanle soe sangga

Ulama-Umara meuteukui ulee


Ka talo mandang seumangat goga

Mumang keunira talo eleumee

Sabab that canggih digob seunjata

U dalam kamba jilop meuree ree


Majalah” Santunan” ci beurusaha

Peubangket teuma budaya layee

Muatan lokal tansoe bri dana

Buku jih hana bah yum meuribee


Jinoe meunyo na Micut dan Apa

Sya-e geubaca di jambo madee

Ureueng keumade cuco dikata

Sideukah sigra dijok peumalee


Diunyet meunan Keumuen keu yahwa

Masa keu masa bit teuka malee

Ka meunang Kumuen katalo Apa

Takot dikata ban ureueng seudee


Nasib sastra Aceh meunan keuh rupa

Hikayat phonsa Nadlam Tambeh lhee

Di bahsa Aceh tan jeuoh bida

Dalam sikula tansoe peudatee


Hansoe tem turot lagee di Jawa

Bahasa ngon sastra got jipeulagee

Muatan local” geurasi nama

Dalam sikula that geuperureulee


Dua ploh persen kurikulum beuna

Cit yue Negara padum thon dilee

Di daerah gob ka maju rata

Di Aceh saja sang malee-malee


Sabab tan sunggoh lam pura-pura

Nyan keuh budaya dum habeh layee

Bek lagee Got-Got tanyoe syedara:

Nyang tan tamita nyang geujok tamalee


Kata peungantar bah tapeumada

Sang hana gura le ban on kayee

Neubri beureukat teubiet perdana

Allah karonya beumaju teuntee


Disiplin Nasional beugot seumpeuna

Beubandrang cahya bek reudee-reudee

Para sastrawan Aceh mulia

Neukirem karya bek malee-malee


Alhamdulillah nekmat Allah bri

Sihat ngon seu-i meutuka gisa

Disiplin Nasional jinoe tarawi

Geutanyoe kaji seun-seun sibanja


Thoh ’95 bak 20 buleuen Mei

Kebangkitan Nasional Indonesia

Presiden canangkan secara resmi

Disiplin Diri Nasional Kita


Dalam udep nyoe bek bron-bron seu-i

Seupeunoh hati dumpeue keureuja

Bek coh-coh baplueng lagee keudidi

Sang-sang asli sang pura-pura.


Hana jeuet keubuet nyan meunan akhi

Areuta rugi watee teunaga

Na leubeh jeulas cunto bah tabri

Maseng beumeuri bidang usaha


Nyang meugoe di blang miseue peutani

Bijeh ungguli beugetem pula

Seb that usaha mita raseuki

Idin Ilahi hase meuganda


Nyang ladom rakan sayang han sakri

Habeh bak judi peng hak bloe baja

Pade tan pupoek teuntee han meukri

Paleng  raseuki glah bloe haluwa


Peulom geurawat tanna seukali

Naleueng meuriti trok ‘et uram pha

Ateueng tan geutak meusawak gaki

Tikoh meudodi gusong meudoda


Tanoh habeh crah ie tan ji ili

Sabab di Abi geupeu ek hana

Dale meurawoh jeueb warong kupi

Saweue tan geuci seujak phon pula


Pajan cit teulah oh diet raseuki

Na ngon bloe kupi tan ngon bloe saka

Ngon wang sikula dilakee Nyakni

Allahu Rabbi meugriet seungsara


Beudoh syeedara bandum peutani

Disiplin tinggi tanyoe keureuja

Yakin peubuet-buet bekle that cakri

Bak warong kupi bek laloe raya


Budaya malaih buang lam tuwi

Disiplin diri teukat beuteuga

Mudah-mudahan limpah reseuki

Karonya Rabbi udep sijahtra


Bak pemerintah tanyoe pakati

Nasib peutani yakin geubila

Yum barang gampong hasilan tani

Dak jeuet beusabe yum barang “kota”


Meung jitem meuh’ai barang peutani

Deungon seundiri rajin pih teuka

Hana peue tayue tatham han heunti

Malam ngon hari ingat keureuja


Jinoe peue laen kisah ta cakri

Disiplin tinggi aneuk sikula

Barang kapeue buet meunyo tan meukri

Hase pih akhi hantrok ban cita


Ubak sikula yue jakle Abi

Aneuk meudodi bak Jambo Jaga

Napeng SPP geujokle Ummi

Sinyak Putehdi bloe silop “Bata”


‘Oh watee malam lam ula-ili

Hantom meudici mengulang baca

PR hantom na peugot seundiri

Rapor Sinyak Ti dum nilai “saga”


Meunyo lagee nyan hana keundali

Rugoe di Abi, payah digata

Buesoe han peuja teunaga tabri

meunyesai diri ‘oh watee tuha


Wahe adekcut muda ngon mudi

Keu nasib diri ingat beurata

Bina untoeng droe yoh mantong soebri

Na Ayah-Ummi nyang bri beulanja


Bek sabe lale peuseutot tari

Duek nonton tivi tuwo beulaja

Disiplin peukong diri seundiri

Nasib sendiri di tangan gata


Disiplin Nasional meunan areuti

Ngon yakin hati peue takeureuja

Diphon pejabat guru dan tani

Barang peue akhi bidang usaha


Meuseb keuh ‘ohnoe bak T.A.Sakti

Leubeh lom takwi silakan kira

Disiplin Nasional tamat di sini

Hormat  ulon bri meu’ah pat ceula!!


Sumber: Majalah SANTUNAN no.229/1995

Bersifat Malu, Salah Satu Kriteria Kepala Kampung

Kriteria Kepala Desa

Suatu Kajian Perbandingan

Oleh: T. A. Sakti

“Kades Harus Mampu Jadi Imam”, demikian sub-judul berita “Pilkades Digelar Seusai 17 Agustus” (Serambi,Kamis,  4/8- 2005 hlm. 9). Berita yang bersumber dari PJ Walikota Lhokseumawe, Drs. H. Marzuki Muhd. Amin, MM itu lebih lanjut menjelaskan, bahwa “kriteria yang sudah ditetapkan untuk menjadi seorang kepala desa adalah harus mampu menjadi imam shalat”.

Memilih seorang pemimpin dengan penetapan kriteria-kriteria tertentu merupakan suatu kebijakan yang diwariskan leluhur kita. Tentu saja butir-butir kriteria itu akan berbeda dari suatu era ke periode lainnya. Semua perubahan ini bisa terjadi, karena setiap zaman menghendaki pemunculan kriteria baru demi memenuhi tuntutan masa.

Kepala desa adalah tokoh sentral di desa. Kemajuan dan kedamaian suatu desa sangat tergantung dari kecakapan seorang tokoh ini. Karena itu, mewajibkannya memiliki sifat-sifat terpuji adalah syarat mutlak sebagai seorang kepala desa.

Seorang kepala desa harus mampu menjadi imam shalat. Ini merupakan syarat untuk bisa menjadi calon kepala desa di” Lhokseumawe”  yang berlaku sekarang. Saya yakin, satu-satunya syarat yang ditampilkan ini adalah syarat pokok yang tersurat. Tentu banyak syarat yang tersirat lainnya yang tidak tertera secara nyata. Misalnya, bakat kepemimpinan, jujur, rasa kepedulian kepada rakyat kecil dan lain-lain.

Namun, kenapa hanya mampu menjadi imam shalat yang ditonjolkan dalam peraturan yang katanya telah ditetapkan itu?. Jawaban paling aktual yang bisa dikemukakan, yaitu  syarat ini adalah untuk memenuhi syarat kewilayahan yang lebih besar lagi. Yakni merujuk kepada provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD); yang sedang melaksanakan Syariat Islam secara kaffah/lengkap (katanya!): padahal  baru sebatas mampu melaksanakan hukum cambuk saja. Alasan lainnya, lewat kesempatan shalat berjamaah di saat Magrib dan ‘Isya; misalnya sang Kepala desa terbuka kesempatan lebar untuk memberi pengarahan atau pengumuman-pengumuman kepada penduduk desanya. Apalagi sebagai imam shalat, tentu ia bisa langsung berdiri ‘berceramah’;  serta-merta selesai shalat; dan yang lebih penting lagi isi pidatonya akan lebih berwibawa/berkhasiat, karena yang menyampaikannya Teungku Imam Shalat, yang sekaligus Kepala desa itu

Sayangnya, saya belum tahu keharusan mampu menjadi imam shalat itu telah ditetapkan dalam bentuk apa?. Apakah tercantum dalam Qanun NAD, Perda NAD, Perda Aceh Utara, Perda Kota Lhokseumawe, Peraturan di Kecamatan Blang Mangat ataupun hanya berasal dari tradisi turun-temurun saja?.

Qanun Aceh

Tradisi memilih Kepala Desa bukanlah fenomena baru. Usianya telah berbilang abad. Buktinya Kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki aturan tetap pemilihan kepala desa sejak abad ke 16 Masehi. Aturan ini telah bersifat resmi, yakni dalam bentuk Qanun dengan sebutan resminya “Qanun Syarak Kerajaan Aceh Darussalam”.

Sebagaimana berbagai aturan hidup buatan manusia lainnya, Qanun Aceh ini juga mengalami perubahan dari masa ke masa. Pengakuan ini memang tercantum dalam pengantar Kitab “Tazkirah Thabaqat” yang merangkum Qanun-Qanun Aceh itu. Demikianlah, kitab ini sejak Sultan Salahuddin Syamsu Syah di abad ke 16 disalin secara turun-temurun, dan diubah atau ditambah pasal-pasalnya sesuai  kebutuhan  zaman.

Kesempatan paling akhir  penyalinan kitab ini dilakukan oleh Teungku Di Mulek alias Sayid Abdullah Ibnu Ahmad Jamalullail atas anjuran Raja Tuwanku Ibrahim yang bergelar Sultan ‘Alaiddin Mansur Syah pada tahun 1270 H, atau 20 tahun sebelum Belanda menyerang Kerajaan Aceh Darussalam tahun 1290 H/1873 M.

Sejak Februari 2004, kitab yang ditulis dalam bahasa Melayu dan berhuruf Jawi/Arab Melayu (Aceh: Jawoe) ini telah selesai saya salin/alih aksara ke huruf latin agar mudah dibaca oleh generasi muda.

Syarat Kunci

Syarat yang mesti dimiliki calon kepala desa -yang dalam istilah kitab “Tazkirah Thabaqat” disebut Geusyik- boleh dinamakan sebagai syarat kunci. Sebab semua jabatan lain terlebih dahulu juga harus memiliki syarat-syarat ini;  selain harus pula mempunyai syarat-syarat khusus di bidang yang diembannya. Jadi, “syarat kunci”  itu selain berlaku untuk jabatan di bawah Geusyik,  juga diterapkan buat jabatan yang tertinggi dalam kerajaan; terkecuali bagi Sultan Aceh. Jabatan di bawah Geusyik pada masa dahulu sejumlah 10 orang, yakni Wakil Geusyik, Tuha Peuet, Imam Rawatib atau Teungku Meunasah dan 4 orang wakilnya. Sementara jabatan-jabatan di atas Geusyik (Kepala desa) banyak sekali seperti Kadli Malikul Adil/Jaksa Tinggi, Kerukun Katibul Muluk/Sekretaris Negara, Kadli Mu’adham (Hakim Agung), para Menteri, Hulubalang-hulubalang, para Mukim, Panglima Laot dan lain-lain. Maka semua mereka itu wajib memiliki syarat-syarat kunci itu.

Syarat untuk dapat dipilih dan lalu diangkat sebagai Geusyik tersebut 20 (dua puluh) macam kriterianya. Malah, kalau terus diperinci lagi akan menjadi 30 macam. Namun, penyebutan istilah syarat dalam naskah lama ini, kalau dengan istilah bahasa Indonesia modern sekarang bisa bermakna: “Syarat dan Tugas/Kewajiban.

Untuk lebih jelasnya, baiklah saya kutip syarat-syarat tersebut. Karena kitab “Struktur Kerajaan Aceh” itu tertulis dalam bahasa Melayu, maka akan saya kutip secara langsung, karena bahasanya tidak berbeda jauh dari  bahasa Indonesia.

Syarat-syarat calon Geusyik di Aceh tempoe dulu adalah sebagai berikut; yaitu: 1. Berumur sekurang-kurangnya 40 tahun.  2. Bukan bekas ‘abdi pemerdehkaan orang. 3.Mengetahui hukum wajib fardhu ‘ain dan hukum wajib fardhu kifayah.  4. Mengetahui hukum syarak Allah dan hukum syarak Rasulullah, dan hukum syarak Qanun kerajaan Aceh. 5. Mengetahui rukun Qanun kerajaan negeri (negeri Aceh) yang sepuluh perkara. 6. Bersifat malu. 7. Memelihara lidah dari pada perkataan yang keji-keji. 8. Ahli ‘akal bijaksana, luas pikir, paham dalam. 9. Janganlah mendengar khabaran fitnah dan hasutan. 10. Janganlah thamak atas harta orang dengan merampas milik orang. 11. Handaklah memperdamaikan orang yang berkelahi, bantah dakwa-dakwi dalam Gampong, yaitu Hukum dan Adat dan Resam, dan Qanun pada masing-masing hak, sekali-kali jangan bertukar-ukar. 12. Hendaklah menyembunyikan rahasia dirinya dan rahasia rakyat Gampong pada tiap-tiap yang keji, yang memberi ‘ayib kejahatan sehingga jadi sampai haru-hara. 13. Dapat menikahkan orang dalam Gampong, apabila perlu datang masanya. 14. Qari dan fasih membaca Fatihah waktu jadi Imam Sembahyang Jamaah. 15. Dapat menunaikan fardlu kifayah, yaitu memandikan mayat, mengafani mayat dan jadi imam sembahyang mayat dan lain-lain. 16. Dapat menahan amarah serta sabar atas kepayahan. 17. Jangan bersetia  dan jangan bersahabat dengan orang yang jahil dan jahat perangainya. Tetapi wajib dengan  menghardik dengan memberi nasehat dengan mempertakut mereka itu. 18. Dapat membahagikan harta zakat fitrah yang ada dalam Gampong; masing-masing HAK bahagian delapan; seperti perintah Allah dan Rasul Allah, dan jangan merampas Hak Fakir-Miskin; mempergunakan pada tempat lain-lain yaitu memperbuat Mesjid-Mesjid dan Madrasah-Madrasah, atau memperbaiki sekalipun. Maka haramlah kerjanya itu, maka hukumnya yang demikian dhalim, maka yang boleh diambil satu saja, yaitu “Bulueng Meu-Utang” namanya; buat keperluan memperbaiki yang tersebut. 19. Peliharalah dirimu dari pada seterumu, dan musuhmu dengan lemah-lembut bijaksana. Dan 20. Janganlah berkhianat kepada sekalian manusia yang Islam atau kafir, baik lahir atau  bathin”.

Mendaur Ulang

Dewasa ini zaman PILKADA, namun saat ini juga sedang berlangsung era krisis kepemimpinan yang sangat parah. Di mana-mana media-massa melaporkan kejahatan tindak korupsi. Kebanyakan korupsi ini dilakukan para pemimpin. Saking banyaknya para koruptor ini, maka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkesan sudah kewalahan menanganinya. Sebab, ketika satu tindak korupsi sedang ‘dipreteli’;  ternyata sudah muncul 1001 (seribu satu) kejahatan korupsi lainnya. Seandainya; raja dalam cerita “Seribu satu malam” masih hidup, maka kepadanyalah yang paling baik kita serahkan para koruptor ini.

Sampai saat ini belum ada ‘obat mujarab’ untuk menangani tindak korupsi yang menyeluruh dan memadai. Oleh karena itu; kita sering mendengar banyak pihak yang menyarankan agar materi pendidikan agama dan akhlak lebih ditingkatkan di lembaga-lembaga pendidikan. Diharapkan, dengan bimbingan iman dan taqwa seseorang akan mampu mengendalikan dirinya dari kejahatan korupsi yang dilarang Tuhan Yang Maha Kaya.

Selain itu; sebagai peminat budaya dan sastra Aceh; saya ikut menyodorkan ‘obat mustajab’ lainnya; yaitu hendaknya semua naskah-naskah lama yang msih tersisa supaya ‘didaur ulang’ kembali. Hasil dari penyaringan ini dapat dijadikan sebagai benteng batin bagi masyarakat pada umumnya, dan bagi para pemimpin khususnya. Ah, jangan buru-buru elergi dulu; sebab kitab ‘Tajussalatin” (Mahkota Raja-raja) yang berasal dari Aceh; pada abad ke 18 dan 19 juga dijadikan menjadi pedoman ‘Memerintah’ oleh raja-raja dan para Sultan di Jawa, Singapura dan di negeri-negeri lain di Nusantara ini(Baca : Denys Lombart,”Kerajaan Aceh- Masa Sultan Iskandar Muda”).

Patut kiranya saya tambahkan, bahwa dalam kitab Tazkirah Thabaqat : Geusyik, Wakil Gesyik, Tuha peuet, Imam Meunasah dan empat orang wakilnya pada masa dulu tiap-tiap bulan menerima  gaji  (tadah)  dari Kerajaan Aceh Darussalam; yakni masing-masing mereka sebanyak setengah  tahil dua mas; yaitu  dua ringgit dua mas. Berapa kalau dikurs/diukur dengan uang rupiah sekarang?. Wallahu ‘aklam!!!

* Penulis adalah peminat budaya dan sastra Aceh; tinggal di Banda Aceh.

T. A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah; Sm. Hk)

11 – 8 – 2005