SELAMAT BUAT DOKARIM

Surat Droe Keu droe:

Selamat Buat Dokarim!

Selamat buat Dokarim!. Selamat datang buat para penulis baru Aceh!. Ternyata, Aceh memang gudangnya pengarang. Betapa tidak, di Aceh-lah munculnya empat pengarang yang paling produktif di Nusantara pada abad ke-17. Mereka itulah yang menyebarkan bahasa Melayu Pasai ke seluruh Nusantara sehingga menjadi cikal-bakal bahasa nasional Indonesia. Merekalah ulama-pujangga-sastrawan, yaitu Hamzah Fansury, Syamsuddin as-Sumatrai/ni, Abdurrauf  as-Singkili dan Nuruddin Ar-Raniry.

Hanya karena di Aceh  kurang dijumpai “era tenang” sejak tahun 1873 , maka bibit penulis di Aceh menjadi punah atau tidak sempat berkreatif, maka timbullah kesan seolah-olah Aceh gersang dengan pengarang. Sebagian bukti yang sudah saya temui, sampai sewaktu perang Belanda 1873,  sebagian besar ulama Aceh adalah juga sekaligus sebagai pengarang. Ketika era perang Belanda, para ulama ini  sibuk menyalin dan mengarang Hikayat Prang Sabi untuk menggairahkan semangat juang rakyat Aceh melawan Belanda.

Kenapa saya mulai surat ini dengan ucapan selamat kepada Dokarim?. Karena tanpa hadirnya lembaga Dokarim, tak mungkin muncul 1432 calon pengarang Aceh. Aceh memang langka dengan lembaga atau yayasan yang mengangkat bakat terpendam seperti ini. Yayasan budaya  Aceh memang ada, tetapi hanya bergiat semusim. Setelah mengadakan seminar budaya yang gegap gempita dalam berita-berita di media-massa, lantas lenyap ditelan udara.  Kumpulan makalah seminar pun tak dicetak menjadi buku, sehingga kegiatan mereka bergema sesasat dan setelah itu hampa; sunyi-senyap!.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang Aceh memang kurang tertarik pada budaya. Mereka lebih  berminat pada bidang bisnis. Tak apalah, boleh saja! Tapi kenapa yang menjadi Toke-toke besar /konglomerat, tetap pula  bukan orang Aceh!?.

Akhirnya, kepada para pemenang “Sayembara Menulis Untuk Perdamaian Aceh”; sekali lagi saya ucapkan selamat!. Semoga bakat anda dalam menulis terus-menerus diasah. Kepada yang belum menang agar tidak patah semangat!??. Dan kepada pimpinan Hr. Serambi Indonesia yang memasang iklan-pengumuman pemenang  itu (Serambi, 15-11-2006, hlm.8),  agar sudi membuka “Rubrik Budaya”, seminggu sekali. Semoga!.

17 – 11 – 2006

T. A. Sakti

RIWAYAT KEGIATAN SASTRA ACEH

Riwayat Kegiatan Sastra Aceh yang Saya lakukan:

  1. A. Karya Sendiri
  2. Nazam dan Syair Aceh di media-massa
    1. Taga Pekan Kebudayaan Aceh 3 (Majalah Puan, No 17, Juni 1988)
    2. Pariwisata Aceh Peutimang Beugot (Haba Bak Rangkang, Hr. Serambi Indonesia, Rabu, 9 Desember 1992 hlm.7)
    3. Tuntut Eleumee Akhirat-Donya (Haba Bak Rangkang, Hr. Serambi Indonesia, Rabu, 21 Juli 1993 hlm7)
    4. Cinta Keu Nanggroe Termasuk Iman (Majalah Puan, No. 40, November 1994/Ranub Sigapu)
    5. Cinta Keu Nanggroe Termasuk Iman (Majalah Puan, No. 41, Maret 1995/Ranub Sigapu)
    6. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Majalah Puan, No.48/Oktober 1997/Ranub Sigapu)
    7. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Majalah Puan, No.49/Maret 1998/Ranub Sigapu)
    8. Disiplin Nasional (Majalah SANTUNAN, No. 229, April 1997, Tahun XXII)
    9. Seumangat Indonesia (Majalah SANTUNAN, No. 232, Oktober 1997, Tahun XXII)

10.  Musem Khueng (Majalah SANTUNAN, No. 232, Mei 1998, Tahun XXII)

11.  Hansep Beulanja (Majalah SANTUNAN, No. 240, Juli 1998, Tahun XXII)

12.  Teungku Seumeubeuet “Gaji” Beutabri (Majalah SANTUNAN, No. 221, November 1995-Maret 1996, Tahun XX)

13.  Syako-Syako (Gema Ar-Raniry No. 60, Juli-Agustus 1985)

  • Syair ini saya bacakan sewaktu menyambut tour mahasiswa IAIN Ar-Raniry ke Yogyakarta, 26 Januari 1985, di Bale Gadeng.

14.  Kru Seumangat … (Buletin “Peunawa”, edisi 4-5, 1980,   diterbitkan Senat Mahasiswa Fekon Unsyiah).

  • Syair ini menyambut kehadiran Fakultas Kedokteran, Unsyiah tahun 1980.
  1. Buku Hikayat Yang Telah Diterbitkan
    1. Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, 21 halaman tahun 1999
    2. Hikayat Wajeb Tasayang Binatang Langka, 36 halaman tahun 2001
    3. Hikayat Binatang Ubit Kadit Lam Donya, 23 halaman tahun 2001
  1. B. Karya Saduran
  2. Menyadur beberapa cerita dari Hikayat Kisason  Hiyawan/Hikayat Nasruwan Ade menjadi cerita anak-anak bahasa Indonesia, yang kemudian dimuat dalam Suratkabar. Cerita dimaksud adalah:

1)      Hakim  Gadungan (Hr. Waspada, Sabtu, 21 Februari 1981).

2)      Jampok dan Sekawan Kera (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 7 Maret 1993 halaman 7)

3)      Burung Dendang Curi Selendang (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 19 Juni 1994 halaman 7)

4)      Pawang Rusa (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 19 November 1995)

5)      Furuwan, Si Kancil Diplomat (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 29 Oktober 1995 halaman 6)

6)      Raja Katak dan Ular Tapa (Hr. Serambi Indonesia, 1995)

7)      Pahlawan Cilik dari Tangse, dimuat dalam Hr. Waspada, Medan. Tahun 1981  (arsip hilang)

8)      Niat Hati Memeluk Gunung, dimuat dalam Hr. Waspad, 1981 (arsip hilang)

9)      Menepuk Air Didulang, dimuat dalam Hr. Waspada. 1981(arsip hilang)

  1. Beberapa Sub Judul dalam buku; “Sastra Untuk Madrasah Dasar” Proyek Pengembangan MPD, belum diterbitkan, 2002.(anggota Tim).
  1. C. Karya Terjemahan
  2. Tahun 1999, atas bantuan dana dari World Bank Perwakilan Jakarta, menterjemahkan beberapa hikayat ke dalam bahasa Indonesia, yang semula berbahasa Aceh. Hikayat-hikayat yang diterjemahkan itu ialah:

1)      Hikayat Aulia Tujoh

2)      Hikayat Nabi Yusuf

3)      Hikayat Akhbarul Karim

4)      Hikayat Meudeuhak

  1. Pernah menjadi Ketua/Anggota Tim pengkajian naskah kuno yang didanai Depdikbud Jakarta dan Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT), Banda Aceh. Naskah-naskah yang telah dikaji ialah:

1)      Hikayat Nasruwan Ade (anggota, telah diterbitkan oleh Depdikbud, Jakarta tahun 1996/1997)

2)      Nadlam Akhbarul Hakim (Ketua, telah diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh, 1997)

3)      Hikayat Muda Balia (Ketua, 1997, belum diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh). Noot: telah diterbitkan tahun 2006.

4)      Tambeh Tujoh (Mandiri,. 1998, belum diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh).Noot: telah diterbitkan tahun 2007.

5)      Sebagai pemakalah pada Seminar  Sehari di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT), Banda Aceh tanggal 20 Juni 1996 dengan judul makalah “Beberapa Nilai Tradisional dalam Hikayat (Suatu Tinjauan terhadap Isi  Hikyat Nasruwan Ade), sebagai Ketua Tim

  1. D. Karya Alih Aksara
  2. Transliterasi dari huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe  ke aksara Latin.

1)      Hikayat Meudeuhak                                 = 434 halaman, tahun 1992

2)      Hikayat Banta Keumari                            = 650 halaman, tahun 1993

3)      Hikayat Tajussalatin                                  = 420 halaman, tahun 1994

4)      Hikayat Aulia Tujoh                                 = 54 halaman, tahun 1993

5)      Hikayat Kisason hiyawan/

Hikayat Nasruwan Ade                            = 176 halaman, tahun 1993

6)      Hikayat Gomtala Syah                              = 548 halaman, tahun 1995

7)      Hikayat Keumala Indra                            = 593 halaman, tahun 1995

8)      Hikayat Nabi Yusuf                                  = 281 halaman, tahun

9)      Hikayat Abu Nawah                                 = 301 halaman, tahun 1993

10)  Hikayat Zulkarnaini                                  = 226 halaman, tahun 1993

11)  Hikayat Akhbarul Karim                          = 139 halaman, tahun 1992

12)  Hikayat Akhbarul Hakim                          = 81 halaman, tahun 1994

13)  Tambeh Tujoh                                           = 155 halaman, tahun

14)  Tambeh 95                                                = 623 halaman, tahun 2002

15)  Nazam Ruba’i                                           = 31 halaman, tahun 1996

16)  Nazam Nasihat                                          = 34 halaman, tahun 1996

17)  Hikayat Nabi Meucuko                             = 20 halaman, tahun 1996

18)  Hikayat Qaulur Ridwan                            = 18 halaman, tahun 1996

19)  Tambeh Tuhfatul Ikhwan                         = 204 halaman, tahun 1998

20)  Tambeh Tujoh Blah                                   = 236 halaman, tahun 2001

21)  Hikyat Banta Amat                                   = 318 halaman, tahun 2000

22)  Mikrajus Shalat                                         = 41 halaman, tahun 1999

23)  Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan        = 79 halaman, tahun 1994

24)  Tambeh Gohna Nan                                  = 175 halaman, tahun 2002

25)  Adat Aceh                                                            = 161 halaman, tahun 2002

26)  Tazkirah Thabaqat                         = 101 halaman, tahun 2003

Catatan: – Pentingnya alih aksara ini bagi generasi muda Aceh, karena mayoritas mereka tidak bisa lagi membaca dalam huruf Arab Melayu/aksara Jawi.

–     Sebagian kecil dari naskah di atas telah diterbitkan.

  1. Antara tahun 1992 s/d 1994 beberapa judul hikayat secara bersambung dimuat dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh. Hikayat-hikayat tersebut ialah:

1)      Hikayat Meudeuhak

2)      Hikayat Banta Keumari

3)      Hikayat Tajussalatin

4)      Hikayat Aulia Tujoh

5)      Hikayat Nasruwan Ade/Kisason  Hiyawan

6)      Hikayat Abu Nawah

7)      Hikayat Zulkarnaini

Catatan: Tiap hari dimuat 5 halaman

  1. Mencetak beberapa naskah yang telah dialih aksara ke huruf Latin. Ongkos cetak dibayar secara  cicilan setiap bulan. Hasil cetakan dititip di toko-toko buku dengan harga sekedar mengembalikan modal. Tiap jilid tebalnya 60 halaman. Hikayat dan Nadham yang telah diterbitkan ialah:

1)      Hikayat Akhbarul Karim, jilid 1 dan 2, tahun 1997

2)      Hikayat Aulia Tujoh, tahun 1997

3)      Nadham Akhbarul Hakim, tahun 1997

4)      Hikayat Meucuko Nabi Muhammad Saw, tahun 1997

5)      Hikayat Abu Nawah, jilid 1, tahun 1998

6)      Hikayat Abu Nawah, jilid 2, tahun 2000

7)      Hikayat Kisason Hiyawan, jilid 1 & 2, thun 2001

8)      Hikayat Banta Amat, jilid 1& 2, tahun 2002

9)      Hikayat Gomtala Syah, jilid 1 & 2, tahun 2002

10)  Hikayat Abu Nawah, jilid 3, 4dan 5, tahun 2003

11)  Hikayat Indra Bangsawan, jilid 1, tahun 2003

12)  Hikayat Meudeuhak, jilid 1, tahun 2003

13)  Nazam Mikrajus Shalat, tahun 2003

Catatan: – Nomor 1 s.d 5 tiap jilid dicetak 1000 ex (seribu eksamplar), sedangkan nomor 6 s/d 16 pejilid dicetak 500 eks (lima ratus eksamplar).

–     Setiap kali selesai cetak, ± 50 eksamplar/buah dari setiap jilid, saya hadiahkan kepada teman-teman/lembaga

  1. E. Dan lain-Lain
  2. Tahun 1999, menjadi anggota Dewan Juri Lomba Membaca Hikayat Aceh, yang diadakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Banda Aceh, dalam rangka “Gebyar Budaya Aceh ke II”.
  3. Tanggal 22 Oktober 2002, menjadi anggota Dewan Juri Lomba Mencipta/Mengarang Hikayat Aceh, yang diadakan Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,.
  4. Tahun 2001, menjadi nominasi 15 besar dari 345 usulan, dalam Lomba Lingkungan Hidup, yang diputuskan Dewan Juri KEHATI Award 2001. Dari lima macam “Kategori”,  saya terpilih sebagai “Unggulan Peraih KEHATI Award 2001”, Kategori “Citra Lestari Kehati”. Yayasan KEHATI diketuai Prof. Dr. Emil Salim, berkantor di Jakarta.

Bahan lomba yang saya kirimkan ialah: 1. Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, 2. Hikayat Banta Amat, 3. Hikayat Gomtala Syah, dan 4. Hikayat Kisason Hiyawan/Nasruwa Ade(Kecuali no. 1, masing-masing 5 lember sebagai contoh).

  1. Dalam upaya menggairahkan kebudayaan Aceh, kadangkala saya menulis “Surat Pembaca”, berupa tanggapan, komentar, atau himbauan/saran; yang kebanyakan dimuat dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh.2
  2. Aksara Jawi, Adakah Berperan dalam Kebudayaan Nasional?

(Hr. “Waspada”, Jum’at, 24 ktober 1980, halaman “Agama”/VI)

  1. Mengapa Wasiat Haji Agussalim Dilupakan? (Juga tentang huruf Arab Melayu/harah Jawoe; Majalah SANTUNAN, No. 50, Desember 1980).
  2. Mencari Jejak Langkah H. Agussalim;  Juga tentang huruf Arab Jawi/ Jawoe; Gema Ar-Raniry, No. 40 Tahun ke XIII/Desember,  1980).
  3. Peranan Aksara Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa (Juga tentang harah Arab Melayu/ Jawoe; Hr. Serambi Indonesia, Jum’at, 9 Oktober 1992 halaman 4/Opini.

10.  Menggairahkan Kembali Sastra Aceh (Hr. Serambi Indonesia, Selasa, 12 Mei 1997, halaman 4/Opini).

11.  Dari Moskow Sampai ke Captown-Afrika Selatan: Mencari Akar Sastra Aceh dalam Masyarakatnya Dewasa Ini (Majalah SANTUNAN, No. 231, Agustus 1997, TahunXXII)

12.  Syeh Rih Krueng Raya dan Sastra Aceh (Majalah SANTUNAN, No. 241, Agustus 1998, Tahun XXI).

13.  Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali??? (Majalah SANTUNAN, No. 237, April 1998, Tahun XXII).

Catatan: Tulisan ini oleh Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) dimuat kembali dalam buku “Takdir-Takdir Fansury”, di halaman 87, Agustus 2002.

14.  Hikayat Akhbarul Karim (Alih Aksara dan Terjemah)

Diterbitkan Dinas Kebudayaan Provinsi NAD, tahun 2002 (Ketua).

Banda Aceh, 17 Agustus 2004

Pegiat Sastra Aceh,

T. A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah, SmHk)

TELAH DICETAK/DIKOMPUTER

Hikayat-hikayat/Nazam/Tambeh yang telah dicetak/dikomputer oleh KUD Rahmat dan UD. Selamat Sejahtera ialah:

Judul-judul                                                                              Tahun dicetak/komputer:

  1. Hikayat Akhbarul Karim 1 & 2                                                    1997
  2. Hikayat Aulia Tujoh                                                                     1997
  3. Nadham Akhbarul Hakim                                                             1997
  4. Hikayat Meucuko Nabi Muhammad Saw                                                1997
  5. Hikayat Abunawah I                                                                    1998
  6. Hikayat Lingkongan Udep wajeb Tajaga                                     1999
  7. Hikayat Abunawah II                                                                   2000
  8. Hikayat Wajeb Tasayang Binatang Langka                                  2001
  9. Hikayat Binatang Ubit Kadit Lam Donya                                               2001

10.  Hikayat Kisason Hiyawan 1 & 2                                                  2001

11.  Hikayat Meudeuhak 1 & 2                                                           2001

Banda Aceh, 25  September   2002

T. A. Sakti

NASKAH YANG DICARI

Naskah buku Arab Melayu yang dicari:

  1. Teungku Di Meulek : Qanun Meukuta Alam, naskah lama tulisan tangan huruf Arab
    1. Teungku Pante Geulima : Hikayat Malem Dagang, naskah lama tulisan tangan huruf Arab, koleksi buku A. Hasjmy
    2. Teungku Di Rukam : Hikayat Pocut Muhammaf ; naskah lama tulisan tangan huruf Arab. Koleksi buku A. Hasjmy.
    3. Abu Ishak Makarani Al Pasy : Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlak wal Fasi
    4. Kitab Tazkirah Thabaqat Jum’u Sulthan As-Salathin,  karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah al Asyi
    5. Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai, catatan Sayid Abdullah
    6. Hikayat Putroe Nurul A’la
    7. Hikayat Banta Beuransah
    8. Hikayat Putroe Geumbak Meuh
    9. Hikayat P. Peringgi

Catatan: Insya Allah di masa akan datang naskah-naskah inilah yang ingin  -niat- saya salin ke hurufLatin.

Banda Aceh, 3 Zulqa’idah 1423

6 Januari 2003

T. A. Sakti

NAMA BURUNG/BINATANG

Nama  burung/binatang dalam Hikayat “Lingkongan Udep Wajeb Tajaga” sebagai berikut:

1.  Syakeuk

2.  Keudidi

3.  Tektek

4.  Ngang Dama

5.  Tang-Iriek

6.  Linong

7.  Uleue

8.  Seupah

9.  Cangguek

  1. Kala
  2. Kuek
  3. Ulat
  4. Beurikiek
  5. Ara
  6. Piti Canie
  7. Piti Ceurape
  8. Meunom
  9. Rangkubee
  10. Bakoh
  11. Sya’eut
  12. H’e
  13. Beuruwak
  14. Tie
  15. Miriek
  16. Tulo Ek asee
  17. Tulo Breuh
  18. Tulo Ijo
  19. Tulo T’ot
  20. Euntok
  21. Bace
  22. Tulo puteh ulee
  23. Aneuk Bileh
  24. Iet (iet)
  25. Kruep
  26. Seungko
  27. Ileh
  28. Udeueng
  29. Suw’iek
  30. Gro
  31. Bieng
  32. Keureulieng
  33. Daruet
  34. Daruet Inong
  35. Daruet T’uet
  36. Cangkadek
  37. Daruet Canggang
  38. Daruet kok
  39. Daruet Ngom
  40. Aneuk Abiek
  41. Rampineung Ijo
  42. Tiwah/sirajawali
  43. Prak Ike
  44. Beurijuek Balee
  45. Beurijuek Breueh
  46. Got-got
  47. Cempala Kuneng
  48. Cempala Paki
  49. Cempala Ekbam
  50. Tit Lantahit
  51. Cicem Ak-ak
  52. Kleueng
  53. Kleueng Puteh Ulee
  54. Kleueng Batee

Peukakah Udep di Gampong:

  1. Inyap
  2. Jeue
  3. Mandrong
  4. Plong
  5. Keumeukueb (kerja)
  6. Ramet
  7. Bubee
  8. Kawe
  9. Nuring

10.  Jareng Beureukiek

11.  Jareng Ara

12.  Jareng Piti

13.  Plok Kom (grok2)

14.  On keureusong

15.  Jareng Beuruwak

16.  Suleng hoi Beuruwak

17.  Tiyeuep Tie (kerja)

18.   Mon Eungkot

19.  Amak

20.  Paruek

21.  Pacok trieng

22.  Trieng tulo (Bambu pipit)

23.  Keumili (seunaman)

 

Rumoh Meubale, 1 zulkaidah 1426 H

29 November  2005 M

 

T.A. Sakti

DATA TAMBEH 95

DATA TAMBEH LIMONG KUREUENG SIRUTOH ATAU TAMBEH 95

*        Pertama dikarang pada tahun 1242 H di Kampung LAM GUT dan LAM HASAN, Aceh Besar.

*        Kemudian pada tahun 1282 H seseorang dari Gampong REUDEUB (رادب) menyalinnya dan salinan itulah yang jadi rujukan alih aksara ini.

*        Pengarang “Tambeh 95” mungkin murid Teungku Di Lam Gut (?)

v  Jumlah lembar = 181 on/lembar

v  Jumlah halaman  360 halaman.

v  Jumlah bait dalam 1 (satu) halaman = 16 bait.

v  Meunyo bak Hr. Serambi Indonesia = sion  kitab siuroe muat.

v  Sion kitab = 5 lembar ketik (Versi pemuatan Serambi sekarang)

v  Jumlah halaman ketik seluruhnya = 900 halaman

v  Sion Kitab = 32 bait = 32/6 = 5 on ketik lebih

v  Jumlah hari muat dalam Serambi = 181 x 1 uroe = 181 uroe

v  Pemuatan lengkap Tambeh 95 menghabiskan waktu = 6 bulan

v  Atau setengah tahun

v  Sebab itulah hanya dicuplik/dikutip, sekitar pemuatan 15-16 hari saja

v  Usia kitab sejak ditulis pertama (1242 s/d  1415 H) = 173 tahun

v  Jika dihitung usia salinannya (1282 s/d  1415) = 133 tahun

 

Catatan: Bab-Bab nyang ka lheueh lon peulaten: 58, 59,  61, 62, 66,  75, 76, 77, 79, 83, 88.

Rumoh Blang, 5 Shafar 1415 H

15 Juli 1994 M

Pencatat sekaligus pengalihaksara  Kitab Tambeh  95:

T. A. Sakti

(Drs. Teuku Abdullah Sulaiman, SmHk)

 

JEJAK HAJI AGUSSALIM: TENTANG HURUF ARAB MELAYU/JAWI DI INDONESIA

MENCARI JEJAK LANGKAH H. AGUSSALIM

 

Oleh: TA. Sakti

SEKALI PERISTIWA,  penulis sedang berada di Pustaka Negara Jln. Jenderal Sudirman  no. 5 Banda Aceh. Tujuan penulis hendak mencari bahan-bahan sebuah paper dalam bidang Hukum Agraria. Ketika penulis membolak-balik beberapa jenis koran, terbacalah sebuah judul berita yang berbunyi:”PENGGUNAAN AKSARA BATAK KEMBALI DIGALAKKAN”  Penulis terus ikuti kalimat-kalimat yang tertera selanjutnya: “Penggunaan aksara (huruf) Batak di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut dalam tahun terakhir ini digalakkan kembali dengan mendapat dukungan dan perhatian yang besar

dari pemerintah maupun masyarakat. Kepala Kantor Departemen P dan K Kabupaten Taput, Dj. Gultom, ketika dihubungi “antara” Rabu, mengatakan, atas anjuran Bupati setempat semua papan merek kantor-kantor pemerintahan ditambah dengan huruf Batak. Di sekolah-sekolah para pelajar dengan penuh minat mempelajari aksara Batak di luar jam-jam belajar formal. Sedangkan di kalangan masyarakat perhatian untuk menggali aksara Batak kian membesar dan mereka bangga karena nenek moyangnya pernah mempunyai huruf sendiri” (Analisa, Jumat, 5 September 1980). Penulis angka salut kepada Orang-orang Batak, karena mereka mengerti akan nilai pusaka nenek moyangnya.

Lebih dari setahun yang lalu, ketika penulis sedang membaca majalah “Tempo” di Pustaka Induk Unsyiah, juga ada berita ini: BOASA NDANG AKSARA BATAK ?

Kalimat selanjutnya dari majalah Ttempo tersebut berbunyi: “Seorang pejabat bagian perencanaan Kanwil P & K Sumatera Utara, merasa bingung setelah mendengar diajarkannya kembali aksara Batak di SD dan SLP di Kabupaten Tapanuli Utara. Menurut berita “Kompas”  yang bersumber dari Bupati MSM Sinaga itu, pelajaran aksara Batak sudah dimulai sejak awal tahun pelajaran 1978/1979. Katanya,  tidak ada kesulitan yang berarti ketika kurikulum itu diterapkan. Guru dan buku pelajaran cukup. Murid juga mampu membeli buku pelajaran yang harganya sengaja ditekan rendah.” “Bahkan Batak bersama Jawa, Makasar dan Bali, termasuk daerah yang mengajarkan aksaranya di sekolah. Aksara Batak sendiri, menurut Nalom Siahaan ahli bahasa Batak FSUI, sudah diajarkan sejak zaman Belanda. Tetapi tiba-tiba menghilang sejak 1960 an(1.

Suatu contoh baik dari saudara-saudara kita di Sumut, yang patut jadi teladan  bagi rakyat Indonesia di daerah-daerah lain. Naskah-naskah lama dan benda-benda purbakala menjadi tugas kita untuk memeliharanya, demikian pula dengan pusaka-pusaka endatu kita yang lain.

AKSARA JAWI MENGAPA DIBUANG???

KEBUDAYAAN dari suatu bangsa merupakan hasil proses perubahan yang terjadi secara tahap demi tahap dalam perjalanan zaman. Fungsi dari kebudayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sehari-hari.

Tiap bangsa yang sudah berkebudayaan tinggi mempunyai atau memiliki “aksara” nya sendiri, karena bangsa tersebut telah pandai baca- tulis dalam kehidupannya, Dapat kita lihat sampai hari ini misalnya bangsa Jepang, Tiongkok, bangsa Arab, mereka memiliki aksara sendiri dan tetap dipelihara dan dipakai sampai hari ini, di samping itu mereka juga menggunakan aksara Latin. Kita bangsa Indonesia telah pernah memakai berbagai macam aksara sejak dari zaman purbakala. Salah satu diantaranya yang pernah dipakai oleh bangsa kita di Nusantara ini adalah aksara Jawi. Aksara ini merupakan suatu jenis aksara yang telah sangat berjasa dalam mempersatukan  suku-suku bangsa yang mendiami tiap-tiap pulau di kepulauan Nusantara ini, sehingga karenanya sekarang telah menjelma menjadi bangsa INDONESIA. Surat menyurat dalam hubungan diplomatik antara Kerajaan-kerajaan di Nusantara, selalu menggunakan aksara JAWI  yang berasal dari huruf Arab. Begitu juga para Ulama dan cerdik pandai, di zaman tersebut menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan menggunakan tulisan JAWI, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun di masa itu yang b u t a  huruf. Di Aceh penggunaan huruf Jawi di masa itu sangat meluas. Dalam hal ini Prof. A. Hasjmy menulis: “Kesusasteraan Aceh yang pada umumnya dalam bentuk “puisi” diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh dibawah nama “hikayat”. Sementara sastra Aceh dalam bentuk “prosa” pada umumnya bersifat mantera. Juga sejumlah kitab-kitab agama ditulis dalam bahasa Aceh. Setelah datang Islam huruf asli Aceh diganti dengan huruf Arab di bawah nama “Huruf Jawi”: Juga karya tulis dalam bahasa Melayu ditulis dengan menggunakan Huruf Jawi”, demikian diantara lain isi paper A. Hasjmy yang berjudul: “Bahasa dan Kesusasteraan Melayu di Aceh”, yang beliau sampaikan pada Hari Sastra 1980 di Ipoh Malaysia, yang berlangsung tanggal 19 s/d 23 April 1980(2.

Memang sesungguhnya,  jasa aksara Jawi ini  tak dapat dibantah oleh siapapun, karena hal ini memang kenyataan sejarah. Tulisan JAWI  bukan lagi merupakan kebudayaan asing bagi bangsa Indonesia sejak zaman dahulu, tapi sudah jadi kebudayaan sendiri bagi kita di Indonesia ini, yang dapat dikatakan sudah mendarah daging. Maka oleh karena itu patut dipelajari oleh generasi sekarang dan generasi akan datang. Begitulah membudayanya aksara JAWI  bagi bangsa Indonesia, hingga tak heranlah kalau di tiap-tiap sekolah, sejak Indonesia merdeka hingga sekitar permulaan tahun enam puluhan masih di “WAJIBKAN”  untuk dipelajari. Penulis artikel ini sendiri, pernah memperlajari huruf Jawi semasa di Sekolah Dasar.

Tetapi sungguh sangat disayangkan, tulisan  JAWI yang telah membudaya bagi bangsa Indonesia, hanya dengan mudah saja telah dikesampingkan atau telah dibuang ke dalam “tong sampah sejarah pendidikan di Indonesia”.

Berbagai macam pelajaran baru, sekarang telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di negara kita, tapi apakah sebabnya Aksara Jawi ini tidak diperdulikan lagi?, tidakkah patut kita meniru sikap positif dari orang Tapanuli Utara, seperti yang telah penulis singgung pada awal artikel ini? Sedangkan bahasa Sanskerta dan aksaranya (aksara Nagari), masih diajarkan di Fakultas Keguruan Jurusan Bahasa Indonesia di Unsyah/padahal sebenarnya di masa dulu, huruf Sansekerta ini tidak dikenal secara umum di Indonesia, hanya diketahui oleh ahli-ahlinya saja. Lain halnya dengan huruf JAWI, memang telah dipakai secara umum diwaktu yang lalu. Bukankah huruf Jawi tersebut sebagai suatu tanda kebesaran dari kebudayaan bangsa kita di masa lalu? Kalau untuk memudahkan penyelidikan sejarah, bukankah prasasti-prasasti dan dokumen-dokumen sejarah banyak juga tertulis dengan aksara Jawi, di mana hingga hari ini prasasti dan dokumen itu masih banyak bertebaran di seluruh tanah air Indonesia???.

MENERUSKAN POLITIK PENJAJAHAN

Diplomat besar  dan ilmiawan agung Haji Agussalim pernah menyatakan sikap beliau dalam masalah aksara Jawi. Haji Agussalim adalah  tokoh Pergerakan Kebangsaan Indonesia melawan Belanda  dan Menteri Luar Negeri pertama  Republik Indonesia,  yang  konon menguasai  12 bahasa.  Dengan judul seperti di atas, yaitu Meneruskan Politik Penjajahan,  H. Agussalim berkata: “Maka pemerintah kita dan pelbagai partai perhimpunan, perserikatan dan lembaga-lembaga masyarakat, mencurahkan usaha tenaga dan biaya untuk memberantas buta huruf Latin dan menyiarkan bacaan-bacaan dengan menggunakan huruf Latin saja. Dengan demikian kita meneruskan politik penjajahan di masa yang lalu itu, yang sengaja hendak dihapuskan baca tulis dengan huruf Arab dan melenyapkan segala bacaan huruf Arab dari kalangan masyarakat kita.”

“Bahaya dan bencana keadaan itu untuk kebudayaan kita yang asli, dasar yang sehat untuk mencapai kemajuan kebudayaan, sesuai dengan budi pekerti dan akhlak yang menjadi pokok asli dari pada bangsa kita, patut sekali dipikirkan oleh p e m e r i n t a h dan p e m i m p i n-p e m i m p i n dan p e m u k a-p e m u k a kita semua”.

“Mungkinkah kita akan mendapatkan kemajuan kebudayaan; jika terlebih dahulu kita membiarkan luput pokok kebudayaan yang sebesar-besarnya itu?”(3

Dari kutipan-kutipan di atas dengan jelas dapat kita pahami, betapa serisunya masalah aksara Jawi menurut pendapat H. Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran huruf Jawi (huruf JAWOE = bahasa Aceh) dalam sistim pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Memang telah jadi kenyataan sejarah, bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia, merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kit., Tujuan penjajah adalah untuk membina dan menanam benih-benih kebudayaan Barat pada setiap anak negeri generai-generasi kemudian. Politik Belanda yang demikian, bertujuan untuk mengekalkan penjajahannya di bumi Indonesia ini. Tindakan-tindakan Belanda yang mensaoh semua bidang kebudayan, bahkan sampai-sampai kepada kuburan Sultan Iskandar Muda turut dihilangkan jejaknya.

HIMBAUAN DAN HARAPAN

Demi menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang dimiliki oleh aksara Jawi yang telah memperkaya kebudayaan Indonesia, warisan leluhur  yang wajib kita pelihara dan   junjung serta semestinya  kita wariskan kepada generasi bangsa Indonesia yang akan datang. Maka dengan ini penulis  menghimbau serta menggugah hati bapak2/ibu2 serta saudara2 semua; yang mencintai kebudayaan. Untuk memberi pikiran dan pandangan dalam masalah mengajarkan kembali aksara Jawi disekolah-sekolah dalam negara kita Republik Indonesia. Himbauan dan harapan ini.terutama penulis tujukan kepada Panitia Perumus Pendidikan Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Menteri P & K Republik Indonesia, Rektor2 Unirversitas, baik negeri maupun swasta, Para Rektor IAIN seluruh Indonesia, Majelis Ulama Pusat dan Propinsi,  Dewan Dakwah Indonesia, para sarjana dan ahli kebudayaan serta semua pencinta kebudayaan di seluruh pelosok tanah air!!!

( Sumber: Majalah Gema Ar-Raniry, No. 40 Tahun Ke  XIII, Zulkaedah 1400-Muharram 1401/Oktober-Desember 1980, halaman 11 – 12 dan 63 ).