JEJAK HAJI AGUSSALIM: TENTANG HURUF ARAB MELAYU/JAWI DI INDONESIA

MENCARI JEJAK LANGKAH H. AGUSSALIM

 

Oleh: TA. Sakti

SEKALI PERISTIWA,  penulis sedang berada di Pustaka Negara Jln. Jenderal Sudirman  no. 5 Banda Aceh. Tujuan penulis hendak mencari bahan-bahan sebuah paper dalam bidang Hukum Agraria. Ketika penulis membolak-balik beberapa jenis koran, terbacalah sebuah judul berita yang berbunyi:”PENGGUNAAN AKSARA BATAK KEMBALI DIGALAKKAN”  Penulis terus ikuti kalimat-kalimat yang tertera selanjutnya: “Penggunaan aksara (huruf) Batak di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut dalam tahun terakhir ini digalakkan kembali dengan mendapat dukungan dan perhatian yang besar

dari pemerintah maupun masyarakat. Kepala Kantor Departemen P dan K Kabupaten Taput, Dj. Gultom, ketika dihubungi “antara” Rabu, mengatakan, atas anjuran Bupati setempat semua papan merek kantor-kantor pemerintahan ditambah dengan huruf Batak. Di sekolah-sekolah para pelajar dengan penuh minat mempelajari aksara Batak di luar jam-jam belajar formal. Sedangkan di kalangan masyarakat perhatian untuk menggali aksara Batak kian membesar dan mereka bangga karena nenek moyangnya pernah mempunyai huruf sendiri” (Analisa, Jumat, 5 September 1980). Penulis angka salut kepada Orang-orang Batak, karena mereka mengerti akan nilai pusaka nenek moyangnya.

Lebih dari setahun yang lalu, ketika penulis sedang membaca majalah “Tempo” di Pustaka Induk Unsyiah, juga ada berita ini: BOASA NDANG AKSARA BATAK ?

Kalimat selanjutnya dari majalah Ttempo tersebut berbunyi: “Seorang pejabat bagian perencanaan Kanwil P & K Sumatera Utara, merasa bingung setelah mendengar diajarkannya kembali aksara Batak di SD dan SLP di Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut berita “Kompas”  yang bersumber dari Bupati MSM Sinaga itu, pelajaran aksara Batak sudah dimulai sejak awal tahun pelajaran 1978/1979. Katanya,  tidak ada kesulitan yang berarti ketika kurikulum itu diterapkan. Guru dan buku pelajaran cukup. Murid juga mampu membeli buku pelajaran yang harganya sengaja ditekan rendah.” “Bahkan Batak bersama Jawa, Makasar dan Bali, termasuk daerah yang mengajarkan aksaranya di sekolah. Aksara Batak sendiri, menurut Nalom Siahaan ahli bahasa Batak FSUI, sudah diajarkan sejak zaman Belanda. Tetapi tiba-tiba menghilang sejak 1960 an(1.

Suatu contoh baik dari saudara-saudara kita di Sumut, yang patut jadi teladan  bagi rakyat Indonesia di daerah-daerah lain. Naskah-naskah lama dan benda-benda purbakala menjadi tugas kita untuk memeliharanya, demikian pula dengan pusaka-pusaka endatu kita yang lain.

AKSARA JAWI MENGAPA DIBUANG???

KEBUDAYAAN dari suatu bangsa merupakan hasil proses perubahan yang terjadi secara tahap demi tahap dalam perjalanan zaman. Fungsi dari kebudayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari.

Tiap bangsa yang sudah berkebudayaan tinggi mempunyai atau memiliki “aksara” nya sendiri, karena bangsa tersebut telah pandai baca- tulis dalam kehidupannya, Dapat kita lihat sampai hari ini misalnya bangsa Jepang, Tiongkok, bangsa Arab, mereka memiliki aksara sendiri dan tetap dipelihara dan dipakai sampai hari ini, di samping itu mereka juga menggunakan aksara Latin. Kita bangsa Indonesia telah pernah memakai berbagai macam aksara sejak dari zaman purbakala. Salah satu diantaranya yang pernah dipakai oleh bangsa kita di Nusantara ini adalah aksara Jawi. Aksara ini merupakan suatu jenis aksara yang telah sangat berjasa dalam mempersatukan  suku-suku bangsa yang mendiami tiap-tiap pulau di kepulauan Nusantara ini, sehingga karenanya sekarang telah menjelma menjadi bangsa INDONESIA. Surat menyurat dalam hubungan diplomatik antara Kerajaan-kerajaan di Nusantara, selalu menggunakan aksara JAWI  yang berasal dari huruf Arab. Begitu juga para Ulama dan cerdik pandai, di zaman tersebut menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan menggunakan tulisan JAWI, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun di masa itu yang b u t a  huruf. Di Aceh penggunaan huruf Jawi di masa itu sangat meluas. Dalam hal ini Prof. A. Hasjmy menulis: “Kesusasteraan Aceh yang pada umumnya dalam bentuk “puisi” diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh dibawah nama “hikayat”. Sementara sastra Aceh dalam bentuk “prosa” pada umumnya bersifat mantera. Juga sejumlah kitab-kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh. Setelah datang Islam huruf asli Aceh diganti dengan huruf Arab di bawah nama “Huruf Jawi”: Juga karya tulis dalam bahasa Melayu ditulis dengan menggunakan Huruf Jawi”, demikian diantara lain isi paper A. Hasjmy yang berjudul: “Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Aceh”, yang beliau sampaikan pada Hari Sastra 1980 di Ipoh Malaysia, yang berlangsung tanggal 19 s/d 23 April 1980(2.

Memang sesungguhnya,  jasa aksara Jawi ini  tak dapat dibantah oleh siapapun, karena hal ini memang kenyataan sejarah. Tulisan JAWI  bukan lagi merupakan kebudayaan asing bagi bangsa Indonesia sejak zaman dahulu, tapi sudah jadi kebudayaan sendiri bagi kita di Indonesia ini, yang dapat dikatakan sudah mendarah daging. Maka oleh karena itu patut dipelajari oleh generasi sekarang dan generasi akan datang. Begitulah membudayanya aksara JAWI  bagi bangsa Indonesia, hingga tak heranlah kalau di tiap-tiap sekolah, sejak Indonesia merdeka hingga sekitar permulaan tahun enam puluhan masih di “WAJIBKAN”  untuk dipelajari. Penulis artikel ini sendiri, pernah memperlajari huruf Jawi semasa di Sekolah Dasar.

Tetapi sungguh sangat disayangkan, tulisan  JAWI yang telah membudaya bagi bangsa Indonesia, hanya dengan mudah saja telah dikesampingkan atau telah dibuang ke dalam “tong sampah sejarah pendidikan di Indonesia”.

Berbagai macam pelajaran baru, sekarang telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di negara kita, tapi apakah sebabnya Aksara Jawi ini tidak diperdulikan lagi?, tidakkah patut kita meniru sikap positif dari orang Tapanuli Utara, seperti yang telah penulis singgung pada awal artikel ini? Sedangkan bahasa Sanskerta dan aksaranya (aksara Nagari), masih diajarkan di Fakultas Keguruan Jurusan Bahasa Indonesia di Unsyah/padahal sebenarnya di masa dulu, huruf Sansekerta ini tidak dikenal secara umum di Indonesia, hanya diketahui oleh ahli-ahlinya saja. Lain halnya dengan huruf JAWI, memang telah dipakai secara umum diwaktu yang lalu. Bukankah huruf Jawi tersebut sebagai suatu tanda kebesaran dari kebudayaan bangsa kita di masa lalu? Kalau untuk memudahkan penyelidikan sejarah, bukankah prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen sejarah banyak juga tertulis dengan aksara Jawi, di mana hingga hari ini prasasti dan dokumen itu masih banyak bertebaran di seluruh tanah air Indonesia???.

MENERUSKAN POLITIK PENJAJAHAN

Diplomat besar  dan ilmiawan agung Haji Agussalim pernah menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi. Haji Agussalim adalah  tokoh Pergerakan Kebangsaan Indonesia melawan Belanda  dan Menteri Luar Negeri pertama  Republik Indonesia,  yang  konon menguasai  12 bahasa.  Dengan judul seperti di atas, yaitu Meneruskan Politik Penjajahan,  H. Agussalim berkata: “Maka pemerintah kita dan pelbagai partai perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dan menyiarkan bacaan-bacaan dengan menggunakan huruf Latin saja. Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita.”

“Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan, sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli dari pada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh p e m e r i n t a h dan p e m i m p i n-p e m i m p i n dan p e m u k a-p e m u k a kita semua”.

“Mungkinkah kita akan mendapatkan kemajuan kebudayaan; jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudayaan yang sebesar-besarnya itu?”(3

Dari kutipan-kutipan di atas dengan jelas dapat kita pahami, betapa serisunya masalah aksara Jawi menurut pendapat H. Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran huruf Jawi (huruf JAWOE = bahasa Aceh) dalam sistim pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia, merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kit., Tujuan penjajah adalah untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan Barat pada setiap anak negeri generai-generasi kemudian. Politik Belanda yang demikian, bertujuan untuk mengekalkan penjajahannya di bumi Indonesia ini. Tindakan-tindakan Belanda yang mensaoh semua bidang kebudayan, bahkan sampai-sampai kepada kuburan Sultan Iskandar Muda turut dihilangkan jejaknya.

HIMBAUAN DAN HARAPAN

Demi menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang dimiliki oleh aksara Jawi yang telah memperkaya kebudayaan Indonesia, warisan leluhur  yang wajib kita pelihara dan   junjung serta semestinya  kita wariskan kepada generasi bangsa Indonesia yang akan datang. Maka dengan ini penulis  menghimbau serta menggugah hati bapak2/ibu2 serta saudara2 semua; yang mencintai kebudayaan. Untuk memberi pikiran dan pandangan dalam masalah mengajarkan kembali aksara Jawi disekolah-sekolah dalam negara kita Republik Indonesia. Himbauan dan harapan ini.terutama penulis tujukan kepada Panitia Perumus Pendidikan Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Menteri P & K Republik Indonesia, Rektor2 Unirversitas, baik negeri maupun swasta, Para Rektor IAIN seluruh Indonesia, Majelis Ulama Pusat dan Propinsi,  Dewan Dakwah Indonesia, para sarjana dan ahli kebudayaan serta semua pencinta kebudayaan di seluruh pelosok tanah air!!!

( Sumber: Majalah Gema Ar-Raniry, No. 40 Tahun Ke  XIII, Zulkaedah 1400-Muharram 1401/Oktober-Desember 1980, halaman 11 – 12 dan 63 ).

Iklan

Satu pemikiran pada “JEJAK HAJI AGUSSALIM: TENTANG HURUF ARAB MELAYU/JAWI DI INDONESIA

  1. setelah membaca artikel di atas saya seperti orang yang baru terjaga dari tidur nyenyaknya, saya sangat mendukung dan harus didukung seluruh bangsa indonesia agar kita punya edentitas bangsa yang lebih jelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s