BANTAHAN BUAT DR. ONGHOKHAM-Sejarawan di Universitas Indonesia, Jakarta

Redaksi Yth :

Bantahan buat Dr. Onghokham

Tulisan-tulisan Dr. Onghokham yang dimuat Harian Kompas (Hr. Kompas tgl. 27-4-1983; 4-5-1983;21-5-1983) telah mengagetkan saya sebagai seorang peminat ilmu sejarah. Betapa tidak, hampir keseluruhan isi artikel yang menyangkut sejarah Sultan Iskandar Muda dalam tulisan-tulisan Bapak Onghokham itu benar-benar belum pernah saya baca atau dengar dari orang lain. Sejak kecil saya cukup akrab dengan kisah- kisah Sultan Iskandar Muda, baik melalui buku-buku, majalah-majalah ataupun mendengar kisah dari mulut-kemulut tentang kebesaran Sultan ini. Dan ternyata memang berbeda sekali dengan uraian Onghokham.

Saya berkesimpulan bahwa sumber-sumber sejarah yang dipakai oleh Bapak Onghokham untuk menulis sejarah Sultan Iskandar Muda berasal dari arsip-arsip Belanda (VOC). Kesimpulan saya ini rasanya tidak akan menyimpang karena setelah saya amati kata demi kata, ternyata dalam artikel itu banyak terdapat perkataan” “laporan”. Tentu saja perkataan “menurut laporan” ini berasal dari sumber VOC (Belanda), sebab mana ada tradisi membuat laporan/catatan yang terperinci oleh penguasa pribumi pada masa abad XVII.

Sebagai seorang sejarawan kawakan, sepatutnya Dr. Onghokham tidak hanya melulu memakai sumber-sumber Belanda/asing untuk menulis sejarah Indonesia. Bukanlah sumber-sumber pribumi setelah diseleksi secara ilmiah juga dapat dijadikan sebagai sumber buat penulisan sejarah negara kita?. Rasa kepercayaan diri sebagai suatu bangsa besar yang berbudaya tinggi juga akan lebih kokoh lagi, bila para sejarawan kita mengikut sertakan sumber-sumber pribumi itu. Babad, hikayat, tambo, dan sejenisnya yang ditulis oleh pujangga-pujangga bangsa Indonesia zaman dulu, merupakan jejak budaya lama yang tak boleh diabaikan.

Satu kesalahan besar lainnya yang dapat menipiskan nilai Dr. Onghokham sebagai seorang sejarawan adalah terlalu memastikan kebenaran apa yang beliau uraikan itu. Tentang pembunuhan putra Sultan Iskandar Muda misalnya, di mana dengan tegas Dr. Onghokham menulis: “Hal ini dipermudah karena Iskandar telah menghukum mati semua putranya demi menhindari persaingan tahta” (Kompas, 4-5-1983). Padahal sebenarnya dalam masalah itu belum ada kesepakatan pendapat para sejarawan.

Kampus UGM Yogyakarta, 22 Mei 1983

T. Abdullah Sulaiman

( Saya kirim ke Harian KOMPAS, Jakarta)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s