SEKALI LAGI SOAL: LULUSAN SPG, SGO

Komentar Pembaca:

Sekali lagi Soal:

Lulusan SPG, SGO

Berita Hr. Serambi Indonesia yang berjudul “3.683 Lulusan Perguruan Tinggi Diberi Peluang Jadi Guru SD” (Serambi, 23 Agustus 1996 halaman 1), benar-benar memberi kesejukan dan kegembiraan bagi dunia pendidikan di Provinsi Daerah Istimewa Aceh (salah satu keistimewaannya di bidang pendidikan, pen). Berita itu seolah-olah “kado hadiah” bagi Hari Pendidikan Daerah (Hrdikda) ke-37 yang diperingati tanggal 2 September 1996.

Banyak perkara positif bagi pendidikan di Aceh yang bakal muncul, jika berita itu benar-benar terlaksana dalam kenyataan. Dua hal di antaranya adalah akan bisa meningkatkan mutu pendidikan di Aceh dan sekaligus memperkecil pengangguran generasi muda  tertindik di daerah ini. Kita berharap, moga-moga “gagasan” yang tengah diperjuangkan bisa berhasil dengan sukses!. Mudah-mudahan Pemerintah Pusat pun setuju memberi toleransi yang besar dalam rangka membantu daerah Aceh yang sedang bergelut meningkatkan mutu pendidikan. Apalagi mengingat, gagasan untuk  mengangkat lulusan Perguruan Tinggi menjadi guru SD di Aceh; bolehlah dianggap sebagai pelaksanaan rencana Prof. Dr. Fuad Hassan mantan menteri P dan K yang sangat menginginkan, agar lulusan IKIP/FKIP bersedia menjadi guru SD (Kompas, 28 Maret 1988).

Saat membaca judul berita, bakal  diberi peluangnya para lulusan Perguruan Tinggi menjadi guru SD, saya segera teringat sebagian lulusan SPG, SGO yang masih terabaikan nasib mereka!. Namun, ketika saya membaca lebih lanjut (pada halaman 2) barulah saya tahu, bahwa Bapak Drs. Sofyan Muchtar Kepala Dinas P dan K Aceh juga tidak melupakan nasib para lulusan SPG yang belum diangkat menjadi guru. Tentang lulusan SGO, memang tidak disinggungkan dalam berita itu, namun kita harap hanya akibat kelupaan menyebutnya saja pada wawancara dengan wartawan Serambi.

Sejauh yang saya ketahui, sebagian kecil lulusan SPG mulai tahun ini memang ‘direkrut’ untuk belajar lagi agar setara dengan Diploma Dua (D2) pada PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) di Aceh. Gagasan ‘menarik’ lulusan SPG belajar lagi untuk bisa menjadi guru SD dari satu segi memang amat baik, yaitu demi terangkatnya mutu pendidikan di Aceh.

Tetapi, mengingat jumlah lulusan SPG yang mampu direkrut setiap tahun sangat terbatas, maka dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa mendidik kembali semua lulusan SPG yang ada di Aceh. Padahal pada saat hal itu terpenuhi, sebagian para lulusan SPG tu sudah berkeluarga, beranak-pinak dan umur rata-rata mereka hampir tidak boleh lagi menjadi pegawai negeri (menurut Undang-undang PNS), bahkan ada yang berumur hampir pensiun.

Sesungguhnya, jalan terbaik bagi menangani para lulusan SPG yang ‘terbengkalai’ adalah dengan menempuh jalan pintas seperti yang diberikan kepada para lulusan Perguruan Tinggi (PT). Caranya; adalah mengangkat mereka lebih dahulu menjadi Guru SD, barulah kemudian mewajibkan mereka melanjutkan kuliah setara D2. Kalau cara ini terlalu memberatkan, cukuplah saja para guru SD tamatan SPG itu hanya diberi “Kursus Bulanan”. Mudah-mudahan begitulah hendaknya!. Akhirul kalam, Selamat Hari Pendidikan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh ke-37. Jayalah dunia pendidikan Aceh!. Sekaligus mampu bermutu “istimewa”, semoga!!.

T. A. Sakti

Banda Aceh, 26-8-1996

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s