AYO MENULISKAN ACEH DI INTERNET!

Ketika Setahun Jadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2010

“AYO MENULISKAN ACEH DI INTERNET”

Oleh: T.A. Sakti

Begitulah bunyi tulisan sebuah poster yang terpampang berhari-hari di sudut perempatan dekat Gedung ACC Dayan Dawood – Gedung Gelanggang Mahasiswa A. Madjid Ibrahim di Kampus Darussalam, Banda Aceh. Poster itu merupakan pengumuman dari Panitia “ Seminar Menulis dan Blogging” yang ditaja oleh Komunitas Aceh Blogger serta didukung oleh Ford Foundation,UNDP, Small Grant Programme Indonesia, Air Putih Palapa, Global Environment Facility, dan lain-lain. Pembicara pada seminar itu berasal dari Tempo Institut, Acehkita, Dokarim; akan berlangsung di Gedung ACC Sultan II Selim, Banda Aceh, hari Rabu tanggal 22 April 2009 dari jam 09.00 s/d 15.25 Wib. Pada acara seminar sehari itu juga sekaligus diluncurkan dua blog, yaitu http://www.acehjourney.net dan http://www.acehpedia.org

Sejak pertamakali melirik undangan terbuka itu, saya langsung berminat mengikutinya. Sebelumnya, saya sudah dua kali tidak jadi naik ke lantai 2 Gedung ACC Sultan II Selim. Saya sudah hadir di situ – sebagai peserta seminar dan peluncuran buku anak-anak – tetapi batal naik ke tempat acara karena belum dipasangnya tempat pegangan pada tangga luar di sebelah utara.

Akibat dorongan batin hadir ke seminar “internet” amat kuat – karena masih sangat awam mengenainya – maka sebelum hari ‘H’, saya telah datang ke gedung itu mengamati ulang. Ternyata pada tangga luar ke lantai atas sudah dipasang kerangka pegangannya. Ditemani tukang ojeg/RBT – Rakyat Banting Tulang – , saya berhasil naik ke tempat acara, malah lewat tangga di dalam gedung yang saya tidak tahu sebelumnya. Saya duduk pada deretan kursi baris ke 2 di belakang panitia dan pejabat terkait. Ternyata saya adalah peserta tertua dari semua yang hadir. Sementara yang lain para mahasiswa/i semester 1, 2, 3 dst. dari berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh. Selesai mengikuti perbincangan 3 narasumber pada sesi I dan sebentar dengan sesi II saya pun pulang; menuruni tangga dengan dipapah teman RBT – saat itu hati saya berjanji tidak akan naik lagi ke lantai gedung itu -. Tangganya terlalu tegak, dan amat merisaukan bagi saya yang kaki kanan patah hampir  25 tahun lalu.

Sekembali dari “Seminar Menulis dan Blogging”; niat saya untuk ‘menulis Aceh di internet semakin kuat’. Namun, rasa ragu tak pernah hilang pula, bahwa tulisan kita dalam blog amat gampang akan menjadi milik orang lain. Setelah hampir sebulan ‘bolak-balik’ bergumul dalam benak sendiri, saya pun bertanya kepada belasan sahabat-tuan guru yang saya anggap lebih paham hal itu. Lewat sms saya bertanya tentang untung-ruginya jika tulisan kita – terutama hikayat – dimuatkan ke internet. Hanya 4 orang yang menjawab. Sahabat yang satu mengatakan: “nyan get that, bah dibaca ban sigom donya!”( Itu ide bagus, biar dibaca orang di seantero dunia!). Sahabat yang kedua tidak sependapat. “Bek neu pasoe, karangan tanyoe lam internet mudah that dicokle gob!”(Jangan dimuat, tulisan kita di internet amat mudah diambil orang!). Lain pula tanggapan tuan guru(guree) saya. “ Nyang galak keu ie kayat/hikayat ureueng-ureueng gampong, meutapi ureueng nyan hana muphom mat internet. Awak nyang kayem mat internet, di ureueng nyan hana galak keu hikayat!”(Yang masih menggemari hikayat adalah orang-orang kampung, tetapi mereka tidak pernah membaca di internet. Sementara orang yang sering buka internet, umumnya mereka tidak mengenal hikayat lagi!). Tuan guru saya yang seorang lagi amat setuju.” YML Tengku. Nyan but jeuroh teuhat!”( Yth. Teungku. Itu hal/kerja yang amat baik).

Akibat pro-kontra kekuatannya berimbang, lagi-lagi saya sendirilah yang harus mengambil sikap. Rugi dan sia-sia nampak di mata. Perhitungan kasar, jika tulisan kita di internet diambil orang berarti RUGI. Sementara bila karangan – cae dan hikayat – tak ada penggemarnya jadilah SIA-SIA atau PERCUMA sahaja. Namun, ada pula teman yang membisiki saya janganlah ‘berdagang’ dengan takaran laba-rugi; tetapi sebagai amal kebajikan. Sejuk pula hati saya dengan argumen itu.

Setelah hitungan ‘bisnis’ dapat dinetralisir dengan kegiatan amal; terganjal pula masalah teknis pemuatan karya di internet. Bertanya lagi saya kepada sejumlah sahabat. Menjelang pertengahan bulan Juni 2009 barulah timbul titik terang. Rakan yang mendukung:” nyan get that, bah dibaca ban sigom donya!” tersebut di atas memberi solusi. Ia menunjuk /minta tolong pada temannya untuk membantu saya. Ternyata temannya itu sahabat saya pula. Kloplah sudah!. Setelah kami sepakat, hari, waktu dan tempat bertemu pun ditetapkan. Hari Kamis  jadi pilihan, sedang waktu sekitar jam 10.30 selesai teman saya itu keluar mengajar jam pertama. Sementara tempat yang nyaman adalah Kantin FKIP Unsyiah – yang sekarang sudah dibongkar dan dibangun Gedung Induk FKIP baru yang diresmikan dalam bulan Mei 2010-. Sekarang, Kantin FKIP Unsyiah sudah dipindahkan di depan RKU 4 Unsyiah.

Berbekal sebuah Laptop pinjaman, bersama teman RBT datanglah saya ke sana. Sementara teman yang mau menolong saya juga sudah berada di kantin itu. Setelah diisi semua “persyaratan” dimuatlah karangan saya yang pertama berjudul: Kado Tahun Baru 2009 : “Kini Gudang Hikayat itu Nyaris Kosong!”. Hari itu Kamis tanggal 18 Juni 2009, yang hari ini  Jum’at, 18 Juni 2010: Genaplah Satu Tahun!.

Pemuatan tulisan selanjutnya lewat wartel. Biasanya, sepulang dari kampus bersama teman RBT saya mampir ke sebuah Wartel dekat pintu gerbang kampus Unsyiah. Dengan membayar Rp.10.000, sejumlah judul syair Aceh/Cae telah termuat ke dalam blog saya. Hal demikian saya lakukan berkali-kali. Kebanyakan Cae Aceh yang diisi ke internet pada bulan-bulan awalnya berupa syair Aceh tentang binatang/burung yang sudah langka/punah di Aceh, baik burung kampung atau persawahan. Selain itu, kadang-kadang pengisian Cae atau artikel terlaksana atas bantuan orang, karena saya masih “canggung” dengan yang namanya komputer dan internet. Sejak 7 Juli 1979 sampai saat tsunami, 26 Desember 2004; apapun yang saya tulis tetap menggunakan mesin tik “Under Wood” made in Spain. Lama kelamaan, saya pun bisa mengisi sendiri berbagai syair Aceh/artikel atau hikayat/tambeh ke dalam blog saya: http://www.tambeh.wordpress.com

Kini, 172 tulisan saya sudah ikut mengisi dunia internet. Dalam hal ini, pertama-tama saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pimpinan “wordPress.com” – yang tidak saya kenal -, tapi telah memberi kesempatan gratis kepada saya untuk menulis di ‘mesin’ beliau yang canggih itu!!!. Kalau bukan gratis, niat akrab dengan internet mungkin sebatas ‘mimpi’ saja. Seterusnya, juga saya sampaikan salam dan terima kasih kepada teman, sahabat dan tuan guru yang telah memberi pertimbangan dan dukungan bagi saya dalam melayari pikiran di dunia maya. Salam hormat saya tujukan pula kepada teman-sahabat-tuan guru yang sudi membuka, membaca, serta menanggapi isi blog tambeh. Segala perhatian itu akan mendukung semangat saya agar niat berhenti dari kegiatan blogging ini mencair kembali.

Terus-terang saya akui bahwa saya amat awam dengan dunia internet. Sampai saat ini saya masih ragu,apakah penunjukan jumlah orang yang telah membaca/membuka karya kita di internet benar-benar kenyataan atau hanya olahan mesin internet semata. Keraguan itu dipicu, bahwa semakin hari semakin banyak pecahan-pecahan judul tulisan kita di layar internet yang bukan buatan kita sendiri. Begitu pula dengan “Pencarian Terbanyak”, topik-topiknya selalu muncul beriringan dengan judul/isi bahan yang baru kita postingkan.Padahal sebelumnya belum pernah tampil. Itulah sebabnya timbul pertanyaan di hati, bukankah pemilik tulisan dalam blog sedang ‘ dipermainkan’ oleh mesin canggih itu!?.

Keberhasilan dari kegiatan internetan saya selama setahun teramat kecil. Tujuan utama dari awalnya adalah menggairahkan kembali sastra Aceh yang nyaris punah dalam kehidupan kita hari ini. Khusus mengenai hikayat, nadham, tambeh dan Cae Aceh; termasuk bagian sastra Aceh yang saya geluti sejak tahun 1992. Tapi yang terjadi, bidang khusus itulah yang amat kurang peminatnya. Dalam pengamatan saya selama setahun, hanya cae cicem dalam blang, hikayat kisason hiyawan,hikayat gomtala syah,dan tambeh tujoh yang pernah disentuh orang dengan hitungan tak sampai 5 kali bagi setiap judulnya. Sementara puluhan judul cae lainnya sama sekali belum muncul peminatnya.

Dengan posting cae Aceh ini, dulu saya berkhayal mudah-mudahan ia dapat dijadikan sebagai “Bahan Lomba/Pertandingan Baca Cae Aceh” bagi masyarakat Aceh di mana saja mereka berada. Atau menjadi “Bahan Lomba Melukis Bagi Anak-anak Aceh” tentang burung/binatang yang langka itu. Ternyata hasilnya nihil belaka! Padahal saya juga sudah berangan-angan(Aceh: cet langet), bahwa Insya Allah pada suatu saat nanti blog tambeh bukan hanya terisi dengan puluhan judul hikayat,nadham, tambeh,cae dalam huruf Latin, tetapi dilengkapi juga dengan huruf Arab Melayu/ Tulisan Jawi/dan harah Jawoe pula. Artikel yang paling tinggi peminatnya berjudul “Peran Suratkabar Semangat Merdeka dalam Perang Kemerdekaan RI di Aceh (1945 – 1949)”. Dapatlah disimpulkan, bahwa tujuan pengisian blog tambeh dalam setahun ini telah gagal jadinya.

Benarlah apa yang “dinasihatkan” tuan guru saya, bahwa “ureueng yang mantong galak cae-hikayat di gampong-gampong, tapi ureueng nyan hana meuphom internet. Awak yang meuphom internet hana galakle keu hikayat!(orang yang masih mencintai cae-hikayat tinggal di kampung-kampung, tetapi mereka tidak memahami internet. Sementara yang sehari-hari menggeluti internet tidak tertarik lagi pada hikayat) ”, seperti telah saya singgung di pertengahan tulisan ini Begitu juga, terbukti pula nasehat sahabat saya yang menyebutkan, bahwa “tulisan tanyoe di internet mudah that dicokle gob!”(tulisan kita di internet amat mudah diambil orang!). Kenyataan dalam setahun ini memang demikian. Sebagian besar isi blog saya telah berpindah pada blog orang lain. Ada yang dimuat dalam blog khusus cae, blog khusus hikayat atau diambil judul-judul tertentu saja. Memang ada yang minta “permisi”, tetapi ada pula “nyang hanakom hana salam!”(tidak memberi tahukan!). Namun yang lebih parah lagi adalah yang membuang/hapus nama saya sebagai penulis karangan itu.Misalnya, pada tulisan cae yang berjudul “Aceh-Malaysia”; nama saya(T.A. Sakti) diujung karya itu telah dihilangkan!. Ada lagi yang mengambil tulisan saya yang langsung dijadikan karyanya sendiri dengan hanya ‘mengubah’ satu baris saja. Ini berlaku pada karangan yang berjudul “Ayo Memburu Qanun Meukuta Alam!.”. Ada yang lebih mengiris hati lagi, karena pada blog yang sumber isinya dari saya telah bertengger  iklan-iklan bagaikan usaha dagang!.

Akibat semua itu, satu judul hikayat yang sudah siap dalam flashdis; saya tunda dulu postingnya ke dalam blog tambeh. Seterusnya,nyaris padam pula semangat saya untuk menyalin- ulang berbagai judul hikayat ketikan biasa dengan ketikan komputer agar dapat diposting ke blog. Apalagi tenaga fisik atau dana pun tidak saya miliki lagi buat tujuan itu. Sebelum jadi berhuruf Latin, hampir semua hikayat itu berhuruf Arab Melayu/Tulisan Jawi atau harah Jawoe dalam bahasa Aceh. Hanya tiga judul yang sejak awal sudah ber huruf Latin ejaan Belanda, karena telah dialihaksarakan oleh orang Belanda – yaitu Hikayat Malem Dagang, Hikayat Ranto dan Hikayat Teungku Di Meukek – , kemudian sudah saya ganti ke dalam huruf Latin ejaan EYD. Kesemua hasil transliterasi huruf itu lebih 6700 halaman, yang mengandung 6 bait setiap lembarannya. Karena tak mampu tercetak di dunia nyata -diterbitkan sebagai buku -, maka saya bermaksud mengalihkannya ke “dunia maya”. Ternyata kegagalan menghadang pula. Kesimpulannya, bagi urusan hikayat; kalah di darat dan di udara!{ Aceh: Lam urosan hikayat ,  di laot – darat sabe  dalam  jra!}.

Kegiatan alih aksara huruf Arab Melayu/ Tulisan Jawi/Jawoe ke huruf Latin dari naskah lama Aceh; tidaklah mudah.Kadangkala pada siang hari pun, saya mesti pakai lampu senter guna memperjelas tulisannya. Ini saya lakukan bila rupa naskahnya sudah mengembang dawat/tintanya, kertas telah dipenuhi bintik-bintik hitam, berlobang dan rontok-keropos. Alhamdulillah, hingga saat ini sudah 32 judul – tebal dan tipis – sudah selesai saya ganti hurufnya dari Arab Melayu/Tulisan Jawi/Jawoe ke huruf Latin.

Hanya sebagai “ jalur pelarian” sajalah – akibat kaki patah tak dapat lari ke sana-sini – saya memilih kegiatan alih aksara naskah Aceh sebagai pengisi waktu senggang!. Aceh:”hana buet mita buet, cok palaken cilet bak pruet”( gara-gara tak ada kerjaan, apa pun dibuat saja,biar pun tak menghasilkan uang).

Memang tujuan awalnya tak tercapai, yakni tercetaknya buku-buku hikayat dari hasil transliterasi yang sudah berhuruf Latin. Tapi apa mau dikata, saya sudah terlanjur bertindak nekad. Saat sekarang; hampir semua hasil alih aksara itu hanya tersimpan di lemari tua, menanti kepunahannya.

Pada peringatan setahun ‘berblogging’ ini, saya tak lupa mengucapkan salam hormat dan terima kasih yang takdhim kepada Tan Sri Sanusi Junid yang amat peduli dengan kehadiran blog Bek Tuwo Budaya ini. Dalam sebuah tanggapan { 24 Januari 2010} beliau menulis: “ulontuan meundo’a beu mandum ureung Aceh nyan na di Malaysia akan geu baca blog Bek Tuwo Budaya”. Kesediaan mempersandingkan blog Bek Tuwo Budaya dengan blog beliau “sanusijunid.blogspot.com” pada kelompok ‘Foreign News’, jelas-jelas memberi pencerahan yang amat dalam bagi batin saya. Selagi blog Bek Tuwo Budaya masih berupa ‘ide’; Tan Sri telah menyokongnya dengan jawaban beliau:”YML Tengku, nyan but jeuroh teuhat”. Sebenarnya, cara persandingan seperti yang dibuat Tan Sri Sanusi Junid itulah yang paling saya sukai dan hormati. Yakni langsung dihubungkan secara penuh, utuh, dan bulat dengan blog Bek Tuwo Budaya. Sehubungan dengan hal demikian, saya  menyampaikan salam hormat kepada sahabat saya Herman RN yang juga mengikat blog saya pada blog “lidah tinta”  dengan mencantumkan nama: T.A. Sakti.

Hormat, terima kasih dan takdhim    juga saya tujukan kepada Teuku Anwar Tanoh Abee. Beliaulah orang pertama{ 20 Juli 2009} yang memberi tanggapan positif atas kehadiran wabsite ini. Pernyataan beliau terhadap Hikayat Malem Dagang, khususnya tentang kebenaran sejarah Raja Raden-Raja Si Ujud; yang selama ini seolah-olah “dongeng”; benar-benar telah memberi kepuasan bagi saya sebagai peminat sejarah!.

Gara-gara memiliki wabsite gratis selama setahun ini, saya pun telah sering membaca lewat media canggih ini. Selalunya, gairah pertama membuka internet hanyalah buat melacak “laku-tidaknya” karya milik sendiri. Adakah dibaca orang(?). Cukup manusiawikah perilaku demikian{?}. Selesai ‘ menghitung’ wabsite sendiri, barulah beralih ke berbagai artikel-berita lain. Informasi yang diperoleh lewat internet sangat berlimpah dalam tempo amat singkat. Bagi orang seumur saya yang keadaan fisik sakit-sakitan – akibat 3 tahun diabetes -, informasi yang bagaikan air bah itu malah membuat saya kelelep (buhuek) ;terminum berlebihan, yakni mubazir atau percuma sahaja!. Lain halnya bagi kaum muda yang penuh cita-cita . Lembah pengetahuan di internet dapat dijadikan salah satu modal untuk meraih tujuan mereka. Akhirul kalam, salam tambeh dari hamba!

(Catatan: Sambutan peringatan setahun berinternet ini, saya postkan selepas  saja  saya  selesai  satu jam   BERSALE dalam keadaan  berpakaian khusus SALE pula. Terapi asli Aceh ini   buat obat diabetes saya, yaitu tidur di panteue/balai yang dibawahnya dihidupkan api dengan bara arang pohon bakau dan sepotong  batang  dadap atau bak reudeuep).

Banda Aceh, 5 Apam 1431

5 Rajab 1431 H

18 Juni 2010 M

Iklan

3 pemikiran pada “AYO MENULISKAN ACEH DI INTERNET!

  1. Semangat menulis anda tentang aceh sangat kuat

  2. Pak, tetap semangat, dari saya, anak banda aceh,,saya bangga dg bapak, walau tdk muda lagi, cukup banyak tulisan bapak ,,,tetap semnagat pak,,,,kalau tdk manusia, yg jelas Allah yg maha kaya pasti geubalah mandum kebaikan bapak, semangat pak, saya bangga dg ketelatenan bapak, , moga sehat bupanyang umu dan tetap berkarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s