YAYASAN “RANCAGE” DATANGLAH KE ACEH!

Yayasan “Rancage”, datanglah ke Aceh!.

Membaca berita Harian  Republika yang berjudul: “Hadiah Sastra ‘Rancage’ Naik 100 Persen” (Hr. Republika, Rabu, 17 Februari 1999 halaman 5); mendorong saya kembali untuk menghimbau Pengurus Yayasan Kebudayaan ‘Rancage’, agar sudi kiranya ikut pula “merawat” sastra daerah Aceh yang kini benar-benar sedang sekarat. Himbauan ini termasuk kali ketiga, yang mana kali pertama dan kedua saya muat dalam koran lokal; sehingga mungkin belum sempat terbaca oleh Pengurus Yayasan Kebudayaan ‘Rancage’ yang berada di Jakarta.

Membaca berita perkembangan ‘Rancage’ dari waktu ke waktu, memang sangat menggelorakan minat dan perhatian saya terhadap sastra daerah Aceh. Alasan yang memberi semangat itu memang abstrak, yakni timbulnya harapan agar Yayasan Kebudayaan ‘Rancage’ mau hadir ke Aceh untuk bantu menghidupkan kembali sastra Aceh yang nyaris mati; lebih-lebih setelah Pengarang Besar Sastra Aceh Syeh Rih Kruengraya berpulang ke rahmatullah pada bulan Maret 1997 lalu.

Menyimak perkembangan Yayasan ‘Rancage’ yang diketuai  sastrawan Ajip Rosidi memang unik. Betapa tidak,  ia bermula dari upaya perseorangan yang sejak 1989 setiap tahun memberikan hadiah kepada dua orang pengarang dalam bahasa Sunda. Mungkinkah  akan muncul orang yang sedemikian idealis, yang mau berupaya menyelamatkan Sastra Aceh???. Saya rasa amat nihil!. Alasannya, lembaga-lembaga yang ‘resmi’ pun (yang berkaitan dengan kebudayaan-kesenian di Aceh) tidak mampu berbuat banyak. Apalagi perseorangan…??

Alasan yang lain, saya sudah enam tahun lebih mencari-cari ‘sponsor’ yang bersedia memberi dana untuk mencetak 22 judul naskah sastra Aceh (dalam bentuk Nadham, Tambeh dan hikayat) yang telah dialihkan dari huruf Jawoe (Arab Melayu) ke aksara Latin. Ternyata ‘pengemisan’ saya tidak berhasil sama sekali. Padahal hampir  semua lembaga yang ‘patut’ membantu kebudayaan Aceh, di Banda Aceh telah saya datangi/hubungi. Termasuk pula beberapa yayasan asing di Jakarta dan para konglemerat asal Aceh yang tinggal di Jakarta. Jangankan bisa memperoleh dana, surat-surat saya pun tidak ada yang sudi membalas; terkecuali dari Japan Foundation.

Kemajuan Yayasan Kebudayaan ‘Rancage’ cukup nyata, yakni terus melangkah setapak demi setapak. Tahun 1994, mulai memberi hadiah kepada pengarang buku khusus anak-anak dalam bahasa Sunda, yang diberi nama Hadiah ‘Samsudi’. Selanjutnya, ruang lingkup garapan Yayasan ‘Rancage’ diperluas lagi terhadap bahasa Jawa, kemudian bahasa Bali.

Menurut berita Harian Republika, 17 Februari 1999 itu; penghargaan bagi bahasa dan Sastra Sunda sudah 11 kali, bahasa Jawa 6 kali dan bahasa Bali 2 kali. Berangkat dari sinilah, saya mengharapkan mudah-mudahan Yayasan  Kebudayaan ‘Rancage’ ini, bersedia pula menabur jasa baktinya terhadap bahasa dan sastra daerah Aceh. Oleh karena pemberian ‘Hadiah Sastra Daerah’ baru akan dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1999; maka alangah baiknya jika pemberian penghargaan kepada Sastra Aceh ke -1 langsung dimulai pada tahun 1999 ini, yakni pada 14 Agustus 1999 pula. Mudah-mudahan para simpatisan sastra Aceh dimana saja berada; termasuk lembaga kemasyarakatan Aceh dan para konglemerat asal Aceh yang tinggal di Jakarta sudi mambantu gagasan ini; demi terselamatnya khazanah Sastra Aceh yang nyaris punah sekarang. Semoga insya Allah!!!.

Rumoh Blang, 19 Februari 1999

Peminat Sastra Aceh,

Dto

T.A. Sakti

(Info tambahan: Mulai tahun 2008 penghargaan dari Yayasan”  Rancage”  juga sudah diberikan bagi bahasa dan sastra Lampung, T.A. Sakti- 3-4-2010)

19 – 2- 1999

Peminat Sastra Aceh,

dto

T.A. Sakti

Iklan

4 pemikiran pada “YAYASAN “RANCAGE” DATANGLAH KE ACEH!

  1. sayasedang mencari info mengenai penghargaan sastra rancage ini. yang anda (aceh) ketaui, penghargaan ini terbuka untuk umum atau memang hanya untuk 3 daerah tersebut?
    terima kasih atas tanggapan yang akan diberikan .
    saya bisa dihubungi melalui akun facebook ini, kirim message saja ke inbox saya.

    • sejak empat tahun terakhir ditambah dengan sastra bahasa/daerah Lampung, sehingga menjadi empat bahasa daerah, yakni: Sunda, Jawa, Bali dan Lampung!.

      • Karena Aceh tidak termasuk ke dalam empat bahasa daerah yang sudah dipilih panitia dari Yayasan Rancage, maka saya belum pernah ikut lomba.Itulah yang saya himbau dalam posting itu, agar Aceh juga diikutsertakan!.

  2. bukan, maksud saya apakah selama ini aceh pernah mengirimkan karya untuk diikutsertakan dalam lomba? atau harus ada undangan khusus agar bisa mengikutinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s