LAKA PASCA A.HASJMY

Komentar Pembaca:

LAKA Pasca  A. Hasjmy

Inna Lillahi wainna ilaihi raji’un!. Seorang Sastrawan Angkatan Pujangga baru; sekaligus seorang tokoh Sastrawan Nusantara (ASEAN) telah berpulang ke rahmatullah pada bulan Ramadhan 1418 yang lalu. Semoga arwah beliau dirahmati o Allah Swt. Sosok sastrawan itu adalah Prof. A. Hasjmy almarhum.

Memang tepat sekali apa yang disebutkan Saudara Risman dalam sebuah karangannya yang berjudul “A. Hasjmy : Profil Penjaga dan Pembela Aceh” (Serambi, Kamis, 31-3-1994, halaman 4). Khusus tentang kepemimpinan A. Hasjmy selaku Ketua Umum LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh) sejak awal terbentuknya lembaga itu, sungguh mengesankan. Beliau telah memperkenalkan/mempopulerkan LAKA, sejak di daerah Aceh sendiri, ke tingkat nasional dan internasional.

Upaya memperkenalkan LAKA ke tingkat nasional, misalnya dengan pembentukan perwakilan LAKA di kota-kota propinsi yang hampir merata di seluruh Indonesia. Kini jumlah perwakilan LAKA adalah 30 wilayah perwakilan, disamping perwakilan LAKA di Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Puncak “promosi” LAKA di tingkat nasional adalah pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) LAKA II di Jakarta yang diresmikan oleh Wakil Presiden Try Sutrisno dan ditutup oleh Menteri Negara Azwar Anas (Serambi 14 September 1994 halaman 11); berlangsung di Hotel Horison, Jakarta.

Mengenai Kiprah LAKA di lingkup “Internasional” juga amat mengagumkan. Misalnya perlawatan tim kesenian Aceh ke luar negeri seperti Hongkong, Eropa, dan Amerika Serikat (Serambi Rabu, 14-9-1994 halaman 1). Kunjungan para pakar LAKA ke luar negeri untuk menghadiri simposium/seminar “Budaya Melayu Raya” sangat berperan pula dalam upaya memperkenalkan LAKA ke tingkat dunia.

Seminar Budaya Melayu Raya ini boleh dikatakan rutin atau bergiliran diadakan di beberapa kota di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Indonesia (termasuk di Aceh). Selain itu, ada pula seminar-seminar tentang kebudayaan Melayu yang tidak berlangsung rutin, seperti di Moskow (Rusia), Capetown (Afrika Selatan) Madagaskar dan Hanoi (Vietnam). Pada seminar-seminar tingkat dunia ini, pihak LAKA turut pula diundang (baca: “Ketua LAKA Diundang ke Simposium Sastra di Hanoi”; Harian Serambi Indonesia, Kamis 24 Oktber 1998 halaman 3). Baca pula: “dari Moskow Sampai ke Capetown-Afrika Selatan: Mencari akar Sastra Aceh Dalam Masyarakatnya Dewasa Ini” (Majalah Santunan,Kanwil Depag Aceh, No. 231 halaman 17-19).

Menyebut sebagian dari berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan LAKA selama sebelas tahun lebih pembentukannya; maka kesan yang muncul di benak kita bahwa lembaga ini “agak elitis” dalam merancang program-programnya. Manfaatnya memang besar, terutama dalam mempertinggi gengsi atau citra LAKA baik ke dalam (daerah Aceh) maupun ke luar. Namun kegiatan demikian kurang memberi faedah kepada masyarakat Aceh secara meluas, karena terkesan elit, sehingga hanya golongan masyarakat ‘menengah ke ataslah’ yang  telah mengambil manfaat dari keberadaan LAKA selama 11 tahun ini.

Oleh karena itu, kita berharap kepada Pengurus LAKA periode mendatang, agar menyusun program-program LAKA yang lebih “membumi” dan “merakyat”. Bila hal demikian bisa terwujud, maka barulah terjadi keseimbangan dalam penataan kembali kebudayaan Aceh, sebagaimana yang dicita-citakan dari sejak awal pendirian LAKAi. Yang terjadi selama ini adalah: LAKA bersama program-programnya terus-menerus terbang di atas awan –bersama panji-panji budaya Aceh- sementara budaya masyarakat Aceh yang di bawah dari hari ke hari semakin keropos ‘dilantak/ditebas” budaya globalisasi!!!.

Kampus Darussalam, 5 Mei 1998

T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s