DIAGNOSA PENYAKIT

Komentar Pembaca:

Diagnosa Penyakit

Seorang dokter atau manteri kesehatan biasanya akan memeriksa tabuh pasiennya sebelum menyuntik atau member obat. Perihal pendeteksian atau diagnosa penyakit ini bukanlah perkara baru, sebab kitab-kitab jameun/lama juga mencatat masalah ini.

Sebuah kitab pengobatan yang dituliskan sekitar dua abad lalu; menunjuk empat objek pemeriksaan pada tubuh manusia untuk mengetahui penyakitnya, yaitu warna tubuh, perilaku, perbuatan dan tutur-katanya. Sementara cara mengetahuinya sepuluh macam.  Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab bahasa Arab ke bahasa Aceh yang dirangkai dalam bentuk hikayat atau syair Aceh.

Cara pertama memeriksa penyakit adalah dengan memegang badan si sakit. Kalau tubuhnya panas berarti ‘adan sifatnya. Kedua, kalau badannya gemuk berarti sejuk sifatnya. Ketiga, jika rambutnya ikal hitam artinya hangat sifatnya. Keempat, jika warna tubuhnya putih berarti sejuk dan banyak darah kotor (balgham). Tanda hangat banyak darah, putih-merah warna tubuhnya. Tubuh yang berwarna gandum atau kuning berarti panas. Kelima, melihat anggota badan. Bila otot lebar (urat rayek)kelihatan pada tangan dan kaki berarti bersifat panas. Kalau tidak kelihatan, berarti sebaliknya (sejuk). Keenam, melihat pada pekerjaannya. Kalau ia lincah bekerja,  berarti bersifat pana. Ketujuh, menilik kelakuannya. Jika sedang-sedang saja berarti sejuk sifatnya. Kedelapan, memeriksa keadaan tidurnya. Kalau tidurnya banyak, berarti sejuk dan basah sifatnya. Bila jaganya lebih banyak dari tidur nyenyak, berarti hangat dan kering sifatnya. Namun, jika tidur dan bangunnya pertengahan adalah akhar sifatnya. Kesembilan, memeriksa air kencing dan najis/beraknya. Kalau sangat berbau dan merah pula warnanya, maka panas sifatnya. Jika tanda-tanda itu tak ada berarti sejuk. Kesepuluh, memperhatikan perilaku tabib yang mengobatinya. Bila ia memiliki akal dan pemahaman yang tajam berarti ia bertabiat/sifat panas.

Konsep pengobatan yang dianjurkan kitab lama ini, bahwa penyakit yang bersifat panas harus diobati dengan obat yang sejuk. Sebaliknya, penyakit yang bertabiat sejuk perlu diobati dengan obat yang panas. Demikian pula, sakit yang bersifat kering harus disembuhkan dengan obat yang basah. Sementara penyakit yang basah mesti diberi obat yang kering.

Sebagai orang yang awam di bidang dunia pengobatan, saya belum memahami prinsip-prinsip pengobatan yang “berlawanan” seperti yang dianjurkan kitab yang sudah berusia lebih dua abad itu. Dapat ditambahkan pula, bahwa kitab ini juga mengecam para tabib dan dukun yang mengobati orang sakit; sekedar untuk mencari keuntungan sendiri. Padahal orang yang diobatinya tak pernah sembuh, bahkan malah semakin parah. Sekarang pun, banyak pula dokter yang berwatak demikian.

Mudah-mudahan komentar pembaca ini mau ditangani oleh mereka yang ahli di bidang mendeteksi (diagnosa) penyakit!. Pertanyaaan lain, bisakah diagnosa ala “nenek moyang” ini dipertanggung-jawabkan keakuratannya secara “ilmiah” bagi bidang kedokteran???.

Dto

T.A. Sakti

== Malam Lanyan, 13 Haji 1417 H

20 April 1997 M

# “Nyak Amal kajeuet ‘eue!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s