Membangkitkan Kembali Peradaban Aceh/IHYAON TAMADDON ACEH

Ihyaon Tamaddon Aceh

Oleh: T.A. Sakti

Peringatan Hari Jadi IAIN Ar-Raniry ke 43 -yang diperingati Sabtu (25/11/2006) lalu- mengandung faktor historis yang dalam. Paling kurang, para pemimpin Aceh tahun 60-an telah mengambil nama ulama besar Nuruddin Ar-Raniry itu menjadi nama lembaga pendidikan –yang dulu- amat dibanggakan masyarakat Aceh. Syekh Nuruddin Ar-Raniry adalah ulama besar Aceh pada abad ke 17. Mufti dan Kadhi Malikul Adil-Syaikhul Islam pada masa Sultan Iskandar Tsani yang berasal dari Pahang (negeri di Malaysia-sekarang). Beliau berasal dari Ranir/Gujarat (India) dan hanya 7 tahun sempat menetap di Aceh. Hebatnya walau hanya sebentar di Aceh, namun ia telah mengarang 21 kitab yang sampai pada abad ke 21 ini masih dipelajari di berbagai tempat di Asia Tenggara, bahkan dunia. Setelah pulang ke Ranir (India),  beliau masih menulis tiga kitab lagi, yang khusus diperuntukkan guna dikirim ke Aceh dan negeri-negeri di Nusantara/Asia Tenggara.

Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama” antara lain menulis “Keahlian Al-Raniri menyangkut sejarah Nusantara jelas luar biasa”. Ini mengenai kitab Bustanus Salathin yang membahas sejarah dunia Melayu Raya. Azyumardi juga mengatakan: “Tidak kalah penting adalah peranan Al-Raniri dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai lingual franca di wilayah Melayu -Indonesia.  Dia bahkan diklaim sebagai salah seorang pujangga Melayu pertama.

Sungguh hebat kreativitas Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Setelah empat abad berlalu, tiada seorang pun pengarang yang sama produktifnya seperti beliau di Nusantara-Asia Tenggara; terkecuali Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Khusus di Aceh, pernah memang beberapa orang produktif menulis seperti A. Hasjmy, H. M. Zainuddin, dan Husainy Ismail, namun dari segala hal memang tidak sebanding dengan karya-karya Nuruddin Ar-raniry. Bahkan, Husainy Ismail yang telah menulis 34 buku, tetapi hanya segelintir yang sempat diterbitkan karena ketiadaan dana. Kehebatan Syekh Nuruddin Ar-Raniry dalam mengarang; pernah pula ditiru para dosen  IAIN Ar-Raniry. Saat itu para staff pengajar  lembaga “yang memakai nama beliau”   itu;  beramai-ramai menulis buku. Ketika itu, saya sendiri   sering mendengar pembicaraan diantara dosen Unsyiah tentang kehebatan dosen-dosen IAIN Ar-Raniry. Tapi sekarang,  gema  itu  tak berdenting  lagi. Ketika membandingkan produktivitas pengarang Aceh abad ke-17 dengan kemampuan penulis Aceh abad ke-21, ternyata pemenangnya adalah pengarang Aceh abad ke-17. Mengapa bisa terjdai demikian?. Padahal, segala fasilitas menulis amat berlimpah sekarang!.

Bila diselidiki lebih dalam, ternyata faktor dukungan Kerajaan Aceh-lah yang membawa Nuruddin Ar-Raniry mampu mengarang kitab sebanyak itu. Pikiran beliau memang cemerlang, namun itu tidak cukup sebagai modal menulis. Lihat saja Husainy Ismail yang menulis 34 buku, tapi berapa judul yang sempat kita baca?. Husainy Ismail tidak mendapat dukungan dari “Pemerintah”, sehingga karya-karyanya tidak bisa diterbitkan dan tidak beredar di khalayak ramai.

Lain halnya dengan kepengarangan Syekh Nuruddin Ar-Raniry di abad ke-17 masa Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau berada di urutan orang ketiga di lingkungan istana (Dalam). Ia terus-menerus dapat “Pesanan” untuk menulis kitab dari Sultan Iskandar Tsani, Ratu Safiatuddin, dan para pejabat tinggi negara lainnya. Dengan dilingkungi kemewahan/kemudahan -tanpa terhalang suatu apapun- maka menulislah Syekh Nuruddin Ar-Raniry dengan segala kemampuan kecerdasannya. Lebih-lebih lagi, apa yang ditulisnya memang sesuai dengan ‘selera’ sendiri, maka kitab-kitab itu tentu akan lebih cepat selesai. Dengan dana kerajaan pula karya-karya itu dikirim ke berbagai wilayah di Nusantara, dan ini sudah jadi tradisi sejak Sultan Iskandar Muda. Malah, Azyumardi Azra mendapat bukti, bahwa kitab Sirathal Mustaqim dikirim sendiri oleh Ar-Raniry ke negeri Kedah (negeri di Malaysia-sekarang) pada tahun 1050 H/1640M.

Ketika berada kembali di negeri asalnya Ranir/Gujarat (India), goresan pena Nuruddin Ar-Raniry tidak sekencang di Aceh. Selama tujuh tahun di Aceh, ia mengarang 21 judul kitab, sedangkan selama 14 tahun berada kembali ke Ranir beliau hanya menulis tiga buah karangan. Ini bukti pula bahwa keagungan Ar-Raniry yang sukses mengarang puluhan kitab semasa di Aceh adalah berkat dukungan penuh Sultan Aceh serta kalangan istana (sekarang: Pemerintah/Pemda dan DPR/DPRA). Sewaktu kembali di Ranir, dukungan itu putus, maka karyanya pun turun drastis, walaupun faktor usia dan kepentingan perlu juga diperhitungkan.

Bukti paling mutakhir, bahwa produktivitas menulis/mengarang perlu didukung “pemerintah” adalah penulisan “Buku-Buku Sejarah Aceh dan Tsunami”. Dengan dukungan DPRD Aceh, Gubernur Aceh (Dinas Kebudayaan NAD) telah mampu menggerakkan puluhan penulis Aceh. Walaupun dengan honor “pas-pasan”, ternyata gairah menulis di Aceh terangkat, dan buku-buku itu sedang dicetak sekarang.

Dalam keterpaduan kerjasama antara legislatif dan eksekutif  itulah, kita mengahrapkan adanya gerakan: “Membangkitkan kembali peradaban Aceh” atau Ihyaon Tamaddon Aceh. Semacam upaya pencerahan kembali setelah berlangsung konflik dan Tsunami. Dengan kerjasama terpadu DPRA-Gubernur Aceh, perlu disediakan anggaran khusus setiap tahun untuk menggerakkan peradaban Aceh, baik yang sedang terpendam maupun yang aktual berkembang sekarang.

Contoh peradaban yang sedang terpendam adalah karya-karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Selama ini, kita hanya mengenal judul-judul kitab Ar-Raniry dari berbagai tulisan yang ditulis orang lain tentang Ar-Raniry. Sebagian kecil isi kitab pun, kita ketahui dari karangan orang lain, misalnya dari tulisan A. Hasjmy, Ahmad Daudy, Azyumardi Azra dan lain-lain.

Karya-karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry adalah bukti peradaban Aceh yang sudah amat tinggi di masa lalu. juga merupakan bukti gelaran “Serambi Mekkah” bukan sekedar asal bunyi semata. Karena itu, karya-karya tersebut harus ada dan mesti dilestarikan di Aceh sepanjang masa. Paling kurang dalam bentuk fotokopy; karya-karya Ar-Raniry dari A hingga Z perlu tersedia di Aceh. Lebih baik lagi kalau dapat dicetak ulang;  dalam huruf aslinya Arab-Jawoe dan huruf Latin. Menurut berbagai sumber yang dapat kita baca, karya-karya Ar-Raniry kini tersebar di Pustaka Universitas dan museum di lima benua, dan butuh bantuan seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra untuk melacaknya. Dan pencarian yang terdekat dengan Banda Aceh, yaitu di Dayah-Pesantren Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar.

Akhirnya, bila karya-karya Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fanshury, Syamsuddin As-Sumatra-i/ny dan Syekh Abdurrauf Syiah Kuala –para ulama Aceh abad 16-17- telah terkumpul kembali secara utuh di Aceh, barulah negeri ini pantas digelar negeri yang menghargai peradaban ibu pertiwi. Dan hal itu bukan tidak mungkin, bila legisltif dan eksekutif Aceh bersatu hati!. Contohnya, pada kekompakan penulisan “Buku-Buku Sejarah Aceh dan Tsunami” yang menghabiskan dana empat milyar rupiah lebih tersebut tadi!!!

Dto

T.A. Sakti

3 – 11 – 1427/28 – 11 – 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s