SETELAH 20 TAHUN FK UNSYIAH:

Setelah 20 Tahun FK Unsyiah:

MASIHKAH MENJADI KEBANGGAAN RAKYAT ACEH?

Oleh: T. A. Sakti

TULISAN  Dr. Syahrul. Sp. S , Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Unsyiah, yang berjudul “Kedokteran Unsyiah, Menuju Profesionalisme” (Serambi Indonesia, Rabu, 3 April 2002, halaman 4); telah menimbulkan pertanyaan dibatin penulis, masihkah FK Unsyiah  menjadi kebanggaan rakyat Aceh?. Sebab, kalau menyimak kembali sejarah berdirinya Fakultas Kedokteran (FK) Unsyiah, akan tergambar jelas bahwa keberadaan FK Unsyiah itu benar-benar sebuah kebanggaan rakyat Aceh tempo dulu.

Menyikapi hasrat suara rakyat itulah, maka para pemimpin Aceh tidak bosan-bosannya berusaha mewujudkannya. Padahal beberapa Fakultas sudah berdiri megah di kampus Darussalam saat itu. Namun, sebelum FK dibangun, terasa masih hambar sebuah Perguruan Tinggi (PT). Ibarat rujak-seunicah, na mangat hana merasa! (rujak yang kurang bumbunya). Berkat usaha keras dan perjuangan dari tokoh masyarakat Aceh – seperti diakui Pembantu Dekan I FK Unsyiah, sebagai mengwujudkan “mimpi rakyat Aceh” itu, Alhamdulillah.

Guna menunjukkan kembali, betapa rindunya rakyat Aceh akan Fakultas Kedoteran; ada baiknya kita cuplik kembali suara media massa saat itu yang mungkin bisa mewakili suara massa rakyat Aceh ketika itu. Penulis pribadi, selaku mahasiswa Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM)Unsyiah Tingkat IV, yang sedang asyik dengan “dunia jurnalistik”, telah menyinggung berkali-kali tentang FK Unsyiah; begitu pula dengan penulis/wartawan yang lain.

Dalam Bulletin “Peunawa” edisi 4-5 tahun 1980 terbitan Senat Mahasiswa Fekon Unsyiah, secara khusus saya menulis mengenai Fakultas Kedokteran Unsyiah dengan judul : “Bibit Unggul di Tanah Subur”. Masih dalam Bulletin “Peunawa”, yakni no. 2/Juni 1980 dalam tulisan yang berjudul ; “Tanggal Keramat yang Dilupakan, Mengapa?”. Pada bagian pendidikan di Aceh, saya singgung pula perihal FK Unsyiah dengan uraian yang cukup panjang.

Kemudian, dalam sebuah syair Aceh yang berjudul “Kru Seumangat!”, yang dimuat Bulletin “KERN” terbitan Senat Fakultas Teknik Unsyiah, nomor perdana -1/1980, saya juga menimang-nimang FK Unsyiah dalam syair Aceh. Selanjutnya, pada halaman khusus MTQ Nasional ke 12 di Banda Aceh, saya menulis artikel berjudul “Mengapa Propinsi Aceh digelar Daerah Istimewa? (Hr. Waspada, 6 Juni 1981 halaman IX).

Mengenai Unsyiah, dalam tulisan itu antara lain saya menyebutkan: “Tentang perkembangan Universitas Syiah Kuala, mulai tahun 1979 boleh kita katakan sudah menanjak dewasa, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pembukaan Fakultas Kedokteran ditahun tersebut, merupakan bukti kedewasaannya. Sudah hampir dua puluh tahun sejak kampus Darussalam dibuka, putera-puteri Aceh masih terpaksa merantau ke luar daerah, jika bermaksud melanjutkan studi dibidang kedokteran!!.”.  Begitulah, gambaran kebanggaan saya terhadap FK Unsyiah, yang saya yakin juga dirasakan oleh sebagaian besar masayarakat Aceh pada 20 tahun yang lalu. Kini, pada saat ulang tahun ke 20 FK Unsyiah, saya menulis artikel ini dengan “Mesin Tik” yang sama pula; sebagai pertanda yang kuat, bahwa saya masih mencintai FK Unsyiah.

Saat menyambut kehadiran Fk Unsyiah, Surat kabar Atjeh Post, edisi 1 Agustus 1979 dalam Tajuk Rencananya antara lain menulis; “Hati Siapa tidak akan bangga sewaktu mendengar dan membaca pengumuman No. 01/BPFK-BNA/1979 yang datangnya dari Badan Persiapan Fakultas Kedokteran Banda Aceh, yang kemudian disambut baik oleh Rektor Unsyiah lewat pengumunnya No. 2408/FT/4/F-79 ayat B yang isinya menyatakan, bahwa tahun akademi 1979 akan dibukanya Fakultas Kedokteran di Universitas Syiah Kuala. Cita-cita ini sebenarnya sudah cukup lama dikandung oleh rakyat Aceh, malah sejak 18 tahun yang lalu disaat Universitas Syiah Kuala pertama kali didirikan..”

Timbul pertanyaan, mengapa masyarakat Aceh sangat bangga jika daerah mereka memiliki Fakultas Kedokteran?. Jawabannya paling kurang ada dua sebab, yaitu demi terpenuhinya kebutuhan mereka di bidang kesehatan dan demi gengsi dan emosional, agar pendidikan daerah Aceh juga sederajat dengan daerah-daerah lain, yang sejak puluhan tahun lalu telah memiliki Fakultas Kedokteran.

Apakah kebanggaan rakyat Aceh itu masih tetap “bergema” atau menyala hingga sekarang?. Hal ini sangat tergantung kepada perilaku para pengelola FK Unsyiah beserta para alumninya yang kini sudah bertugas membina dunia kesehatan masyarakat Aceh.

Menyimak tulisan Dr. Syahrul, Sp. S tersebut di atas, cukup terkesan bahwa   FK Unsyiah benar-benar mengabdi demi masyarakat, tentu  buat masyarakat Aceh. . Jadi, kalau FK Unsyiah masih berpihak kepada masyarakat, tentulah  masyarakat Aceh masih tetap pula bersimpati kepadanya.

Dr. Syahrul, Sp. S menyebutkan, kepemimpinan FK Unsyiah cukup terbuka dan dapat mendengarkan pandapat orang lain. Keadaan ini tentu cukup baik, demi mempercepat tercapainya program kerja di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), juga membuktikan Fakultas Kedokteran Unsyiah terus menebarkan manfaatnya kepada rakyat Aceh. Apalagi dengan adanya RS satelit di berbagai kota/kabupaten sebagai tempat pendidikan para dokter muda, tentu akan berakibat pelayanan kesehatan masyarakat Aceh semakin lancar dan merata.

Bila semua butir-butir penting dari program FK Unsyiah – seperti yang disampaikan Pembantu Dekan I – kita perhatikan, maka dapat disimpulkan FK Unsyiah masih berpihak kepada amanat para pendirinya, terus mengabdi kepada masyarakat Aceh, sehingga tetap dicintai serta dibanggakan mereka.

Bagaimana dengan butir-butir program yang tidak dimuat dalam tulisan Dr. Syahrul, Sp.S???. Inilah yang menjadi pertanyaan!.Salah satu soal terpenting;  siapakah yang kuliah di FK Unsyiah sekarang?. Kalau melihat pada mutu pendidikan di Aceh yang relatif masih rendah, tentu sulit sekali bagi putra-putri Aceh bisa lulus pada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Adakah jalur khusus yang ditempuh FK Unsyiah untuk menjaring calon mahasiswanya dari putra-putri Aceh? ;  yang mutu pendidikan secara nasional memang masih rendah itu???.Mari kita amati!.

(Catatan: Dengan pemangkasan oleh Redaktur di sana-sini, tulisan di atas pernah dimuat Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh dalam rubrik “Droe Keu Droe”, Sabtu,  tanggal 20 April 2002 halaman 4/Opini.

CATATAN   TAMBAHAN: “Daya saing lulusan sekolah Aceh masih sulit bersaing  dengan lulusan luar daerah. Kenyataan, lulusan SMA di Aceh sulit bersaing masuk ke Unsyiah.

Saat ini, Unsyiah didominasi lulusan  sekolah luar Aceh, terutama fakultas favorit seperti kedokteran, menurut informasi, 90 % lebih mahasiswa yang diterima di Fakultas Kedokteran Unsyiah tahun 2009 adalah lulusan dari luar Aceh.”.

SUMBER:  “Mengurus Pendidikan Aceh”, Oleh: Anas M. Adam, Harian Serambi Indonesia, Sabtu, 16 Oktober 2010 halaman 18/Opini.

TAMBAHAN BARU:  Baru-baru ini, saya bersama seorang teman   sudah selesai menyalin dan alih aksara Kitaburrahmat… karya terjemaham Syekh Abbas Kuta Karang tahun 1270 H. Kitab ini membahas tentang ilmu kesehatan dan kedokteran. Sebagai salah seorang yang mencintai Fakultas Kedokteran Unsyiah, saya menghimbau Dekan FK Unsyiah agar sudi mencetak/menerbitkan buku ini!.  Bila diterbitkan, buku ini tercetak dalam dua macam huruf, yakni sebelah kanan dalam huruf Latin dan sebelah kiri dengan huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe. Bale Tambeh Darussalam, 23 Januari 2012, pkl 9.45 wib., malam, T.A. Sakti.

Iklan

Satu pemikiran pada “SETELAH 20 TAHUN FK UNSYIAH:

  1. pengen banget bisa bergabung sama FK UNSYIAH !
    amiin ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s