SYEH RIH KRUENGRAYA – Penyair Hikayat Aceh Paling Terkenal

Syekh Rih Krueng Raya

Membaca rubrik profil jurkam (serambi Indonesia, Jumat 2 Mei 1997 halaman 2), yang menyebutkan Ir. H. Abdullah Puteh anggota DPR RI  Pusat dan mantan Ketua Umum KNPI asal Aceh;  cukup piawai membaca hikayat dalam kampanye-kampanyenya (untuk Golkar) di Meulaboh, Aceh Barat, mengingatkan saya kepada “hubungan intim” antara Golkar dengan Syeh Rih Kruengraya – penyair hikayat – yang baru saja berpulang kerahmatullah (Serambi, 16 April 1997 halaman 3).

Secara pasti saya belum tahu sejak kapan Syeh Rih Kruengraya sehilir-mudik dengan Golkar. Namun, pada tahun 1982 di Asrama Mahasiswa Aceh “Meurapi Dua” Jalan Sunaryo No. 2 Yogyakarta saya jumpai (membaca) sebuah hikayat tipis karangan Syeh Rih Kruengraya yang berjudul “Golongan Karya”. Hikayat yang diterbitkan tahun 1977 itu, isinya menjelaskan tentang keberhasilan Pemerintah  dalam memajukan pembangunan di Aceh.

Saya memang tidak memiliki kesemua hikayat yang pernah dikarang Syeh Rih Kruengraya, mulai yang perdana sampai yang terakhir. Judul-judul hikayat yang sempat saya koleksi hanyalah : “Kisah Nasib Aneuk Meuntui (1970)”, “Ranub Sigapu”, Aceh Seuramoe Mekkah”, “Tijoh Ie Mata (1986)”, ”Darohaka bak Poma”, “Fitnah bak Matuan (1993)”, “Tapeugot Nanggroe (Aceh Rayek)”. “Beusapeue Pakat (1996)” dan “Ie Mata dalam Gurita (Banda Aceh, 21 Juni 1996)”. Biarpun hanya sedikit dari puluhan hikayat karya Syeh Rih Kruengraya yang saya miliki, namun isi hikayat-hikayat itu jelas tercermin bahwa Syeh Rih Kruengraya (almarhum) adalah penyokong teguh dan  pendukung kuat Golkar.

Silahkan saja membaca beberapa halaman dari hikayat “Tapeugot Nanggroe (Aceh Rayek)” dan hikayat “Beusapeu Pakat”, misalnya. Pasti yang anda temukan dari bait-bait syair Aceh yang indah padanan bunyinya itu, bahwa beliau adalah pencinta kemajuan rakyat Aceh.

Demi memperlancar kemajuan Aceh, Syeh Rih Kruengraya melalui nasihat, imbauan, bahkan gurauan dalam hikayat-hikayat yang ditulis sendiri –bahkan seringkali dilantunkan oleh beliau sendiri pula- terus menerus mengajak masyarakat Aceh agar tetap bersatu, rajin bekerja, tekun belajar, hemat-cermat, dan selalu hidup rukun damai sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

Dalam memberi sokongan kepada Golkar, Syeh Rih Kruengraya adakalanya menyebutnya secara berterus-terang, dan tidak jarang pula secara kiasan atau tersirat. Pada halaman 26 hikayat “Tapeugot Naggroe (Aceh Rayek)”, Syeh Rih Kruengraya bertamsil begini:

Sikureung tujoh katroh bak janji/

Akan bupati peue na ta euntat/

Buka hai rakan hidang kanduri/

Akan bupati jak jok meuseukat/

Berdasarkan sebagian kecil bukti yang telah saya beberkan, menjadi amat jelaslah bahwa Syeh Rih Kruengraya adalah pendukung teguh  dan  penyokong setia Golkar.

Sekarang timbul pertanyaan, apakah balasan Golkar terhadap jasa-jasanya itu? Kini Syeh Rih Kruengraya telah pulang ke alam baka (kekal). Beliau sendiri memang tak menagih balas jasa. Namun, perlu diingat, bahwa Syeh Rih Kruengraya almarhum ada meninggalkan keluarga, baik istri dan dua orang anak yang belum dewasa.

Dalam hal ini, saya menyarankan dua cara yang patut dilaksanakan pihak Golkar Aceh, yaitu: 1. Sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan Syeh Rih Kruengraya, agar disampaikan ke rumah kontrak mereka di Dusun Sa’adah No. 111, Desa Lubuk Batee, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar.

2. Pihak Golkar, agar sudi kiranya membeli semua hikayat  karya Syeh Rih Kruengraya yang belum terjual/bersisa di toko buku seluruh daerah Aceh. Kumpulan hikayat itu nanti disumbangkan ke berbagai perpustakaan/taman bacaan yang ada di Aceh. Tujuan sumbangan itu adalah untuk melestarikan karya hikayat Syeh Rih Kruengraya. Sementara harga  dari pembeliannya, mungkin agak membantu keluarga yang ditinggalkan almarhum Syeh Rih Kruengraya. Semoga!.

dto

T. A. Sakti

( Catatan: Baca rubrik surat pembaca Harian SERAMBI INDONESIA, Banda Aceh, Senin, 19 Mei 1997 halaman 4- T.A. Sakti,4 – 4 – 2010).

DUKONG SYARI’AT

Dukong Syari’at

Assalamu’alaikom kawom sahabat

Peulara adat deungon budaya

Budaya Aceh saheh beukuat

Deungon syari’at cit saboh punca

Peue lom di Aceh teungoh seumangat

Peudong syari’at hukom agama

Ulama-umara beusapeue pakat

Meunan cit rakyat dukung bersama

Meung na lagee nyan Tuhan bri rahmat

Aceh beureukat jeuoh ngon bala

Naggroe pih aman makmu ngon rakyat

Rot laot-darat teuka sijahtra.

T. A. Sakti

24 Muharram 1427

23 Feb 2006

KKN DAN LOMBA HIKAYAT ACEH

Komentar Pembaca:

KKN dan Lomba Hikayat Aceh

Dalam dua bulan terakhir, kita sering membaca berita pelepasan mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) menuju desa di Aceh. Paling akhir, kita membaca berita pelepasan KKN mahasiswa Universitas Iskandarmuda (Unida) menuju desa pengabdian mereka di Aceh Besar.

Keberhasilan suatu program KKN, sangat tergantung kemampuan membina keakraban pada tahap awal antara mahasiswa KKN dengan penduduk setempat. Bila keakraban telah erat, maka harapan berhasilnya KKN kemungkinannya akan semakin besar.

Kiat-kiat pendekatan dengan warga pedesaan tentu sudah banyak dibekali sejak di kampus. Namun, salah satu ‘azimat’ pendekatan yang MUNGKIN MALU disarankan kepada mahasiswa KKN adalah lomba membaca hikayat Aceh. Padahal sebagian warga desa masih sangat gemar membaca atau mendengar bacaan rakyat.

Keberhasilan pendekatan lewat lomba baca hikayat Aceh, pernah dialami para mahasiswa KKN Unsyiah  tahun 1992 di desa Ulee Tanoh dan Gampong Meunasah Nga, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara. Waktu itu mereka mengadakan perlombaan baca hikayat dengan peserta para pemuda dan orang-orang tua di tingkat  Kemukiman dari desa-desa itu. Acara lomba memang ada beberapa, tapi ternyata pada lomba baca hikayat Aceh jumlah pesertanya membludak. Inilah buktinya, bahwa Hikayat Aceh masih banyak peminatnya di gampong-gampong!!!. Keterangan ini saya peroleh dari peserta KKN di desa Ulee Tanoh yang kini bergelar sarjana. Mudah-mudahan akan tampil mahasiswa KKN lain yang mengikuti jejak mereka. Yah, paling kurang bisa berguna untuk menggairahkan pelajaran muatan lokal di Aceh, yang hingga kini masih tertatih-tatih!. Atau pun dalam rangka “mengenang” pengarang besar hikayat Aceh almarhum Syekh Rih Kruengraya!

dto

T.A. Sakti


MANDI SAFAR MENURUT ADAT POTEUMEUREUHOM

Rubrik Droe Keudroe:

Mandi Safar Menurut Adat Poteumeureuhom

Dalam pandangan masyarakat Aceh tempo dulu, bulan Shafar (baca: Safar/Safa) adalah bulan panas dan banyak naasnya yang bisa membawa bahaya. Anak yang lahir pada bulan Safar pun dianggap berwatak ‘panas’ yaitu pemarah karena “Seumaloe Safa” (pembawaan Safar). Para orang tua, biasanya akan menasehati anggota keluarganya agar tidak melakukan segala kegiatan pada bulan ini secara berlebih-lebihan, karena bisa mendatangkan bahaya atau bala.

sehubungan dengan pandangan ‘bulan panas’ itulah, maka di Aceh hidup Tradisi Mandi Safar yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Upacara Mandi Safar ini dilakukan pada hari Rabu terakhir dari bulan Safar, sehingga dalam bahasa Aceh disebut Manoe Rabu Habeh (mandi hari Rabu terakhir di bulan Safar). Kenapa mesti hari Rabu?. Karena dalam pandangan tempo dulu, hari Rabu adalah hari yang naas, yakni ada bahayanya disaat-saat tertentu di hari itu.

Uroe Rabu Habeh (hari Rabu penghabisan) buat tahun2004 ini jatuh pada hari rabu, 24 Safar 1425 H atau tanggal 14 April 2004. Hanya saja, karena telah dirasuki atau ‘dirusak’ budaya luar, maka pad saat sekarang tradisi Mandi Safar pun tidak lagi dilakukan pada hari Rabu yang khas itu, tetapi pada hari Minggu; mulai dua minggu terakhir dari bulan Safar, yaitu tanggal 11 dan 18 April 2004.

Banyak unsur ‘misteri’ dan spiritual yang hilang dari tradisi Mandi Safar dewasa ini. Walaupun masih pada bulan Safar, tetapi hari “H” Manoe Safa tidak lagi dilakukan pada hari Rabu, tetapi pada hari Minggu. Penyebutan Manoe Safa/Mandi Safar pun sudah amat jarang terdengar. Paling-paling orang hanya menyebut “Jak manoe u laot (pergi mandi ke pantai atau jak u pasi). Jadi, pada masa kini Mandi Safar sama sekali sudah terlepas dari rasa misteri dan kepercayaan. Tradisi Jak manoe u pasi sekarang sudah dianggap sebagai rekreasi biasa, pergi hura-hura atau bertamasya/piknik dalam setahun sekali.

Menurut penuturan orang-orang tua, mereka melakukan Manoe Rabu Habeh tempo dulu dengan penuh harapan dan kelegaan. Sebab, setelah melaksanakan upacara itu mereka percaya, bahwa kehidupan mereka akan bahagia, sukses dan jauh dari berbagai rintangan hidup. Bila sebelum itu ada rasa was-was dan pesimis, namun setelah upacara tersebut, rasa optimis dan lega timbul serempak memenuhi jiwa. Rasa kemengangan ini akan lebih berbunga-bunga lagi jika yang merasakannya adalah anak-anak.

Betapa tidak!. Sebab seluruh upacara Manoe Safa itu, sejak dari awal sampai ke ujungnya sangat sarat dengan kepercayaan agama. Jauh beberapa hari sebelum hari ‘H’, anak-anak sudah diajar membca ‘niat manoe safa’, yang inti isinya meminta atau memohon kepada Allah Swt agar dijauhkan dari segala bala serta terhindar dari fitnah Dajjal. Tersiar pula berita sebelum hari ‘H’, bahwa ulama-ulama kharismatik/ panutan rakyat, telah pula pergi ke pasi/laut dan hulu-hulu sungai (pucok krueng) untuk menanam di dasar sungai berbagai ‘surat do’a’, sehingga dipercaya Manoe Rabu Habeh akan lebih besar manfaat dan mujarabnya.

Memang, Tradisi Mandi Safar di Aceh tempo dulu sangat berbeda dengan upacara Jak Manoe U Laot sekarang. Malah pada zaman Sultan Iskandar Muda alias Poteumeureuhom hari ‘H’ itu adalah hari libur nasional, karena dilaksanakan secara kenegaraan. Perihal itu tersebut dengan jelas dalam kitab “Adat Aceh” warisan Sultan Iskandar Muda, yang mana kitab itu telah saya salin ke huruf Latin dari huruf Arab Melayu/Jawoe.

Khusus bagi upacara Mandi Safar yang akan diikuti Sultan Aceh, persiapannya sudah dilakukan panitia khusus sejak dua bulan sebelum hari H-nya.

Dalam hal ini, panitia yang dipimpin Syahbandar Muktabar Khan sudah mulai bekerja sejak bulan Zaulhijjah-Muharram s/d Safar. Salah satu tugas dari panitia khusus ini adalah membangun ‘Istana Mini’ di tepi laut tempat Sultan aceh bersemanyam selama upacara Mandi Safar itu. Pada hari ‘H’, maka diaraklah Sultan Aceh dengan penuh kebesaran; mulai dari Istana Darud Dunia (Kraton Aceh) sampai ke Istana Mini di pinggir pantai. Maka upacara Manoe Rabu Habeh pun berlangsung dengan meriah, megah dan penuh misteri!.

18 – 4 – 2004

dto

T.A. Sakti

JAMU, SETARA OBAT MODEREN?: Lingkungan Hidup

Komentar Pembaca:

Jamu,  Setara Obat Modern?

Berita Serambi yang berjudul “Jamu Kedudukannya Setara dengan Obat Modern”; merupakan  sebuah pengakuan penting yang bisa menggugah bagi pencinta obat tradisional  yang masih maju- mundur alias ragu-ragui (baca: Serambi, Jum’at 8-8-197 hlm. 2).

Berita yang berasal dari Seminar Obat Tradisional yang diadakan Himpunan Penulis Kesehatan yang akan berlangsung pada 12-13 September 1997 berthemakan: “Jamu Sebagai Obat Alternatif dan Strategi Menghadapi Pasar Global”, nanti akan diikuti pameran obat tradisional.

Ketika menerima panitia seminar di Departemen Kesehatan, Jakarta, Kamis, Menteri Kesehatan Sujudi menyebutkan: “Jamu tradisional sebagai alternatif pengobatan masa kini makin mendapat tempat di masyarakat, bahkan kedudukannya setara dengan obat modern. Menkes mengatakan, pihaknya kini tengah mengembangkan sentra-sentra pengobatan tradisional di beberapa rumah sakit pendidikan, misalnya di RSCM Jakarta, RS di Yogyakarta, Manado dan Surabaya.

Menyimak kemajuan pesat obat tradisional di luar Aceh, kita bertanya-tanya sejauh mana perkembangan obat tradisional di daerah ini?. Data yang konkrit memang belum kita ketahui, namun gejala-gejala kemajuannya jelas bergerak naik. misalnya, dengan ikut sertanya Perusahaan Jamu Tanah Luas, Aceh Utara pada “Pameran Industri” di Lhokseumawe baru-baru ini!. Tapi, sayangnya iklan-iklan jamu Aceh di radio swasta-niaga Banda Aceh yang beberapa waktu lalu amat gencar, kini tak terdengar lagi. Entah kehilangan gairah atau mengapa?. Wallahu a’lam!. Kiranya, bagi menggairahkan kemajuan obat tardisional di Aceh, patutlah digelar sebuah seminar ‘kelas kakap’ di daerah ini. Mudah-mudahan akan tampil pihak-pihak yang mendukung gagasan ini. Semoga!

dto

T.A. Sakti.

Membangkitkan Kembali Peradaban Aceh/IHYAON TAMADDON ACEH

Ihyaon Tamaddon Aceh

Oleh: T.A. Sakti

Peringatan Hari Jadi IAIN Ar-Raniry ke 43 -yang diperingati Sabtu (25/11/2006) lalu- mengandung faktor historis yang dalam. Paling kurang, para pemimpin Aceh tahun 60-an telah mengambil nama ulama besar Nuruddin Ar-Raniry itu menjadi nama lembaga pendidikan –yang dulu- amat dibanggakan masyarakat Aceh. Syekh Nuruddin Ar-Raniry adalah ulama besar Aceh pada abad ke 17. Mufti dan Kadhi Malikul Adil-Syaikhul Islam pada masa Sultan Iskandar Tsani yang berasal dari Pahang (negeri di Malaysia-sekarang). Beliau berasal dari Ranir/Gujarat (India) dan hanya 7 tahun sempat menetap di Aceh. Hebatnya walau hanya sebentar di Aceh, namun ia telah mengarang 21 kitab yang sampai pada abad ke 21 ini masih dipelajari di berbagai tempat di Asia Tenggara, bahkan dunia. Setelah pulang ke Ranir (India),  beliau masih menulis tiga kitab lagi, yang khusus diperuntukkan guna dikirim ke Aceh dan negeri-negeri di Nusantara/Asia Tenggara.

Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama” antara lain menulis “Keahlian Al-Raniri menyangkut sejarah Nusantara jelas luar biasa”. Ini mengenai kitab Bustanus Salathin yang membahas sejarah dunia Melayu Raya. Azyumardi juga mengatakan: “Tidak kalah penting adalah peranan Al-Raniri dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai lingual franca di wilayah Melayu -Indonesia.  Dia bahkan diklaim sebagai salah seorang pujangga Melayu pertama.

Sungguh hebat kreativitas Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Setelah empat abad berlalu, tiada seorang pun pengarang yang sama produktifnya seperti beliau di Nusantara-Asia Tenggara; terkecuali Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Khusus di Aceh, pernah memang beberapa orang produktif menulis seperti A. Hasjmy, H. M. Zainuddin, dan Husainy Ismail, namun dari segala hal memang tidak sebanding dengan karya-karya Nuruddin Ar-raniry. Bahkan, Husainy Ismail yang telah menulis 34 buku, tetapi hanya segelintir yang sempat diterbitkan karena ketiadaan dana. Kehebatan Syekh Nuruddin Ar-Raniry dalam mengarang; pernah pula ditiru para dosen  IAIN Ar-Raniry. Saat itu para staff pengajar  lembaga “yang memakai nama beliau”   itu;  beramai-ramai menulis buku. Ketika itu, saya sendiri   sering mendengar pembicaraan diantara dosen Unsyiah tentang kehebatan dosen-dosen IAIN Ar-Raniry. Tapi sekarang,  gema  itu  tak berdenting  lagi. Ketika membandingkan produktivitas pengarang Aceh abad ke-17 dengan kemampuan penulis Aceh abad ke-21, ternyata pemenangnya adalah pengarang Aceh abad ke-17. Mengapa bisa terjdai demikian?. Padahal, segala fasilitas menulis amat berlimpah sekarang!.

Bila diselidiki lebih dalam, ternyata faktor dukungan Kerajaan Aceh-lah yang membawa Nuruddin Ar-Raniry mampu mengarang kitab sebanyak itu. Pikiran beliau memang cemerlang, namun itu tidak cukup sebagai modal menulis. Lihat saja Husainy Ismail yang menulis 34 buku, tapi berapa judul yang sempat kita baca?. Husainy Ismail tidak mendapat dukungan dari “Pemerintah”, sehingga karya-karyanya tidak bisa diterbitkan dan tidak beredar di khalayak ramai.

Lain halnya dengan kepengarangan Syekh Nuruddin Ar-Raniry di abad ke-17 masa Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau berada di urutan orang ketiga di lingkungan istana (Dalam). Ia terus-menerus dapat “Pesanan” untuk menulis kitab dari Sultan Iskandar Tsani, Ratu Safiatuddin, dan para pejabat tinggi negara lainnya. Dengan dilingkungi kemewahan/kemudahan -tanpa terhalang suatu apapun- maka menulislah Syekh Nuruddin Ar-Raniry dengan segala kemampuan kecerdasannya. Lebih-lebih lagi, apa yang ditulisnya memang sesuai dengan ‘selera’ sendiri, maka kitab-kitab itu tentu akan lebih cepat selesai. Dengan dana kerajaan pula karya-karya itu dikirim ke berbagai wilayah di Nusantara, dan ini sudah jadi tradisi sejak Sultan Iskandar Muda. Malah, Azyumardi Azra mendapat bukti, bahwa kitab Sirathal Mustaqim dikirim sendiri oleh Ar-Raniry ke negeri Kedah (negeri di Malaysia-sekarang) pada tahun 1050 H/1640M.

Ketika berada kembali di negeri asalnya Ranir/Gujarat (India), goresan pena Nuruddin Ar-Raniry tidak sekencang di Aceh. Selama tujuh tahun di Aceh, ia mengarang 21 judul kitab, sedangkan selama 14 tahun berada kembali ke Ranir beliau hanya menulis tiga buah karangan. Ini bukti pula bahwa keagungan Ar-Raniry yang sukses mengarang puluhan kitab semasa di Aceh adalah berkat dukungan penuh Sultan Aceh serta kalangan istana (sekarang: Pemerintah/Pemda dan DPR/DPRA). Sewaktu kembali di Ranir, dukungan itu putus, maka karyanya pun turun drastis, walaupun faktor usia dan kepentingan perlu juga diperhitungkan.

Bukti paling mutakhir, bahwa produktivitas menulis/mengarang perlu didukung “pemerintah” adalah penulisan “Buku-Buku Sejarah Aceh dan Tsunami”. Dengan dukungan DPRD Aceh, Gubernur Aceh (Dinas Kebudayaan NAD) telah mampu menggerakkan puluhan penulis Aceh. Walaupun dengan honor “pas-pasan”, ternyata gairah menulis di Aceh terangkat, dan buku-buku itu sedang dicetak sekarang.

Dalam keterpaduan kerjasama antara legislatif dan eksekutif  itulah, kita mengahrapkan adanya gerakan: “Membangkitkan kembali peradaban Aceh” atau Ihyaon Tamaddon Aceh. Semacam upaya pencerahan kembali setelah berlangsung konflik dan Tsunami. Dengan kerjasama terpadu DPRA-Gubernur Aceh, perlu disediakan anggaran khusus setiap tahun untuk menggerakkan peradaban Aceh, baik yang sedang terpendam maupun yang aktual berkembang sekarang.

Contoh peradaban yang sedang terpendam adalah karya-karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Selama ini, kita hanya mengenal judul-judul kitab Ar-Raniry dari berbagai tulisan yang ditulis orang lain tentang Ar-Raniry. Sebagian kecil isi kitab pun, kita ketahui dari karangan orang lain, misalnya dari tulisan A. Hasjmy, Ahmad Daudy, Azyumardi Azra dan lain-lain.

Karya-karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry adalah bukti peradaban Aceh yang sudah amat tinggi di masa lalu. juga merupakan bukti gelaran “Serambi Mekkah” bukan sekedar asal bunyi semata. Karena itu, karya-karya tersebut harus ada dan mesti dilestarikan di Aceh sepanjang masa. Paling kurang dalam bentuk fotokopy; karya-karya Ar-Raniry dari A hingga Z perlu tersedia di Aceh. Lebih baik lagi kalau dapat dicetak ulang;  dalam huruf aslinya Arab-Jawoe dan huruf Latin. Menurut berbagai sumber yang dapat kita baca, karya-karya Ar-Raniry kini tersebar di Pustaka Universitas dan museum di lima benua, dan butuh bantuan seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra untuk melacaknya. Dan pencarian yang terdekat dengan Banda Aceh, yaitu di Dayah-Pesantren Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar.

Akhirnya, bila karya-karya Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fanshury, Syamsuddin As-Sumatra-i/ny dan Syekh Abdurrauf Syiah Kuala –para ulama Aceh abad 16-17- telah terkumpul kembali secara utuh di Aceh, barulah negeri ini pantas digelar negeri yang menghargai peradaban ibu pertiwi. Dan hal itu bukan tidak mungkin, bila legisltif dan eksekutif Aceh bersatu hati!. Contohnya, pada kekompakan penulisan “Buku-Buku Sejarah Aceh dan Tsunami” yang menghabiskan dana empat milyar rupiah lebih tersebut tadi!!!

Dto

T.A. Sakti

3 – 11 – 1427/28 – 11 – 2006

RANCAGE, KAPAN ANDA HARGAI SASTRAWAN ACEH???

Suara Publika:

Rancage, Kapan Anda Hargai Sastrawan Aceh ???

Harian Republika, terbitan Kamis, 17 Februari 2000 halaman 10 menurunkan berita yang berjudul “Yus Rusyana Raih Hadiah Sastara Rancage 2000”. Hadiah sastra Rancage adalah penghargaan bagi sastra daerah yang diberikan oleh “Yayasan Kebudayaan Rancage”, yang didirikan oleh sastrawan kawakan, Ajip Rosidi pada tahun 1989.  Menurut sebuah sumber yang pernah saya baca, bahwa sumber dana untuk berbagai hadiah itu kebanyakan berasal dari sumbangan berbagai Bank yang telah menjadi donatur tetap yayasan itu.

Pada mulanya (1989) Hadiah Sastra Rancage hanya diberikan kepada para pengarang sastra bahasa Sunda. Tahun 1994 diperluas lagi kepada sastrawan bahasa Jawa. Baru pada tahun 1998 yang lalu, Hadiah Sastra Rancage ini juga diperuntukkan bagi sastrawan daerah Bali.

Sebagai penerima Hadiah Sastra Rancage tahun 2000 ini, bagi sastra Sunda diberikan kepada Prof. Dr. H. Yus Rusyana dan Chiye Retty Isnendes. Untuk sastra Jawa jatuh kepada Widodo Basuki dan Suparto Brata. Sementara buat sastra Bali akan diterima oleh I Gde Dharna dan I Ketut Rida, yang penyerahan hadiahnya akan diadakan di kampus Institut Pertanian Bogor (ITB), 19 Agustus 2000.

Sesuai dengan bunyi judul di atas, pertanyaan yang timbul adalah: kapan Yayasan Kebudayaan Rancage mau menghargai Sastrawan Aceh?. Memohon dihargai seperti ini, khusus bagi sastrawan/sastra Aceh; memang tak usah malu!. Sebab, mengharap dari pihak lain; jelas tidak mungkin sama sekali. Menurut pengamatan saya, dibandingkan masyarakat Jawa dan Sunda, orang-orang Aceh memang amat kurang mempedulikan sastra daerahnya sendiri. Berkaitan dengan sikap massa Aceh yang begitu; Pemda Aceh pun amat kurang “melirik” sastra Aceh. Jadi, sastrawan Aceh harus mengharap kemana lagi?. Kalau bukan kepada Yayasan Kebudayaan Rancage yang sudah 11 tahun lebih berturut-turut memberikan hadiah Sastra Rancage, yaitu kepada sastrawan Sunda (sejak 1989), sastrawan Jawa (sejak 1994), sastrawan Bali (sejak 1998)…, dan sastrawan Aceh (sejak tahun 2001???)..!.

Menurut penilaian saya, cukup banyak sastrawan Aceh yang pantas diberi penghargaan. Memang sebagian dari karya mereka mungkin tidak dapat kita jumpai sekarang, namun nama mereka sebagai “Pujangga Aceh” masih terkenal hingga saat ini. Mereka yang termasuk kelompok ini adalah para pengarang zaman Belanda, seperti Syekh Min Janthoe dan Syekh Tam Bayu.

Di antara pahlawan sastra Aceh setelah tahun 1945 dan sebagian dari mereka masih aktif berkarya sampai sekarang ialah: Tgk. Muhammad El Abdul Muthalib Reului Mangat Ulee Gle, Tgk. Syekh Mahmud Sibreh,Syekh Min Jeureula,  Tgk. M. Thaib Abubakar Geudong, Tgk. Nurdin Daud Idi, Tgk. Abdul Gani Bireuen, Tgk. H. Muhammad Abbas Jacob As-Suf, Tgk. H. Mahyidin Yusuf Banda Aceh (alm), Syekh Rih Kruengraya (alm), Anzib Lamnyong dan Tgk. Nyak Tihawa Arsyadi.

Sastrawan Aceh tersebut di atas, yang amat produktif menghasilkan karya-karya syair Aceh/hikayat adalah  Syekh Rih Kruengraya. Sebagian kecil dari karangannya sempat saya miliki, yang sengaja saya kumpulkan/membeli di Toko Buku; segera setelah  saya baca berita, bahwa beliau telah meninggal dunia pada 12 April 1997. Sementara yang cukup produktif dewasa ini adalah Drs. Ameer Hamzah, sedangkan yang baru memulai mengarang karya sastra Aceh adalah Drs. Muhammad Kalam Daud.

Saya sendiri mulai berkecimpung secara serius menggeluti sastra Aceh baru sejak tahun 1992, tapi lebih terfokus pada upaya menyelamatkan sastra Aceh lama. Kini sudah 25 naskah lama yang telah saya alihkan hurufnya dari Arab Melayu/Jawoe/Jawi ke aksara Latin. Namun tak bisa mencetaknya karena tak memiliki dana. Begitulah nasib sastra Aceh!!!.

23 -2- 2000

dto

T.A. Sakti