RANCAGE, KAPAN ANDA HARGAI SASTRAWAN ACEH???

Suara Publika:

Rancage, Kapan Anda Hargai Sastrawan Aceh ???

Harian Republika, terbitan Kamis, 17 Februari 2000 halaman 10 menurunkan berita yang berjudul “Yus Rusyana Raih Hadiah Sastara Rancage 2000”. Hadiah sastra Rancage adalah penghargaan bagi sastra daerah yang diberikan oleh “Yayasan Kebudayaan Rancage”, yang didirikan oleh sastrawan kawakan, Ajip Rosidi pada tahun 1989.  Menurut sebuah sumber yang pernah saya baca, bahwa sumber dana untuk berbagai hadiah itu kebanyakan berasal dari sumbangan berbagai Bank yang telah menjadi donatur tetap yayasan itu.

Pada mulanya (1989) Hadiah Sastra Rancage hanya diberikan kepada para pengarang sastra bahasa Sunda. Tahun 1994 diperluas lagi kepada sastrawan bahasa Jawa. Baru pada tahun 1998 yang lalu, Hadiah Sastra Rancage ini juga diperuntukkan bagi sastrawan daerah Bali.

Sebagai penerima Hadiah Sastra Rancage tahun 2000 ini, bagi sastra Sunda diberikan kepada Prof. Dr. H. Yus Rusyana dan Chiye Retty Isnendes. Untuk sastra Jawa jatuh kepada Widodo Basuki dan Suparto Brata. Sementara buat sastra Bali akan diterima oleh I Gde Dharna dan I Ketut Rida, yang penyerahan hadiahnya akan diadakan di kampus Institut Pertanian Bogor (ITB), 19 Agustus 2000.

Sesuai dengan bunyi judul di atas, pertanyaan yang timbul adalah: kapan Yayasan Kebudayaan Rancage mau menghargai Sastrawan Aceh?. Memohon dihargai seperti ini, khusus bagi sastrawan/sastra Aceh; memang tak usah malu!. Sebab, mengharap dari pihak lain; jelas tidak mungkin sama sekali. Menurut pengamatan saya, dibandingkan masyarakat Jawa dan Sunda, orang-orang Aceh memang amat kurang mempedulikan sastra daerahnya sendiri. Berkaitan dengan sikap massa Aceh yang begitu; Pemda Aceh pun amat kurang “melirik” sastra Aceh. Jadi, sastrawan Aceh harus mengharap kemana lagi?. Kalau bukan kepada Yayasan Kebudayaan Rancage yang sudah 11 tahun lebih berturut-turut memberikan hadiah Sastra Rancage, yaitu kepada sastrawan Sunda (sejak 1989), sastrawan Jawa (sejak 1994), sastrawan Bali (sejak 1998)…, dan sastrawan Aceh (sejak tahun 2001???)..!.

Menurut penilaian saya, cukup banyak sastrawan Aceh yang pantas diberi penghargaan. Memang sebagian dari karya mereka mungkin tidak dapat kita jumpai sekarang, namun nama mereka sebagai “Pujangga Aceh” masih terkenal hingga saat ini. Mereka yang termasuk kelompok ini adalah para pengarang zaman Belanda, seperti Syekh Min Janthoe dan Syekh Tam Bayu.

Di antara pahlawan sastra Aceh setelah tahun 1945 dan sebagian dari mereka masih aktif berkarya sampai sekarang ialah: Tgk. Muhammad El Abdul Muthalib Reului Mangat Ulee Gle, Tgk. Syekh Mahmud Sibreh,Syekh Min Jeureula,  Tgk. M. Thaib Abubakar Geudong, Tgk. Nurdin Daud Idi, Tgk. Abdul Gani Bireuen, Tgk. H. Muhammad Abbas Jacob As-Suf, Tgk. H. Mahyidin Yusuf Banda Aceh (alm), Syekh Rih Kruengraya (alm), Anzib Lamnyong dan Tgk. Nyak Tihawa Arsyadi.

Sastrawan Aceh tersebut di atas, yang amat produktif menghasilkan karya-karya syair Aceh/hikayat adalah  Syekh Rih Kruengraya. Sebagian kecil dari karangannya sempat saya miliki, yang sengaja saya kumpulkan/membeli di Toko Buku; segera setelah  saya baca berita, bahwa beliau telah meninggal dunia pada 12 April 1997. Sementara yang cukup produktif dewasa ini adalah Drs. Ameer Hamzah, sedangkan yang baru memulai mengarang karya sastra Aceh adalah Drs. Muhammad Kalam Daud.

Saya sendiri mulai berkecimpung secara serius menggeluti sastra Aceh baru sejak tahun 1992, tapi lebih terfokus pada upaya menyelamatkan sastra Aceh lama. Kini sudah 25 naskah lama yang telah saya alihkan hurufnya dari Arab Melayu/Jawoe/Jawi ke aksara Latin. Namun tak bisa mencetaknya karena tak memiliki dana. Begitulah nasib sastra Aceh!!!.

23 -2- 2000

dto

T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s