SUDAH LAHIRKAH “AJIP ROSIDI” ACEH?

Komentar Pembaca:

Sudah Lahirkah “Ajip Rosidi” Aceh?

Membaca berita berjudul “Naskah Sastra Lisan Makassar Banyak tidak Terdokumentasi” (Harian Kompas, 31 Maret 1997 halaman 10) dan juga laporan wartawan : “To’et dan “Percakapan tentang Gurita” (Serambi, 30 Maret 1997 halaman 1), mengingatkan kita kembali kepada sastra lisan Aceh yang tengah mengalami “proses kehancuran”.

Sebagaimana halnya naskah sinrilik, sejenis sastara tutur Makassar, Sulawesi Selatan yang tidak terdokumentasikan; nasib serupa juga sedang menggerogoti sastra tutur di Aceh. Sekitar tahun 60-an, sebagian sastra lisan Aceh memang pernah dihimpun dan diterbitkan oleh Pujangga Aceh Tgk. Abdullah Arif, MA. Buku-buku tipis dan mungil itu berjudul: Panton  Aneuk Miet, Panton Aneuk Muda dan Panton Ureung Tuha.

Sebenarnya, selain sastra lisan yang disebutkan di atas, masih amat banyak sastra tutur Aceh yang tidak terhimpun. Saat sekarang, sebagian sastra lisan itu telah musnah bersamaan telah meninggalnya para penghafal atau “penyair” sastra tersebut.

Pada tempo doeloe, setiap peringkat umur atau profesi kehidupan masyarakat; memiliki syair-syair khusus yang akan dilantunkan pada saat-saat berkepentingan. Tabib/dukun, pawang, nenek, kakek, tokoh desa; bahkan anak-anak selalu mempunyai ‘jurus-jurus’ syair yang berkaitan dengan kepentingan masing-masing.

Saya masih ingat sebagian syair yang biasanya dilantunkan dalam “lempar teka-teki” berkelompok. Sambil menjaga jemuran padi (keumiet pade madee) anak-anak meuhiem/teka-teki sebagai berikut: “On mulieng meukru/On labu meu-ulat/Rot barat ureung beuet Nah’u/rot timu ureung seumurat, Peue???.

Sesuai dengan bidangnya, seorang dukun akan bermantera:” Allahu balabilu nyang kutanom beujeut keu- ubat. Nyang keusyarat beujeut keudo’a. Phon peupuleh syarat teungku di Gunong…” . Di pihak lain, seorang petani ketika menanam pisang atau kelapa segera berdo’a: “Bismillahi majraha wamursaha. Dehdoh dehdoh, teubit on teubit boh. Donya ka akhe, bek treble ka meuboh!”.

Mengumpulkan syair-syair sastra lisan saat sekarang; amatlah banyak penghalang. Akibat kemajuan dunia kedokteran, banyak dukun atau tabib tidak menghafal lagi syair manteranya. Perkembangan pembasmi hama tanaman, menyebabkan ikan sungai musnah. Akibatnya, banyak pawang ikan menjadi lupa pada syair “memanggil ikan” sungai.

Kemajuan mesin giling padi, hilanglah tradisi menumbuk padi (top pade bak Jingki) bagi anak-anak yang membantu ibunya. Dalam hal ini, hilang pula pewarisan syair-syair yang dilantunkan sambil menumbuk padi itu. Apalagi dengan kehadiran televisi, boleh dikatakan hampir semua peringkat umur dari kita benar-benar mampu ‘dibiuskan’ oleh media elektronik ini.

Di saat-saat nasib sastra lisan betul-betul terlupakan seperti sekarang, seharusnya perlu dilakukan upaya pendokumentasian sastra tutur Aceh itu. Biar pun orang tak memperhatikannya sekarang, tapi pada suatu saat nanti mungkin saja orang-orang akan merindukan lagi. Di masa demikian, kita bisa mencetak kembali syair-syair itu sekiranya ada dokumentasinya. Bila tak dilakukan pencatatan, orang-orang yang ahli atau para penghafalnya tentu tidak bakal hidup sepanjang masa. Ketika ia meninggal, maka pupuslah syair sastra lisan Aceh itu.

Beruntunglah masyarakat Jawa Barat yang memiliki pencatat budaya Sunda, yakni sastrawan Ajip Rosidi. Berkat kegigihannya, sebagian besar sastra lisan Sunda telah direkam dan dicetak dalam bentuk buku-buku.. Pertanyaan yang timbul, kapankah “Ajip Rosidi” Aceh akan lahir di daerah Aceh !!???.

Rumoh Blang, Kamis, 2 -12 – 1417 H

10 – 4 – 1997 M

dto

T.A. Sakti

Kamis, 2-12-1417 h/10-4-1997 m 

dto

T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s