MELESTARIKAN KEPUSTAKAAN ACEH

Melestarikan Kepustakaan Aceh

Gerakan Cinta Pustaka yang diresmikan di Pustaka Wilayah (Aceh), Banda Aceh  oleh Gubernur Aceh Ir. Abdullah Puteh, M.Si baru-baru ini merupakan suatu peristiwa penting (Serambi Indonesia, 6 Mei 2002 hlm. 3). Sebab, setelah gembar-gembor masalah “Pustaka Mesjid” lebih sepuluh tahu lalu, baru kali inilah sekali lagi muncul pembicaraan mengenai pustaka di Aceh. Padahal secara pukul rata nasib pustaka  di Aceh terus-menerus merana dan selalu mengecil bagaikan ekor tikus!.

Pertanyaan yang timbul, apakah program Perpustakaan Mesjid yang dilaksanakan tempo hari sudah berjlan sukses atau hanya tinggal slogan ?. Bagi menambah pengetahuan para pengelola Perpuskaan Mesjid saat itu, Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA telah menulis sebuah artikel yang berjudul “Membenah Perpustakaan Masjid” (lihat: Serambi Indonesia, Kamis,  7 Maret 1991 halaman 4)

Begitu pula dengan gagasan Gerakan Cinta Pustaka; patut pula kita pertanyakan, apakah akan sukses pelaksanaanya?. Sebab, kebanyakan pemimpin dimana saja dibumi ini, setelah menghembuskan gagasan yang muluk-muluk, lantas tidak melakukan tindak lanjutnya. Maka sia-sialah harapan rakyat yang percaya dengan ucapan pemimpin tersebut dalam menanti terwujudnya gagasan itu; lagee jipreh boh ara anyot !.

Berbicara masalah perpustakaan di Aceh yang muluk-muluk memang indah sekali. Yakni, semua pustaka di Aceh perlu dilengkapi dengan bebagai jenis buku zaman modern dan buku-buku/kitab yang telah pernah ditulis oleh para pujangga/Ulama Aceh tempo dulu. Jadi, semua kitab sepanjang sejarah Islam di Aceh perlu di cetak ulang. Misalnya, kitab-kitab di Perpustakaan Dayah Tanoh Abee, hasil karya Syekh Hamzah Fansury, Syekh Syamsuddin Sumatra-i/ny, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syeh Abdurrauf Assingkily, dan para ulama lain, perlu dicetak ulang dalam huruf aslinya, dan kalau perlu barulah kemudian ditransliterasikan/di-Latinkan.

Lewat kitab/buku cetakan ulang sepanjang sejarah Aceh itulah akan tercermin kepada para pembacanya, bahwa Syariat Islam di Aceh tempo dulu benar-benar telah dilaksanakan secara kaffah. Kalau tidak demikian, seperti sekarang kita membicarakan/mendiskusikan kejayaan Aceh masa lalu hanya melalui jalur slogan, dongeng, semboyan serta kebohongan!.

Banda Aceh, 10 Mei 2002

T.A. Sakti

Iklan

Satu pemikiran pada “MELESTARIKAN KEPUSTAKAAN ACEH

  1. sila layari http:\\merahsilu.blogspot.com

    ada empunya blog menulis novel “Berpetualang Ke Aceh”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s