PENCERNAAN, DUA TEORI DARI DUA ZAMAN

Komentar Pembaca:

Pencernaan, Dua Teori dari Dua Zaman

Halaman Anak-Anak Serambi Indonesia, Minggu, 19 Januari 1997 memuat tulisan yang berjudul “Pencernaan Makanan Dimulai dari Mulut Kita”. Karangan itu kurang mendetil, karena hanya ditujukan kepada anak-anak. Namun demikian, secara garis besar memang disebutkan tahap-tahap peredaran makanan sejak dari mulut sampai ke pembuangan ampasnya.

Saya memiliki sebuah naskah “jameuen”/lama yang di dalamnya juga memuat proses pencernaan makanan pada manusia. Pada kesempatan ini, saya ingin membandingkan teori modern pencernaan makanan yang dijelaskan dalam harian Serambi tersebut di atas dengan teori kuno yang diuraikan dalam kitab yang telah dituliskan lebih dari 150  tahun (satu setengah abad). Kitab terjemahan Syekh Abbas Kutakarang itu berjudul”Kitaburrahmah Fitthib wal Hikmah”  berangka tahun 1266 H.

Mula-mula akan diringkas proses pencernaan makanan yang dimuat harian Serambi Indonesia. Setiba dalam mulut, makanan dikunyah dengan gigi dan bantuan air liur. Kemudian, makanan masuk ke lambung. Lambung segera mengeluarkan sekresi yaitu lender, asam hidroklorida, dan enzim-enzim tertentu seperti pepsi dan rennin pada anak-anak.

Dalam lambung, makanan bercampur dengan getah lambung dengan gerakan seperti mengocok. Akibatnya makanan menjadi suatu massa setengah cair, disebut chyme. Seterusnya,  makanan dihancurkan lagi di dalam usus dengan berbagai getah usus. Setelah sekitar 3-4 jam sejak kita makan, cairan chyme bergerak ke pintu usus halus. Dalam usus halus terjadi pencernaan lagi dan mulai diserap oleh tubuh. Sekresi yang paling berperan adalah dari sumber hati, pankreas dan usus itu sendiri.

Makanan yang sudah berbentuk cairan, kemudian diserap usus melalui berjuta-juta pipa penyodot yang disebut vili. Selesai diserap, maka berakhirlah proses pencernaan makanan, sekitar ampas-ampasnya dibuang melalui anus alias zubur.

Dengan menggunakan istilah-istilah yang lebih sederhana, Kitab terjemahan ulama Aceh tersebut di atas, memuat pula rangkaian proses pencernaan makanan dalam tubuh manusia. Setelah makanan masuk dalam perut/lambung?, maka datanglah “panas” ke situ untuk menghancurkannya. Makanan yang sudah cair tu dinamakan Kimus. Kemudian kimus ini bergerak ke dalam Kendi yang letaknya di sisi/di samping hati. Serta-merta datang pula ke dalam kendi berupa “panas”. Sekali lagi panas ini menghancurkan makanan. Cairan makanan pada tahap ini diberi nama Kilus.

Seterusnya, setelah cair yang bernama Kilus ini menjadi empat unsur,  yaitu: darah, dahak, shaghirak dan sauda. Darah yang bersifat/khasiat panas-kering ini tempatnya dalam empedu, sedangkan sauda yang bersifat sejuk-kering bertempat pada lemak tubuh kita. Fungsi sauda adalah mengikuti peredaran darah. Itulah sebagaian kutipan dari kitab Syair Aceh. Suatu kebiasaan saat sekarang, sebagian orang makan buah-buahan selepas makan nasi. Sebagai ‘pencuci mulut’ katanya. Sebaliknya/bertolak belakang dengan itu, kitab kesehatan tempo dulu menganjurkan kita makan buah-buahan sebelum makan nasi( lihat: Kitaburrahmah …terjemahan Syekh Abbas Kutakarang). Mengawali penjelasan proses pencernaan, kitab kuno ini juga menyebutkan bahwa sumber penyakit yang paling besar adalah makan minum kita yang tidak teratur (beradat) dan berlebih-lebihan. Ilmiahkah penjelasan naskah lama itu??? Mari kita tunggu jawaban dari para pakar kesehatan, gizi dan kedokteran!!.

Dto

T.A. Sakti

== Ahad, 12-12- 1417/20-4- 1997

= Aneuk tuha meu-Uroe Raya u gampong!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s