RUMAH SAKIT TRADISIONAL TERPADU DI ACEH: Lingkungan Hidup

Komentar Pembaca:

Rumah Sakit Tradisional Terpadu di Aceh

Gagasan Ikatan Thabib Indonesia ( ITHI ) Aceh untuk membangun  satu unit Rumah Sakit (RS) Tradisional Terpadu di daerah Aceh patut disambut semua pihak (Serambi, 4/10 – 1996 hlm.8).

Pengalaman menunjukkan, bahwa tidak semua jenis penyakit bisa disembuhkan secara medis modern. Sebagaian penyakit yang dapat sembuh bukan dengan pengobatan kedokteran; memang kelihatan “aneh” penyakit itu. Sementara yang lain adalah “penyakit-penyakit”  lumrah/biasa  pula.

Di Rumah Sakit Umum (RSU) Surakarta, Jawa Tengah pernah saya saksikan seorang laki-laki yang hampir  setiap saat mengalami kejang-kejang (bahasa Aceh: ceukang). Setiap kali ia mendengar suara gaduh/keras, dia terus ceukang dan pingsan selama hampir setengah jam. Keadaan demikian selalu berulang sampai lima-enam kali setiap hari. Dalam istilah kedokteran, penyakitnya disebut “tetanus”. Lucunya, setiap siuman dari ceukang dan pingsan, ia selalu mengeluh minta pulang untuk mencangkul kebunnya!.

Suatu sore, saya melihat seorang “thabib” berdiri di samping ranjang bagian kepala dari lelaki itu. Mulut sang thabib kumat-kamit membaca do’a-do’a dari ayat Al-Quran. Selesai dirajah, thabib berpesan kepada seorang anak dari lelaki itu, agar nanti malam datang ke rumahnya untuk mengambil air obat (air putih). “Jangan lupa botol kosong!”, katanya.

Sejak diobati secara tradisional, yakni sekitar pukul lima sore sampai jam sepuluh pagi besoknya, saya tak pernah lagi melihat sang laki-laki itu mengalami kejang-kejang (ceukang).  Padahal sebelumnya dalam tempo sepanjang itu dia telah diserang ceukang sebanyak tiga atau empat kali. Entah bagaimana perkembangan selanjutnya, saya tak sempat mengamati lagi, karena pada pukul sepuluh pagi   saya meninggalkan RSU Surakarta itu.

Dalam tradisi  ketabiban di Aceh, penyakit seperti tersebut di atas dinamakan “Sidangngila”. Masih banyak bukti kemanjuran pengobatan tradisional yang dapat dikemukakan, baik pengalaman pribadi maupun yang dialami orang lain; namun agar komentar ini singkat, maka saya cukupkan satu contoh saja.

Lembaran sejarah pengobatan “secara kampung”, ini memang banyak dikotori oleh oknum-oknum tabib palsu atau dukun penipu. Salah satu jalan mencegah merajalelanya para “tabib palsu” ini adalah dengan adanya sebuah RS Tradisional Terpadu, karena lewat koordinasi rumah sakit itu,kita telah mengenal yang mana tabib sebenarnya dan mana pula “dukun asal-asalan”.

Kini, berkat kemajuan pembangunan nasional; rakyat Indonesia (termasuk Aceh) sudah sangat meningkat taraf hidupnya. Kendaraan umum dan kendaraan pribadi malang-melintang sepanjang hari bagaikan tak pernah berhenti. Akibat sebagian jalan sudah relatif baik/rata , maka para pengendara kendaraan banyak yang ngebut dan saling berlomba. Itulah salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas. Hingga hari ini, entah sudah berapa ribu penduduk daerah Aceh yang meninggal dunia dan luka berat (bahasa Aceh: patah-pate) akibat kecelakaan lalulintas. Sayang sekali, sebagian dari mereka telah diamputasi (dipotong) sebagaian dari anggota tubuhnya, seperti paha, kaki, tangan dan sebagainya.

Sekiranya, musibah patah tulang mereka sempat diobati secara tradisional, ada kemungkinan tulang yang patah bisa sembuh total atau paling kurang masih bisa dipergunakan ala kadarnya. Itulah suatu penyesalan “abadi” bagi para mantan penderita patah tulang. Buat ‘menghibur’ mereka, nampaknya sudah saatnya dibentuk Ikatan/Persatuan Penderita Patah Tulang Kecelakaan Lalulintas Provinsi Aceh. Akhirnya, kita mengahrapkan agar RS Tradisional Terpadu di Aceh benar-benar terwujud dalam waktu tidak lama lagi. Semoga!.

Banda Aceh, 15 0ktober 1996

T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s